Saturday, December 04, 2010

First Blog

Jujur, motivasi awal saya membuat blog adalah untuk mencari penghasilan tambahan dari iklan Google Adsense. Saya penasaran ketika ada beberapa teman yang berhasil membuat blog yang banyak dikunjungi orang plus mendapat penghasilan yang cukup fantastis dari iklan, bahkan rela resign dari pekerjaan tetapnya sebagai karyawan tetap dan nyemplung di dunia online ini secara full time. Karena itu saya ingin mengikuti jejaknya dengan menggali berbagai informasi bagaimana caranya.

Blog pertama yang saya buat adalah blog ini yang berbahasa Indonesia yang postingnya masih berupa tulisan-tulisan amatir saya yang kebanyakan berisi curhat colongan alias curcol. Padahal, agar blog kita disetujui untuk dipasang iklan dari Google, harus berbahasa Inggris. Info yang saya dapat dulu seperti itu. Maka, saya buat satu blog lagi khusus berbahasa Inggris yang postingannya berupa artikel gratis yang saya ambil tanpa menghilangkan nama Author-nya, disini. Sejumlah sepuluh artikel saya posting dalam satu hari yang temanya cukup nyambung dengan tema blog saya. Setelah itu, saya mulai mengirimkan lamaran kepada Google adsense apakah blog saya layak untuk diberi iklan. Kurang lebih dalam waktu 3 x 24 jam, ada balasan berupa email dari Google yang intinya, blog saya sudah bisa dipasang iklan. Betapa senangnya saya. Tiap hari saya longok blog saya sudah ada yang nge-klik iklan atau belum.

Lambat laun, saya sadar bahwa tidak mudah mendatangkan pengunjung ke blog kita jika tidak ada nilai lebih dari blog kita. Apalagi, bahasa Inggris saya ngepas, otomatis blog berbahasa Inggris belum bisa saya kembangkan. Saya punya konsep, pengin punya blog yang orisinal karya saya sendiri, sedangkan untuk cas cis cus berbahasa Inggris, terus terang saya belum punya keberanian.

Tidak lama kemudian, saya mendapat info bahwa blog yang berbahasa Indonesia ternyata bisa juga dipasang iklan. Maka saya coba-coba mengajukan blog berbahasa Indonesia saya untuk dipasang iklan dengan account google adsense yang sama. Hopla..ternyata berhasil. Betapa riangnya hati saya. Dengan semangat saya buat blog lagi berbahasa Indonesia dan tak ketinggalan dipasang iklan Google pula.

Waktu terus berjalan, saya mulai kecanduan menulis yang selalu saya posting di blog. Apalagi sejak saya bergabung di blog sosial Kompasiana, motivasi menulis saya terus terasah. Motivasi awal saya mulai tergeser dengan kecintaan saya pada menulis. Yang awalnya saya berharap ada orang yang ngeklik iklan di blog saya, lama-lama saya merasa lebih senang jika orang lain membaca tulisan saya dan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat baginya. Saya tidak peduli lagi apakah orang lain akan ngeklik iklan atau nggak.

Ternyata, uang tidak bisa membeli kebahagiaan saya jika orang lain bisa tersenyum ataupun mendapatkan sesuatu dari tulisan saya. Makanya, saya terus menulis tapi iklan tetap saya biarkan ada biar ramai. Bahkan sekarang banyak blog lain yang nyomot tulisan-tulisan saya untuk dipasang di blog iklan mereka. ya..biarkan sajalah sejauh tidak membuat saya rugi, malah saya senang bisa berbagi. Saya ikut senang jika bisa memberi mereka pemasukan dari blog mereka.

Tapi dalam hal ini, saya tidak bisa membiarkan jika karya-karya saya diplagiat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sejauh ini, saya masih bisa berlega hati karena mereka yang suka copy paste masih mencantumkan authornya.

Monday, November 01, 2010

Lirik Patah Hati

Hatiku tercabik pilu kala sosokmu berlalu dariku

Aku tahu, ini pilu yang baru saja menyeruak menghentakkan rasa terpukauku padamu selama ini

Ku terpukau, saat pesonamu begitu berkilau sehingga mataku enggan untuk berkedip barang sekejap pun demi menatap parasmu

Dan kini, aku merasa pilu karena ada siapa gerangan yang menemani langkahmu, tak lagi sendiri
Ah..tatapku nanar merutuk waktu yang tak lagi berpihak padaku

Kubiarkan waktu tersia hingga kamu menemukannya kini

Terlambat...

Panah patah hati telah menancap cepat menghujam jantungku tanpa sempat ku tuk mengelak

Perih mengiris, betapa dia yang kau pilih sungguh sempurna

Ibarat bintang nan berkilau, itulah dia..

Ibarat bulan nan bersahaja, itulah kamu..

Ibarat pungguk merindukan bulan, itulah aku..

*Fiktif belaka, jika ada kesamaan kisah..hanya kebetulan belaka..

Pesan Moral : Ungkapkan perasaan hati dengan jujur dan terbuka, jangan marah kalo si dia keburu digaet orang..

Berlaku bagi para jomblo

Bagi yang sudah berpasangan, syukurilah pasanganmu, jangan coba untuk main hati...sakiittt...

Saturday, October 16, 2010

Sang Mantan


Gambar dipinjam dari sini
Aku dan kamu punya secuil kenangan. Hebat ya, hanya secuil tapi bisa mengendap bertahun-tahun di alam bawah sadarku. Bahkan ketika waktu terus melaju menuju masa depan, dan kamu hanyalah bagian dari masa lalu. Tapi kenangan tentangmu masih sesekali membayang. Secuil kenangan yang tak begitu istimewa sebenarnya, tapi cukup membekas.

Seperti layaknya muda-mudi jadul, aku mengenalmu lewat seorang teman. Lalu obrolan mulai tercipta ala kadarnya. Berawal dari kikuk kemudian muncul pertanyaan standart yang tak lebih dari sekedar basa-basi belaka.

“Kuliah dimana ?”

“di Universitas Anu..”

“Oo..fakultas apa ?”

“Ilmu Murni..Kamu ?”

“Aku di Akademi X”

“Ngambil apa ?”

“Komputer, TI..”

“Oh..”

Hening. Sibuk dengan pikiran masing-masing, mencoba mencari bahan obrolan yang lain.

“Kenal sama si A ?”

“Angkatan berapa ?”

“Adik angkatan..”

“Ehm..mungkin kalo liat orangnya tahu, tapi kalo namanya nggak hafal..”

“Oh..”

Hening lagi. Bingung menentukan topik pembicaraan selanjutnya. Sebenarnya banyak sekali bahan obrolan yang berkelebat, tapi lidah ini kelu. Nggak tahu kenapa, grogi mungkin..jariku sibuk mengetuk-ngetuk kursi, matamu menerawang kemudian berhenti pada satu titik. Gitar sang kakak. Aha..sang penyelamat situasi.

“Boleh pinjam ?”

“Pakai aja..bisa main ?”

“Sedikit-sedikit..lagu standart aja..”

Tanganmu mulai memetik senarnya. Mengalun lagu yang aku suka. Wah..lumayan, pikirku. Suara gitar dan suaramu bisa klop, nggak fals..cukup nyambung. Awalnya aku masih malu-malu tapi kemudian suaraku bisa berpadu, lebur dengan suara dan alunan musikmu.

Wajahmu selalu terbayang dalam setiap angan
Yang tak pernah bisa hilang walau sekejap
Ingin selalu dekat denganmu enggan hati berpisah

Lalala..laaa…( sumpah, pas syair lagu ini aku dan dia bisa lupa)..
Ku sayang padamu..

Kasih janganlah pergi tetaplah kau selalu disini
Jangan biarkan diriku sendiri larut di dalam sepi..2x
Oh..

Kamu tampak larut dalam lagu ini. Sesekali matamu terpejam saat bergitar dan berlagu. Kesimpulan sementaraku : kamu punya kenangan dengan lagu ini. Indah atau sedih, aku tidak tahu. Yang pasti aku juga suka dengan lagu dari Bunga ini. Apalagi almarhum Galang cukup tampan yang menjadi salah satu daya pikatnya.

“Suara kamu bagus “

Aku tercengang. Seolah tak percaya jika kamu memuji suaraku. Sebenarnya, aku pernah mendengar pujian ini dari yang lain, tapi darimu..? Hanya limited edition kurasa..

“Ah..biasa aja..,” ucapku sedikit tersipu.

“Benar kok, aku nggak bohong..suaramu enak didengar..”

“Makasih..,” ucapku lirih.

Sedikit desir aneh bersemayam didadaku..waduh..jangan dulu, tak perlu buru-buru..!

****

“Aku pusing, harus cari ganggang laut untuk tugas praktikum kuliahku, pantai mana ya yang banyak ganggangnya ?”

“Di pantai dekat rumahku ada banyak ganggang, kamu mau aku antar kesana ?”

Aku terdiam. Baru teringat jika kamu berasal dari daerah gunung selatan yang tak jauh dari pantai selatan sana. Aku sedikit menimbang, belum terlalu lama mengenalmu, tapi intuisiku mengatakan kamu adalah tipe laki-laki yang baik, yang tidak suka macam-macam dengan perempuan. Selebihnya, aku mengangguk sebagai jawaban atas ajakanmu.

“Oke, kalau begitu kapan ?”

“Besok minggu..”

Jadilah aku pergi denganmu, berboncengan dengan sepeda motor laki-lakimu diiringi restu ayah dan ibuku. Ya, mereka sudah mengenalmu cukup baik.

Tak dapat kubayangkan aku melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk pertama kalinya denganmu. Jalan yang berkelok-kelok, naik turun dan pemandangan yang indah. Wow..nuansa pegunungan yang aduhai..luar biasa.

“Mampir ke rumahku dulu ya..”

Dikenalkannya aku dengan ayah, ibumu dan adik-adikmu. Di suatu rumah sederhana di pedesaan yang asri. Mereka sangat ramah menyambutku laksana kedatangan tamu agung. Begitu tulus dan bersahabat. Dibawakannya aku makanan begitu rupa sebagai bekal di perjalanan. Kacang, singkong, krupuk, sebagian dari hasil tani dan buah tangan.

Aku kegirangan saat menjumpai begitu banyak jenis ganggang laut yang terhampar di pinggir pantai. Beberapa jenis sudah aku kenal, selebihnya masih banyak yang belum aku ketahui. Kamu tampak sabar ikut memunguti ganggang-ganggang itu dan memasukkannya ke dalam stoples yang aku pinjam dari rumahmu. Bahkan tak kudengar kamu mengaduh saat kakimu yang telanjang tertusuk karang. Luka kecil, tapi ada darah yang keluar.

“Tidak apa-apa..sudah biasa..,” ujarmu.

Lalu kita duduk di atas batu karang, menunggu sunset datang. Ditemani ombak yang bergulung di bawah sana. Baru kusadar kita sedang berada di ketinggian. Kita duduk bersisian.

“Ini pantai favoritku..”

“Bagus..memang indah dan aku juga mengagumi tempat ini “

Di seberang tak jauh dari kita, beberapa pasang remaja saling merapatkan tubuhnya bermanja mesra. Aku dan kamu melihatnya.

“Kamu ingin bermesraan seperti mereka ?”, ujarmu. Lembut membuai.

Aku terdiam. Tak mampu menjawab. Kuhitung detik demi detik, ternyata kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu memang laki-laki yang baik dan sopan.

“Kalau aku terjun ke bawah bagaimana ?”

Tiba-tiba kamu sudah berada di ujung karang, merentangkan kedua tanganmu sambil tertawa-tawa. Hanya berberapa senti, kamu bisa terjungkal kebawah. Aku terkejut, tapi berusaha tak acuh menanggapinya. Sesuatu bernama gengsi meracuniku.

“Terjunlah jika kamu mau..”

Begitu kejam kedengarannya tapi aku tidak tahu kenapa terucap juga dari bibirku. Entahlah..

Kamu kembali duduk di sampingku. Hanya diam. Tak ada kata, tak ada ekspresi raga jika ada cinta diantara kita.dingin dan berlalu begitu saja. Hanya tatap matamu teduh kala itu berubah menjadi sendu.

“Aku baru patah hati, ditinggal selingkuh oleh mantanku. Namanya sama denganmu.”

Deg. Aku terpaku. Sebuah kebetulan yang cukup menusuk hatiku.

“Lalu ?”

“Saat ini aku belum berani untuk memulai suatu hubungan baru..”

Aku terdiam. Mulai paham. Mungkin hatimu masih terluka. Didera trauma dan sedikit parno. Apalagi namaku sama dengan mantanmu, yang mungkin punya banyak kesamaan karakter dengannya. Entahlah..

“Kita pulang..”

Berlalulah kita tanpa perlu menunggu sunset lagi.

Lalu sejak itu, kamu pergi tanpa kata. Aku sempat terlunta karena rasa. Ada sesuatu saat kamu tak ada. Aku merindu namun hanya bisa tergugu. Kamu tertelan waktu, tak pernah kembali tanpa sempat mengucap sebuah kata : maaf.

Saturday, October 02, 2010

Apa Khabar Pak Pos ?



Gambar diambil dari sini
Dari kejauhan, aku menatap sepeda motor berwarna orange itu. Berharap-harap cemas, akankah sepeda motor itu melaju ke arah rumahku, selepas mengantarkan surat ke tetanggaku yang paling ujung diantara rumahku. Kuhitung detik demi detik, kuamati penuh konsentrasi ala slow motion di film-film tatkala pak pos mulai menyalakan sepeda motornya dan melaju kearah rumahku. Aha..adakah surat untukku pak pos ?

Brem..brem..brem.. dan motor itu melaju di depan hidungku tanpa berhenti barang sedetik pun. Bablas dan dadah pertanda tak ada sepucuk surat pun untukku. Yah..kecewa terpendam. Mungkin lain kali, hiburku.

Hm..sungguh, saat-saat seperti ini aku merindukan moment itu berulang. Masih teringat jelas bagaimana girangnya hatiku, bahkan sampai jingkrak-jingkrak yang diiringi senyum dan geleng-geleng kepala pak pos, saat menerima sepucuk surat dari orang yang kudamba. Dari pacar, saudara, sahabat bahkan kenalan dari sahabat pena di majalah. Apalagi jika suratnya berisi kabar sukacita, tak sabar untuk segera membuka dan membacanya. Perangko menjadi saksi bisu nan setia. Wow..sensasi yang tak pernah terlupa.

Tak salah jika Vina Panduwinata pernah menyanyikan lagu berjudul Surat Cinta yang membawa-bawa nama pak pos. Masih ingatkan syair pertamanya..yang begini lho..

Hari ini kugembira..
Pak pos melangkah di udara
..eh..salah..diulang dulu..

Hari ini kugembira..
Melangkah di udara..
Pak pos membawa berita dari yang kudamba…
Dst..
sampai refrain..diterusin sendiri ya..hehe..

Intermezzo…lanjut cerita tentang pak pos..yuk mariii…

Pernah suatu kali, aku kecele saat mendengar deru motor dari kejauhan. Kukira suara sepeda motor sang pujaan hati di jam-jam wakuncar..eh..nggak tahunya suara motor pak pos yang baru pulang dari bertugas. Yah..salah deh, tiwas sudah lari-lari kedepan, nggak tahunya malah mendapat tertawaan dari kakak-kakakku. Idih..malu deh..Tapi biarpun begitu, sekelebat melihat sepeda motor warna orange itu rasanya gimana gitu..seperti ada kepuasan lahir batin..huehehe…( lebay.com ).

Lalu, kehadiran pak pos sedikit demi sedikit mulai tergeser saat handphone mulai menjamur dan sesuatu bernama internet menjadi primadona. Sesekali pak pos muncul mengantarkan surat dari perusahaan yang pernah aku kirim lamaran kerja. Kadang surat panggilan wawancara, tak jarang pula surat pemberitahuan bahwa aku belum memenuhi kualifikasi untuk diterima alias ditolak. Kehadiran pak pos mengiringi hari-hari gembiraku ataupun kekecewaan yang berujung kesedihan.

Dulu, saat menjelang hari raya, pak pos bisa hampir tiap hari bolak-balik untuk sekedar mengantarkan kartu ucapan selamat hari raya dari saudara dan para sahabat. Di lain waktu, pak pos bisa muncul laksana malaikat saat mengantarkan wesel, kiriman uang dari kakak tercinta yang bekerja di luar pulau Jawa atau kiriman barang berupa paket. Wah..betapa senangnya..

Jujur, aku merasa kehilangan sosok pak pos. Seringkali kiriman surat ataupun kiriman barang mulai tergantikan oleh ekspedisi titipan kilat atau yang lain. Yang konon lebih cepat dan efisien walaupun harganya kadang jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan pengiriman lewat jasa pos.

Terakhir kali, aku bertandang ke kantor pos kurang lebih setahun yang lalu saat mengirimkan naskah cerpenku ke sebuah majalah wanita untuk diikutkan dalam sebuah sayembara mengarang. Sayang sekali, tidak menang..

Beberapa kali, aku hanya lewat di depan kantor pos yang tampak lengang. Hanya tanggal-tanggal tertentu saat pengambilan uang pensiun, kantor pos bisa meluap antriannya. Atau saat ada pengumuman baru tentang lowongan pekerjaan. Padahal, aku membaca kantor pos sudah mulai mengikuti perkembangan jaman dengan system online dan menerima pula pengiriman uang baik yang dari maupun ke luar negeri melalui Western Union.

Yang pasti, jasa pos tidak lagi segreget dulu saat teknologi belum bergerak cepat. Surat berperangko sedikit banyak mulai tergeser oleh sms, telepon, email bahkan beragam situs pertemanan seperti facebook, twitter dan lain-lainnya. Wesel mulai tersisih oleh beragam layanan transfer via ATM, sms banking yang semudah membalikkan telapak tangan, berproses dalam hitungan detik. Simpel, praktis dan mudah.

Manusia mulai dimanjakan dengan kecanggihan teknologi yang tiap waktu mudah berganti dengan yang paling up to date. Sisi humanisme yang dulu begitu kental dan nyata lambat laun mulai terganti dengan face to face dan hand to hand secara maya.

Saya bangga dengan segala kemajuan teknologi yang ada, tapi tidak salah juga kan jika saya sedikit memberi ruang untuk mengenang senyum pak pos di masa jadul dulu ? I miss you pak pos..berbahagialah kalian yang saat ini masih bisa melihat sosok pak pos mengantarkan surat untukmu !

NB : Bus surat, masihkah berfungsi ? Aku pernah menjumpainya di pinggir jalan dalam keadaan yang sudah berkarat dan sangat memprihatinkan…Bahkan di tempat lain, bus surat menjadi sarana untuk menempelkan brosur-brosur promosi seperti di gambar ini. Rest in Peace bus surat..



Gambar diambil dari sini

Monday, September 27, 2010

Obrolan Iseng

“Aku cinta kamu !”

Apa ? Gombal..!! Makanan apaan tuh cinta..”

“Tuh, kan..kamu nggak pernah bereaksi kalau aku bilang cinta..”

Habis mau gimana lagi, cinta begitu absurd bagiku..”

“Kenapa ? Pernah trauma ?”

Mau tahu aja..”

“Duh..cuekmu itu lho..bikin aku gemas..”

Emang gue pikirin ?”

“Cobalah untuk buka hati dan pikiran, jangan terlalu idealis..”

Emang kenapa ?”

“Aku cinta kamu !”

Kamu udah bilang tadi, nggak usah diulang..”

“Lah..kamu belum jawab..”

Itu bukan pertanyaan, aku nggak perlu jawab..”

”Maksudku, apa kamu juga cinta sama aku..”

Hahaha..definisi cinta aja aku nggak ngerti..”

“Gini..apa kamu deg-degan setiap ketemu aku ?”

Ya iyalah..namanya orang hidup ya harus deg-degan, kalo nggak berarti orang mati..”

“Duh susah banget ya ngomong sama kamu..pura-pura nggak ngerti apa emang nggak paham ?”

Yee..sewot..katanya cinta..”

“Nggak jadi..di-cancel aja..lebih baik cari cinta yang lebih gampang, rumit cinta sama kamu..”

Syukurlah kalo nyerah, paling nggak aku nggak pusing cari cara untuk nolak kamu..”

“Huh..sok jual mahal kamu..”

Emang mahal kok..”

“Berapa mahalnya, sini aku beli..”

Not for sale..kalo emang dijual pun, kamu nggak bakal mampu beli..”

“Sombong..”

Sombong 25 ? Apa Sutra ? Hehe..”

“Dasar..”

Apa ? Jadi, kita tetep temenan kan ? Aku lebih nyaman jadi temenmu, nggak usahlah ada cinta-cintaan segala..nggak musim !”

“Terserahlah..temen tapi mesra juga lebih baik..”

Idih..maunya..ogah..friend, just a friend..no more..understand ?”

No, thank’s..hehe..”

Ya udah..deal ya..kembali ke seperti semula..friend and friend forever..”

Tuesday, September 14, 2010

Hati-hati ! Penipuan Berkedok Order Barang

Saat saya jaga toko belum lama ini, datang supplier barang dagangan di toko saya, bercerita bahwa baru saja terjadi penipuan yang menimpa toko langanannya di Wonosari dan di Yogya.

Berdasarkan ceritanya, seorang laki-laki berpenampilan rapi pura-pura mencari barang yang tidak ada di toko itu. Katakanlah barang itu semacam lem kering merk tertentu yang pedagang belum pernah menjualnya dan baru melihat pertama kali contoh barang yang ditunjukkannnya. Laki-laki itu memberi ancer-ancer harga satu dus seharga 300 ribu rupiah yang berisi 100 pcs lem kecil-kecil. Orang itu berkata butuh barang itu 10-20 dus setiap minggunya. Laki-laki itu mendesak pedagang kalau ada, akan membeli barang itu dan berani memberi uang muka segala.

Tertarik dengan tawaran laki-laki itu, pedagang menyanggupi akan mencarikan barang itu setelah menerima uang muka. Padahal sebenarnya, barang yang dicari, di luar barang yang biasa dijual pedagang. Tapi berhubung ingin mencari sampingan hasil yang lumayan besar, permintaan itu disanggupi.

Beberapa hari setelah laki-laki itu memberi uang muka, datang beberapa orang dengan mobil APV Plat AD yang berlagak sebagai sales menawarkan barang persis seperti yang diminta laki-laki sebelumnya. Tanpa berpikir panjang, pedagang langsung membeli barang 10 dus dengan harga @250 ribu sehingga total 2,5 juta. Dengan asumsi akan untung 50 ribu per dusnya, uang 2,5 juta segera berpindah tangan ke sales gadungan itu.

Dan benar saja, setelah uang berpindah dan barang di tangan, laki-laki yang beberapa hari lalu selalu muncul tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Nomor handphone yang diberikan mendadak tidak bisa dihubungi. Dan lebih tragis lagi setelah melihat barang yang dipesan ternyata bukan lem yang bisa dijual, kemasannya sulit dibuka dan setelah dibuka hanya gumpalan semen yang tidak ada harganya sama sekali. Duh..menyedihkan ya..uang 2,5 juta raib entah kemana.

Sepertinya ini modus penipuan yang baru. Komplotan orang yang kerjasama untuk mencari uang dengan cara yang sangat merugikan. Sedikit lebih cerdik dengan cara yang tidak terduga sebelumnya. Dari laporan yang diterima, toko-toko yang sudah menjadi korban adalah toko besi, toko kelontong, toko onderdil dan tidak menutup kemungkinan di toko apa saja dengan permintaan barang yang berbeda-beda.

Hikmah yang bisa kita petik dari kejadian ini adalah ;

- Jangan mudah tergiur dengan untung yang banyak

- Kalau barang yang ditawarkan adalah barang yang sama sekali tidak kita tahu, lebih baik jangan ambil resiko, mending yang pasti-pasti saja, yang sudah kita ketahui luar dalam


- Jangan mudah tergoda dengan uang muka, bila yakin kita tidak tahu barangnya, lebih baik ditolak saja dengan alasan di luar bidang kemampuan kita

- Senantiasa menganut prinsip, no pain no gain. Tidak ada keuntungan banyak yang bisa kita raih dengan cara yang gampang. Adalah sebanding jika dengan bekerja keras kita akan mendapatkan hasil yang maksimal..

Demikian sekilas info, semoga bermanfaat. Have a nice day ya..!

Tuesday, August 24, 2010

Minder Akut

Ada seseorang datang ke gubug Nining. Dari kejauhan, Nining sudah tahu akan ada tamu ke gubugnya. Secepat kilat Nining segera masuk ke dalam gubug dan diam mendekam di dalam kamar. Nining mendengar pintu diketuk, tapi Nining diam saja. Nining juga mendengar suara permisi dari tamu itu tapi tidak bergerak untuk menemuinya. Nining hanya berharap semoga kakaknya mau menemui tamu itu. Dan Nining bisa bernafas lega ketika kakaknya keluar menemui tamu itu.

Nining menyadari, ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya. Ada ketakutan dalam dirinya untuk bertemu dengan orang lain yang datang ke gubugnya. Nining tidak merasa orang itu jahat, hanya Nining tidak merasa nyaman jika harus menampakkan batang hidungnya untuk sekedar memberi minuman ataupun berbasa-basi sejenak. Nining lebih memilih diam di dalam kamar, selama mungkin sampai tamu itu pulang. Tak peduli hingga beberapa jam, selama itu pula Nining mendekam di kamar. Aneh memang, rasa minder Nining sudah sangat parah.

Nining mempunyai perasaan yang takut diabaikan, takut dipandang sebelah mata, takut salah ngomong, takut mengemukakan pendapatnya. Serba salah..ya..Nining merasa semua yang dilakukan serba salah di mata dirinya dan orang lain. Ada suara-suara dalam pikiran Nining yang men-judge “ kamu jelek..kamu miskin..kamu tidak berguna..” menggema berulang-ulang dan seolah-olah kata-kata itu yang dipikirkan oleh orang lain tentang dirinya.

Di sekolah pun, Nining punya rasa takut berlebihan kepada ibu kepala sekolah ataupun guru-guru. Dalam bayangannya, dirinya seolah-olah diawasi sehingga kalau berbuat salah sedikit, nanti pasti akan dimarahi atau dihukum. Padahal, itu semua tidak pernah terjadi di alam nyata, hanya suatu racun yang ada di kepala Nining. Nining iri kepada teman-temannya yang bisa bercanda tawa dengan bapak ibu guru. Nining ingin bisa luwes, tapi semua itu terhalau oleh pikirannya sendiri yang meracuni. Selalu ada kata-kata “ kamu bukan siapa-siapa..kamu anak miskin..kamu tidak pantas..”. Ah..betapa pikiran ini sangat membelenggu Nining.

Nining ingin mengusir rasa malunya yang berlebihan, ingin membuang rasa rendah dirinya, ingin keluar dari krisis identitasnya. Nining merasa tiada guna dengan sifat jeleknya ini. Nining butuh seseorang yang bisa mengerti keadaannya. Nining tidak ingin terus-terusan bersikap tertutup dan hanya diam-diam meratapi kemiskinannya. Nining harus berbuat sesuatu.

Nining selalu merasa nyaman bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Mengandaikan dirinya sedang ngobrol dengan seseorang. Ada dua pribadi dalam dirinya saat itu. Semua yang ada dalam khayalannya dikeluarkan seperti suatu sandiwara. Ya..Nining memang senang berkhayal. Suatu waktu dia pernah berandai-andai menjadi anak orang kaya. Segala yang dia inginkan ada, baju yang bagus, rumah megah, mobil mewah..semuanya terasa sangat nyaman dan membahagiakan. Di lain waktu Nining juga berangan-angan jika dewasa nanti dia menjadi seseorang yang popular, dikenal masyarakat akan karyanya. Karya yang mana Nining belum paham, yang pasti Nining senang bernyanyi, main musik, main drama dan senang menulis. Nining bermimpi salah satu bakatnya bisa berkembang dan menghasilkan sesuatu yang bisa berguna dan dikenal bagi orang lain.

Dalam pergaulan dengan teman yang sudah dikenal, sebenarnya Nining tidak ada masalah. Nining bisa bercanda dan menjadi teman yang asyik bagi teman-temannya. Hanya kepada orang-orang tertentu yang bagi Judith tidak nyaman saja, Nining tidak bisa luwes bergaul. Ada semacam tembok tebal yang menghalangi keduanya. Nining tidak tahu itu apa, semacam ketidakcocokan aura, atau ada kekuatan lain yang saling tolak-menolak. Dan, untuk amannya, Nining lebih suka untuk menghindar. Pura-pura tidak saling kenal dan tidak terlibat dalam percakapan sama sekali. Sungguh aneh tapi nyata..

Monday, August 23, 2010

Tragedi Raport


Gambar dipinjam dari sini
Nining bangun pagi-pagi dan segera mandi. Dikenakannya seragam putih merahnya. Ibunya sedang sibuk memasak di dapur. Entah apa yang sedang dimasaknya, yang pasti perut Nining sudah berontak ingin segera sarapan. Di meja makan yang sudah mulai merapuh itu, Nining menikmati sekepal nasi dan mie rebus instant yang banyak sekali kuahnya. Nining maklum, dalam keadaan serba kekurangan seperti ini tetap harus bersyukur masih bisa sarapan. Satu bungkus mie dimasak dengan air sepanci penuh ditambah garam dan sedikit bumbu supaya cukup untuk dimakan bersama anggota keluarganya yang lain. Sesekali ditambah dengan sayuran yang bisa dipetik di sekitar rumah seperti daun singkong, bayam, kacang panjang, kol atau apa sajalah yang penting tidak membuat mie rebus itu sepi karena minim mie-nya. Paling tidak, sarapan kali ini cukup memberi energi kepada Nining untuk berjalan sampai ke sekolahnya yang cukup jauh jaraknya itu. Kalau tidak salah, jaraknya sekitar 7 km.

Nining menapaki pematang sawah dengan langkah-langkah kaki kurusnya. Hari masih cukup pagi dan udara pagi ini cukup dingin. Kelak, udara sedingin ini bisa terasa panas karena peluh yang mulai keluar membasahi baju seragam Nining satu-satunya itu. Paling tidak, setengah jam perjalanan ditempuh Nining dengan berjalan kaki hingga tiba di sekolahnya. Biasanya kaki Nining mulai menapakkan di gerbang sekolah bertepatan dengan bunyi bel yang berdentang. Tak ada jeda waktu bagi Nining beristirahat barang sejenak menata nafasnya. Gurunya sudah bersiap menuju kelasnya jam tujuh tepat.

“Selamat, pagi bu Guruuu…..,” serentak Nining dan teman-temannya memberi salam kepada ibu Guru. Ritual setiap pagi sebelum memulai pelajaran yang dipimpin aba-aba oleh sang ketua kelas setelah berdoa.

“Selamat pagi, Anak-anak ! Besok adalah hari penerimaan raport kalian, Ibu berpesan bagi yang belum membayar SPP harap segera dilunasi. Sampaikan kepada orang tua kalian !”

Glek. Nining menelan ludah. Sudah dua bulan ini Bapak Nining belum bisa membayar SPP-nya. Kemarin adalah giliran kakaknya yang harus bayar SPP dahulu karena tidak bisa ikut ujian jika belum membayar SPP. Sedangkan di sekolah Nining, siswa boleh ikut ujian sekalipun belum membayar SPP, tapi harus segera dilunasi jika akan penerimaan raport. Nining harap-harap cemas jika ibu Guru menyebut namanya di depan kelas sebagai anak yang belum membayar SPP. Nining bersiap untuk menutup rasa malunya di depan teman-temannya jika itu terjadi. Tapi ternyata, ibu guru hanya menatapnya sekilas dan tidak berkata apa-apa lagi. Cukup sudah. Hff..Nining bernafas lega.

Sampai di gubug, Nining bingung kata apa yang akan disampaikan kepada ayahnya perihal tunggakan SPP-nya. Nining sangat mengerti kondisi keluarganya, dan tidak ingin menambah beban berat orang tuanya sekalipun itu adalah suatu kewajiban. Jangka waktu satu hari jelas tidak mungkin bagi Bapaknya mendapatkan uang sejumlah 2 bulan SPP-nya. Untuk makan sehari-hari saja kesulitan, apalagi untuk yang lain-lain. Nining hanya bisa berharap, semoga akan ada suatu keajaiban yang terjadi

Pagi harinya, Nining pergi ke sekolah berboncengan sepeda dengan Bapak, memenuhi undangan orang tua yang harus hadir saat penerimaan raport. Bapak sudah tahu jika Nining menunggak SPP 2 bulan, oleh karena itu Bapak akan berbicara dengan guru di sekolah Nining untuk minta kelonggaran waktu dalam membayar. Bapak Nining tidak meminta keringanan, tapi hanya minta waktu yang cukup supaya bisa mencari uang untuk membayar SPP Nining.

Para orang tua murid sudah banyak yang berkumpul di aula sekolah. Hari ini adalah penerimaan raport kenaikan kelas yang artinya Nining akan naik ke kelas lima jika tidak tinggal kelas. Selain acara pembagian raport, akan diumumkan pula siapa-siapa yang menjadi juara kelas di kelasnya masing-masing. Para orang tua menjadi saksi keberhasilan putra-putrinya dalam belajar.

Ternyata, Nining menduduki ranking kedua di kelasnya dan sudah tentu naik ke kelas lima. Bapak sangat bangga akan prestasi Nining, namun menjadi sebuah ironi ketika buku raport yang membanggakan itu hanya boleh dilihat oleh Bapak dan Nining di sekolah saja, tidak boleh dibawa pulang sebelum membayar tunggakan SPP. Nining cukup sedih, tapi apa daya, Nining tidak ingin membuat Bapaknya lebih sedih lagi. Cepat-cepat dihapusnya air mata yang hampir berlinangan di pipi jangan sampai sempat terlihat oleh Bapaknya.


Setidaknya, Nining cukup bersyukur tinggal di tengah sawah yang jauh dari para tetangga itu. Hanya keluarga Nining sendiri yang tinggal di tengah sawah ini. Mereka hanya bertegur sapa dengan para petani yang menggarap sawah dari pagi hingga sore hari. Selebihnya, tak ada orang lain yang bisa disebut sebagai tetangga. Kalaupun Nining ingin bermain, bermain sendiri dengan alam saja. Teman-teman sekolahnya sangatlah jauh rumahnya yang dekat dengan sekolahan sana. Tapi ketiadaan tetangga ini sedikit menguntungkan Nining saat kenaikan sekolah begini.


Tidak ada yang bertanya dan ingin melihat raportnya seperti saat Nining tinggal di kampung dulu. Nining tidak tahu harus memberi jawaban yang masuk akal apa jika itu terjadi. Mungkin jika terpaksa, Nining harus berkata jujur apa adanya. Nining naik kelas, ranking kedua, tapi raportnya ditahan di sekolah karena belum bayar SPP. Adakah yang percaya dengan jawaban seperti itu ? Mungkin hanya cemoohan yang diterima, mengira Nining telah berbohong karena tidak bisa menunjukkan bukti. Pasti para tetangga itu mengira Nining nilainya jelek dan malu memperlihatkan raportnya. Ah, manusia..bicara jujur saja masih dianggap bohong

Tuesday, August 17, 2010

Upacara Bendera Yang Memalukan


Setiap merayakan hari kemerdekan Negara tercinta Republik Indonesia, saya selalu terkenang akan masa-masa di bangku sekolah yang rutin melaksanakan upacara bendera setiap hari senin dan hari besar nasional. Tidak dipungkiri, saat menjadi peserta atau petugas pelaksana upacara kala itu, rasa bosan seringkali menyergap karena upacara bendera sudah menjadi agenda rutin yang wajib diikuti seluruh warga sekolah.

Tak jarang terlihat pemandangan usil para siswa yang saling bisik-bisik atau mengobrol selama upacara berlangsung. Posisi berdiri yang seharusnya tegak berubah menjadi posisi santai apalagi jika berada di barisan belakang. Mungkin kalau jaman saya sekolah dulu sudah ada HP, siswa akan sibuk sms-an, facebook-an atau twitter-an saling menuliskan status sedang upacara. Sering terdengar gerutuan siswa karena kepanasan, berharap supaya bapak Pembina tidak berpanjang lebar dalam memberikan amanat-nya.

Saya pernah punya pengalaman cukup memalukan yang berkaitan dengan upacara bendera ini. Saya dan satu teman saya lupa membawa topi, padahal topi merupakan atribut wajib yang harus dipakai untuk upacara. Berasumsi bahwa rumah saya dekat dengan sekolah, saya dan teman inisiatif mengambil topi itu kerumah di menit sepuluh menjelang pukul tujuh pagi, waktu dimulai upacara. Sudah dibela-belain naik motor ngebut, tapi saya tetap terlambat sampai di sekolah, upacara sudah dimulai dan saya serta teman saya kena razia pak Guru. Tanpa ampun saya dan teman saya digiring maju ke tengah lapangan bergabung dengan siswa lain yang bandel tidak memakai atribut dan yang datang terlambat. Aduh..malunya dilihat satu sekolah, mana yang lain laki-laki semua kecuali saya dan teman saya yang tadi ambil topi.

Hukuman tidak berhenti disitu, setelah selesai upacara, saya dan teman ‘bandel’ lainnya digiring masuk ke ruang guru BP untuk diberi pengarahan. Tangis saya tumpah berderai sesudah mendengar wejangan pak guru. Maklum, saat itu saya pengidap cengeng yang cukup akut. Selain itu, saya termasuk siswa yang cukup tertib sebelumnya, jadi teman-teman yang lain cukup heran juga saya bisa dipanggil guru BP seolah-olah saya ini siswa yang suka bikin ulah. Hiks..gara-gara lupa, jadi kacau semuanya..

Terus, pengalaman yang menurut saya cukup berkesan sekaligus memalukan adalah ketika menjadi pemimpin upacara. Haiyaa..saya termasuk pemimpin upacara perempuan pertama di kelas saya kala itu. Hanya bermodal sifat cuek bebek sok pede, saat memberi aba-aba : “ Kepada sang merah putih hooorrrrmmaaaatttt….grrrrraaaaakkkk…..” Pas kata-kata grak, suara saya keseleo menghasilkan suara yang nggak balance dan cukup fals sehingga terdengar aneh dan mngundang tawa tertahan seluruh peserta upacara. Muka saya merah padam tapi demi berlangsungnya upacara yang khidmat, saya tahan rasa malu itu sampai upacara selesai. Wah..

Kalau dingat-ingat sekarang, rasanya ingin kembali mengulang kenangan untuk ikut upacara bendera lagi, merasakan menjadi peserta sekaligus sebagai petugas. Beruntung saya pernah merasakan semua tugas di upacara bendera dari menjadi pemimpin upacara, pemimpin pasukan, pengibar bendera, dirigent, pembaca UUD 1945, pembawa teks Pancasila, sampai pembawa acara / MC sudah saya lakoni semua. Semua ada suka, duka dan resiko. Kalau ada kesalahan, ya paling diketawain dan jadi hiburan semua peserta. Membuat bahagia orang lain kan menyenangkan, ya toh ?

Upacara bendera, mestinya menjadi suatu ritual untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang telah berjuang memerdekakan bangsa. Tanpa jasa beliau-beliau mungkin saat ini kita masih dijajah oleh penjajah dari luar negeri.

Lha sekarang menjadi pertanyaan kita sendiri, kalau kita tidak rela dijajah oleh bangsa lain, apakah sekarang kita rela dijajah oleh bangsa sendiri termasuk diri kita sendiri setelah merdeka ? Lalu kemerdekaan seperti apa yang kita inginkan ? Tentunya ini menjadi bahan renungan kita di Dirgahayu HUT RI ke-65. Merdeka ! ( Semoga..)

Friday, August 13, 2010

Dilema Pramuka


Seperti yang sudah diumumkan oleh Pak Bambang, selaku guru olahraga merangkap sebagai kakak Pembina Pramuka, harusnya hari ini adalah hari pertama Nining dan teman-teman sekolahnya ikut pramuka. Tapi kali ini, Nining lebih memilih berada di rumah saja. Sepulang dari sekolah jam satu tadi, Nining tidak berani keluar dari rumah. Takut kalau-kalau ada temannya yang nyamper untuk ikut Pramuka. Nining melirik jam kecil yang ada di meja yang menunjuk pukul 13.45 WIB, berarti lima belas menit lagi kegiatan Pramuka dimulai di sekolahnya. Nining sibuk menerka kira-kira berapa temannya yang hadir. Ah..mungkin semuanya ikut, kecuali dirinya.

Sebenarnya, Nining sangat gelisah saat ini. Berkali-kali digulingkannya tubuhnya di kasur kapuk yang mulai menipis itu. Sesekali matanya mengintip dari lubang gedeg rumahnya, ingin tahu siapa temannya yang lewat di seberang jalan tak jauh dari gubugnya, berseragam pramuka menuju sekolahnya. Sedikit cemas, Nining berharap semoga teman-temannya tidak menyadari keberadaannya dan berinisiatif menjemputnya ke rumah seperti yang sudah-sudah. Maklum, jarak rumah dan sekolah yang dekat membuat teman sekolah Nining banyak yang suka bermain di sini. Ah..semoga saja tidak ada yang nyamper Nining tiba-tiba.

Sejujurnya, Nining suka dengan kegiatan Pramuka. Belajar tali temali, belajar sandi, bertualang, berkemah, bersahabat dengan alam, belajar disiplin dan bertanggung jawab. Tapi..kenapa harus pakai seragam coklat tua dan coklat muda ? Kenapa tidak warna putih merah saja ? Ah..itu sama artinya Nining harus menodong bapaknya untuk membelikan seragam pramuka, dan sudah pasti Nining tidak bisa langsung mendapatkan jawabannya. Nining sudah sangat paham dengan arti kata menunggu. Dan lagi, Nining tidak mau ini menjadi beban orang tuanya ! Jadi, tidak ikut kegiatan ini sampai nanti seragam itu ada, sementara menjadi tempat teraman bagi Nining.

Dan jika nanti teman-temannya bahkan gurunya bertanya, Nining perlu mempersiapkan jawabannya. Bilang saja ketiduran, beres..what ? Itu artinya Nining sudah berani berbohong, jadi.. ? Entahlah..Nining merasa pusing tiba-tiba. Walau ada sedikit rasa lega di hatinya, ketika melirik jam sudah pukul 14.30 dan tidak ada satupun temannya yang menyamper. Hff..

Benar saja, esok hari saat kaki Nining baru sampai di pintu kelas, beberapa pertanyaan sudah memberondongnya bertubi-tubi. Nining lemas seketika.

“Nining, kenapa kemarin tidak ikut Pramuka ?”
“Kata Pak Bambang, Pramuka ini wajib diikuti, lho..”
“Asyik lho, kemarin diajarin tentang sandi morse..”
“Kemarin juga udah dibentuk regu..”
“Kamu belum dapat kelompok ya.. “

Aduh..ingin rasanya Nining berlari keluar dari kelas dan menutup rapat-rapat telinganya. Mereka semua tidak mengerti, dan tidak akan pernah mengerti. Nining hanya terdiam dan tidak ingin berkata apa-apa. Nining berjuang keras supaya air matanya tidak keluar begitu saja, hal yang biasa terjadi saat dirinya panik. Belum saatnya Nining berterus terang tentang keadaan yang sesungguhnya, dan bukan jalan keluar terbaik pula jika Nining harus terpaksa berbohong. Diam..adalah reaksi teraman, setidaknya untuk saat ini. Dan..teman-teman Nining menangkap sesuatu yang lain dari sikapnya kali ini, seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Dan tentu saja, mereka menjadi penasaran.

******

“Bapak..Nining perlu seragam Pramuka..”

Nining merasa, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membicarakan dengan Bapak-nya. Sudah dua kali Nining tidak ikut kegiatan Pramuka, dan tadi Nining tidak enak ketika Pak Bambang sendiri yang mewajibkan dirinya untuk ikut Pramuka karena akan berpengaruh pada nilai Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Nining bergidik ngeri membayangkan jika nilai PMP-nya jelek dan berakibat tidak naik kelas. Jadi satu-satunya cara, Bapak harus membelikannya seragam Pramuka !

Bapak menatap Nining dalam-dalam. Tampak rona mukanya sedikit murung. Nining sebenarnya tahu dan sangat tahu apa yang ada dalam pikiran Bapak, tapi apa boleh buat..Nining tidak punya cara lain.

“Nanti Bapak usahakan cari, ya..”

Tangan Bapak mengusap rambut Nining pelan. Nining mengangguk dan matanya berkaca-kaca, entah untuk apa. Segara Nining berlalu dari pandangan bapaknya dan menumpahkan air mata di tempat tidurnya. Kamar sederhana yang dibatasi dengan kain penutup sebagai gordyn menjadi tempat terindahnya merajut mimpi. Nining berandai-andai jika saja saat ini ada seseorang yang baik hati memberikannya satu setel seragam Pramuka, maka Nining akan semangat ikut Pramuka tanpa ragu-ragu. Akan diikutinya kegiatan itu dengan suka cita dan penuh riang gembira. Tak ada alasan lagi untuk tidak ikut serta.

*****

“Gimana pak, seragamnya sudah ada ?”
“Aduh, maaf pak..saya sudah hubungi tokonya tapi stoknya masih kosong, pak..mungkin minggu depan jika sudah ada segera dikirim..”

Bapak Nining tampak lemas. Hari ini adalah hari Jumat, hari saat Nining ada kegiatan Pramuka tapi seragam itu belum ada. Bapak sudah mengupayakan ambil kredit di koperasi pabrik tempatnya bekerja sbagai buruh, tapi ternyata tidak bisa secepat yang dikira..maafkan Bapak, Nining..terpaksa kali ini kamu bolos Pramuka lagi..

****

“Nining, kenapa kemarin kamu belum ikut Pramuka juga ? Apa ada masalah ?,” Sita teman terbaik Nining bertanya hati-hati. Seperti biasa, Nining hanya bisa menggeleng.

“Cerita saja, Ning..aku tidak akan cerita pada siapa-siapa..”

“Nggak..nggak papa, Sita..mungkin minggu depan aku baru bisa ikut serta..”

“Hm..ya sudah..tapi bener ya..? Jangan sampai nggak ikut lho..O,ya Nining..aku punya seragam Pramuka kegedean, kamu mau pakai tidak ? Soalnya kemarin itu Papa belikan aku seragam Pramuka kegedean, padahal aku sudah punya 2 setel yang ukurannya pas dari mama..Kalau mau, besok aku bawakan ya..kayaknya pas deh buat kamu, aku kan lebih kecil dari kamu, sayang kalo nggak kepake, buat apa aku punya banyak, ya kan.. ?”

“Wah..sungguh Sita ? Mau..aku mau sekali..”

Mata Nining langsung berbinar bahagia. Sita turut bahagia. Oh..Tuhan..ternyata Engkau mendengar permohonanku..dalam hati Nining bersyukur. Engkau kirimkan orang-orang baik hati laksana malaikat tepat pada waktunya. Kemarin Sumi, sekarang Sita.

*****


Baru kali ini Nining merasakan hari Jumat adalah hari yang paling bahagia sedunia. Usai sudah kegelisahan sebelumnya setiap hari Jumat tiba. Nining bisa berdiri tegak diantara barisan murid-murid yang berseragam coklat lengkap dengan hasduk itu. Nining tampak bangga mengenakannya. Tiada lagi wajah murungnya.

Dan yang lebih membahagiakan Nining, ternyata seragam Pramukanya menjadi 2 pasang. Satu dari Sita, satu lagi dari Bapaknya hasil kredit di koperasi pabrik. Sebenarnya Nining ingin berkata kepada Bapaknya untuk membatalkan kreditannya di koperasi, tapi ternyata seragam itu telah tiba bersamaan dengan seragam Pramuka dari Sita. Ya..apa boleh buat. Semuanya tiada pernah Nining kira. Dan Bapak berjanji akan melunasi kredit seragam itu dengan segenap tanggung jawabnya. Ah..Nining iba sekaligus terharu dengan Bapak.
Gambar dipinjam dari sini

Tuesday, August 03, 2010

Chatting Dengan Tuhan


Bagi saya, Tuhan itu nyata tapi tidak bisa diraba dan kasat mata. Tuhan bisa dirasakan dalam berbagai rupa menurut versi saya. Kali ini, saya berkhayal, Tuhan menjelma sebagai sahabat karib saya yang bisa diajak bercengkrama dalam khayalan. Berikut chatting saya dengan Tuhan dalam imaji saya yang terinspirasi setelah membaca Kumpulan Cerita Mutiara Hati.

Saya : Allow..Tuhan..lagi sibuk ya ?

Tuhan : Sibuk tapi asyik kok..

Saya : Gimana kabarnya ?

Tuhan : Selalu baik..

Saya : Doa saya sudah sampai belum Tuhan, kok belum ada jawaban ya..

Tuhan : Lagi diproses..sabar ya..

Saya : Berapa lama lagi Tuhan, saya sudah nggak sabar nih..

Tuhan : Hm..antri dong, yang berdoa itu banyak, bukan cuma kamu, lagian yang nadanya mirip-mirip doamu juga banyak. Akan kuprioritaskan mana yang lebih urgent..

Saya : Saya juga urgent lho Tuhan..

Tuhan : Masih banyak yang lebih urgent dari kamu..

Saya : Ya..berarti masih lama banget ya..itu berlaku untuk seluruh dunia kan Tuhan ?

Tuhan : Ya iya lah..berlaku untuk semua makhluk ciptaanku..

Saya : Yah..capek saya harus menunggu dalam ketidakpastian..

Tuhan : Lebih capek mana sama Aku yang stand by 24 jam, hayo..? Tapi kamu tidak pernah mendengar keluh kesahku kan ?

Saya tersipu. Malu dengan sifat saya yang mudah mengeluh dan uring-uringan nggak jelas.

Saya : Tuhan, apakah dosa saya banyak Tuhan ?

Tuhan : Menurut kamu bagaimana ?

Saya : Kadang-kadang saya merasa tidak punya dosa tuh..

Tuhan : Hm..dosa berat itu termasuk ketika seseorang merasa bahwa dirinya tidak berdosa..

Saya tertunduk. Betapa sombongnya saya selama ini.

Tuhan : Ketika orang mati, diberi beban 100 kg menindih tubuhnya, apakah dia merasa berat ?

Saya : Tidak Tuhan, orang mati tidak akan merasakan beban seberat apapun..

Tuhan : Semoga kamu tidak seperti orang mati…

Saya terhenyak. Ya Tuhan..ampuni segala dosa-dosa saya selama ini..hidupkan kembali jiwa saya yang telah lama mati..
Gambar dipinjam dari sini

Saturday, July 31, 2010

Penculikan yang Meresahkan

Akhir-akhir ini masyarakat Gunung Kidul diresahkan dengan adanya penculikan anak maupun orang dewasa untuk diambil organ tubuhnya yang penting seperti mata, jantung, ginjal dan lainnya untuk dijual. Sungguh, peristiwa ini benar-benar membuat sport jantung siapa saja.

Organ tubuh yang diambil dari manusia normal bisa dijual dengan harga miliaran rupiah. Karena latar belakang ekonomi inilah, orang bisa nekad melakukan perbuatan illegal yang sangat terkutuk itu.

Dari berbagai kabar yang dihimpun, di daerah Semin telah terculik seorang anak SMA laki-laki yang diambil bola mata dan jantungnya, kemudian mayat anak tersebut dikembalikan oleh para penculik biadab itu.

Modus operandi penculikan ini dengan cara berkeliling dengan mobil box berkaca hitam, plat nomor tidak ada, biasanya tiga orang. Tempat yang biasa menjadi target mencari mangsa adalah sekolah, jalan setapak yang sepi bahkan di alas atau ladang tempat petani mencari nafkah. Tak dipungkiri, situasi geografis Gunung Kidul yang masih alami, luas dan sepi justru menjadi lahan subur bagi para penculik ini.

Baru-baru ini, di ladang tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada ibu-ibu yang akan diculik oleh 3 orang tidak dikenal. Mobil box diparkir tidak jauh dari lokasi kejadian, 2 orang menunggu di mobil, satu orang memaksa korban untuk ikut dengan cara dipaksa dan dibekap mulutnya. Sebelumnya, korban bertanya orang itu mau apa, dijawab mau mencari burung. Korban curiga karena tidak dilihat alat-alat untuk berburu burung. Secepatnya korban kabur dan berteriak-teriak sebelum ketiga orang itu memaksanya. Karena panik, tiga orang itu lari dan kabur melarikan mobilnya.

Sebelumnya, anak SD juga menjadi target penculikan dengan modus operandi yang sama. Seorang anak yang sedang berjalan dengan temannya di jalan setapak yang sepi, langsung ditarik oleh seorang laki-laki dan dibawa masuk ke mobil box. Temannya berteriak-teriak dan beruntung, sang bocah yang tertangkap bisa kabur setelah menendang pintu mobil.

Banyak sekali kejadian yang nyaris terjadi penculikan. Semestinya kita harus lebih waspada, dan tolong pak Polisi mohon diperketat pengamanan karena kejadian ini sudah sangat meresahkan. Jangan tunggu sampai banyak korban tapi mencegah lebih baik. Dan tentunya, tidak di Gunung Kidul saja, penculikan bisa terjadi dimana-mana dengan berbagai modus operandi yang berbeda pula. Jadi, waspadalah !

Friday, July 30, 2010

Fenomena Kerokan


Entah mengapa, setiap kali tubuh saya menunjukkan gejala tidak enak badan seperti akan jatuh sakit karena masuk angin, saya punya kebiasaan mengerok leher saya dengan uang logam gopek dan balsam. Biasanya, bekas kerokan menghasilkan warna merah sampai merah kehitaman. Semakin menghitam warna kerokannya dan kulit tidak terasa sakit saat dikerok, maka tingkat masuk anginnya mendekati parah.

Saya terbiasa melakukan ritual ini saat badan pegal-pegal karena kecapekan. Saya balur bagian leher, dada, perut dan punggung dengan obat gosok atau balsam. Rasa mint balsam yang semriwing sedikit meredakan badan saya yang tadinya berasa tidak karuan. Jika kerokan di leher dirasa kurang, saya akan mengerok bagian atas pundak saya sambil memijat-mijat sendiri bagian tubuh yang mrengkel dan tak ketinggalan pula memijat jari tangan dan kaki seperti pijat refleksi.

Saat tidak sehat, jari-jari saya terasa sakit saat dipijat. Jika saya tidak sanggup melakukannya sendiri, biasanya saya minta bantuan tetangga yang bisa mengerok leher dan punggung serta memijat seluruh tubuh saya dengan tarif yang telah disepakati bersama. Ajaib, biasanya tanpa menunggu waktu lama badan saya segar kembali dan tidak jadi sakit tanpa harus ke dokter atau minum obat.

Saya tidak tahu pasti penyebab kesembuhan berkat kerokan itu, apakah sekedar sugesti saja atau memang kerokan ini sangat mujarab. Sepertinya, dengan dikerok, otot-otot yang tadinya kaku menjadi lemas kembali, peredaran darah menjadi lancar kembali, dan warna merah yang ditimbulkan seperti menjadi bukti bahwa angin yang masuk berhasil dikeluarkan seiring dengan timbulnya sendawa. Uh..lega banget rasanya..

Kesembuhan saya semakin sempurna setelah makan satu mangkok soto daging dengan sambal yang pedas dan minuman jeruk panas satu gelas. Begitu keringat keluar, langsung segar bugar..hehe..

Di desa tempat saya tinggal, kerokan sudah menjadi solusi saat badan dilanda masuk angin. Tidak tua tidak muda, semuanya sudah terbiasa kerokan. Sepertinya tradisi kerokan ini sudah turun temurun dari nenek moyang. Bukan hal yang aneh jika leher atau punggungnya merah-merah karena kerokan, dan pemandangan kerok mengerok di bawah pohon nan rindang sudah biasa terlihat.

Biasanya, orang yang dikerok bertelanjang dada dan bagian depannya ditutup dengan kain atau apa saja yang bisa untuk menutupi bagian depan. Si pengerok berkonsentrasi mengerok punggung yang sakit dengan dua garis sejajar arah vertical di sepanjang tulang punggung, dan garis horizontal sepanjang tulang rusuk di kanan kiri punggung dari atas di ujung bahu hingga ke bawah di pangkal pinggang dengan jarak antar garis kerokan sekitar 2 centimeter. Yang sudah mahir mengerok, biasanya kerokannya tidak sakit dan motif kerokan yang dihasilkan bisa lurus rapi, enak dilihat.

Bayi atau anak kecil yang sakit pun tak luput dari kerokan jika masuk angin. Tapi bukan uang logam yang digunakan untuk mengerok, biasanya dengan bawang merah sebagai pengganti uang logam dengan minyak telon atau minyak kayu putih sebagai pengganti balsam. Warna kerokan yang dihasilkan juga merah lho..saya sudah mencoba pada anak saya. Dan puji Tuhan, anak saya tidak jadi sakit setelah dikerok.

Menjadi pertanyaan saya, sebenarnya apakah masuk angin itu ? Apakah benar angin bisa menyebabkan sakit ? Lalu, bagaimana sebenarnya metode kerja kerokan itu ? Apakah ada kerugian, bahaya atau efek samping dari kerokan itu sendiri ? Sejauh ini sih, saya merasa aman-aman saja dengan kerokan, bahkan bisa bablas angine..hehe..

Di bawah ini ada beberapa kutipan tentang kerokan yang saya ambil melalui bantuan Google, semoga bisa memberi manfaat.

Dalam perspektif Kesehatan menurut dr. Prasanthi yang bersumber pada http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/012007/14/geulis/lainnya.htm kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai cara "mengeluarkan angin". Padahal, angin atau udara tak pernah keluar lewat pori-pori, melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan."Meskipun istilah masuk angin tidak terdaftar dalam kamus medis, namun ia merupakan penyakit umum. Gejalanya, antara lain meriang, kepala pening, leher dan persendian pegal-pegal.Sementara, kerokan yang menggunakan minyak kelapa plus balsam dengan perangkat sekeping uang logam, merupakan salah satu cara untuk menghangatkan bagian tubuh yang dikerok. Ketika orang masuk angin, atau istilah kedokterannya commond cold suhu tubuh bagian belakang turun. Gejala ini terjadi akibat kekurangan energi panas. Kerokan dipercaya bisa menetralisasi suhu tubuh di bagian itu.Tapi, dari sisi kesehatan, amankah cara ini?ISTILAH masuk angin, sebenarnya tidak berarti bahwa angin benar-benar masuk ke dalam tubuh. Sesungguhnya, tiupan angin menyebabkan suhu tubuh menurun. Karena bagian belakang terkena angin, temperatur tubuh turun. Lalu, muncul gejala masuk angin seperti pusing, meriang, atau pegal-pegal tadi.Peristiwa ini berbeda dengan pengaruh hawa dingin yang mengenai seluruh tubuh, baik bagian belakang maupun depan. Jadi, saat suhu udara turun, temperatur seluruh badan ikut turun. Sementara, paparan angin umumnya cuma mengenai salah satu sisi badan sehingga bagian itu saja yang turun suhunya. Wajar kalau orang lantas menyebutnya masuk angin.Masuk angin akut lebih mudah dikenali karena biasanya berujung pada gejala flu seperti bersin-bersin dan pilek. Bila masuk angin tidak disadari dan berlangsung terus-menerus, bisa menimbulkan rasa sakit kronis. Paling sering terjadi adalah nyeri leher dan pundak gara-gara AC.Masuk angin juga bisa menyebabkan perut kembung karena di bagian belakang tubuh terdapat titik-titik syaraf yang berhubungan dengan organ bagian dalam. Jika titik-titik itu kena rangsangan, organ dalam ikut terkena.
Kerokan merupakan salah satu usaha untuk menyeimbangkan suhu tubuh. Guna menjelaskan pola keseimbangan itu, ada konsep dasar pengobatan Cina yang membagi tubuh jadi bagian tubuh panas (disebut yang) dan bagian tubuh dingin (yin).Bagian yang meliputi kepala serta tubuh bagian belakang. Sementara yin terdapat pada tubuh bagian depan. Menurut konsep yin yang, orang terbilang sehat bila yin dan yang-nya dalam keadaan seimbang. Kalau tidak seimbang, akibatnya ya sakit. Yang terlalu tinggi, yin rendah, ya sakit juga.

Dalam hal masuk angin, penurunan suhu tubuh menyebabkan pembuluh darah di kulit tubuh bagian belakang mengalami penyempitan (konstriksi). Pembuluh darah kulit yang mengalami konstriksi memberi reaksi dingin. Konstriksi itu merupakan efek kompensasi. Saat suhu tubuh bagian belakang menurun, otomatis pembuluh darah kulit berkonstriksi agar seluruh tubuh tidak dingin.Konstriksi itu bisa mengakibatkan oksigenasi pada permukaan tubuh (terutama bagian belakang) jadi turun atau berkurang, sekujur badan terasa sakit. Selanjutnya, muncul gejala bersin. Nah, tindakan kerokan bisa mengubah suhu tubuh jadi seimbang kembali.DASAR pengobatan tradisional bersumber pada penyeimbangan empat pola penyakit yakni kuat, lemah, panas, dan dingin. Prinsip penyembuhannya adalah mengembalikan energi tubuh ke posisi seimbang. Kalau terlalu kuat dilemahkan, yang lemah dikuatkan, kelewat panas didinginkan, terlalu dingin dipanaskan. Sehat itu adalah kondisi energi yang seimbang.

Demikian pula yang terjadi pada masuk angin. Guna menyembuhkannya, tubuh harus mengembalikan keseimbangan yang dan yin, salah satu caranya dengan menaikkan suhu lewat kerokan. Mengurangi yin, memang bisa jadi seimbang, namun tidak berada pada posisi normal.

Upaya peningkatan suhu di bagian belakang tubuh bisa berpedoman pada hukum Einstein (E=mC2). Energi atau panas dihasilkan dari gesekan dua benda. Kalau permukaan kulit dikerok, suhu tubuh pun akan meningkat. Panas yang cukup tinggi berefek melebarkan pembuluh darah dalam kulit. Otomatis, peredaran darah jadi lancar dan oksigenasi lebih baik sehingga rasa sakit di tubuh berkurang. Ujung-ujungnya, timbul pula reaksi otonomik (sistem parasimpatik). Saraf otonom pada bagian belakang tubuh jadi seimbang.Jadi, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai cara "mengeluarkan angin". Padahal, angin atau udara tak pernah keluar lewat pori-pori melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan.

Masuk angin gara-gara gempuran angin dingin AC tak perlu diobati. Cukup berpindah posisi atau mematikan AC, pegalnya akan sembuh. Sedangkan masuk angin kronis tidak sekadar di bawah kulit, tapi sudah sampai ke dalam otot. Jadi, perlu pemanasan dalam sampai kedalaman 3-4 cm di bawah kulit, dan itu tak mungkin dicapai dengan kerokan.Cara kerokan paling efektif adalah "menggarap" daerah belakang tubuh, kepala atau leher. Pola umum kerokan biasanya membentuk garis-garis lurus dari atas ke bawah dan miring di sisi kiri kanan ruas-ruang tulang belakang ataupun pada leher bagian belakang. Itu bukannya tanpa alasan. Pada tubuh kita terdapat sekira 360 titik akupunktur utama yang berhubungan dengan organ penting. Begitu pun pada tubuh bagian belakang, terdapat titik-titik yang berhubungan dengan organ dalam tubuh (organ viscera).

Dengan pola kerokan yang benar, yakni ditarik lurus ke bawah di sisi kiri kanan ruas tulang belakang, kemudian digeser condong ke arah kiri dan kanan, reaksi optimal dapat dicapai. Gosokan-gosokan itu mungkin secara tidak sengaja menekan titik-titik akupunktur tertentu di tubuh bagian belakang.

Namun, perlu dipertimbangkan bahwa tiap orang memiliki kepekaan kulit dan daya tahan terhadap rasa sakit yang berbeda-beda, ada yang terbiasa dikerok sedikit, tapi tak jarang ada yang suka dikerok dalam-dalam sampai merah padam. Sebenarnya, tak ada aturan hasil kerokan harus sampai merah darah.

Sampai saat ini belum ditemukan efek samping kerokan. Yang jelas, cara ini bisa menimbulkan ketagihan. Kalau jaringan kulit dikerok, akan timbul reaksi jaringan. Bisa reaksi lokal, atau yang bersifat neural (saraf). Reaksi lokal terlihat langsung, misalnya warna merahnya kulit. Kerokan dengan intensitas kuat dan frekuensi rendah mengenai titik-titik saraf yang berhubungan dengan otak sehingga organ ini menyekresikan hormon endomorfin (B-endorfin, dinorfin, dan enkepalin).B-endorfin menimbulkan rasa nyaman karena ia berfungsi mengendalikan rasa nyeri. Adanya zat-zat itu dalam darah menyebabkan penderita merasa lebih bugar. B-endorfin juga merangsang organ viscera, terutama paru-paru dan jantung, sehingga penderita bisa bernapas lebih lega, serta peredaran darahnya jadi lebih baik.

Kemungkinan, penyebab ketagihan pada kerokan adalah zat morfin (endorfin). Padahal, tujuan tubuh mengeluarkan zat morfin hanya untuk reaksi lokal. Karena kebiasaan, penderita pun jadi ketagihan. Nah, masih ingin bertahan dengan cara tradisional ini? Kalau begitu, kerok saja! (dr. Prasanthi)***
Gambar dipinjam dari sini

Monday, July 12, 2010

Happy Birthday To Me !


Yeah..akhirnya saya bisa merasakan ulang tahun lagi, untuk yang kesekian kali. Puluhan memori kembali berulang di benak ini. Ada tanya yang tersirat, sebenarnya apa arti ulang tahun yang hakiki itu sendiri ?

Apakah ulang tahun hanya cukup ditandai dengan seloyang kue tart ( black forest yang lagi trend..! ), lilin berbentuk sejumlah angka yang merujuk pada umur yang lagi ultah, dirayakan di dalam gedung yang megah atau hotel, gema lagu Happy Birthday, ucapan selamat, cipika-cipiki..selanjutnya..apa lagi ?

Pantaskah jika ulang tahun kali ini mengukuhkan jati diri saya sebagai seorang yang dewasa ?

Dewasa ? Ya..sudahkah saya layak disebut sebagai seseorang yang telah dewasa. Secara harafiah, umur 32 tahun bukanlah usia seorang bayi ataupun seorang gadis remaja. Come on..saya sudah berstatus sebagai seorang istri dan seorang ibu sekarang.

Lalu ? Kenapa jiwa kanak-kanak itu masih seringkali ada ? Atau kenapa mata ini masih mudah menitikkan air mata tiba-tiba saat hati terluka ? Atau pula, kenapa saya kadang-kadang tanpa rasa berdosa ikut bermain bersama anak-anak kecil di sawah, berlari kejar-kejaran, dan seringkali berebut mainan dengan anak ? Ah ya..ini hanya sebagian kecil saja kok, hanya gambaran tentu saja, nggak mutlak..

Selebihnya, saya adalah tipe pekerja keras yang badan ini bisa pegal jika hanya berdiam diri saja. Saya yang kadang gelagapan saat bangun kesiangan dan segera berlari menuju tukang sayur diseberang rumah sana, memasak sesegera mungkin supaya anak dan suami bisa sarapan tepat waktu. Atau saya yang masih setia mencatat belanjaan hari ini, yang keningnya bisa berkerut jika harga kebutuhan naik dari cabe, bawang, sayuran, minyak goreng ataupun lauk pauk. Pusing dah…!!

Ah..otak ini berputar bagaimana mencari cara untuk meminimalkan ini dan memaksimalkan itu. Semuanya demi suatu maksud mencapai kata efektif dan efisien serta tidak dituduh sebagai pemboros. Bagaimana bisa boros jika tangan ini ikut mencari uang, merasakan letih dan susahnya mengumpulkan rupiah. Sangat tidak bijak rasanya, jika hasil dari pengorbanan itu dihamburkan begitu saja demi sesuatu yang tidak penting.

Ya, ulang tahun kali ini memang tidak ada perayaan yang khusus seperti juga tahun-tahun sebelumnya. Tak ada kue, tak ada lilin tapi hati ini membuncah tatkala ucapan selamat dari orang-orang tercinta silih berganti datang dari jam dua belas malam tadi. Melalui telepon, sms, jejaring sosial atau kontak fisik berupa salaman dan ciuman yang mendarat di bagian-bagian wajah ini, telah tercipta kehangatan dari suami, anak, ibu, kakak-kakak, saudara, handai taulan, sahabat, teman, rekan kerja, dan kenalan. Tertangkap kesan tulus dari semuanya itu lebur dengan rasa bahagia saya. Terima kasih yang tulus untuk kebaikan semuanya..semoga Tuhan membalas dengan berkat yang melimpah.

Ada beberapa ucapan ulang tahun kepada saya yang sama selama beberapa tahun ini, yang cukup menggelitik relung kalbu saya dari sahabat semasa kuliah tempo dulu.

“Selamat hari Koperasi, Jul..semoga segera diangkat jadi Menteri Koperasi..hihi..”.

Suatu kebetulan jika tanggal 12 Juli adalah hari koperasi. Dan ucapan ini berasal dari Devie, teman saya yang berulang tahun tanggal 2 Mei dan berprofesi sebagai Guru, yang selalu saya beri ucapan sama di hari ulang tahunnya :

”Met hari Pendidikan Nasional, Bu Guru..semoga panjang umur, bahagia n sukses selalu. By the way, kapan diangkat jadi Menteri Pendidikannya ? Hehehe..”

Saling berbalas ucapan maksudnya..1-1..lah yauw...

Mungkin, akan lebih afdol lagi jika saya pun turut mengucapkan selamat juga kepada diri sendiri yang lagi berulang tahun. Coba bayangkan, saat ini tangan kanan saya berjabatan dengan tangan kiri saya.

Simak ucapan untuk diri sendiri :

“Happy birthday ya..kamu harus bersyukur masih bisa merasakan ulang tahun. Umur bertambah, tapi kesempatan hidup berkurang. Umur hanyalah angka-angka..tapi usahakan untuk menjadi dewasa dan bijak. Dan ingat, itu nggak gampang, setiap hari adalah waktu yang tepat utuk belajar hingga akhir itu tiba. Akhir dari perjalanan hidup yang semoga tidak sia-sia adanya. Masih banyak yang harus kamu kerjakan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk sesama. Mulailah dari orang-orang yang kamu kenal dulu baru kemudian kepada orang lain sekalipun yang tidak kamu kenal . Sanggupkah kamu memberi kebahagiaan untuk mereka ?”

Wuah..sebuah ucapan selamat yang cukup panjang, mirip-mirip wejangan. Saya tidak tahu pasti, sisi mana dari diri saya yang memberi ucapan selamat tadi. Apakah sisi putih saya yang kadang bisa menjelma sebagai malaikat bagi orang lain, atau sisi hitam saya yang kadang mengerikan bagai iblis bagi yang merasakannya, ataukah sisi abu-abu saya yang tak kunjung memutuskan harus bagaimana saya menjadi orang. Harus menjadi orang yang baik atau jahat, karena ada kecenderungan, saya lebih sering memilih diam, berada di diantara sifat keduanya untuk mencari amannya. Nggak terlalu baik tapi juga nggak jahat-jahat amat. Aman..mungkin demikian adanya seperti kebanyakan orang...entahlah..

Paling tidak, saya masih punya segudang cita-cita. Saya punya rencana besar untuk berpuluh tahun ke depan. Saya ingin membahagiakan orang-orang tercinta : ibu, satu-satunya orang tua kandung yang masih saya punya selain bapak ibu mertua tentunya, suami, anak , keempat kakak laki-laki saya, saudara-saudara saya, sahabat-sahabat juga teman-teman dan orang lain semampu saya bisa. Mungkin tidak dengan materi semata, tapi saya masih punya tenaga, pikiran, hati, tawa canda, atau apapun yang bisa saya beri.

Saya punya harapan, bisa berumur panjang dan senantiasa diberi kesehatan sehingga bisa menyaksikan anak saya bertumbuh hingga dewasa kelak ( program jangka panjang ), memberinya adik ( program jangka pendek ), memberikan pendidikan yang terbaik, menjadikannya seseorang yang bisa mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya bukan hanya sekedar untuk mengejar kesenangan duniawi semata. Semuanya berpulang kepada tujuan ilahi, mengabdi kepada Tuhan seutuhnya dan berbagi untuk sesama..semoga..

Happy Birthday to Me..! Hooorrreeee…. J

Sunday, July 04, 2010

Welcome July..

Bagiku, bulan Juli adalah bulan yang cukup bersejarah dalam kehidupanku. Sejarah utamanya sudah pasti karena aku dilahirkan bulan ini. Beberapa hari lagi tepat di hari koperasi nanti. Ada yang nggak tahu hari koperasi itu tanggal berapa ? Hayo ngaku..tunjuk jari aja nggak usah malu-malu..satu..dua..tiga..em..wah..wah..kok banyak juga yang nggak tahu ya..? Hm..sebenarnya aku juga nggak tahu awalnya, tapi karena kebetulan ada yang bilang kalo hari koperasi itu sama persis dengan hari jadiku, jadi aku mengingatnya selalu..

Di keluargaku, selain aku yang ultah di bulan Juli, kakak laki-lakiku yang tertua juga lahir di bulan ini. Tepatnya tanggal 20 Juli nanti. So, ada ada zodiac Cancer di keluargaku. Tapi satu zodiac nggak menjamin banyak kesamaan karakter lho, buktinya dulu aku sering berantem sama kakak sulungku ini. Mungkin karena sama-sam berwatak keras ya, nggak ada yang mau ngalah hehe..tapi sekarang malah akur tuh, lha iya abis jauhan sih n udah punya keluarga sendiri-sendiri masak mau berantem terus..malu dong udah jadi Pakde dan Tante jeh..

Lalu, yang paling membekas di bulan Juli bagiku adalah ketika tanggal 26 Juli 1998, 12 tahun yang lalu, Bapakku tercinta dipanggil oleh Tuhan. Tepat dua minggu setelah ulang tahunku yang ke-20. Bagiku, Bapak bukanlah figur yang biasa, beliau sangat luar biasa. Kekagumanku kepada sosok beliau sudah kutuliskan diblog ini “ Bapakku is Superdad”. Bagi yang penasaran, dengan senang hati kupersilakan untuk membacanya..monggo..

Hm..sudah ada clue-nya, tuh..berarti pertanyaan kapan tanggal ultahku dan hari koperasi sudah terjawab dong..wah kalo ini kuis udah dapat door prize tuh hehe..

Terus..di bulan Juli ini pula aku berkenalan dengan si mantan pacar yang sekarang udah naik jabatan jadi misua eh..suamiku tepat di hari ulang tahunku yang ke-21. Kalo cerita tentang aku dan suami boleh deh baca diblog ini juga tulisan tentang “Keajaiban Cinta”. Based on true story tuh..hihi.. baca juga ya..( *maksa ih..* )

Lalu..lalu..ada apalagi ya di bulan Juli ini ? Yang pasti bulan Juli adalah musim liburan, udaranya dingin banget kalo pagi..bbbrrr…banyak yang jadi pengantin di bulan ini..hm..
Trus.. sejarah apalagi ya yang akan terukir di bulan Juli tahun ini ? Kita tunggu aja yah..

Monday, June 28, 2010

Bersyukur

Ternyata, hidup dalam ketidakpastian memacu adrenalinku. Ketika memutuskan untuk membuka usaha sendiri, sejuta harapan dan mimpi-mimpi mengiringi. Saat sudah dijalani, ternyata tidak sesederhana yang dikira. Aku dipaksa siap untuk menghadapi masa-masa sepi dan tidak boleh tinggi hati ketika omzet melebihi target.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok. Ketika otak ini dipacu untuk dapat berpikir secara kreatif, ide itu bisa muncul tiba-tiba. Hm..mungkin ini imbas dari ilmu kepepet..

Menjadi seorang pedagang adalah seni. Seni menjual, estetika dan kepuasan. Bagaimana diri ini dipaksa untuk belajar tentang produk, bagaimana cara menjual, bagaimana mengatur perputaran uang..ya..semuanya adalah seni.

Dan yang paling penting, jangan pernah lupa untuk bersyukur kepada yang Esa..karena dengan bersyukur, setiap hari adalah makna yang ternilai harganya. Hari ini tak akan sama dengan kemarin ataupun besok. Jadi, lebih baik maksimalkan hari ini dengan segala kesungguhan hati..

Thursday, June 24, 2010

Cintaku Bersemi di Kompasiana


Dulu, aku tidak mengenalnya. Bahkan keberadaannya pun belum aku ketahui. Padahal konon katanya, dia sangat populer di jagad maya. Mungkin karena aku yang kurang gaul atau memang tak mau tahu.

Sampai suatu hari, seorang teman mengenalkannya padaku, lewat dunia maya tentunya. Dan ternyata oh ternyata aku langsung terpikat padanya ! Hari kehari kutelusuri dirinya lewat mesin pencari dan wow..angka penelusurannya sangatlah fantastik !

Siapa gerangan dirinya ? Pesona apa yang ada pada dirinya hingga meluluhlantakkan segenap perasaan untuk ikut menjadi bagian hidupnya ? Jerat apa yang ada padanya hingga tanpa berat hati aku bisa berlama-lama berada dalam euphoria tak berkesudahan ?

Jujur, keberadaannya memompa adrenalin-ku untuk berpacu dengan waktu, mengerakkan jari jemariku di keyboard layar komputer untuk sekedar bertegur sapa ataupun ber-haha...hihi... semata. Kadangkala ceritaku mengalir begitu saja, atau aku yang mendengar cerita darinya.

Wawasannya sangatlah luas, apa saja dia paham. Menjadi teman curhat terbaik, pendengar terbaik dan pembaca terbaik. Siapa yang tidak klepek-klepek kalau sudah begini ? Oh, God help me !

Apakah aku harus jatuh cinta lagi ? Setelah aku bersuami ? Oh, no..oh yes..what ? Aku bisa gila kalau sudah begini. Melupakannya, jelas aku tidak bisa. Membiarkan perasaan ini semakin berkembang, jelas bisa bahaya. Jadi mesti gimana dong ?

Ah sudahlah..lebih baik aku mengikuti kata hatiku saja. Suami juga sudah aku kabari. Dan hebatnya, dia tidak bereaksi apa-apa, karena dia tahu persis bagaimana sifatku. Hanya satu pesannya, jangan sampai aku terlena dan lupa tugasku sebagai istrinya dan ibu dari anakku. Selama hubungan itu hanya terjalin di dunia maya saja tanpa ada jumpa di dunia nyata, tak mengapalah..masih bisa dikontrol katanya.

Sementara, hal ini bisa membuatku bernafas lega. Bersyukur karena suamiku tidak cemburu buta, dan semakin membuatku berusaha untuk bisa menjaga kepercayaannya.

Tapi suatu kali, pernah juga suamiku menegur jika aku terlalu larut dalam dunia maya dengannya. Apalagi jika sampai membuatku sedikit tak peduli dengannya. Suami mana yang mau diduakan ? Jadi rundinganlah aku dan suami, berbagi waktu untuk berbagi komputer. Gantian ceritanya. Karena suamiku juga butuh bergaul di dunia maya, butuh nambah ilmu lewat dunia maya. Ya sudah, jadi kita sama-sama. Akur deh pokoknya.

Tak terasa hampir 6 bulan hubunganku dengannya. Tepatnya tanggal 28 Juni nanti. Selama ini, aku bisa bahagia dalam hubungan ini, bisa mengembangkan bakatku, bisa tambah ilmu pengetahuanku, bisa tambah teman juga, berbagi suka berbagi duka..pokoknya komplit deh…Nggak rugi menjalin cinta dengannya, di rumah sehatnya..so nggak salah kan kalau aku bilang,” Mas Kom…pa…si….a…na….I love you pooollllll !!!! Uhhhuuuuyyyyy…!!!

Tuesday, June 22, 2010

Kompasiana Mendongkrak Popularitas ?

Populer. Siapa diantara kita yang tidak ingin menjadi populer ? Kita semua pasti ingin menjadi populer. Bohong jika ada yang tidak ingin menjadi populer. Pasti kita pernah berandai-andai menjadi seorang selebritis misalnya. Dikenal banyak orang, disanjung-sanjung, banyak penggemar, dielu-elukan (emang orang Betawi dielu-elukan hihi..), menjadi tersohor..wuah..glodak..!!

Tapi, apa iya menjadi orang yang populer itu jaminan bahagia ? Siapkah jika segala tindak-tanduk kita menjadi sorotan kemudian menjadi konsumsi publik ? Relakah kita jika segala privacy kita dijajah demi suatu kepentingan tertentu ? Hm..mungkin nggak ada salahnya jika kita berangan-angan dan mencari cara mengantisipasi segala kemungkinan yang ada jika tiba-tiba kita dipaksa menjadi populer.

Tidak bisa dipungkiri, di jaman sekarang ini siapa saja bisa menjadi terkenal. Adanya internet, banyaknya audisi dadakan, menjadi jalan untuk menyalurkan hasrat manusia menjadi seseorang yang ngetop tiba-tiba.

Dengan internet, kita bisa punya blog pribadi dan
bisa juga ikut dalam social blog seperti Kompasiana ini misalnya. Alasan untuk bergabung dalam social blog ini biasanya beragam. Ada yang sekedar iseng-iseng, ada yang memang hobby menulis, ada yang suka berbagi ilmu, ada yang ingin mencari teman bahkan ada juga yang ingin dikenal.

Terkenal karena suatu karya yang diakui khalayak ramai tentunya sangat membanggakan. Tapi bagaimana jika terkenal karena suatu aib ? Apakah Ariel, Luna dan Tari masih bisa berbangga jika nama mereka semakin dikenal karena adegan ranjang mereka ? Apakah sesuatu itu memang pantas menjadi berita yang heboh yang tak pernah henti untuk selalu dibahas dan menjadi ajang penghakiman ramai-ramai ? Entahlah, karena ternyata dari satu kejadian telah membuat banyak pihak untuk ikut serta terlibat dari desa ke kota. Dari pucuk gunung hingga ke dasar lautan. Memang luar biasa dampak dari internet itu. Tak peduli jika anak SD penasaran ingin tahu seperti apa video porno yang sangat menghebohkan itu. Apakah populer dengan cara seperti ini yang kita inginkan ? Hanya kita yang bisa menjawab dengan jujur.

Kembali ke Kompasiana, social blog satu ini memang punya andil yang cukup besar untuk mengantarkan popularitas para penghuninya. Salut tak terhingga saya untuk Kompasiana yang telah berperan melahirkan buku “Wahai Pemimpin Bangsa, Belajar dari Seks Dong !! karya mba Mariska Lubis dan editor bagindang ASA ( selamat ya ! ). Luar biasa, Kompasiana mewujudkan mimpi bagi banyak orang yang memperjuangkan mimpinya.

Memang hanya ada dua akibat dari keikutsertaan kita di Kompasiana ini. Menjadi terkenal atau tidak dikenal. Kita harus siap untuk menjadi keduanya. Saat kita tidak dikenal, berarti kita masih harus banyak belajar yang lebih baik lagi dan jangan pernah menyerah. Saat sudah terkenal, bisa dibilang karya tulisan kita sudah bisa diterima dengan baik tapi kita tetap harus banyak belajar karena popularitas itu sulit untuk dipertahankan. Tergantung perangai dan karya kita apakah bisa menjadi selera banyak orang.

Menjadi populer adalah suatu anugerah. Tidak semua orang bisa merasakannya. Tentunya kesempatan ini jangan disia-siakan. Terus berkarya yang bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak. Dan perlu diingat pula, menjadi populer bukan alasan untuk memandang sebelah mata orang lain yang belum terkenal. Popularitas bukan pula suatu alasan untuk menjadi tinggi hati dan lupa diri. Bukan pula suatu kesempatan untuk bisa terlena.

Demikian pula, menjadi populer adalah suatu pilihan. Kita juga berhak menolak untuk tidak memilih menjadi orang yang terkenal. Kita puas dengan hidup kita yang tidak perlu banyak orang tahu, it’s allright, no problem. Sepenuhnya adalah pilihan hidup kita yang paling nyaman buat kita.

Dan jika belum populer, ini hanya masalah waktu saja. Semua orang bisa menjadi populer. Jika kita konsisten terus menulis di Kompasiana ini dan setia untuk selalu membuat perbaikan, percayalah popularitas itu pasti akan datang menjemput. Entah lama, sebentar atau lama sekali. Yang penting apakah kita tahan berproses untuk menemui sang popularitas itu. Tidak ada yang tidak mungkin. Paling tidak, populer di mata keluarga sudah lebih dari cukup bagi saya apalagi popular beneran. Setubuh..eh setuju ?

Monday, June 21, 2010

Allow...

Senang rasanya setiap kali ketik angan-anganku di mbah Google, blog ku muncul di urutan pertama. Walau jumlah pengunjungnya belum terlalu banyak, tapi paling tidak hobby ngeblog selama setahun ini mulai ada hasilnya. Hasil dari cita-cita untuk sekedar berbagi. Belum seberapa, tapi bersyukur jika bisa bermanfaat untuk orang lain.

Ngeblog, awalnya hanya sekedar penyaluran hasrat untuk menulis. Anggap saja kalau dulu nulis di diary, sekarang nulis diblog. Dan, kalau dulu sifatnya rahasia, sekarang sudah lebih transparan dan berorientasi untuk kepentingan orang banyak, tidak melulu mengumbar cerita pribadi. Sesekali narsis bolehlah, tapi jangan sampai lebay. Siapa yang mau baca kalau terlalu lebay, ya kan ?

Ehm..ngomong-ngomong soal pengunjung, diblog angan-anganku ini ternyata sangat beragam juga. Terbukti dari hobby-ku mengintip siapa-siapa saja yang mengunjungi blog-ku ini ( thank you berat buat yang sudah mau mampir..), walaupun yang bisa terlihat cuma domain, search-nya apa, di kota mana, kata apa yang diketik..namun cukup membuat aku senang dan terhibur. Apalagi jika yang diketik adalah kata-kata yang aneh dan bisa membuat bibir ini tersenyum tulus.

Angka 69 merupakan angka yang cukup banyak dicari dalam search Google, dan teman-teman bisa langsung mendapatkan jawabannya diblog ini.

Pemerkosaan merupakan tindakan biadab yang tidak bisa ditolerir, dan diblog ini bisa dibaca kisah Duka Lara Wanita Diperkosa (based on true story )

Ingin tahu ciri-ciri buaya darat ? Bisa dilihat khusus di Universitas Buaya Darat di blog ini.

Pernahkah teman-teman berpikir jika seks dan membuat anak itu beda rasa ? Segera baca Jika Aku Tuhan : Seks Beda dengan Membuat Anak disini.

Apakah ibu tiri selamanya jahat ? Buka mata hatimu di Ratapan Ibu Tiri.

Punya sifat minder ? Jangan biarkan sifat itu menghalangi cita-cita kita semua ! Baca di Metamorfosis Judith.

Apa yang teman-teman lakukan jika sedang patah hati ? Mungkin bisa berpandangan lain setelah membaca Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan.

Capek berpikiran negatif ? Segera ubah cara berpikirmu di Pentingnya Positif Ting-ting

Mau cinta yang ajaib ? Jangan lewatkan Keajaiban Cinta

Lupa saat online pertama kali ? Mungkin tulisan My First Online Experience bisa mengingatkanmu kembali

Wah..tulisan apalagi ya ? Pokoknya banyak deh, silakan diubek-ubek blog ini, dan alangkah tersanjungnya aku jika kamu mau meninggalkan jejak berupa komentar, kritik ataupun saran. I appreciate that. Ya..? Yuk mariii..silakan baca-baca, semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari tulisan-tulisan diblog ini..

Oke deh, have a nice day ya..tetap semangat !!!

Wednesday, June 16, 2010

More Than Words

Astrid sedang beres-beres di kamar kost-nya ketika tiba-tiba sesosok tubuh laki-laki langsung menerobos masuk tanpa permisi dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangan Astrid.

“Hey..nggak sopan banget sih lo..baru gue ganti spreinya tauk..kusut lagi nih..ih..”

Laki-laki itu tidak menggubris teriakan Astrid yang sewot malah pura-pura tertidur. Astrid geleng-geleng kepala sambil celingukan keluar siapa tahu ada ibu kost di luar sana.

“Gawat, gue bisa disangka ngumpetin cowok nih..emang dasar si Rio ini nggak tahu aturan. Dasar selonong boy.. hey minggir, nggak usah pura-pura molor segala..”

Astrid menggoyang-goyangkan tubuh Rio berusaha untuk menggulingkan dari ranjangnya. Tubuh Rio tak bergeming. Astrid tak kehilangan akal, diambilnya semprotan serangga dan disemprotkannya ke seisi ruangan kamar kemudian..klik! Dikuncinya kamar dari luar. Sadis tapi cukup berhasil membuat Rio gedor-gedor pintu sambil terbatuk-batuk.

“Gila lo, Trid..mo bunuh gue ya..?”

“Elo yang gila main masuk kamar gue aja..emang gue cewek keren apaan ?”

“Iya..deh..ampun..tapi bukain dulu dong kamarnya..gue sesak nafas nih..”

“Lo baca nggak sih tulisan di depan kalo cowok nggak boleh masuk kamar cewek. Kalo lo ada perlu ma gue, tunggu di ruang tamu. Lo seneng ya kalo gue dihukum ibu kost ?”

Astrid cemberut sambil bukain pintu buat Rio. Rio senyum-senyum iseng.

“Halah..nurut banget sih jadi orang, sekali-kali nglanggar aturan kenapa, ibu kostnya lagi pergi ini..”

“Ya ampun..dasar lo tu cowok nggak bener ya..pokoknya tunggu gue di ruang tamu, gue mo ganti baju dulu..”

Brak ! Pintu kamar ditutup, Rio masih terbengong didepannya. Beberapa teman kost Astrid bisik-bisik di kamar seberang. Mungkin lagi ngomongin gaya Rio yang sedikit urakan. Sadar jadi bahan perbincangan, Rio segera menuju ruang tamu. Daripada dilaporkan yang nggak-nggak. Cari aman dulu deh..

Sepuluh menit kemudian Astrid muncul di ruang tamu.

“Ganti baju aja lama banget..pasti bingung ya mau pake baju yang mana ? Biasa aja lagi, gue suka semua dandanan lo kok..”

“Idih..siapa yang bingung, GR amat sih lo..”

“Yah..nggak asyik cuma duduk-duduk di kursi ini..jalan aja yuk..bete..”

“Kemana ?”

“Kemana aja, daripada diintipin temen-temen lo..”

Astrid menoleh ke belakang. Astaga..ada beberapa pasang mata mengintip di balik pintu yang sedikit bolong. Samar-samar terdengar suara cekikikan. Pantes..emang pada usil anak kost sini.

“Hayuk aja deh..daripada jadi tontonan..baru juga ngobrol gimana kalo ngapa-ngapain..eh..nggak ding, emang gue mo ngapain ma lo..najis tralalala..”

“Hm..ati-ati lo..lama-lama lo bisa jatuh cinta ma gue..”

“Dijamin enggak bakalan..playboy cap kambing kayak lo..masih untung gue mau jadi temen lo..”

Rio senyum-senyum. Sudah maklum dengan gaya Astrid yang ceplas-ceplos. Natural banget, nggak ada yang ditutupi. Apa yang dipikir, itulah yang terlontar keluar.

Sampai di mobil, Rio memutar lagu More Than Words dari Extreme..sumpah..Astrid paling suka banget dengan lagu itu cause mengingatkannya pada seseorang..

“Duh..lagu ini keren banget..”

Astrid ikut bernyanyi dengan mata yang terpejam. Rio memperhatikan. Dijalankannya mobil pelan-pelan keluar dari rumah kost Astrid. Rio juga suka dengan lagu ini. Ada memory khusus tentang seseorang. Keduanya terdiam tenggelam dalam lamunan. Andai saja..

“Trid..gue mo curhat nih..”

“Curhat apalagi..kemarin Santi, Maya, Luna..sekarang siapa lagi ?”

“Yoyok..”

“Hahaha..”

Keduanya terbahak. Astrid sudah bisa menebak jalan pikiran Rio si buaya bingung ini. Sebentar pendekatan, sebentar jadian, sebentar putus, sebentar pendekatan lagi..uh..dengerin ceritanya aja capek. Mbok ya ditetapkan siapa yang mau diajak serius.

“Kali ini aku nggak mau main-main..”

“Hm..selalu begitu kata di awal..trus bedanya apa sama yang kemarin-kemarin..?”

“Dengerin dulu dong..yang ini beda, Trid..anggun, manis, baik…”

“Trus..dianya mau nggak sama lo ?”

“Nah itu dia..gue mau minta bantuan lo..”

“Ogah..gue nggak mau terlibat dalam hubungan cinta lo..”

“Lah..kenapa, lo kan temen gue..”

“Jangan ngaku buaya kalo gak bisa naklukin cewek sendiri..”

“Cuma untuk jalan pembukanya aja..setelah itu baru gue jalan sendiri..”

“Justru itu yang penting..jalan pembuka..cari sendiri dong..”

“Hm..jadi bener nih gak mau bantu ? Nggak mau duit..?”

“What ? Lo mau nyogok gue..gue bilang enggak ya enggak..ngerti ?”

Astrid emosi, sedikit tersinggung. Memangnya gue bisa goyah karena uang. Duh..Rio jangan anggap gue serendah itu !

“Sorry, Trid..bukan maksud gue..hey..gue jadi bingung deh, kok lo jadi sensi gini sih, biasanya lo kan paling cuek dan mata duitan juga kadang-kadang..tumben lo gak bisa disogok ?”

Astrid mendelik. Matanya menyorotkan kemarahan. Sedikit mikir juga dengan ucapan Rio..iya, ya..what’s wrong with me ? I don’t care it’s dark ! (= auk ah gelap versi English hihi..).

Hff..Astrid menghela nafas panjang sampai poni rambutnya ikut terhempas oleh angin nafasnya. Rio melirik diam-diam. Menunggu apa yang akan terlontar dari bibir Astrid yang sebenarnya indah itu. Hm..memang indah sih sebenarnya, Rio meralat.

“Kayaknya gue mo datang bulan nih, marah-marah mulu..elo lagi bikin gue kesel aja..”

Rio bernafas lega. Astrid sudah kembali ke pribadi aslinya, sampe soal PMS dibahas segala. Mana tahu Rio soal gituan, nggak ngalamin sih..tapi paling nggak jadi tahu karena Astrid yang suka ngomong blak-blakan.

“Jadi, masih nggak mau bantuin gue nih..?”

“Mungkin ini saatnya lo mandiri, jangan tergantung sama bantuan gue. Ini hidup lo, kisah cinta lo..perjuangkan dengan sempurna, gue bantu doa aja..ok ?”

Rio ternganga. Selama ini memang Rio sangat tergantung dengan Astrid. Sebentar-sebentar curhat, sebentar-sebantar minta bantuan..begitu udah jadian lupa deh sama Astrid karena keasyikan dengan gebetan baru. Begitu putus, baru deh merengek-rengek ke Astrid minta dikenalin sama cewek cantik temennya yang lain.

“Kok lo tega gitu sih sama gue Trid ? Gue kan masih butuh bantuan lo..?”

“Rio..denger ya..dalam pertemanan itu ada take and give. Gue ikhlas bantu lho, tapi kemana lo saat gue butuh bantuan lo ? Lo selalu nggak ada waktu buat gue saat lo lagi punya gebetan. Elo ini terlalu egois atau apa ? Baru setelah lo kesepian baru merengek-rengek ke gue lagi. Emang gue mami lo ?”

Rio terdiam. Tidak menyangka Astrid akan ngomong panjang lebar seperti itu.

“Sebenarnya apa yang lo cari dalam hidup ini Rio ? Seenak perut lo permainkan perasaan cewek cuma buat kesenangan sesaat. Gue juga cewek Rio, gue rasain apa yang cewek-cewek itu rasain. Sakit hati..”

“Tapi daripada pura-pura mendingan gue putus aja kan..gue belum menemukan yang bener-bener sreg..”

“Kalo emang gitu ya jangan coba-coba..elo tu maruk, kemarin lo baru jadian ma Maya, trus ada Hani yang cantik lo embat juga..akhirnya lo putusin semua..gimana sih mau lo ? Mereka kan temen-temen gue juga..gue jadi nggak enak tauk..”

“Gue juga bingung..kenapa pesona gue terlalu kuat membius gadis-gadis…”

“Aduh..ini bukan waktu yang tepat buat lo narsis-narsis..mendingan lo introspeksi diri aja..lo gak bakat jadi buaya kalo bingung melulu..”

“Kayaknya gue mendingan cari calon istri aja ya..gue pengin nikah…”

“Huahahahahaha….. “

Astrid ngakak luar biasa. Tak dikira Rio akan bicara soal pernikahan. Rio mengerutkan kening. Apanya yang lucu ?

“Elo tu ya..pegang komitmen aja nggak bisa, gimana kalo mau nikah..udah gitu ngurus diri sendiri aja belum becus udah mau ngurus anak orang..hey..hey..sadar dong..”

“Diam Astrid ! Sama sekali nggak lucu ! Apa lo pikir gue serendah itu dimata lo ?”

Serentak Astrid menghentikan tawanya. Tampak Rio menatapnya bulat-bulat. Aih..Rio bisa marah juga ya..ngeri juga sih..

“Ups..sorry deh..gue cuma becanda kok..elo pantes kalo nikah..pantes..”

Astrid sedikit tergagap. Bingung mau ngomong apa. Tapi sebenarnya dalam hati masih pengin ketawa juga liat muka Rio yang aneh kalo lagi marah. Muka merah, mata melotot..wah..udah kayak buto ijo aja..

“Lo nggak tahu apa yang gue rasa Trid..gue butuh seseorang yang bisa memahami gue..”

Suara Rio melembut. Tatapan matanya meredup. Astrid sedikit terkesima. Hm..

“Selama ini lo cuma pengin dipahami aja, kapan lo bisa memahami orang lain ?”

“Gue udah kenal lo lama Trid. Gue ngerasa nyaman banget selama ada di sisi lo..”

“Wah..Rio..jangan macem-macem ma gue ya..gue jelas bukan tipe lo..”

“Tipe apa lagi ? Gue nggak peduli dengan tipe kalo gue udah klik sama seseorang..gue ngerasa chemistry itu ada di dalam diri lo..?”

“What ? Lo nggak lagi mabuk kan ? Apa-apaan ini..?”

Astrid terbelalak. Nggak nyangka Rio bakal ngomong kayak gini.

“Gue nggak mau main-main Trid..gue mau lo jadi istri gue. Gue nggak mau perasaan ini menyiksa gue..”

“Waduh..lo mulai kacau nih, sadar Rio..gue ini temen lo..?”

“Gue udah memendam rasa ini lama Trid..tapi lo seakan gak pernah peduli..selama ini gue coba berhubungan sama banyak cewek tapi gue nggak pernah serius karena apa ? Karena hanya lo yang ada dalam pikiran gue..gue nggak pernah bohong ma lo kan Trid ? Gue jujur..!”

“Cukup Rio. Gue turun aja disini. Gue pusing ! Jangan terusin lagi omongan lo..”

Astrid segera membuka pintu mobil dan berlari menjauh dari Rio sekencang-kencangnya. Dia nggak tahu apa yang harus diomongkannya. Semua ini omong kosong. Nggak ada artinya. Kenapa jadi begini Rio ? Gue nyaman dengan pertemanan kita, gue juga nyaman dengan semua curhat lo, gue juga nyaman dengan rasa cemburu gue selama ini..tapi saat lo berterus terang tentang perasaan lo kenapa gue jadi nggak ngerasa nyaman ? Apa yang telah terjadi ? Gue nggak ngerasa ada kebohongan dalam kata-kata lo..tapi gue masih belum percaya..gue ngerasa semua ini hanya mimpi..

Rio tergugu di dalam mobil. Nggak sanggup lagi untuk mengejar Astrid. Ada rasa penyesalan dalam hati kenapa baru sekarang dia berani mengungkapkan rasanya kepada Astrid. Setelah perjalanan panjangnya dengan gadis-gadis lain. Setelah puas bercerita kepada Astrid tentang kisah-kisah cintanya yang sesaat.

“Gue cinta lo Astrid..” ucap Rio lirih..

Lagu dari Extreme masih mengalun..More Than Words..

Saying I love You..
It’s not the word I want to hear from you
It’s not that I want to
Not to say but if You only knew..

How easy it would be to show me how you feel
More than words..

Monday, June 14, 2010

Jeruk Rasa Oralit


Bulan Juli nanti, genap 12 tahun bapak saya dipanggil Tuhan. Banyak kenangan dengan bapak yang begitu membekas dalam ingatan saya sedari saya masih kecil dulu. Ah..saya masih kecil tapi bapak selalu menerapkan aturan yang tegas dan disiplin dalam berkarya. Saya dibiarkan untuk menguraikan apa-apa saja yang menjadi mimpi saya di masa depan. Saya dibebaskan untuk punya cita-cita yang tinggi sekalipun saat itu saya tidak dimanjakan dengan uang yang berlimpah ataupun dalam gelimangan harta.

Semua bisa dicapai asalkan kita tak kenal lelah untuk berusaha. Lihatlah burung-burung di udara,yang tidak menabur tapi bisa menuai. Selama Tuhan berkehendak, kita tidak boleh khawatir akan masa depan kita. Semua sudah ada yang mengatur tinggal kita mau menjalankannya.”

Selalu itu yang ditekankan oleh bapak kepada anak-anaknya.

Saya selalu mengagumi sosok bapak saya yang selain jujur dan bertanggung jawab, punya selera humor yang tinggi. Ketika anak-anaknya malas mencuci pakaian, bapak hanya berujar,” Ya..terserah kalian kalau nanti pakaian kotor kalian berubah jadi ular..”

Kami sebagai anak-anaknya, dengan tersenyum malu dan kesadaran kemudian mencuci baju-baju kami. Tidak ada adegan bapak marah, selalu memakai perumpamaan atau sindiran yang pada akhirnya membuat kami ‘ngeh’ sendiri. Kecuali kalau kami memang sudah keterlaluan, bapak bisa marah juga. Dan kalau bapak sudah marah, semua pasti takut dan tidak ada yang berani membantah. Karena memang bapak marah karena suatu alasan. Entah karena kemalasan kami sebagai anak-anak ataupun demi kebaikan kami semua. Marah yang berdasar demi suatu kebaikan.

Ada satu cerita yang cukup berkesan bagi saya saat bersama bapak. Saya masih ingat, ketika tanggal muda saat baru gajian, bapak mengajak saya ke warung bakmi goreng yang terkenal enak di tempat kami. Saat itu malam hari dan pembeli bakmi goreng cukup banyak. Bapak pesan bakmi dibungkus untuk dibawa pulang. Karena harus antri dan cukup lama menunggu, bapak memesan minuman jeruk hangat untuk saya dan bapak. Setelah minuman diantar, bapak langsung meminum karena haus. Tapi baru sedikit diminum, bapak langsung mencari-cari sesuatu. Di meja kami, ada stoples kecil berisi bubuk berwarna putih. Saya tidak terlalu memperhatikan. Bapak langsung menuang bubuk putih tersebut dalam minumannya dan sempat menawari saya kalau mau tambah gula karena minuman jeruknya terlalu asam kurang manis. Setelah diaduk, bapak meminum minumannya dan tiba-tiba bapak hampir memuntahkan minuman tersebut. Saya kaget, ada apa ?

Wah..bapak kira gula nggak tahunya garam. Masak minumannya jadi oralit.”.

Saya tak mampu menahan tawa saya dan tidak menghiraukan banyak tatapan mata kearah saya dan bapak.

Bapak lagi nggak tanya-tanya..asal cemplung saja..”

“Gelap soalnya, bapak kira gula..warnanya sama putih sih..”

“Ha..ha..ha..”

Well, pengalaman ini menjadi topik terhangat di keluarga kami saat itu dan kami tergelak bersama-sama sambil menyantap mi goreng. Bapak senyum-senyum saja saat jadi subyek perbincangan. Ada-ada saja. I miss you Father..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...