Apa yang ada dalam pikiran kita saat mendengar kata selingkuh ? Selingkuh yang punya sinonim nyeleweng, serong alias pengkhianatan dari pasangannya biasanya mempunyai konotasi negatif. Namun, seperti juga penyakit, selingkuh mempunyai tahapan-tahapan dari yang ringan hingga kelas berat. Seperti apa tuh, yuk kita bahas bersama...
Monday, May 28, 2012
Empat Kategori Selingkuh
Apa yang ada dalam pikiran kita saat mendengar kata selingkuh ? Selingkuh yang punya sinonim nyeleweng, serong alias pengkhianatan dari pasangannya biasanya mempunyai konotasi negatif. Namun, seperti juga penyakit, selingkuh mempunyai tahapan-tahapan dari yang ringan hingga kelas berat. Seperti apa tuh, yuk kita bahas bersama...
Thursday, May 10, 2012
Cinta Tak Pernah Salah
Friday, March 02, 2012
Bisakah Waktu Berputar Kembali ?

Pagi ini begitu cerah walau dari kejauhan mengintip sang mendung yang ingin menampakkan eksistensinya. Sangat mungkin terjadi jika dalam sekejap, mendung akan tergantikan oleh hujan. Ah, apapun persaingan cuaca hari ini, tak mampu membuatku untuk ikut-ikutan galau demi sebuah status yang lagi happening saat ini. Yang penting, happy kurasakan detik ini tanpa ada kehadiran galau, gundah gulana, resah gelisah, sedih, muram durja, atau semua yang merusak keceriaanku pagi ini.
Lalu, ditemani segelas susu hangat dan setangkup roti tawar tanpa isi, ingatanku mem-flashback ke masa lalu, puluhan tahun yang lalu saat aku masih kanak-kanak. Masa dimana aku hanya mengenal rasa senang dan senang tanpa harus bersusah payah berteman dengan masalah dan pusing.
Teringat dengan jelas, di sebuah ladang yang luas, bersama teman-teman kecil sepantaran, kami bermain pasar-pasaran. Semuanya perempuan. Anak lelaki biasanya bermain perang-perangan atau mandi di kali beramai-ramai. Seru, khas petualangan bocah ala si bolang di jaman sekarang.
Kala itu, aku menjadi penjual es cincau dan teman-temanku yang lain ada yang berjualan sayur mayur, lauk pauk dan lain-lain. Pura-puranya kami semua berada di pasar tradisional, ada yang berperan sebagai penjual dan pembeli. Bahan-bahannya diambil dari apa yang ada di sekitar kami. Aku mengambil daun randu, daun jati, gamping, kemudian batu kecil atau kerikil sebagai bahan daganganku. Ada yang bingung untuk apa ? Baiklah akan aku jelaskan.
Daun randu atau daun pohon kapuk jika diremas-remas dengan air, akan menghasilkan air yang berwarna hijau yang licin jika dipegang, mirip dengan cincau yang belum jadi.
Daun jati akan menghasilkan warna merah jika diremas-remas dengan air mirip air sirup.
Gamping dicampur dengan air sudah pasti menghasilkan air yang putih seperti susu atau santan.
Batu kerikil berperan seperti layaknya es batu.
Jadilah es cincau buatanku laris manis diserbu pembeli. Semuanya virtual, uang yang digunakan pun uang-uangan dan minum es cincau pun pura-pura tidak ditegak beneran. Dengan modal gratis, aku bisa dapatkan uang-uangan yang jika itu beneran dan dirupiahkan, nominalnya 10.000 karena aku menjualnya seribuan per gelas ( gelas-gelasan mainan dari plastik ) dan pembelinya ada 10 orang. Jaman dulu, untuk ukuran segelas es cincau seribu itu termasuk mahal karena waktu itu segelas es cincau hanya seharga 250 rupiah tapi aku berhasil menjualnya seribu walau cuma pura-pura. Haha..bagiku itu sebuah prestasi yang luar biasa. Pembeli terkesan dengan tampilan es cincauku yang mirip beneran. Perpaduan dari warna hijau, merah dan putih seger banget kesannya.
Hm..masa kecil yang indah. Indah selalu saat aku mengenangnya kembali. Rasanya ingin kembali ke masa itu, walaupun saat aku kecil dulu selalu membayangkan agar aku lekas-lekas menjadi dewasa, sekolah yang tinggi, bekerja untuk kemudian menikah. Lalu sekarang setelah semuanya tercapai, sudah menikah, punya anak, punya usaha sendiri, malah punya keinginan untuk menjadi anak kecil lagi yang tidak punya apa-apa. Itulah manusia. Selalu ingin dan ingin, tak ada habisnya. Tapi paling tidak, apa yang menjadi keinginanku saat masih kecil dulu menjadi kenyataan di masa sekarang, sudah sepatutnya aku bersyukur karena itu semua merupakan pencapaian yang luar biasa.
Sebahagia apapun di masa kecil, tak akan ada yang mampu mengembalikan kita ke masa itu, karena waktu tidak mungkin berputar kembali. Cukuplah bagi kita untuk sekedar mengenangnya, kemudian menciptakan kebahagiaan yang lain di masa kini dan yang akan datang. Cukuplah bijaksana jika kita tidak meratapi apa yang mungkin tidak menjadi keinginan kita di masa kini. Masa kecil yang indah menjadi dasar yang kuat bagi kita untuk melangkah ke depan bukan untuk kembali menjadi sama seperti masa lalu. Masih bisa kok, kita menciptakan momen yang lebih indah di masa kini melebihi masa kecil dulu. Karena pikiran kita berkembang, pengalaman hidup lebih banyak kita rasakan, masak harus kalah dengan masa kecil kita ? Alangkah baiknya pula jika kita menciptakan masa bahagia di masa kanak-kanak buah hati kita kini. Supaya kelak di masa dewasanya, anak kita memiliki kesan yang mendalam akan masa kecil bahagia yang berhasil kita ciptakan untuknya. Life must go on dari generasi ke generasi. Ada kalanya kita jatuh, namun kita harus punya kekuatan untuk bangkit kembali dan membuat hidup ini lebih berwarna dan bermanfaat bukan hanya untuk diri kita sendiri tapi juga buat orang-orang yang kita cintai dan bagi sesama kita.
Pola pikir anak-anak yang polos, selalu tertawa, selalu ingin tahu, selalu ingin mencoba, bisa kita tiru di saat sekarang untuk mendapatkan kebahagiaan layaknya anak-anak kembali. Jangan pelit untuk tertawa, bahkan untuk menertawakan diri sendiri. Energi positif akan selalu kita dapatkan jika jika berpola pikir santai sekalipun sedang berbeban berat menghadapi masalah yang paling pelik sekalipun. Tenang, kunci utamanya.
Hm..jadi ? Semuanya terserah kepada Anda. Yang pasti, sekarang aku akan tertawa-tawa berderai dalam rinai hujan bersama buah hatiku yang sudah tak sabar menarikku segera...
Friday, December 23, 2011
Natal...

Wednesday, November 02, 2011
Saat Tidur, Kemana Nyawa Kita ?

Friday, October 28, 2011
Tentang Sebuah Rasa

Untuk sebuah rasa yang belum pernah terungkap, aku ungkapkan hari ini. Setelah sang waktu melaju hingga ke tahun empat belas. Setelah kita memiliki belahan jiwa dan buah hati masing-masing. Tak apa, hanya sekedar untuk kau ketahui. Supaya kau tak perlu ragu lagi untuk memastikan bagaimana rasaku padamu saat itu. Saat aku masih begitu pengecut di hadapanmu. Dan aku selalu merasa sebagai pecundang hingga tak pantas memiliki rasa itu. Kau terlalu sempurna di mataku. Dulu.
Aku merasa berdosa saat diam-diam meninggalkanmu tanpa sebuah kepastian setelah sekian lama kita larut dalam kebersamaan. Aku nyaman bersamamu saat itu, namun aku tahu kau masih ragu padaku. Hanya karena kita berbeda. Ya, kita terlahir dengan banyak perbedaan walaupun kita sama-sama diciptakan oleh-Nya. Aku merasa, hanya sebagai teman, kita akan aman untuk selalu bersama-sama. Tapi tahukah kau, saat kita sudah semakin dekat aku semakin tersiksa dengan rasa yang aku pendam. Ingin rasanya aku ungkapkan saat itu, namun aku dihantui rasa takut akan penolakanmu dan mungkin juga penolakan keluargamu padaku. Kau bagaikan seorang dewi yang tak terjamah olehku. Kali ini aku mengalah dengan pikiranku sendiri.
Lalu, keputusan itu aku ambil demikian cepat. Tanpa kata aku beranjak pergi. Aku tak tahu apakah kau terluka akan sikapku ini. Andai kau tahu, aku pun sangat tersiksa tak dapat bersamamu lagi. Meninggalkanmu adalah perbuatan bodohku yang seringkali kusesali. Bertahun-tahun aku mencoba untuk mengenyahkan rasaku padamu. Tapi maaf, aku tak bisa. Sudah aku coba untuk mencari penggantimu untuk mengisi singgasana tahta hatiku, namun tak pernah ada yang bisa sepertimu. Selalu, hanya kau yang paling indah bagiku.
Lama, hingga belasan tahun aku tak tahu kabar tentangmu. Mungkin kamu telah bahagia bersama laki-laki pujaanmu. Yang lebih segalanya dariku. Jelas, aku bukan apa-apa buatmu. Tak mengapa jika demikian, aku turut bahagia. Toh, aku juga sudah menemukan seseorang yang bisa mengerti tentang aku. Dan aku bahagia, cukup bahagia dengannya. Semoga kau pun juga. Apalagi, buah hatiku sangat lucu. Selalu bisa membuatku bangga sebagai seorang ayah. Ya, aku sudah menjadi seorang ayah sekarang. Pastinya kau juga sudah menjadi seorang ibu bukan ? Anakmu pasti lucu, sama seperti anakku. Ah..
Tempo hari, aku mendengar berita tentangmu. Tanpa sengaja. Lewat seorang temanku yang ternyata temanmu juga. Aku tersentak akan sebuah kebetulan ini. Setelah empat belas tahun. Aku penasaran, ingin tahu bagaimana keadaanmu saat ini. Namun aku malu. Aku ragu. Masihkah kau mengingat diriku dengan baik. Masihkah aku ada dalam memori masa lalumu. Mungkin sudah terlupakan begitu saja. Mungkin namaku sudah masuk dalam daftar temanmu yang tidak penting. Padahal andai kau tahu. Aku begitu memujamu. Mungkin hingga sekarang. Istriku sudah tahu. Aku cerita padanya tentang apa saja. Termasuk tentangmu. Dan dia mau mengerti. Semua orang punya masa lalu katanya. ya..aku lega karena memang cerita kita tidak pernah kelam. Indah, buatku..buatmu aku tak tahu.
Jadi, nomor handphonemu sudah aku dapatkan dari temanku yang juga temanmu itu. Sudah dari kemarin aku dapatkan namun aku ragu-ragu untuk menghubungimu. Aku sudah wanti-wanti dengan temanku supaya jangan memberitahumu kalau aku minta nomor handphonemu. Temanku hanya menatap penuh rasa ingin tahu, namun aku jawab supaya surprise. Lalu dia tersenyum dan tidak bertanya apa-apa lagi. Semoga saja temanku itu bisa dipercaya, sebab kalau tiba-tiba dia memberitahumu tentangku bisa gagal berantakan semua rencanaku.
Sssttt..kali ini aku main rahasia dengan istriku. Biasanya segala sesuatu aku ceritakan padanya. Namun kali ini tidak tentang nomor handphonemu. Aku save namamu dengan nama laki-laki supaya dia tidak curiga. Sebab diam-diam, aku pernah memergokinya membuka-buka handphoneku. Aku tak tahu apakah semua perempuan selalu ingin tahu privacy suaminya, lha wong aku saja tak pernah membuka-buka barang pribadinya. Aku tak mau dan tak mau tahu. Tapi tak apalah, cemburu berarti sayang. Mungkin istriku takut kalau aku selingkuh diam-diam. Belum selingkuh saja sudah curiga, gimana kalau aku selingkuh beneran ? Hush..semoga tidak. Aku ini laki-laki baik-baik kok.
Hm..kurasa sekarang adalah saat yang tepat. Istriku lagi arisan ibu-ibu di rumah tetangga, anakku lagi main di rumah temannya. Tak ada siapa-siapa di rumah ini kecuali aku sendiri. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Kuambil handphoneku kemudian kuhela nafas dalam-dalam untuk mengeluarkan keberanianku. Hati-hati kupencet nomor teleponmu. Apa yang kaulakukan saat ini ? Tut..tut..tut..tanda panggilanku sudah masuk. Dadaku berdegup kencang. Waduh..rasanya seperti masih remaja saja..
“Halo..?”
Terdengar suara di seberang. Aku yakin itu suaramu. Tidak banyak berubah. Aku senang sekaligus gugup.
“Aku cinta kamu..”
Aku tidak sadar apa yang aku ucapkan. Yang ada di pikiranku aku hanya ingin mengucapkan kata itu.
“Halo siapa ini ?”
“Aku cinta kamu..”
Semakin kacau pikiranku. Alam bawah sadarku menyuruhku mengucap kata itu. Berulang-ulang.
“Halo..bapak salah sambung ya..”
“Aku cinta kamu..”
Sekali lagi. Tiba-tiba saja aku sudah tak mampu untuk sekedar berbasa-basi. Padahal aku ingin tahu bagaimana kabarmu.
“Wong edan..ditanya nggak jawab..”
Tut..tut..tut...sambungan telepon terputus. Namun aku lega setengah mati sudah mengungkapkan rasaku. Meskipun kau tidak tahu siapa aku sebenarnya. Masihkah kau hafal dengan suaraku ? Mungkin aku sudah gila karenamu. Aku bahagia meski hanya bisa mendengar suaramu saja. Ternyata, aku masih menjadi pengecut hingga saat ini.
****
“Mas, Yoyok itu siapa ? Teman barumu po ? Kok aku belum tahu ?”
Waduh, istriku tanya tentang siapa Yoyok, namamu yang kusimpan dalam handphoneku. Aku terkesiap, handuk yang melilit tubuhku hampir saja terlepas. Aku baru selesai mandi.
“Tadi, waktu mas mandi, ada panggilan masuk namanya Yoyok, mau tak angkat kebetulan pas handphoneku juga bunyi, mbak Nita telpon mau pesen kue.”
“Oh..iyo, temen baru. Ya sudah, paling nanti juga telpon lagi kalau penting.”
Cepat-cepat kujangkau handphoneku dan benar, ada namamu di daftar miss call. Ada apa ya ? Aku jadi penasaran. Apa kau sudah tahu tentang aku ?
“Nanti, kalau aku lagi ke kamar mandi trus ada telpon dari Yoyok lagi, nggak usah diangkat ya..urusan laki-laki..”
Kataku pada istriku sambil mataku mengedip nakal.
“Walah kemaki..biasanya juga tak angkat ndak papa..jangan-jangan Yoyok ki pacarmu, opo sampeyan homo to mas ? Hiii...”
“Hush..sembarangan..”
Pikiranku penuh dengan tanda tanya. Berharap kau telpon lagi tapi please..mbok disaat istriku pas nggak ada. Pas aku di kantor atau di luar rumah saja sepertinya lebih aman. Aku nggak mau terperangkap dalam kebohongan yang berkesinambungan. Aku takut dosaku berlarut-larut. Duh, Gusti..mbok yao masa laluku ini jangan menggangguku lagi. Tapi yo salahku juga kenapa kemarin telepon trus ngomong yang nggak-nggak. Tak pikir kau sudah tidak nggagas lagi, lha kok malah telepon balik. Wah, jan..
Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa. Kurang 1 menit lagi aku telat ikut meeting. Semua gara-gara aku susah tidur tadi malam. Apalagi kalau bukan mikirin kau. Harap-harap cemas kalau kau telpon lagi. Handphone sampai tak simpan di bawah bantal. Sengaja tak silent supaya istriku nggak dengar kalau ada panggilan. Cukup dengan merasakan getarannya saja. Tapi yang kutunggu-tunggu tak kunjung menelepon. Yo wis, lega sementara. Sebenarnya aku pengin nelpon kau lagi, tapi aku masih takut ngomong yang nggak-nggak kayak kemarin. Trus, ndelalah pulsaku sudah di ambang batas. Istriku bisa curiga kalau pulsaku tiba-tiba mendadak boros. Wong biasane aku ki paling awet pakai pulsa. Kalau nggak penting banget ya nggak telpon. Ngirit.
Tapi ngomong-ngomong, kok ada yang aneh ya. Saku celanaku kosong melompong yang biasanya full dengan benda berbentuk persegi panjang itu. Wah..sepertinya penyakit pikunku kambuh. Handphoneku ketinggalan. Sudah beberapa kali ketinggalan sebenarnya dan biasanya aku tidak terlalu khawatir karena handphone itu pasti ada di kamarku. Tapi sekarang lain ceritanya, saat “Yoyok” hadir kembali dalam hidupku. Pikiranku sudah mengembara kemana-mana. Jangan-jangan kau telpon, trus yang ngangkat istriku, trus semuanya menguak begitu saja dan aku menjadi terdakwa disidang istriku karena ketidakjujuranku dari awal. Duh !
Hari ini di kantor kujalani dengan kacau. Mulai dari nggak konsen saat meeting hingga aku ditegur si bos, pekerjaan banyak salahnya, nggak kelar-kelar dan segala sesuatunya seolah tak bersahabat denganku. Pusing. Semua hanya karena kau yang memenuhi pikiranku. Aku heran, belasan tahun tak mampu membunuh rasaku padamu. Penasaranku begitu amat sangat menggoda. Keinginanku untuk bisa bertemu denganmu walau sesaat, begitu kuat. Apalagi dari info Dayat, temanku yang juga temanmu itu kau tinggal di daerah yang tidak terlalu jauh dari tempatku. Sebuah kebetulan yang jauh dari dugaanku sebelumnya. Kupikir kau sudah tinggal jauh di belahan dunia yang lain.
Aku berandai-andai kalau sekarang aku ketemu kau, apa yang akan kulakukan ya ? Salah tingkah seperti laki-laki umur puber atau biasa saja atau acuh tak acuh ? Embuhlah..aku bingung je..Hatiku kebat-kebit and cenat cenut nggak karuan. Itu baru mbayangke thok, gimana kalau ketemu betulan ? Duh biyung..Jeng Sri. kau selalu membuatku pusing tujuh keliling.
***
“Mas, Yoyok ki laki opo perempuan to ? Kok suarane lembut..tak kiro istrinya Yoyok je..tapi pas tak tanya apanya Yoyok dia nggak ngomong apa-apa malah bingung ki ?”
Ladalah, opo meneh iki. Baru datang dari kantor istriku sudah cerita macem-macem. Penasaranku makin membuncah.
“Yoyok telpon meneh ?”
“Ho oh..trus ngomong halo siapa ini ? Yo aku jawab, lha ini siapa, istrinya mas Yoyok po ? Trus dia ngomong Yoyok siapa ya..maaf salah sambung..Kok aneh yo. Jan-jane Yoyok ki sopo to mas ? Bingung aku..”
“Walah..supaya nggak bingung sesok meneh nek telpon rasah diangkat. Marai mumet..”
“Lha sampeyan ki mesti ketinggalan handphone, kebiasaan..”
Aku manggut-manggut. Sedikit lega istriku tidak curiga berkelanjutan. Namun aku semakin penasaran kenapa kau nelpon lagi.
Lalu aku mulai ubah kebiasaan. Handphone kutenteng kemana-mana takut kalau tiba-tiba kau telpon. Sengaja handphone kugantung di leher pakai tali. Istriku geleng-geleng liat kebiasaan baruku ini. Ke kamar mandipun, handphone setia menemaniku. Kuletakkan hati-hati di tempat yang kering dari air saat aku mandi.
Nah, saat aku lagi seru-serunya pakai sabun mandi, handphoneku berdering. Lekas kulihat siapa gerangan yang menelpon saat keadaanku basah kuyup begini. Yoyok. Mataku terbelalak. Lekas kucuci tanganku kemudian kulap dengan handuk secepat kilat. Berharap kau mau sabar menanti. Tak peduli badanku masih penuh dengan busa sabun tanpa sehelai benangpun.
“Halo..”
Suara lembutmu, jeng..aku benar-benar terbuai. Terpana. Terpaku.
“Ya, halo..”
“Maaf, saya hanya tanya siapa ini. Apakah salah sambung atau bukan. Apa Anda mengenal saya ? Tempo hari Anda yang menelpon saya kan ?”
“Jeng Sri..”
Tak urung aku memanggil namamu seperti dulu aku memanggilmu.
“Anda mengenal saya ?”
“Ya Jeng..empat belas tahun yang lalu aku mengenalmu. Aku Pras..”
“Mas Pras ? Prastowo ? Benarkah itu kamu Mas ? Ya Tuhan...”
Kuhela nafas panjang. Kau masih mengenalku dengan baik. Aku menangkap ada nada gembira dalam ucapanmu. Benarkah itu jeng ?
“Apa kabar Jeng ? Berapa anakmu sekarang ?”
“Baik, Mas..anakku dua, laki sama perempuan. Mas Pras sendiri berapa anaknya ?”
“Satu jeng. Laki-laki..suamimu ?”
“Satu, mas..eh maksudku..suamiku kenapa mas ? Mas belum mengenalnya..”
“O, ya..maafkan ucapanku tempo hari. Jujur, aku gugup.”
“Ndak apa-apa, mas..aku juga minta maaf nyebut wong edan..aku hanya kaget saja..kok tiba-tiba mas bisa tahu no telponku. Surprise..”
“Sebenarnya itu yang ingin aku ucapkan dari dulu. Tapi aku selalu menjadi pecundang sejati. Mungkin sekarang sudah tak ada artinya lagi.”
Kau diam. Tak ada suara apapun. Hanya aku bisa mendengar helaan nafasmu yang lembut dan dalam.
“Sebenarnya..kata itu yang kutunggu belasan tahun yang lalu, mas..namun mas terlanjur pergi tanpa kata. Tapi sudahlah..tak ada yang perlu disesali. Toh, sekarang kita sudah tahu dan tak mungkin untuk bisa saling memiliki. Aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang mas, dan semoga mas Pras juga bahagia. Terima kasih mas. Kejujuranmu sudah lebih dari cukup.”
Tut..tut..tut..sambungan telpon ditutup. Kau menyudahi pembicaraan kita. Aku masih belum percaya apa yang baru saja terjadi. Seperti mimpi. Kucubit lenganku dan aku malu ternyata aku masih berurusan dengan busa sabun. Handphone akan kuletakkan tapi tanganku terasa licin seperti belut dan handphone itu meluncur ke bak mandi. Waduh..handphone langsung mati total. Perasaanku campur-campur antara gembira dan sedih. Ah..ini bagian dari suatu dinamika hidup. Yang pasti aku lega. ya..sangat lega. Aku sudah bisa mengungkapkan rasaku tanpa khawatir akan ada perselingkuhan. Ya, aku janji. Jeng Sri, kau adalah bagian dari masa lalu yang belum usai namun aku sudah menyudahinya barusan. Masa depanku adalah istri dan anakku. Itu saja. Kulanjutkan mandiku yang tertunda. Kali ini dengan senandung. Aku lupa handphoneku butuh pertolongan segera. Ah..biar kunikmati dulu segarnya air mengguyur tubuhku hari ini.
Friday, October 07, 2011
Peribahasa Usaha
Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian
Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian
Nek wani ojo wedi-wedi, nek wedi ojo wani-wani
Bersahabat dengan ketidakpastian
Yeah..kalau mau yang pasti-pasti aja, mending jadi karyawan tetap. Gaji tiap bulan sudah pasti diterima, bisa merencanakan mau ditabung berapa, mau dibelanjakan berapa, mau buat traktir teman berapa, pokoknya bisa ada gambaran karena kondisi keuangan sudah bisa diprediksi. Kalau jadi pengusaha ? Belum tentu..hari ini beda banget dengan hari kemarin atau besok. Selalu berbeda. Hari ini ramai, besok nggak tahu deh..Karena itu, yang namanya ketidakpastian harus bisa menjadi sahabat terbaik. Bagaimana caranya si tidak pasti ini bisa menjadi pasti perlu diupayakan. Caranya ? Pasang target ! Ya, targetlah hari ini, bulan ini, tahun ini mau mencapai omset berapa. Kemudian cari cara bagaimana target itu bisa tercapai. Promosi dimana-mana, program bonus, potongan harga, kepuasan konsumen, layanan terbaik, hubungan personal yang baik dengan pelanggan, pokoknya segala kebutuhan konsumen diupayakan dengan semaksimal mungkin. Dengan restu Tuhan, semua itu bisa !
Sambil Menyelam, minum air
Anjing menggonggong, kafilah berlalu
Jangan tong kosong berbunyi nyaring
Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit
Pembeli adalah Raja
Saturday, September 03, 2011
Sukses..?
- Saat SD-SMA ranking 1 di kelas sudah pernah saya rasakan
- Lulus UMPTN dan masuk UGM
- Lulus kuliah hingga meraih gelar Sarjana
- Mendapatkan pekerjaan
- Mendapatkan jodoh kemudian menikah
- Dikaruniai anak
- Punya usaha sendiri
Kesuksesan lain yang belum saya raih saat ini adalah :
- Punya anak lagi
- Membesarkan usaha
- Masuk surga
Friday, August 19, 2011
Promo Murah Ban Dunlop
Promo ini berlaku untuk ban Dunlop Sp10 ukuran 155/80-12 hanya seharga 260 ribu sudah termasuk pasang dan balancing. Murah kan ? Jadi, pemilik ban Carry, Hijet dan yang senasib ukuran bannya alias sami mawon, bergegaslah sebelum stoknya habis. Apalagi saat ini ban-ban mobil yang baru, harganya sudah nggak kuku..jadi mumpung ada promo murah ini, tunggu apa lagi, mau lebaran bannya baru dooonnnggg..hehe..
Kemudian, untuk pemilik mobil Kijang, Xenia dan lain-lain yang ukuran bannya 165/80-13, ada lagi promo khusus dari Dunlop Prosafer. Murah, harganya cuma 300 ribu sudah termasuk pasang plus balancing. Balancingnya pakai timah lagi. Ahaaayyy..tunggu apa lagi ? Buruan dah..nggak pake lama..hahaha..( promosinya..)
Trus, kalau misalnya cuma mau dipasang aja, nggak mau dibalancing, alasannya karena pelegnya masih bagus nggak bermasalah, nggak mobeng maksudnya..ya nanti ada potongan harga lagi. Siip kaaan...??
Ayo cepat..bergegaslah, kesempatan emas ini tidak datang dua kali. Cuma sekali lho..jangan sampai nyesel...pasti puas. Dijamin !
Segera berbondong-bondong datang ke Wiyono Putro Autoshop.
Untuk info lebih lanjut hubungi no 081328505252, 0274-6947649. Pasti dijawab kecuali sms yang mboten-mboten, tidak akan dilayani. Makasih.
Wednesday, August 17, 2011
Merdekah..kah..kah..?
Gambar diambil dari sini

