Monday, May 28, 2012

Empat Kategori Selingkuh




Gambar dipinjam dari sini


Apa yang ada dalam pikiran kita saat mendengar kata selingkuh ? Selingkuh yang punya sinonim nyeleweng, serong alias pengkhianatan dari pasangannya biasanya mempunyai konotasi negatif. Namun, seperti juga penyakit, selingkuh mempunyai tahapan-tahapan dari yang ringan hingga kelas berat. Seperti apa tuh, yuk kita bahas bersama...

Selingkuh Kata-kata

Dalam tahapan ini, perselingkuhan masih terbatas dalam ungkapan kata-kata melalui ngobrol, chat, sms atau telepon. Misalnya seorang laki-laki yang sudah beristri memuji seorang gadis,”Kamu cantik, deh..”. Secara tidak langsung pujian itu mengandung unsur penyelewengan terhadap istrinya dengan memuji gadis lain. Mungkin maksudnya bercanda, tapi kalau ditanggapi oleh gadis itu, kira-kira apa yang akan terjadi..hayo..?

Selingkuh Rasa

Setelah saling memuji, seseorang biasanya akan memiliki rasa nyaman berdekatan dengan orang yang dikaguminya. Merasa senang, deg-degan saat bertemu dan ada rasa untuk membanding-bandingkan antara istri / suami dengan selingkuhannya. Biasanya, pada saat ini kekurangan istri / suami tampak begitu banyak sedangkan selingkuhannya tampak sempurna tiada tara. Hadeuh..

Selingkuh Pikiran

Ini yang cukup mengkhawatirkan. Misalnya pikiran seorang suami tidak bisa lepas dengan wanita lain yang dikaguminya. Bahkan, saat melakukan kewajibannya memenuhi nafkah batin dengan istrinya, yang dibayangkan adalah wanita yang dikaguminya itu. Wah..gaswat..

Selingkuh Fisik

Ini puncak dari perselingkuhan itu sendiri. Ketika rasa tak mampu menahan gejolak, istri / suami dan anak di rumah terlupa, sejenak melabuhkan hati dan tubuhnya untuk wanita / pria lain. Argh..kontak fisik terjadi dan begitu cepat dosa itu terbuang...Aw..masihkah agama dan norma mampu menjadi benteng pada saat seperti ini ? Hedonisme sudah menjerat dengan daya pikatnya.

Hm..sebab dan akibat dari selingkuh tentunya kita sudah tahu sendiri. Nikmat membawa sengsara mungkin, atau malah rela melepaskan keluarga yang dulu sangat dicintai kemudian larut dalam pelukan sang selingkuhan. Whatever..think before do it !

Thursday, May 10, 2012

Cinta Tak Pernah Salah


Ketika cinta jatuh di tempat yang salah, masihkah pantas itu disebut cinta ?

Lalu apa artinya jika cinta bisa datang kapan saja, dimana saja, pada siapa saja ?

Tak perlu terburu mengartikannya..

Cinta banyak macamnya, dari cinta diri hingga cinta nan universal..

Kita mampu mengubahnya menjadi cinta yang bagaimana tanpa harus ada hati yang terluka

Cinta di atas cinta yang lain, tak selayaknya bertahta...

Apalagi cinta dibalik janji setia kepadanya..

Tak akan ada cinta yang lain...

Cinta tak pernah salah..  

Friday, March 02, 2012

Bisakah Waktu Berputar Kembali ?


Gambar diambil dari sini

Pagi ini begitu cerah walau dari kejauhan mengintip sang mendung yang ingin menampakkan eksistensinya. Sangat mungkin terjadi jika dalam sekejap, mendung akan tergantikan oleh hujan. Ah, apapun persaingan cuaca hari ini, tak mampu membuatku untuk ikut-ikutan galau demi sebuah status yang lagi happening saat ini. Yang penting, happy kurasakan detik ini tanpa ada kehadiran galau, gundah gulana, resah gelisah, sedih, muram durja, atau semua yang merusak keceriaanku pagi ini.

Lalu, ditemani segelas susu hangat dan setangkup roti tawar tanpa isi, ingatanku mem-flashback ke masa lalu, puluhan tahun yang lalu saat aku masih kanak-kanak. Masa dimana aku hanya mengenal rasa senang dan senang tanpa harus bersusah payah berteman dengan masalah dan pusing.

Teringat dengan jelas, di sebuah ladang yang luas, bersama teman-teman kecil sepantaran, kami bermain pasar-pasaran. Semuanya perempuan. Anak lelaki biasanya bermain perang-perangan atau mandi di kali beramai-ramai. Seru, khas petualangan bocah ala si bolang di jaman sekarang.

Kala itu, aku menjadi penjual es cincau dan teman-temanku yang lain ada yang berjualan sayur mayur, lauk pauk dan lain-lain. Pura-puranya kami semua berada di pasar tradisional, ada yang berperan sebagai penjual dan pembeli. Bahan-bahannya diambil dari apa yang ada di sekitar kami. Aku mengambil daun randu, daun jati, gamping, kemudian batu kecil atau kerikil sebagai bahan daganganku. Ada yang bingung untuk apa ? Baiklah akan aku jelaskan.

Daun randu atau daun pohon kapuk jika diremas-remas dengan air, akan menghasilkan air yang berwarna hijau yang licin jika dipegang, mirip dengan cincau yang belum jadi.

Daun jati akan menghasilkan warna merah jika diremas-remas dengan air mirip air sirup.

Gamping dicampur dengan air sudah pasti menghasilkan air yang putih seperti susu atau santan.

Batu kerikil berperan seperti layaknya es batu.

Jadilah es cincau buatanku laris manis diserbu pembeli. Semuanya virtual, uang yang digunakan pun uang-uangan dan minum es cincau pun pura-pura tidak ditegak beneran. Dengan modal gratis, aku bisa dapatkan uang-uangan yang jika itu beneran dan dirupiahkan, nominalnya 10.000 karena aku menjualnya seribuan per gelas ( gelas-gelasan mainan dari plastik ) dan pembelinya ada 10 orang. Jaman dulu, untuk ukuran segelas es cincau seribu itu termasuk mahal karena waktu itu segelas es cincau hanya seharga 250 rupiah tapi aku berhasil menjualnya seribu walau cuma pura-pura. Haha..bagiku itu sebuah prestasi yang luar biasa. Pembeli terkesan dengan tampilan es cincauku yang mirip beneran. Perpaduan dari warna hijau, merah dan putih seger banget kesannya.

Hm..masa kecil yang indah. Indah selalu saat aku mengenangnya kembali. Rasanya ingin kembali ke masa itu, walaupun saat aku kecil dulu selalu membayangkan agar aku lekas-lekas menjadi dewasa, sekolah yang tinggi, bekerja untuk kemudian menikah. Lalu sekarang setelah semuanya tercapai, sudah menikah, punya anak, punya usaha sendiri, malah punya keinginan untuk menjadi anak kecil lagi yang tidak punya apa-apa. Itulah manusia. Selalu ingin dan ingin, tak ada habisnya. Tapi paling tidak, apa yang menjadi keinginanku saat masih kecil dulu menjadi kenyataan di masa sekarang, sudah sepatutnya aku bersyukur karena itu semua merupakan pencapaian yang luar biasa.

Sebahagia apapun di masa kecil, tak akan ada yang mampu mengembalikan kita ke masa itu, karena waktu tidak mungkin berputar kembali. Cukuplah bagi kita untuk sekedar mengenangnya, kemudian menciptakan kebahagiaan yang lain di masa kini dan yang akan datang. Cukuplah bijaksana jika kita tidak meratapi apa yang mungkin tidak menjadi keinginan kita di masa kini. Masa kecil yang indah menjadi dasar yang kuat bagi kita untuk melangkah ke depan bukan untuk kembali menjadi sama seperti masa lalu. Masih bisa kok, kita menciptakan momen yang lebih indah di masa kini melebihi masa kecil dulu. Karena pikiran kita berkembang, pengalaman hidup lebih banyak kita rasakan, masak harus kalah dengan masa kecil kita ? Alangkah baiknya pula jika kita menciptakan masa bahagia di masa kanak-kanak buah hati kita kini. Supaya kelak di masa dewasanya, anak kita memiliki kesan yang mendalam akan masa kecil bahagia yang berhasil kita ciptakan untuknya. Life must go on dari generasi ke generasi. Ada kalanya kita jatuh, namun kita harus punya kekuatan untuk bangkit kembali dan membuat hidup ini lebih berwarna dan bermanfaat bukan hanya untuk diri kita sendiri tapi juga buat orang-orang yang kita cintai dan bagi sesama kita.

Pola pikir anak-anak yang polos, selalu tertawa, selalu ingin tahu, selalu ingin mencoba, bisa kita tiru di saat sekarang untuk mendapatkan kebahagiaan layaknya anak-anak kembali. Jangan pelit untuk tertawa, bahkan untuk menertawakan diri sendiri. Energi positif akan selalu kita dapatkan jika jika berpola pikir santai sekalipun sedang berbeban berat menghadapi masalah yang paling pelik sekalipun. Tenang, kunci utamanya.

Hm..jadi ? Semuanya terserah kepada Anda. Yang pasti, sekarang aku akan tertawa-tawa berderai dalam rinai hujan bersama buah hatiku yang sudah tak sabar menarikku segera...

Friday, December 23, 2011

Natal...


Natal. Selalu syahdu. Damai. Tentram. Pikiranku mengembara ke masa lalu. Saat-saat sibuk turut andil dalam misa natal di gereja. Saat jadi rebutan panitia natal akankah aku jadi lektor atau ikut koor natal. Lalu aku memilih keduanya. Saat lektor belum memakai jubah, aku boleh bernyanyi di bangku koor menyemarakkan natal. Senang rasanya aku dibutuhkan. Semuanya untuk Tuhan, bukan untuk mendapatkan puja-puji semata.

Lalu, seusai misa, bersama keluarga dan teman-teman berkumpul bersama dalam kedamaian. Tertawa, hangat dan penuh ceria. Larut dalam kebersamaan.

Saat-saat memasang pohon natal bersama keluarga juga merupakan momen yang paling indah.

Natal itu sendiri, bagiku berarti kedatangan tamu istimewa. Tamu bukan sembarang tamu, tamu agung yang adalah Tuhan sendiri yang mau menjelmakan diri menjadi manusia biasa, lahir di kandang domba bukan di hotel yang megah layaknya seorang raja. Tuhan mau merendahkan dirinya, mengunjungi manusia yang penuh dosa dan cela. Siapakah aku ini hingga Tuhan sendiri berkenan hadir ?

Melalui adven, kita mempersiapkan diri untuk menyambut tamu agung. Menyiapkan hati bukan sekedar baju baru atau pesta natal yang semarak. Apakah kita sudah layak didatangi tamu agung ? Sepertinya tidak akan pernah layak, namun Tuhan tidak memandang kita siapa..Dia datang untuk membawa terang..membawa kedamaian..membawa perubahan..

Selamat Natal 2011 dan Tahun Baru 2012...


Wednesday, November 02, 2011

Saat Tidur, Kemana Nyawa Kita ?


Beberapa hari ini, pikiran saya terusik dengan pertanyaan seperti judul diatas. Jelas, saat tidur, segala kesadaran kita menghilang, dan seluruh sel-sel dalam tubuh kita beristirahat terkecuali jantung dan organ-organ vital lainnya tetap bekerja. Kita tidak pernah tahu, ada apa dengan roh atau nyawa kita saat kita tidur. Apakah ia ikut pula tidur atau jalan-jalan tapi entah kemana. Semua tidak bisa terjawab secara gamblang.

Lalu mimpi. Saya menduga, saat kita mimpi bertemu dengan seseorang, apakah itu bisa berarti nyawa saya dan nyawa orang itu saling bertemu saat kita tidur ? Ah..ini hanya kemungkinan saya saja, yang pasti mimpi adalah bunganya tidur. Saya tidak tahu sepenuhnya tentang hal itu.

Kehidupan dan kematian menjadi beda tipis saat kita tidur. Kita tak akan tahu jadinya jika nyawa kita tidak kembali lagi saat kita tidur sehingga tidak bisa bangun lagi. Mati. Mungkin begitu jadinya. Siapkah kita jika dalam keadaan tidur kemudian nyawa kita langsung terbang menanggapi panggilan Tuhan ? Entahlah.

Belum lama ini, saya terhenyak saat mendengar kabar bahwa teman lama saya, dikabarkan meninggal dunia karena kecelakaan. Setengah tidak percaya, saya merenung. Umurnya masih muda, 30 tahun sudah menikah dan punya anak satu. Dia pernah menjadi bagian hidup dari keluarga kami. Sangat akrab. Dan tidak menyangka jika dia begitu cepat pergi dari hidup ini. Ah..

Bercermin pada kenyataan itu, rasa syukur saat masih ada kesempatan hidup adalah yang paling manjur untuk mempersiapkan diri jika Tuhan sewaktu-waktu memanggil kita. Dimulai dari pagi hari, saat mata ini bisa terbuka kembali dari keadaan terpejam, mengucap syukur dan memanjatkan doa bahwa hari ini kita masih diberi nafas kehidupan. Seperti apa yang Steve Jobs bilang, berlakulah seakan-akan hari ini adalah hari terakhir kita hidup, niscaya apa yang kita kerjakan tiap hari adalah hal terbaik yang mampu kita lakukan.

Hidup adalah misteri demikian pula dengan kematian. Siapapun tak ada yang mampu meramal kematian orang lain ataupun kematiannya sendiri. Sewaktu-waktu maut bisa menjemput, dan kita takkan mampu untuk menolaknya. Semua akan mengalaminya tanpa kecuali. Sekarang ini kita sedang menanti giliran untuk itu. Dan sialnya, kita tidak pernah bisa bertanya kepada yang sudah mati bagaimana rasanya mati itu. Masuk surga ataupun neraka kita tidak pernah tahu. Pikiran kita terbatas untuk melampaui hal itu.

Apa yang perlu kita siapkan untuk mati semestinya sudah kita lakukan jauh sebelumnya. Kita percaya bahwa hidup hanya sementara, dan akan ada kehidupan kekal sesudah itu sesuai dengan apa yang kita perbuat semasa kita masih hidup di dunia yang fana ini.

Apakah kita sudah mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal sesudah mati ? Ataukah kita masih terlalu sibuk dengan kehidupan duniawi yang bersifat daging dan penuh dengan kenikmatan sesaat ini ? Hedonisme, dan kehidupan ragawi lebih prioritas daripada kehidupan rohani kita ? Hanya kita sendirilah yang mampu menjawabnya.

Iman saya percaya, neraka dan surga itu ada. Berbuat baiklah mulai dari sekarang.

Friday, October 28, 2011

Tentang Sebuah Rasa


Untuk sebuah rasa yang belum pernah terungkap, aku ungkapkan hari ini. Setelah sang waktu melaju hingga ke tahun empat belas. Setelah kita memiliki belahan jiwa dan buah hati masing-masing. Tak apa, hanya sekedar untuk kau ketahui. Supaya kau tak perlu ragu lagi untuk memastikan bagaimana rasaku padamu saat itu. Saat aku masih begitu pengecut di hadapanmu. Dan aku selalu merasa sebagai pecundang hingga tak pantas memiliki rasa itu. Kau terlalu sempurna di mataku. Dulu.


Aku merasa berdosa saat diam-diam meninggalkanmu tanpa sebuah kepastian setelah sekian lama kita larut dalam kebersamaan. Aku nyaman bersamamu saat itu, namun aku tahu kau masih ragu padaku. Hanya karena kita berbeda. Ya, kita terlahir dengan banyak perbedaan walaupun kita sama-sama diciptakan oleh-Nya. Aku merasa, hanya sebagai teman, kita akan aman untuk selalu bersama-sama. Tapi tahukah kau, saat kita sudah semakin dekat aku semakin tersiksa dengan rasa yang aku pendam. Ingin rasanya aku ungkapkan saat itu, namun aku dihantui rasa takut akan penolakanmu dan mungkin juga penolakan keluargamu padaku. Kau bagaikan seorang dewi yang tak terjamah olehku. Kali ini aku mengalah dengan pikiranku sendiri.


Lalu, keputusan itu aku ambil demikian cepat. Tanpa kata aku beranjak pergi. Aku tak tahu apakah kau terluka akan sikapku ini. Andai kau tahu, aku pun sangat tersiksa tak dapat bersamamu lagi. Meninggalkanmu adalah perbuatan bodohku yang seringkali kusesali. Bertahun-tahun aku mencoba untuk mengenyahkan rasaku padamu. Tapi maaf, aku tak bisa. Sudah aku coba untuk mencari penggantimu untuk mengisi singgasana tahta hatiku, namun tak pernah ada yang bisa sepertimu. Selalu, hanya kau yang paling indah bagiku.


Lama, hingga belasan tahun aku tak tahu kabar tentangmu. Mungkin kamu telah bahagia bersama laki-laki pujaanmu. Yang lebih segalanya dariku. Jelas, aku bukan apa-apa buatmu. Tak mengapa jika demikian, aku turut bahagia. Toh, aku juga sudah menemukan seseorang yang bisa mengerti tentang aku. Dan aku bahagia, cukup bahagia dengannya. Semoga kau pun juga. Apalagi, buah hatiku sangat lucu. Selalu bisa membuatku bangga sebagai seorang ayah. Ya, aku sudah menjadi seorang ayah sekarang. Pastinya kau juga sudah menjadi seorang ibu bukan ? Anakmu pasti lucu, sama seperti anakku. Ah..


Tempo hari, aku mendengar berita tentangmu. Tanpa sengaja. Lewat seorang temanku yang ternyata temanmu juga. Aku tersentak akan sebuah kebetulan ini. Setelah empat belas tahun. Aku penasaran, ingin tahu bagaimana keadaanmu saat ini. Namun aku malu. Aku ragu. Masihkah kau mengingat diriku dengan baik. Masihkah aku ada dalam memori masa lalumu. Mungkin sudah terlupakan begitu saja. Mungkin namaku sudah masuk dalam daftar temanmu yang tidak penting. Padahal andai kau tahu. Aku begitu memujamu. Mungkin hingga sekarang. Istriku sudah tahu. Aku cerita padanya tentang apa saja. Termasuk tentangmu. Dan dia mau mengerti. Semua orang punya masa lalu katanya. ya..aku lega karena memang cerita kita tidak pernah kelam. Indah, buatku..buatmu aku tak tahu.


Jadi, nomor handphonemu sudah aku dapatkan dari temanku yang juga temanmu itu. Sudah dari kemarin aku dapatkan namun aku ragu-ragu untuk menghubungimu. Aku sudah wanti-wanti dengan temanku supaya jangan memberitahumu kalau aku minta nomor handphonemu. Temanku hanya menatap penuh rasa ingin tahu, namun aku jawab supaya surprise. Lalu dia tersenyum dan tidak bertanya apa-apa lagi. Semoga saja temanku itu bisa dipercaya, sebab kalau tiba-tiba dia memberitahumu tentangku bisa gagal berantakan semua rencanaku.


Sssttt..kali ini aku main rahasia dengan istriku. Biasanya segala sesuatu aku ceritakan padanya. Namun kali ini tidak tentang nomor handphonemu. Aku save namamu dengan nama laki-laki supaya dia tidak curiga. Sebab diam-diam, aku pernah memergokinya membuka-buka handphoneku. Aku tak tahu apakah semua perempuan selalu ingin tahu privacy suaminya, lha wong aku saja tak pernah membuka-buka barang pribadinya. Aku tak mau dan tak mau tahu. Tapi tak apalah, cemburu berarti sayang. Mungkin istriku takut kalau aku selingkuh diam-diam. Belum selingkuh saja sudah curiga, gimana kalau aku selingkuh beneran ? Hush..semoga tidak. Aku ini laki-laki baik-baik kok.


Hm..kurasa sekarang adalah saat yang tepat. Istriku lagi arisan ibu-ibu di rumah tetangga, anakku lagi main di rumah temannya. Tak ada siapa-siapa di rumah ini kecuali aku sendiri. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Kuambil handphoneku kemudian kuhela nafas dalam-dalam untuk mengeluarkan keberanianku. Hati-hati kupencet nomor teleponmu. Apa yang kaulakukan saat ini ? Tut..tut..tut..tanda panggilanku sudah masuk. Dadaku berdegup kencang. Waduh..rasanya seperti masih remaja saja..


“Halo..?”


Terdengar suara di seberang. Aku yakin itu suaramu. Tidak banyak berubah. Aku senang sekaligus gugup.


“Aku cinta kamu..”


Aku tidak sadar apa yang aku ucapkan. Yang ada di pikiranku aku hanya ingin mengucapkan kata itu.


“Halo siapa ini ?”


“Aku cinta kamu..”


Semakin kacau pikiranku. Alam bawah sadarku menyuruhku mengucap kata itu. Berulang-ulang.


“Halo..bapak salah sambung ya..”


“Aku cinta kamu..”


Sekali lagi. Tiba-tiba saja aku sudah tak mampu untuk sekedar berbasa-basi. Padahal aku ingin tahu bagaimana kabarmu.


“Wong edan..ditanya nggak jawab..”


Tut..tut..tut...sambungan telepon terputus. Namun aku lega setengah mati sudah mengungkapkan rasaku. Meskipun kau tidak tahu siapa aku sebenarnya. Masihkah kau hafal dengan suaraku ? Mungkin aku sudah gila karenamu. Aku bahagia meski hanya bisa mendengar suaramu saja. Ternyata, aku masih menjadi pengecut hingga saat ini.


****


“Mas, Yoyok itu siapa ? Teman barumu po ? Kok aku belum tahu ?”


Waduh, istriku tanya tentang siapa Yoyok, namamu yang kusimpan dalam handphoneku. Aku terkesiap, handuk yang melilit tubuhku hampir saja terlepas. Aku baru selesai mandi.


“Tadi, waktu mas mandi, ada panggilan masuk namanya Yoyok, mau tak angkat kebetulan pas handphoneku juga bunyi, mbak Nita telpon mau pesen kue.”


“Oh..iyo, temen baru. Ya sudah, paling nanti juga telpon lagi kalau penting.”


Cepat-cepat kujangkau handphoneku dan benar, ada namamu di daftar miss call. Ada apa ya ? Aku jadi penasaran. Apa kau sudah tahu tentang aku ?


“Nanti, kalau aku lagi ke kamar mandi trus ada telpon dari Yoyok lagi, nggak usah diangkat ya..urusan laki-laki..”


Kataku pada istriku sambil mataku mengedip nakal.


“Walah kemaki..biasanya juga tak angkat ndak papa..jangan-jangan Yoyok ki pacarmu, opo sampeyan homo to mas ? Hiii...”


“Hush..sembarangan..”


Pikiranku penuh dengan tanda tanya. Berharap kau telpon lagi tapi please..mbok disaat istriku pas nggak ada. Pas aku di kantor atau di luar rumah saja sepertinya lebih aman. Aku nggak mau terperangkap dalam kebohongan yang berkesinambungan. Aku takut dosaku berlarut-larut. Duh, Gusti..mbok yao masa laluku ini jangan menggangguku lagi. Tapi yo salahku juga kenapa kemarin telepon trus ngomong yang nggak-nggak. Tak pikir kau sudah tidak nggagas lagi, lha kok malah telepon balik. Wah, jan..


Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa. Kurang 1 menit lagi aku telat ikut meeting. Semua gara-gara aku susah tidur tadi malam. Apalagi kalau bukan mikirin kau. Harap-harap cemas kalau kau telpon lagi. Handphone sampai tak simpan di bawah bantal. Sengaja tak silent supaya istriku nggak dengar kalau ada panggilan. Cukup dengan merasakan getarannya saja. Tapi yang kutunggu-tunggu tak kunjung menelepon. Yo wis, lega sementara. Sebenarnya aku pengin nelpon kau lagi, tapi aku masih takut ngomong yang nggak-nggak kayak kemarin. Trus, ndelalah pulsaku sudah di ambang batas. Istriku bisa curiga kalau pulsaku tiba-tiba mendadak boros. Wong biasane aku ki paling awet pakai pulsa. Kalau nggak penting banget ya nggak telpon. Ngirit.


Tapi ngomong-ngomong, kok ada yang aneh ya. Saku celanaku kosong melompong yang biasanya full dengan benda berbentuk persegi panjang itu. Wah..sepertinya penyakit pikunku kambuh. Handphoneku ketinggalan. Sudah beberapa kali ketinggalan sebenarnya dan biasanya aku tidak terlalu khawatir karena handphone itu pasti ada di kamarku. Tapi sekarang lain ceritanya, saat “Yoyok” hadir kembali dalam hidupku. Pikiranku sudah mengembara kemana-mana. Jangan-jangan kau telpon, trus yang ngangkat istriku, trus semuanya menguak begitu saja dan aku menjadi terdakwa disidang istriku karena ketidakjujuranku dari awal. Duh !


Hari ini di kantor kujalani dengan kacau. Mulai dari nggak konsen saat meeting hingga aku ditegur si bos, pekerjaan banyak salahnya, nggak kelar-kelar dan segala sesuatunya seolah tak bersahabat denganku. Pusing. Semua hanya karena kau yang memenuhi pikiranku. Aku heran, belasan tahun tak mampu membunuh rasaku padamu. Penasaranku begitu amat sangat menggoda. Keinginanku untuk bisa bertemu denganmu walau sesaat, begitu kuat. Apalagi dari info Dayat, temanku yang juga temanmu itu kau tinggal di daerah yang tidak terlalu jauh dari tempatku. Sebuah kebetulan yang jauh dari dugaanku sebelumnya. Kupikir kau sudah tinggal jauh di belahan dunia yang lain.


Aku berandai-andai kalau sekarang aku ketemu kau, apa yang akan kulakukan ya ? Salah tingkah seperti laki-laki umur puber atau biasa saja atau acuh tak acuh ? Embuhlah..aku bingung je..Hatiku kebat-kebit and cenat cenut nggak karuan. Itu baru mbayangke thok, gimana kalau ketemu betulan ? Duh biyung..Jeng Sri. kau selalu membuatku pusing tujuh keliling.


***

“Mas, Yoyok ki laki opo perempuan to ? Kok suarane lembut..tak kiro istrinya Yoyok je..tapi pas tak tanya apanya Yoyok dia nggak ngomong apa-apa malah bingung ki ?”


Ladalah, opo meneh iki. Baru datang dari kantor istriku sudah cerita macem-macem. Penasaranku makin membuncah.


“Yoyok telpon meneh ?”


“Ho oh..trus ngomong halo siapa ini ? Yo aku jawab, lha ini siapa, istrinya mas Yoyok po ? Trus dia ngomong Yoyok siapa ya..maaf salah sambung..Kok aneh yo. Jan-jane Yoyok ki sopo to mas ? Bingung aku..”


“Walah..supaya nggak bingung sesok meneh nek telpon rasah diangkat. Marai mumet..”


“Lha sampeyan ki mesti ketinggalan handphone, kebiasaan..”


Aku manggut-manggut. Sedikit lega istriku tidak curiga berkelanjutan. Namun aku semakin penasaran kenapa kau nelpon lagi.


Lalu aku mulai ubah kebiasaan. Handphone kutenteng kemana-mana takut kalau tiba-tiba kau telpon. Sengaja handphone kugantung di leher pakai tali. Istriku geleng-geleng liat kebiasaan baruku ini. Ke kamar mandipun, handphone setia menemaniku. Kuletakkan hati-hati di tempat yang kering dari air saat aku mandi.


Nah, saat aku lagi seru-serunya pakai sabun mandi, handphoneku berdering. Lekas kulihat siapa gerangan yang menelpon saat keadaanku basah kuyup begini. Yoyok. Mataku terbelalak. Lekas kucuci tanganku kemudian kulap dengan handuk secepat kilat. Berharap kau mau sabar menanti. Tak peduli badanku masih penuh dengan busa sabun tanpa sehelai benangpun.


“Halo..”


Suara lembutmu, jeng..aku benar-benar terbuai. Terpana. Terpaku.


“Ya, halo..”


“Maaf, saya hanya tanya siapa ini. Apakah salah sambung atau bukan. Apa Anda mengenal saya ? Tempo hari Anda yang menelpon saya kan ?”


“Jeng Sri..”


Tak urung aku memanggil namamu seperti dulu aku memanggilmu.


“Anda mengenal saya ?”


“Ya Jeng..empat belas tahun yang lalu aku mengenalmu. Aku Pras..”


“Mas Pras ? Prastowo ? Benarkah itu kamu Mas ? Ya Tuhan...”


Kuhela nafas panjang. Kau masih mengenalku dengan baik. Aku menangkap ada nada gembira dalam ucapanmu. Benarkah itu jeng ?


“Apa kabar Jeng ? Berapa anakmu sekarang ?”


“Baik, Mas..anakku dua, laki sama perempuan. Mas Pras sendiri berapa anaknya ?”


“Satu jeng. Laki-laki..suamimu ?”


“Satu, mas..eh maksudku..suamiku kenapa mas ? Mas belum mengenalnya..”


“O, ya..maafkan ucapanku tempo hari. Jujur, aku gugup.”


“Ndak apa-apa, mas..aku juga minta maaf nyebut wong edan..aku hanya kaget saja..kok tiba-tiba mas bisa tahu no telponku. Surprise..”


“Sebenarnya itu yang ingin aku ucapkan dari dulu. Tapi aku selalu menjadi pecundang sejati. Mungkin sekarang sudah tak ada artinya lagi.”


Kau diam. Tak ada suara apapun. Hanya aku bisa mendengar helaan nafasmu yang lembut dan dalam.


“Sebenarnya..kata itu yang kutunggu belasan tahun yang lalu, mas..namun mas terlanjur pergi tanpa kata. Tapi sudahlah..tak ada yang perlu disesali. Toh, sekarang kita sudah tahu dan tak mungkin untuk bisa saling memiliki. Aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang mas, dan semoga mas Pras juga bahagia. Terima kasih mas. Kejujuranmu sudah lebih dari cukup.”


Tut..tut..tut..sambungan telpon ditutup. Kau menyudahi pembicaraan kita. Aku masih belum percaya apa yang baru saja terjadi. Seperti mimpi. Kucubit lenganku dan aku malu ternyata aku masih berurusan dengan busa sabun. Handphone akan kuletakkan tapi tanganku terasa licin seperti belut dan handphone itu meluncur ke bak mandi. Waduh..handphone langsung mati total. Perasaanku campur-campur antara gembira dan sedih. Ah..ini bagian dari suatu dinamika hidup. Yang pasti aku lega. ya..sangat lega. Aku sudah bisa mengungkapkan rasaku tanpa khawatir akan ada perselingkuhan. Ya, aku janji. Jeng Sri, kau adalah bagian dari masa lalu yang belum usai namun aku sudah menyudahinya barusan. Masa depanku adalah istri dan anakku. Itu saja. Kulanjutkan mandiku yang tertunda. Kali ini dengan senandung. Aku lupa handphoneku butuh pertolongan segera. Ah..biar kunikmati dulu segarnya air mengguyur tubuhku hari ini.



Friday, October 07, 2011

Peribahasa Usaha

Dalam membangun suatu usaha, diperlukan etos kerja yang tinggi, jiwa optimis dan pantang menyerah. Kesuksesan tidak serta merta diraih jika tanpa perjuangan. Berikut akan dijabarkan beberapa peribahasa yang cocok untuk gambaran yang terjadi saat membangun suatu usaha.



Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian

Exactly. Untuk bisa menggapai mimpi setinggi langit menjadi pengusaha sukses, siapapun harus mau bersusah payah dahulu baru bersenang-senang kemudian. Lha iya, contoh kisah hidup sukses ala bangsa Tionghoa yang pandai mengatur keuangan sedikit demi sedikit. Mereka rela makan bubur tiap hari dan berpakaian seadanya sehingga kelebihan uang yang ada diputarkan seluruhnya saat usaha masih kecil. Mereka mampu menekan hawa nafsunya demi mencapai tujuan akhir yang diidamkan. Seringkali kita punya paham yang salah dalam mengelola keuangan. Saat ada uang, kita dengan mudah membelanjakannya tanpa perencanaan yang tepat demi memuaskan keinginan kita akan makan yang enak, pakaian bagus, gadget ini itu dan lain-lainnya. Akibatnya, uang yang bisa kita investasikan sangat minim dan terbatas. Bahkan, seringkali harus gigit jari saat mengalami kenyataan besar pasak daripada tiang.


Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian

Yup. Kita sudah terlanjur buka usaha sendiri. Rela meninggalkan pekerjaan tetap terdahulu sebagai karyawan. Rela meninggalkan zona nyaman menuju zona antah berantah. Ya, membangun suatu usaha baru ibaratnya nyemplung ke suatu dunia yang kita belum tahu bagaimana nasib kita nanti. Hanya ada dua kemungkinan, berhasil dan gagal. Lalu bagaimana kalau nanti gagal dan gagal lagi ? Terlanjur basah ya sudah mandi sekalian. Artinya, kita harus punya pemikiran ini dunia baru kita yang penuh tantangan, yang layak diperjuangkan dengan sempurna. Tak ada pilihan lain lagi. Bangun niat dan kekuatan bahwa apapun yang akan terjadi, itu resiko yang harus kita ambil. Semakin besar tantangan, akan semakin besar pula resiko kegagalan dan kesuksesannya. Tergantung kita mau memilih yang mana, lalu sinkronkan dengan cara kita menyikapinya. Kalau gagal, ya bangkit, coba lagi..pelajari dimana letak kesalahannya, evaluasi kemudian perbaiki. Cari cara yang baru sampai mencapai tujuan akhir.


Nek wani ojo wedi-wedi, nek wedi ojo wani-wani

Pernah mendengar istilah Jawa ini ? Artine opo yo ? Translate dalam bahasa Indonesianya adalah kalau berani jangan takut-takut, kalau takut jangan berani-berani. Piye kuwi ? If you're brave don't be afraid and if you're scare don't be brave. Kira-kira begitu bahasa Inggrisnya, betul begitu pak Gustaaf Kusno ? Mohon diralat jika salah hehe..Well, dalam membangun suatu usaha, kita tidak boleh setengah-setengah melakukannya. Tetapkan tujuan di awal, pakai intuisi kita, apakah kita yakin ? Jika iya, lakukan ! Jika ragu-ragu mending jangan dilakukan dulu. Tunggu sampai hati kita mantap untuk melakukannya. Karena tekad yang kuat, berani dan fokus terencana akan lebih baik hasilnya jika dibandingkan dengan tekad yang lemah, takut dan tidak fokus. Begitu kan kira-kira ? Karena itu kalau berani ya berani 100 persen jangan takut-takut dan jika takut ya jangan berani coba-coba. Just wasting time nanti..

Say no to besar pasak daripada tiang

Kok bisa ? Logikanya kan pasak itu lebih kecil daripada tiang. Kalau sampai pasak yang lebih besar dari tiang pastinya pasak itu pasak raksasa ya ? Luar biasa hehe..Itulah, mestinya kita introspeksi diri jika pengeluaran kita lebih besar daripada pemasukan kita. Lah iya, kalau sampai pengeluaran lebih besar dari pemasukan pasti kita sering tekor. Mestinya kan hidup sesuai dengan penghasilan yang didapat bahkan kalau bisa pengeluaran seminim mungkin sehingga sisa penghasilan dapat ditabung atau diinvestasikan sehingga bisa berkembang lebih besar. Bukannya menumpuk hutang sampai kerepotan untuk membayar. Jadi, hidup sesuai dengan kebutuhan bukan sesuai keinginan. Kalau sesuai keinginan, tak akan ada habisnya. Maunya ingin ini, ingin itu..waa..habis deh uangnya kalau tidak direm keinginannya. So, low profile aja deh..pola hidup sederhana rasanya lebih pas kalau mau hidup ayem tentrem, aman, sentousa, dan sejahtera. Dalam berbisnis juga seperti itu. Prinsipnya, dengan modal serendah-rendahnya, menghasilkan keuntungan setinggi-tingginya. Nah..cocok dengan prinsip ekonomi kan ?


Bersahabat dengan ketidakpastian


Yeah..kalau mau yang pasti-pasti aja, mending jadi karyawan tetap. Gaji tiap bulan sudah pasti diterima, bisa merencanakan mau ditabung berapa, mau dibelanjakan berapa, mau buat traktir teman berapa, pokoknya bisa ada gambaran karena kondisi keuangan sudah bisa diprediksi. Kalau jadi pengusaha ? Belum tentu..hari ini beda banget dengan hari kemarin atau besok. Selalu berbeda. Hari ini ramai, besok nggak tahu deh..Karena itu, yang namanya ketidakpastian harus bisa menjadi sahabat terbaik. Bagaimana caranya si tidak pasti ini bisa menjadi pasti perlu diupayakan. Caranya ? Pasang target ! Ya, targetlah hari ini, bulan ini, tahun ini mau mencapai omset berapa. Kemudian cari cara bagaimana target itu bisa tercapai. Promosi dimana-mana, program bonus, potongan harga, kepuasan konsumen, layanan terbaik, hubungan personal yang baik dengan pelanggan, pokoknya segala kebutuhan konsumen diupayakan dengan semaksimal mungkin. Dengan restu Tuhan, semua itu bisa !


Sambil Menyelam, minum air

Sekali jalan, dua – tiga tujuan tercapai. Efektif dan efisien. Tiru cara perusahaan franchise fast food menawarkan barang dagangannya. Sudah beli ayam goreng, ditawari produk lain seperti mau supnya pak ? Kentangnya, masih panas lho pak ? Dan cara ini memang cukup ampuh setelah saya praktekkan di toko ban dan onderdil saya. Tadinya ada seorang Bapak cuma mau beli baut saja, lalu saya lihat ban mobilnya sudah mau gundul, saya tawari harga ban terbaik. Eh, tak lama kemudian si bapak datang lagi untuk ganti ban yang saya tawarkan tempo hari. Sudah ada uangnya katanya. Saat ganti ban, saya tawari lagi, olinya pak, onderdilnya. Ya..si bapak tertarik untuk membeli. Sambil menyelam minum air kan ? Jadi, perbanyak transaksi lebih efektif untuk menaikkan omset. Plus, pelanggan puas karena merasa kebutuhannya diperhatikan.


Anjing menggonggong, kafilah berlalu

Tunggu dulu, ini bukan berarti sebagai pengusaha harus cuek bebek tapi harus punya kepekaan yang tajam. Baru-baru ini saya mendapat semacam intervensi dari pihak kompetitor yang merasa usahanya terancam dengan keberadaan usaha baru saya. Si kompetitor dengan terus terang menyatakan keberatannya jika pelanggannya beralih ke tempat saya dan dia mendikte saya masalah harga jangan murah-murah karena bisa merusak pasaran. Pasaran siapa ? Sekarang begini saja, lokasi usaha saya cukup jauh jaraknya dengan kompetitor. Dalam berbisnis, saya menerapkan sikap profesioanlisme dan management yang cukup terencana. Tentunya saya punya banyak strategi untuk menjaring pelanggan. Kalau pelanggan suka belanja di tempat saya, mestinya kompetitor kan introspeksi diri kenapa bisa begitu ? Apakah ada yang kurang dari pelayanannya selama ini ? Toh, saya tidak merebut dengan paksa, pelanggannya sendiri yang mau mencoba dan ternyata cocok. Bersaing itu biasa kan, toh saya bersaing secara sehat, tidak menjelek-jelekkan usaha kompetitor lain. Hak saya mau pakai strategi apa, pelanggan bisa memilih sendiri. Begitu kalau pola pikir saya. Jadi, intervensi itu saya anggap masukan yang positif saja untuk bisa lebih maju dan berkembang lagi, bukan sebagai suatu ancaman yang harus ditanggapi dengan emosi. Buang energi saja.


Jangan tong kosong berbunyi nyaring

Dalam berbisnis seringkali konsumen mudah terjerat dengan banyak iklan yang menyesatkan. Iklannya heboh, dengan iming-iming yang wow, begitu uang sudah melayang, pembeli kecewa karena produk yang dibeli ternyata tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Nah, sebisa mungkin hal-hal seperti ini dihindari karena kekecewaan pembeli bisa berakibat pada kelangsungan usaha. Maunya usaha kan untuk jangka panjang, masa depan, bukan hanya heboh sebentar kemudian hilang gemanya dan berakhir dengan sepi pembeli. Jadi, usahakan iklan yang benar-benar menolong konsumen dari kebutuhannya. Kalau perlu konsumen diberi pemahaman yang jelas tentang product knowledge yang akan dibeli, disesuaikan dengan budget yang ada dan dipilihkan yang paling sesuai dan cocok dengan kebutuhannya. Kalau sudah begitu, pasti pelanggan akan puas dan datang lagi..lagi..dan lagi..hehe..

Tuna sathak bathi sanak

Bah, peribahasa macam mana pula ini ? Tenang bro, ini peribahasa Jawa maning yang artinya rugi sedikit yang penting untung saudara. Ya, dalam berbisnis pun tidak melulu keuntungan yang dikejar. Menjual hendaknya tidak hanya sekedar menjual saja. Hendaknya diupayakan ada hubungan yang baik laksana keluarga sendiri dengan pelanggan sehingga bisa memberikan aura positif. Sebagai awal untuk menjaring pelanggan supaya loyal, tak apalah kita berkorban dulu untuk mau merugi sedikit yang penting kita bisa tambah persaudaraan. Kalau sudah begitu, satu pelanggan itu punya keluarga, saudara, teman-teman yang bukan tidak mungkin jika merasa diuntungkan dengan usaha kita, akan dengan mudah bahkan tanpa perlu diminta merekomendasikan usaha kita kepada relasi-relasinya yang luas. Bukankah cara ini cukup efektif tanpa perlu membayar iklan yang cukup mahal ? Akan muncul pelanggan-pelanggan baru yang merasa tertarik dengan rekomendasi dari langganan lama kita. Jadi, pelihara langganan lama dengan baik, dan sambut pelanggan baru dengan suka cita serta pelayanan yang maksimal. Begitu..


Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit

Coba bandingkan, mau toko laris dengan untung yang tidak terlalu besar, atau untung banyak tapi pembeli jarang-jarang ? Yang paling utama dalam berbisnis sebenarnya adalah omset yang selalu meningkat sehingga perputaran barang maupun uangnya cepat. Dengan begitu, usaha bisa cepat berkembang dan mudah untuk melebarkan sayap. Lebih baik untung seribu rupiah tapi barang yang keluar 50 item misalnya, daripada untung dua ribu tapi barang yang keluar cuma lima item. Kecenderungan pembeli adalah mendapatkan harga yang cukup murah bila dibandingkan dengan toko lain meskipun selisihnya tidak terlalu banyak. Apalagi jika barang itu termasuk barang yang paling dicari, yang cepat laku, jangan buru-buru mematok harga yang tinggi.


Pembeli adalah Raja

Raja apa nih ? Raja dangdut, raja hutan atau raja kaya ? Hehe..apapun itu, siapapun itu dalam berbisnis tidak mengenal diskriminasi. Semua pelanggan adalah raja yang pantas dilayani dengan sebaik-baiknya. Tak peduli apakah pembeli kita penampilannya sangat sederhana. Semua mempunyai hak yang sama. Pelanggan mempunyai kebutuhan, maka sudah tugas kita untuk memberikan pelayanan yang terbaik atas kebutuhannya. Fokus dan jangan membuat kekecewaan. Kepuasan pelanggan adalah yang utama. Segala masukan positif dari pelanggan layak kita pertimbangkan demi kemajuan usaha. Bahkan sangat penting untuk melayani pelanggan dengan hati, seperti melayani diri kita sendiri. Anggap pelanggan sebagai raja, bos yang sesungguhnya. Karena merekalah ujung tombak dari usaha kita.

Hm..kira-kira peribahasa apalagi ya..masih banyak sepertinya. Lain kali aja ya disambung lagi, ada barang datang nih, mau stock opname dulu hehe.. Salam sukses !

Saturday, September 03, 2011

Sukses..?



Sukses. Sudah sukseskah Anda ? Pasti jawabannya macam-macam. Ada yang dengan bangga bilang sudah, ada yang malu-malu sambil menunduk bilang belum, ada yang ragu-ragu bilang hampir sukses. Semua pribadi mempunyai definisi sendiri-sendiri tentang sukses.


Sukses, bagi saya itu relatif. Dalam kehidupan selama 33 tahun ini, saya pernah mengalami sukses, gagal, kecewa, senang, sedih, campur-campur semua sudah saya rasakan. Standar sukses saya beda dengan standar sukses orang lain. Sukses, ada sukses kecil dan sukses besar. Kebanyakan yang sudah saya raih adalah kesuksesan-kesuksesan kecil. Tapi justru dari sukses-sukses kecil itulah, sukses terbesar akan terbentuk. Ingat, baru akan. Jadi, belum untuk saat ini, masih berproses.


Pencapaian sukses itu sendiri beragam waktunya. Ada yang sebentar, ada yang lama, ada yang gampang, ada yang susah. Motto hidup saya, kalau gagal ya dicoba lagi.


Saya punya banyak mimpi. Dari sekian banyak mimpi itu, ada yang mimpi kecil, ada pula yang mimpi besar. Saat saya bisa bisa menjadikan mimpi kecil atau mimpi besar saya menjadi nyata, saat itulah kesuksesan sudah saya raih. Namun, tidak berhenti sampai disitu saja, proses untuk pencapaian sukses itu sendiri terus berlanjut dan berkesinambungan. Ada banyak mimpi berarti akan banyak sukses dan banyak kegagalan. Sedikit bermimpi, sedikit pula gagal dan suksesnya.


Sukses milik siapa saja. Semua orang boleh bermimpi dan bahkan tak dilarang untuk bermimpi menjadi orang sukses. Kalau suksesnya masih dalam mimpi, ya wujudkan mimpi itu menjadi nyata. Caranya ? Fokuslah dengan mimpi Anda. Pegang teguh, ingat-ingat bahkan kalau perlu tempel di tembok tujuan mimpi Anda. Apa yang ingin diraih, kemudian cari cara bagaimana cara meraihnya. Dengan mencoba kita akan terbiasa, setelah biasa kita akan bisa.


Dibawah ini ada beberapa sukses-sukses yang sudah saya raih selama ini :



  • Saat SD-SMA ranking 1 di kelas sudah pernah saya rasakan

  • Lulus UMPTN dan masuk UGM

  • Lulus kuliah hingga meraih gelar Sarjana

  • Mendapatkan pekerjaan

  • Mendapatkan jodoh kemudian menikah

  • Dikaruniai anak

  • Punya usaha sendiri

Kesuksesan lain yang belum saya raih saat ini adalah :


  • Punya anak lagi

  • Membesarkan usaha

  • Masuk surga

Masih banyak sebenarnya, namun secara garis besar kita harus berani bermimpi dan mencari cara mewujudkannya. Jangan takut gagal. Hm..bagaimana ?


















Friday, August 19, 2011

Promo Murah Ban Dunlop




Yup..mulai hari ini berlaku promo harga khusus ban Dunlop di Wiyono Putro Autoshop, Jl. Raya Kelor - Karangmojo Km. 7 Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Pernah dengar nama dan daerah ini ? Kalau mengikuti sepak terjang saya pasti tahu lha wong itu tempat mata pencaharian saya mencari nafkah, hehehe..

Promo ini berlaku untuk ban Dunlop Sp10 ukuran 155/80-12 hanya seharga 260 ribu sudah termasuk pasang dan balancing. Murah kan ? Jadi, pemilik ban Carry, Hijet dan yang senasib ukuran bannya alias sami mawon, bergegaslah sebelum stoknya habis. Apalagi saat ini ban-ban mobil yang baru, harganya sudah nggak kuku..jadi mumpung ada promo murah ini, tunggu apa lagi, mau lebaran bannya baru dooonnnggg..hehe..

Kemudian, untuk pemilik mobil Kijang, Xenia dan lain-lain yang ukuran bannya 165/80-13, ada lagi promo khusus dari Dunlop Prosafer. Murah, harganya cuma 300 ribu sudah termasuk pasang plus balancing. Balancingnya pakai timah lagi. Ahaaayyy..tunggu apa lagi ? Buruan dah..nggak pake lama..hahaha..( promosinya..)

Trus, kalau misalnya cuma mau dipasang aja, nggak mau dibalancing, alasannya karena pelegnya masih bagus nggak bermasalah, nggak mobeng maksudnya..ya nanti ada potongan harga lagi. Siip kaaan...??


Ayo cepat..bergegaslah, kesempatan emas ini tidak datang dua kali. Cuma sekali lho..jangan sampai nyesel...pasti puas. Dijamin !

Segera berbondong-bondong datang ke Wiyono Putro Autoshop.

Untuk info lebih lanjut hubungi no 081328505252, 0274-6947649. Pasti dijawab kecuali sms yang mboten-mboten, tidak akan dilayani. Makasih.

Wednesday, August 17, 2011

Merdekah..kah..kah..?

Gambar diambil dari sini




Ini hari merdeka. Ya, 17 Agustus 2011 sekarang, berarti Indonesia sudah 66 tahun merdeka. Usia manula sebenarnya, yang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan. Tak tahu apakah manula yang sukses atau yang carut marut dengan segala persoalan negara.


Terima kasih kepada para pahlawan bangsa baik yang dikenal ataupun yang tak dikenal yang telah berjuang sekuat tenaga hingga tetesan darah terakhir. Nyawa menjadi taruhan demi kemerdekaan negeri ini. Walaupun apa yang diberikan negara kepada para veteran manula saat ini tak sebanding dengan perjuangan mereka tempo doeloe. Mana ada kesejahteraan hari tua untuk mereka ?


Generasi muda tinggallah menikmati merdeka itu apa. Kalau dulu tidak sempat angkat senjata untuk meraih kemerdekaan itu, sudah layak dan sepantasnya jika sekarang angkat prestasi, turut menyumbangkan gagasan, pikiran dan karya nyata untuk membenahi negeri ini yang semakin tak tahu arah hendak kemana. Alih kemudi menjadi pemimpin yang jujur, berdedikasi tinggi, yang tidak silau dengan harta dan uang rakyat semata.


Kikis semua krisis moral yang semakin menjadi, merajalela hingga turun temurun, tumpas anarkhis yang tak logis, tangkap maling berdasi yang sudah tak punya malu itu. Mau jadi apa jika negeri kaya raya, gemah ripah loh jinawi ini jika pemimpinnya adalah maling terorganisir yang tak segan saling suap sana sini demi kepentingan golongannya sendiri. Lama-lama negeri ini menjadi negeri maling profesional dan berkelas. Salah siapa jika rakyat ikut-ikutan jadi maling karena meniru pemimpinnya yang ternyata mbahnya maling itu ? Ah..


Tak tahu harus memekikkan "merdeka" atau "merdekah..kah..kah..?" Ya..sudahkah kita merdeka sebenarnya. Secara hitam di atas putih, tak ada lagi penjajahan yang nyata-nyata berupa perang sehingga mau tak mau rakyat harus angkat senjata untuk meraih kemerdekaannya. Tak ada bangsa lain yang mau merebut kekuasaan atas negara kita. Tapi lebih parah karena penjajah yang sebenarnya sekarang adalah oknum bangsa sendiri yang secara terang-terangan saling berebut kekayaan negeri ini yang menjadi hak rakyat dan kaum terpinggir. Mereka yang diberi wewenang dan kepercayaan, harapan rakyat untuk memimpin, nyata-nyatanya membuat negeri ini semakin terluka, menangis perih dan menangis darah. Mana janji mereka saat kampanye dulu yang menghabiskan dana rupiah yang berlipat ganda nolnya itu ?


Yah..berdoalah..saat ini mari kita berdoa, saling mendoakan semoga pemimpin bangsa ini tiba-tiba mendapatkan peringatan untuk bertobat. Membenahi segala kesalahan. Memulai lagi untuk hidup yang lebih mulia. Mengetahui bahwa apa yang mereka perebutkan selama ini, jabatan, kekuasaan, materi, hedonisme selama ini hanyalah sampah semata dihadapan-Nya. Sampah yang tak bernilai, yang sudah tak bisa di daur ulang lagi, sampah yang hanya menimbulkan bau dan penyakit yang tak tersembuhkan. Untuk apa rebutan sampah seperti itu ?


Berdoa juga semoga kita semua masih dianugerahi urat malu yang tebal, hati nurani yang belum tumpul, yang masih bisa membedakan mana yang benar dan salah. Masih bisa mengingat dengan baik apa tujuan utama kita hidup di dunia nan fana ini. Masih ingat dosa itu apa dan belum amnesia jika menjadi maling termasuk dosa apa tidak.


Marilah memerdekakan bangsa kita dari segala kebohongan, kemunafikan, dan segala kejahatan yang membuat rakyat semakin menderita. Memerdekakan hak-hak orang lain yang sudah seharusnya dirasakan. Memberikan kebahagiaan bukan kesengsaraan semata. Semoga..


Merdekah..kah..kah..?




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...