Thursday, February 24, 2011

Ah, Sudahlah..

Aku tidak tahu apakah saat ini karma sedang menghukumku. Menghajarku tanpa ampun. Bertubi-tubi masalah datang silih berganti tanpa mampu aku sudahi. Masalah, ya..saat harapan dan kenyataan tidak lagi senada seirama. Pembelotan, caci maki, hinaan, cercaan bahkan pengkhianatan. Menguras air mata. Setidaknya, aku masih yakin bahwa aku masih bisa menangis. Setelah sekian lama hatiku membatu, membiru.


Jahat, itu kata yang sering kudengar tentangku. Tak punya hati, lebih jelas lagi untuk menggambarkan siapa aku. Iblis, mungkin hanya rupaku yang manusia saja. Ya..ya..ya..tak akan kuingkari bahwa aku bukanlah manusia yang baik. Baik seperti harapan kebanyakan orang.


Anehnya, aku sadar saat melakukan hinaan kepada orang yang memang patut dihina. Meremehkan, karena memang dia mudah diremehkan. Berteriak saat mereka tak mau menuruti mauku. Tak dipungkiri, egoku sangat besar, karena aku terlalu cinta pada diriku sendiri layaknya sang Narcist.


Salah siapa jika akhirnya anakku sendiri melawan, bahkan suamiku pun pergi dengan wanita lain. Aku ? Ya..pasti aku yang bersalah. Siapa yang betah bersanding denganku yang maha cerewet, yang tak pernah peduli akan kebutuhan orang lain, bahkan kebutuhan darah dagingku sendiri ?


Diam-diam aku sering bertanya, apakah ada yang salah dengan gen-ku ? Mungkin ada susunan rantai DNA-ku yang beda dengan milik orang kebanyakan. Jumlah kromosomnya barangkali atau kandungan proteinnya yang membuatku jelas selalu ingin tampil beda.


Mungkinkah kromosomku XYY seperti yang pernah kudengar, seperti milik penjahat di luar negeri yang selalu melakukan kriminalitas sehingga diperlakukan secara khusus karena perbedaan kromosomnya itu ?


Entahlah, aku belum pernah mencoba periksa perihal kromosomku itu. Hm..tapi sepertinya kromosomku normal-normal saja karena kromosom XYY itu hanya ada pada laki-laki, sedangkan aku wanita tulen.


Lagipula, tingkat kejahatanku bukan termasuk kriminalitas tingkat tinggi seperti pembunuhan, perampokan ataupun segala sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan fisik. Tidak.


Aku lebih suka menyiksa jiwa. Menguji mental orang lain. Pembunuhan karakter, lebih tepatnya. Aku benci dengan orang yang punya kepribadian tenang, hidup teratur dan selalu penuh dengan keberuntungan. Dengan orang yang selalu tahu apa yang harus dikerjakannnya sekarang ataupun nanti di masa depannya. Yang selalu lekat dengan kesuksesan demi kesuksesan. Mungkin aku iri hati atau semacam cemburu sosial, karena aku tidak bisa seperti itu. Ya, mungkin saja..


Aku tak pernah hidup tenang. Bagiku, hidup adalah kompetisi. Aku harus selalu jadi pemenang. Memalukan sekali jika aku harus menjadi pecundang, walaupun itu sering kualami. Karena itu aku dendam, pada kemenangan yang tak pernah aku genggam. Tak pernah puas pada apa yang telah aku capai selama ini. Aku selalu merasa sebagai manusia yang gagal. Tak berguna. Sampah. Karena itu, aku ingin orang lain menjadi sama sepertiku.


Ah, sudahlah..

Tuesday, February 15, 2011

Kasih Sayang Adalah....


Happy Valentine !


Kasih sayang, adalah rasa yang didamba setiap insan di dunia ini. Kasih seorang ibu kepada anaknya, pun sebaliknya kasih anak kepada orang tuanya. Yang lebih universal adalah kasih sayang kepada sesama manusia, lingkungan dan semua makhluk yang ada di bumi termasuk mencintai bumi itu sendiri.

Salah, jika memaknai hari kasih sayang sebagai hari free seks nasional untuk kalangan tertentu yang sedang dimabuk cinta tanpa ikatan yang sah. Apalagi jika masih sebagai sepasang remaja. Jalan hidup masih terlalu panjang jika diisi dengan sesuatu hal yang sifatnya kesenangan sesaat atau hedonisme.
Kasih sayang menjadi kehilangan makna jika tanpa disertai suatu tindakan yang nyata. Tak perlu dengan hal-hal besar. Cukup dengan yang sederhana saja. Dimulai dengan yang ada di sekitar kita.

Senyum. Menjadi awal pembuka sebuah kasih kepada sesama. Cobalah..jangan pelit untuk menarik bibir membentuk sebuah senyum nan tulus.

Tertawa. Sedikit lebih tinggi jenjangnya dengan senyum. Berbagilah kebahagiaan dengan menciptakan tawa bagi orang lain dan lakukan bersama-sama. Sangat bermanfaat bagi ketenangan jiwa. Asal jangan untuk menertawakan kekurangan orang lain. Menertawakan diri sendiri lebih mungkin. Tapi tak semua orang bisa melakukannya. Sangat sulit jika belum terbiasa dan tak ingin dicap gila oleh orang lain. Lakukan diam-diam saat yakin tak ada orang lain yang mendengar. Setelah itu, buatlah orang lain untuk bisa tertawa.

Berbagi. Apa yang kita punya, bagilah kepada yang memerlukannya. Materi, ilmu, pengetahuan, tenaga , apapun yang masih mampu untuk kita beri. Tak perlu menunggu menjadi orang kaya dulu baru memberi. Lakukan sekarang juga dengan apa yang bisa kita berikan. Banyak sedikit relatif jumlahnya. Yang pasti akan sangat bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Peduli. Buka mata lebar-lebar, buka telinga dan pintu hati kita. Betapa banyak di luar sana orang yang tidak seberuntung kita. Mulailah dengan sapaan hangat bukan tatapan sinis kepada yang papa. Berhenti untuk menghakimi dengan mencari-cari kesalahan mereka. Masih banyak yang tidak tahu bagaimana cara menjadi orang yang layak. Kita lebih beruntung masih bisa makan 3 kali sehari. Kita dianugerahi kepandaian yang lebih sehingga bisa menghasilkan banyak rupiah. Kita mampu dan bersyukur menjadi pribadi yang lebih diuntungkan.

Setiap hari, adalah tanggal 14 Februari. Tak ada batasan untuk mengasihi sesama hanya di tanggal ini. Hanya sekedar pengingat dan waktu untuk merefleksikan diri kita apakah kita sudah cukup menjadi insan yang penuh kasih sayang kepada sesama. Atau sebaliknya ? Kita adalah sang penindas yang membiarkan kasih sayang dalam diri kita menjadi mati. Semoga tidak.

Thursday, January 27, 2011

Gayus yang Jayus

Beberapa hari ini saya dibuat geli dengan maraknya berita tentang Gayus di televisi. Mendadak Gayus menjadi begitu terkenal, menjadi buah bibir dimana-mana. Seorang Gayus gitu loh, karyawan golongan 3A yang membuat banyak pihak hingga pemimpin tertinggi di negeri ini kebakaran jenggot. Apa begitu sulitnya, sampai ulah seorang Gayus tidak bisa ditangani dengan cepat dan membutuhkan waktu berbulan-bulan, nggak kelar-kelar.

Terlepas dari masalah Gayus yang begitu pelik, saya hanya ingin membahas peluang bisnis yang bisa diciptakan terkait dengan Gayus ini. Banyak media di televisi ataupun cetak memberitakan, omset penjualan wig atau rambut palsu dan kacamata dengan model persis yang dikenakan Gayus saat melihat pertandingan tenis di Bali menjadi berlipat ganda.

Belum lagi para pengamen yang menyanyikan lagu tentang Gayus yang diciptakan oleh Bona mendapat kenaikan penghasilan sampai seratus persen lebih dari biasanya. Yang biasanya mendapat penghasilan 50 ribu sehari, karena menyanyikan lagu tentang Gayus menjadi naik hingga 150 ribu per hari. Wow..fantastis ya..Tak ketinggalan, sang pencipta lagu Gayus, Bona mendadak terkenal dan banyak dicari karena lagunya yang memang cukup memikat. Luar biasa..

Saya jadi berpikir, peluang bisnis apalagi ya, yang bisa diciptakan terkait dengan Gayus ini. Secara tidak langsung, Gayus telah menolong banyak orang dengan bagi-bagi rejeki, menciptakan lapangan pekerjaan baru. Gayus tiba-tiba menjadi trendsetter karena banyak orang yang tak malu-malu lagi meniru gaya penyamarannya dengan wig dan kacamatanya yang khas, yang mirip-mirip dengan karakter gaya sang penyanyi terkenal Afgan. Lucu sekali..huahaha..

Gayus Tambunan menjadi fenomenal layaknya Justin Bieber, Santi & Jojo dan Upin & Ipin yang menjadikan demam di masyarakat negeri ini. Ada apa sebenarnya ? Siapa yang salah dalam hal ini ? Gayus menjadi lambang kekinian, gaya hidup, dan pokok bahasan ter-up to date.

Saya curiga, tak lama lagi akan muncul kaos, mug ataupun stiker-stiker bergambar Gayus yang laku di pasaran. Atau malah sudah ada ? Kok saya belum dapat ? Hehe..

Lha ini..saya malah nemu gambar Gayus alih profesi jadi tukang tambal ban. Aya-aya wae..



Gambar diambil dari sini



Wednesday, January 26, 2011

Tragedi Cabe


Gambar dipinjam dari sini

Ikem terduduk lemas di depan tukang sayur. Uang sepuluh ribu dari majikannya hanya bisa untuk membeli beberapa biji cabe, dua ikat kangkung dan sekotak tempe. Terbayang di benaknya, omelan apa yang akan didapat dari majikannya nanti. Harga cabe yang meroket, sayur mayur yang ikut-ikutan mahal ditambah lauk pauk dan bumbu-bumbu yang tak mau kompromi membuat Ikem semakin pusing membelanjakan uang dari majikannya.

Padahal, majikannya ini paling suka sambal dan maunya makan enak. Apa jadinya jika lauknya hanya tempe saja. Lha wong untuk bikin sambal saja, cabenya sudah lima ribu sendiri itupun dihitung jumlah per bijinya. Satu ikat kangkung harganya seribu lima ratus, perlu dua ikat sudah tiga ribu. Sisa dua ribu hanya cukup untuk beli sekotak tempe. Pas sepuluh ribu.

Sebelum harga cabe gila-gilaan, sepuluh ribu bisa buat beli lauk daging ayam seperempat kg, cabe, sayuran dan bumbu. Katakanlah daging ayam enam ribu, kangkung masih seribu seikat dan cabe seribu masih bisa buat sambal yang lumayan pedas, plus masih bisa beli bumbu-bumbu. Sekarang, boro-boro beli daging ayam, lha wong harga cabenya lebih mahal dari daging ayamnya kok. Apalagi kalau bumbunya habis, sepuluh ribu tak akan pernah cukup.

“Ikeeemmmmmm....”

Nah, kan..alamat kena semprot nih..Ikem sudah menyiapkan jawaban jika majikannya tanya macam-macam.

“Lihat, kamu masak apa..sepuluh ribu cuma masak sayur kangkung sama tempe. Sambalnya nggak pedes lagi..kamu korupsi uang belanja ya..”

Ikem mengelus dada. Komentar majikan lebih pedes dari sambal buatannya, dia percaya.

“Nyah..harga cabe sekarang seratus ribu sekilonya, saya beli lima ribu cuma dapat beberapa biji. Harga kangkung seiket seribu lima ratus saya beli dua iket, sisanya dua ribu cuma cukup buat beli tempe..”

“Apa ? Masak harga cabe sekilo lebih mahal dari harga daging sekilo ? Jangan ngarang kamu..”

“Yah..apa nyonyah nggak pernah liat berita di TV..dari kemarin harga cabe naik terus mulai dari 36 ribu, trus 60 ribu sampe sekarang 100 ribu lebih sekilonya..”

“O..jadi sekarang kamu pinter jawab ya..siapa suruh kamu nonton TV kalo saya lagi kerja ? Bukannya beres-beres..pantes tagihan listrik jadi naiiikkkk...!!!”

Ikem tertunduk. Selalu salah dan serba salah. Dasar majikan cerewet dan pelit, dalam hatinya memaki.

“Bener nyah..sekarang harga sayuran, bumbu-bumbu dan lauk pauk juga ikut naik..mestinya anggaran belanjanya juga ikut dinaikkan..”

“Nggak usah ngatur, mulai besok aku belanja sendiri. Kamu tinggal masak, paham ?”

Ikem mengangguk. Silakan saja, biar tahu harga-harga sekalian. Emang enak ngatur duit..dalam hati Ikem membatin.

Besok paginya, tersedia seikat bayam, ayam ¼ kg dan bumbu dapur tanpa cabe. Ikem bertanya-tanya dalam hati, tidak bikin sambal ? Bukankah majikannya selalu suka dengan sambal ?

“Ikem..kamu siapkan kaleng-kaleng bekas kue, tanam biji ini di kaleng pakai tanah di kebun. Trus nanti sore, kamu bikin sambal jahe. Aku masih bisa makan sambal tanpa cabe untuk sementara, tapi aku nggak bisa makan tanpa daging ayam. Ngerti ?”

Ikem mengangguk-angguk. Dirinya mulai mengerti, anggaran belanja tidak akan dinaikkan. Sementara dia punya tugas baru menanam tanaman cabe, menyiramnya dan memanennya untuk majikannya yang gembrot itu beberapa bulan ke depan nanti.

“Nyah..kalau sambal jahe bumbunya apa ya ?”

“Sama saja seperti bikin sambal biasanya, cuma cabenya diganti jahe..ngerti ?”

“Ngerti nyah..”

Keesokan harinya, Ikem melihat berita di televisi kalau harga cabe mulai turun. Ikem sedikit sumringah, terbayang di benaknya jika harga cabe mulai murah, tak perlu repot-repot menanam cabe yang gampang-gampang susah karena cuaca ekstrim. Baru saja Ikem mendapat laporan dari tetangganya yang menanam 10 pot tanaman cabe, mati semua terserang hama ditambah hujan yang terus menerus disertai angin kencang. Oalah..apa memang sesulit itu menanam cabe di jaman sekarang. Padahal pupuk yang diberikan juga tidak sedikit.

Didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, suatu hari, Ikem ingin konfirmasi soal harga cabe yang mulai turun di tukang sayur.

“Di TV harga cabe sudah turun ya pak..”

“Kalau begitu, beli cabe di TV saja..”

Ikem ternganga mendengar jawaban tukang sayur. Apa lacur, harga cabe di tukang sayur masih sama seperti kemarin-kemarin. Masih mahal, lima ribu cuma dapat beberapa biji cabe. Tiba-tiba Ikem merasa pusing, bingung menentukan mana yang benar. Berita di TV yang asal atau tukang sayur yang nggak mau nurunin harga, atau memang harga cabe yang turun itu cuma hoax belaka. Argh...salam hu hah..

_______****_______

Friday, January 07, 2011

Gengsi Dong, Ah...!!!


Gambar dipinjam dari sini

Oke, perkenalkan aku adalah seorang trendsetter, borjuis dan selalu tampil ngejreng. Ini soal pilihan hidup. Lihat apa yang kutenteng..gadget terbaru cing..baju merk mahal, parfum import. Wah deh pokoknya..semua yang melihatku berjalan pasti berdecak kagum. Mirip-mirip etalase berjalan gitu loh..Trus lihat mobilku..keluaran terbaru kan..? Aku suka ganti-ganti mobil dengan yang terbaru. Padahal aku bukan makelar mobil lho..

Bayangkan..berapa rupiah yang harus kukeluarkan untuk gaya hidup seperti itu. Wah..sudah tak terhitung pokoknya. Rupanya, gaya hidup mewah sudah mendarah daging dalam hidupku. Aku tidak ingin kelihatan miskin, jadi apapun akan kuperjuangkan supaya aku dianggap mampu dan berada.

Padahal sebenarnya..

Demi candu bernama Blackberry, aku rela puasa dan menabung sampai uangku cukup untuk membeli.

Demi mobil keluaran terbaru, aku rela gajiku dipotong untuk bayar cicilan yang tidak sedikit..

Hari demi hariku diisi dengan bagaimana cara mendapatkan uang tambahan untuk bayar cicilan ini itu. Lha kadang, aku suka lupa daratan saat belanja, main gesek kartu kredit yang ada lima itu. Di akhir bulan aku pusing bayar tagihan yang membengkak. Gali lubang tutup lubang jadi slogan hidupku.

Atas nama prestise, aku rela melakukan apa saja. Semuanya demi uang, uang dan uang. Aku rela bekerja overtime, tak ada waktu untuk orang lain, selalu kejar target untuk bisa memenuhi semua kebutuhan mahalku. Aku ingin orang menganggapku sukses, up to date, gaul dan gaya. Tak peduli walau aku harus bekerja sangat keras untuk itu bahkan saat kepepet aku terpaksa menjual diriku. Wow..

Aku bisa merasakan saat-saat punya uang banyak dan saat-saat tidak punya uang sama sekali. Makan sekali sehari juga sudah pernah kurasakan. Saat ditanya teman-temanku kenapa tidak makan siang, diet ketat menjadi alasan paling topcer untuk menjawab pertanyaan itu. Aku rela menahan lapar demi gaya. Toh, body-ku memang yahud kok..

Banyak waktu dan pikiran yang aku korbankan, tapi aku merasakan kepuasan yang tidak terkira saat pandangan kagum dari banyak mata atas penampilanku yang prima. Sekedar bungkus luar, tapi itu sangat penting bagiku. Penampilan menjadi kebutuhan primer bagiku. Apalagi hidup di kota besar begini, malu dong sama yang lebih canggih. Harga diri serasa diinjak-injak jika ada yang lebih dariku.

Tapi terus terang, semua kemewahan ini kudapat dari kucuran keringatku sendiri lho..bukan dari uang rakyat yang aku korupsi. Aku bekerja sendiri, bahkan menjual diriku sendiri bukan menjual diri orang lain. Aku sadar melakukannya dan murni karena tuntutan hidup yang keras. Sebenarnya, aku capek dengan gaya hidup seperti ini, tapi selama aku tetap tinggal di kota besar, aku konsisten dengan pola hidupku. Pusing, minum obat tidur sudah menjadi menu utamaku. Lha kadang, impian dan kenyataan tidak pernah sama. Karena itu aku ingin membuatnya sama, sinkron dan seimbang.

Surga ? Ya..aku pernah mendengarnya. Ada dimana surga itu ? Bukankah surga dunia sudah membuatku menikmatinya selama ini. Tuhan ? Ya..aku percaya Dia ada. Tapi aku tidak pernah berkomunikasi dengannya. Agama hanya jadi pelengkap dataku di KTP. Aku lebih senang tidak beragama sebenarnya. Ribet..masing-masing merasa agamanya paling hebat. Padahal jaman dulu sebelum ada agama, kehidupan berjalan normal-normal saja.

Hm..aku merasa percaya diriku tumbuh saat lengkap dengan segala gadget terbaru. Aku merasa dihargai saat orang memandang apa yang aku punya. Aku merasa sejajar dengan kelas atas. Sebenarnya, aku hanya ingin mendapatkan pengakuan atas keberadaanku. Aku berusaha mengikuti pola pikir kebanyakan orang yang lebih mementingkan bungkus luar daripada isi. Yang menjadi kaum konsumtif daripada menjadi produsen. Yang menjadi korban mode, menganggap teknologi sebagai berhala yang indah. Duniawi, materi dan hedonisme.

Aku seperti memakai topeng dan tidak percaya diri menjadi diriku yang apa adanya. Aku selalu ingin kelihatan lebih. Aku sering mengabaikan pemikiranku sendiri dan cenderung mengikuti pikiran kebanyakan orang. Aku tidak punya pendirian yang teguh. Aku mencari kamuflase untuk menutupi kerapuhanku. Aku sadar, sebenarnya aku sedang menyiksa diriku sendiri. Aku memaksakan sesuatu yang sebenarnya tidak mampu aku jangkau. Aku merasa jiwaku gersang, kering kerontang. Dan aku selalu merasa jauh dari rasa bahagia. Aku selalu merasa kurang dan tidak pernah mensyukuri keadaan.

Aku merasa gamang akan kehidupanku. Aku tidak punya tujuan yang jelas. Hidupku hanya hari ini dan kemarin. Soal besok, pikir nanti. Yang penting aku sekarang senang, besok peduli amat. Bagaimana masa depanku aku tidak pernah tahu. Aku selalu percaya pada keberuntungan, kebetulan dan keajaiban. Ya, kadang karena sedang untung, aku dapat undian berhadiah. Saat sial, aku ditagih para penagih hutang. Hidupku tidak tertata. Aku butuh seseorang yang bisa menolongku dari candu duniawi ini. Dari belenggu bernama gengsi itu. Sebelum aku terjerat terlalu jauh..tolong aku..!!!
  • Catatan ini hanya fiktif belaka

  • Jika ada kesamaan kisah, hanya kebetulan

  • Hanya sekedar kritik sosial
  • Saturday, December 04, 2010

    First Blog

    Jujur, motivasi awal saya membuat blog adalah untuk mencari penghasilan tambahan dari iklan Google Adsense. Saya penasaran ketika ada beberapa teman yang berhasil membuat blog yang banyak dikunjungi orang plus mendapat penghasilan yang cukup fantastis dari iklan, bahkan rela resign dari pekerjaan tetapnya sebagai karyawan tetap dan nyemplung di dunia online ini secara full time. Karena itu saya ingin mengikuti jejaknya dengan menggali berbagai informasi bagaimana caranya.

    Blog pertama yang saya buat adalah blog ini yang berbahasa Indonesia yang postingnya masih berupa tulisan-tulisan amatir saya yang kebanyakan berisi curhat colongan alias curcol. Padahal, agar blog kita disetujui untuk dipasang iklan dari Google, harus berbahasa Inggris. Info yang saya dapat dulu seperti itu. Maka, saya buat satu blog lagi khusus berbahasa Inggris yang postingannya berupa artikel gratis yang saya ambil tanpa menghilangkan nama Author-nya, disini. Sejumlah sepuluh artikel saya posting dalam satu hari yang temanya cukup nyambung dengan tema blog saya. Setelah itu, saya mulai mengirimkan lamaran kepada Google adsense apakah blog saya layak untuk diberi iklan. Kurang lebih dalam waktu 3 x 24 jam, ada balasan berupa email dari Google yang intinya, blog saya sudah bisa dipasang iklan. Betapa senangnya saya. Tiap hari saya longok blog saya sudah ada yang nge-klik iklan atau belum.

    Lambat laun, saya sadar bahwa tidak mudah mendatangkan pengunjung ke blog kita jika tidak ada nilai lebih dari blog kita. Apalagi, bahasa Inggris saya ngepas, otomatis blog berbahasa Inggris belum bisa saya kembangkan. Saya punya konsep, pengin punya blog yang orisinal karya saya sendiri, sedangkan untuk cas cis cus berbahasa Inggris, terus terang saya belum punya keberanian.

    Tidak lama kemudian, saya mendapat info bahwa blog yang berbahasa Indonesia ternyata bisa juga dipasang iklan. Maka saya coba-coba mengajukan blog berbahasa Indonesia saya untuk dipasang iklan dengan account google adsense yang sama. Hopla..ternyata berhasil. Betapa riangnya hati saya. Dengan semangat saya buat blog lagi berbahasa Indonesia dan tak ketinggalan dipasang iklan Google pula.

    Waktu terus berjalan, saya mulai kecanduan menulis yang selalu saya posting di blog. Apalagi sejak saya bergabung di blog sosial Kompasiana, motivasi menulis saya terus terasah. Motivasi awal saya mulai tergeser dengan kecintaan saya pada menulis. Yang awalnya saya berharap ada orang yang ngeklik iklan di blog saya, lama-lama saya merasa lebih senang jika orang lain membaca tulisan saya dan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat baginya. Saya tidak peduli lagi apakah orang lain akan ngeklik iklan atau nggak.

    Ternyata, uang tidak bisa membeli kebahagiaan saya jika orang lain bisa tersenyum ataupun mendapatkan sesuatu dari tulisan saya. Makanya, saya terus menulis tapi iklan tetap saya biarkan ada biar ramai. Bahkan sekarang banyak blog lain yang nyomot tulisan-tulisan saya untuk dipasang di blog iklan mereka. ya..biarkan sajalah sejauh tidak membuat saya rugi, malah saya senang bisa berbagi. Saya ikut senang jika bisa memberi mereka pemasukan dari blog mereka.

    Tapi dalam hal ini, saya tidak bisa membiarkan jika karya-karya saya diplagiat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sejauh ini, saya masih bisa berlega hati karena mereka yang suka copy paste masih mencantumkan authornya.

    Monday, November 01, 2010

    Lirik Patah Hati

    Hatiku tercabik pilu kala sosokmu berlalu dariku

    Aku tahu, ini pilu yang baru saja menyeruak menghentakkan rasa terpukauku padamu selama ini

    Ku terpukau, saat pesonamu begitu berkilau sehingga mataku enggan untuk berkedip barang sekejap pun demi menatap parasmu

    Dan kini, aku merasa pilu karena ada siapa gerangan yang menemani langkahmu, tak lagi sendiri
    Ah..tatapku nanar merutuk waktu yang tak lagi berpihak padaku

    Kubiarkan waktu tersia hingga kamu menemukannya kini

    Terlambat...

    Panah patah hati telah menancap cepat menghujam jantungku tanpa sempat ku tuk mengelak

    Perih mengiris, betapa dia yang kau pilih sungguh sempurna

    Ibarat bintang nan berkilau, itulah dia..

    Ibarat bulan nan bersahaja, itulah kamu..

    Ibarat pungguk merindukan bulan, itulah aku..

    *Fiktif belaka, jika ada kesamaan kisah..hanya kebetulan belaka..

    Pesan Moral : Ungkapkan perasaan hati dengan jujur dan terbuka, jangan marah kalo si dia keburu digaet orang..

    Berlaku bagi para jomblo

    Bagi yang sudah berpasangan, syukurilah pasanganmu, jangan coba untuk main hati...sakiittt...

    Saturday, October 16, 2010

    Sang Mantan


    Gambar dipinjam dari sini
    Aku dan kamu punya secuil kenangan. Hebat ya, hanya secuil tapi bisa mengendap bertahun-tahun di alam bawah sadarku. Bahkan ketika waktu terus melaju menuju masa depan, dan kamu hanyalah bagian dari masa lalu. Tapi kenangan tentangmu masih sesekali membayang. Secuil kenangan yang tak begitu istimewa sebenarnya, tapi cukup membekas.

    Seperti layaknya muda-mudi jadul, aku mengenalmu lewat seorang teman. Lalu obrolan mulai tercipta ala kadarnya. Berawal dari kikuk kemudian muncul pertanyaan standart yang tak lebih dari sekedar basa-basi belaka.

    “Kuliah dimana ?”

    “di Universitas Anu..”

    “Oo..fakultas apa ?”

    “Ilmu Murni..Kamu ?”

    “Aku di Akademi X”

    “Ngambil apa ?”

    “Komputer, TI..”

    “Oh..”

    Hening. Sibuk dengan pikiran masing-masing, mencoba mencari bahan obrolan yang lain.

    “Kenal sama si A ?”

    “Angkatan berapa ?”

    “Adik angkatan..”

    “Ehm..mungkin kalo liat orangnya tahu, tapi kalo namanya nggak hafal..”

    “Oh..”

    Hening lagi. Bingung menentukan topik pembicaraan selanjutnya. Sebenarnya banyak sekali bahan obrolan yang berkelebat, tapi lidah ini kelu. Nggak tahu kenapa, grogi mungkin..jariku sibuk mengetuk-ngetuk kursi, matamu menerawang kemudian berhenti pada satu titik. Gitar sang kakak. Aha..sang penyelamat situasi.

    “Boleh pinjam ?”

    “Pakai aja..bisa main ?”

    “Sedikit-sedikit..lagu standart aja..”

    Tanganmu mulai memetik senarnya. Mengalun lagu yang aku suka. Wah..lumayan, pikirku. Suara gitar dan suaramu bisa klop, nggak fals..cukup nyambung. Awalnya aku masih malu-malu tapi kemudian suaraku bisa berpadu, lebur dengan suara dan alunan musikmu.

    Wajahmu selalu terbayang dalam setiap angan
    Yang tak pernah bisa hilang walau sekejap
    Ingin selalu dekat denganmu enggan hati berpisah

    Lalala..laaa…( sumpah, pas syair lagu ini aku dan dia bisa lupa)..
    Ku sayang padamu..

    Kasih janganlah pergi tetaplah kau selalu disini
    Jangan biarkan diriku sendiri larut di dalam sepi..2x
    Oh..

    Kamu tampak larut dalam lagu ini. Sesekali matamu terpejam saat bergitar dan berlagu. Kesimpulan sementaraku : kamu punya kenangan dengan lagu ini. Indah atau sedih, aku tidak tahu. Yang pasti aku juga suka dengan lagu dari Bunga ini. Apalagi almarhum Galang cukup tampan yang menjadi salah satu daya pikatnya.

    “Suara kamu bagus “

    Aku tercengang. Seolah tak percaya jika kamu memuji suaraku. Sebenarnya, aku pernah mendengar pujian ini dari yang lain, tapi darimu..? Hanya limited edition kurasa..

    “Ah..biasa aja..,” ucapku sedikit tersipu.

    “Benar kok, aku nggak bohong..suaramu enak didengar..”

    “Makasih..,” ucapku lirih.

    Sedikit desir aneh bersemayam didadaku..waduh..jangan dulu, tak perlu buru-buru..!

    ****

    “Aku pusing, harus cari ganggang laut untuk tugas praktikum kuliahku, pantai mana ya yang banyak ganggangnya ?”

    “Di pantai dekat rumahku ada banyak ganggang, kamu mau aku antar kesana ?”

    Aku terdiam. Baru teringat jika kamu berasal dari daerah gunung selatan yang tak jauh dari pantai selatan sana. Aku sedikit menimbang, belum terlalu lama mengenalmu, tapi intuisiku mengatakan kamu adalah tipe laki-laki yang baik, yang tidak suka macam-macam dengan perempuan. Selebihnya, aku mengangguk sebagai jawaban atas ajakanmu.

    “Oke, kalau begitu kapan ?”

    “Besok minggu..”

    Jadilah aku pergi denganmu, berboncengan dengan sepeda motor laki-lakimu diiringi restu ayah dan ibuku. Ya, mereka sudah mengenalmu cukup baik.

    Tak dapat kubayangkan aku melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk pertama kalinya denganmu. Jalan yang berkelok-kelok, naik turun dan pemandangan yang indah. Wow..nuansa pegunungan yang aduhai..luar biasa.

    “Mampir ke rumahku dulu ya..”

    Dikenalkannya aku dengan ayah, ibumu dan adik-adikmu. Di suatu rumah sederhana di pedesaan yang asri. Mereka sangat ramah menyambutku laksana kedatangan tamu agung. Begitu tulus dan bersahabat. Dibawakannya aku makanan begitu rupa sebagai bekal di perjalanan. Kacang, singkong, krupuk, sebagian dari hasil tani dan buah tangan.

    Aku kegirangan saat menjumpai begitu banyak jenis ganggang laut yang terhampar di pinggir pantai. Beberapa jenis sudah aku kenal, selebihnya masih banyak yang belum aku ketahui. Kamu tampak sabar ikut memunguti ganggang-ganggang itu dan memasukkannya ke dalam stoples yang aku pinjam dari rumahmu. Bahkan tak kudengar kamu mengaduh saat kakimu yang telanjang tertusuk karang. Luka kecil, tapi ada darah yang keluar.

    “Tidak apa-apa..sudah biasa..,” ujarmu.

    Lalu kita duduk di atas batu karang, menunggu sunset datang. Ditemani ombak yang bergulung di bawah sana. Baru kusadar kita sedang berada di ketinggian. Kita duduk bersisian.

    “Ini pantai favoritku..”

    “Bagus..memang indah dan aku juga mengagumi tempat ini “

    Di seberang tak jauh dari kita, beberapa pasang remaja saling merapatkan tubuhnya bermanja mesra. Aku dan kamu melihatnya.

    “Kamu ingin bermesraan seperti mereka ?”, ujarmu. Lembut membuai.

    Aku terdiam. Tak mampu menjawab. Kuhitung detik demi detik, ternyata kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu memang laki-laki yang baik dan sopan.

    “Kalau aku terjun ke bawah bagaimana ?”

    Tiba-tiba kamu sudah berada di ujung karang, merentangkan kedua tanganmu sambil tertawa-tawa. Hanya berberapa senti, kamu bisa terjungkal kebawah. Aku terkejut, tapi berusaha tak acuh menanggapinya. Sesuatu bernama gengsi meracuniku.

    “Terjunlah jika kamu mau..”

    Begitu kejam kedengarannya tapi aku tidak tahu kenapa terucap juga dari bibirku. Entahlah..

    Kamu kembali duduk di sampingku. Hanya diam. Tak ada kata, tak ada ekspresi raga jika ada cinta diantara kita.dingin dan berlalu begitu saja. Hanya tatap matamu teduh kala itu berubah menjadi sendu.

    “Aku baru patah hati, ditinggal selingkuh oleh mantanku. Namanya sama denganmu.”

    Deg. Aku terpaku. Sebuah kebetulan yang cukup menusuk hatiku.

    “Lalu ?”

    “Saat ini aku belum berani untuk memulai suatu hubungan baru..”

    Aku terdiam. Mulai paham. Mungkin hatimu masih terluka. Didera trauma dan sedikit parno. Apalagi namaku sama dengan mantanmu, yang mungkin punya banyak kesamaan karakter dengannya. Entahlah..

    “Kita pulang..”

    Berlalulah kita tanpa perlu menunggu sunset lagi.

    Lalu sejak itu, kamu pergi tanpa kata. Aku sempat terlunta karena rasa. Ada sesuatu saat kamu tak ada. Aku merindu namun hanya bisa tergugu. Kamu tertelan waktu, tak pernah kembali tanpa sempat mengucap sebuah kata : maaf.

    Saturday, October 02, 2010

    Apa Khabar Pak Pos ?



    Gambar diambil dari sini
    Dari kejauhan, aku menatap sepeda motor berwarna orange itu. Berharap-harap cemas, akankah sepeda motor itu melaju ke arah rumahku, selepas mengantarkan surat ke tetanggaku yang paling ujung diantara rumahku. Kuhitung detik demi detik, kuamati penuh konsentrasi ala slow motion di film-film tatkala pak pos mulai menyalakan sepeda motornya dan melaju kearah rumahku. Aha..adakah surat untukku pak pos ?

    Brem..brem..brem.. dan motor itu melaju di depan hidungku tanpa berhenti barang sedetik pun. Bablas dan dadah pertanda tak ada sepucuk surat pun untukku. Yah..kecewa terpendam. Mungkin lain kali, hiburku.

    Hm..sungguh, saat-saat seperti ini aku merindukan moment itu berulang. Masih teringat jelas bagaimana girangnya hatiku, bahkan sampai jingkrak-jingkrak yang diiringi senyum dan geleng-geleng kepala pak pos, saat menerima sepucuk surat dari orang yang kudamba. Dari pacar, saudara, sahabat bahkan kenalan dari sahabat pena di majalah. Apalagi jika suratnya berisi kabar sukacita, tak sabar untuk segera membuka dan membacanya. Perangko menjadi saksi bisu nan setia. Wow..sensasi yang tak pernah terlupa.

    Tak salah jika Vina Panduwinata pernah menyanyikan lagu berjudul Surat Cinta yang membawa-bawa nama pak pos. Masih ingatkan syair pertamanya..yang begini lho..

    Hari ini kugembira..
    Pak pos melangkah di udara
    ..eh..salah..diulang dulu..

    Hari ini kugembira..
    Melangkah di udara..
    Pak pos membawa berita dari yang kudamba…
    Dst..
    sampai refrain..diterusin sendiri ya..hehe..

    Intermezzo…lanjut cerita tentang pak pos..yuk mariii…

    Pernah suatu kali, aku kecele saat mendengar deru motor dari kejauhan. Kukira suara sepeda motor sang pujaan hati di jam-jam wakuncar..eh..nggak tahunya suara motor pak pos yang baru pulang dari bertugas. Yah..salah deh, tiwas sudah lari-lari kedepan, nggak tahunya malah mendapat tertawaan dari kakak-kakakku. Idih..malu deh..Tapi biarpun begitu, sekelebat melihat sepeda motor warna orange itu rasanya gimana gitu..seperti ada kepuasan lahir batin..huehehe…( lebay.com ).

    Lalu, kehadiran pak pos sedikit demi sedikit mulai tergeser saat handphone mulai menjamur dan sesuatu bernama internet menjadi primadona. Sesekali pak pos muncul mengantarkan surat dari perusahaan yang pernah aku kirim lamaran kerja. Kadang surat panggilan wawancara, tak jarang pula surat pemberitahuan bahwa aku belum memenuhi kualifikasi untuk diterima alias ditolak. Kehadiran pak pos mengiringi hari-hari gembiraku ataupun kekecewaan yang berujung kesedihan.

    Dulu, saat menjelang hari raya, pak pos bisa hampir tiap hari bolak-balik untuk sekedar mengantarkan kartu ucapan selamat hari raya dari saudara dan para sahabat. Di lain waktu, pak pos bisa muncul laksana malaikat saat mengantarkan wesel, kiriman uang dari kakak tercinta yang bekerja di luar pulau Jawa atau kiriman barang berupa paket. Wah..betapa senangnya..

    Jujur, aku merasa kehilangan sosok pak pos. Seringkali kiriman surat ataupun kiriman barang mulai tergantikan oleh ekspedisi titipan kilat atau yang lain. Yang konon lebih cepat dan efisien walaupun harganya kadang jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan pengiriman lewat jasa pos.

    Terakhir kali, aku bertandang ke kantor pos kurang lebih setahun yang lalu saat mengirimkan naskah cerpenku ke sebuah majalah wanita untuk diikutkan dalam sebuah sayembara mengarang. Sayang sekali, tidak menang..

    Beberapa kali, aku hanya lewat di depan kantor pos yang tampak lengang. Hanya tanggal-tanggal tertentu saat pengambilan uang pensiun, kantor pos bisa meluap antriannya. Atau saat ada pengumuman baru tentang lowongan pekerjaan. Padahal, aku membaca kantor pos sudah mulai mengikuti perkembangan jaman dengan system online dan menerima pula pengiriman uang baik yang dari maupun ke luar negeri melalui Western Union.

    Yang pasti, jasa pos tidak lagi segreget dulu saat teknologi belum bergerak cepat. Surat berperangko sedikit banyak mulai tergeser oleh sms, telepon, email bahkan beragam situs pertemanan seperti facebook, twitter dan lain-lainnya. Wesel mulai tersisih oleh beragam layanan transfer via ATM, sms banking yang semudah membalikkan telapak tangan, berproses dalam hitungan detik. Simpel, praktis dan mudah.

    Manusia mulai dimanjakan dengan kecanggihan teknologi yang tiap waktu mudah berganti dengan yang paling up to date. Sisi humanisme yang dulu begitu kental dan nyata lambat laun mulai terganti dengan face to face dan hand to hand secara maya.

    Saya bangga dengan segala kemajuan teknologi yang ada, tapi tidak salah juga kan jika saya sedikit memberi ruang untuk mengenang senyum pak pos di masa jadul dulu ? I miss you pak pos..berbahagialah kalian yang saat ini masih bisa melihat sosok pak pos mengantarkan surat untukmu !

    NB : Bus surat, masihkah berfungsi ? Aku pernah menjumpainya di pinggir jalan dalam keadaan yang sudah berkarat dan sangat memprihatinkan…Bahkan di tempat lain, bus surat menjadi sarana untuk menempelkan brosur-brosur promosi seperti di gambar ini. Rest in Peace bus surat..



    Gambar diambil dari sini

    Monday, September 27, 2010

    Obrolan Iseng

    “Aku cinta kamu !”

    “Apa ? Gombal..!! Makanan apaan tuh cinta..”

    “Tuh, kan..kamu nggak pernah bereaksi kalau aku bilang cinta..”

    “Habis mau gimana lagi, cinta begitu absurd bagiku..”

    “Kenapa ? Pernah trauma ?”

    “Mau tahu aja..”

    “Duh..cuekmu itu lho..bikin aku gemas..”

    “Emang gue pikirin ?”

    “Cobalah untuk buka hati dan pikiran, jangan terlalu idealis..”

    “Emang kenapa ?”

    “Aku cinta kamu !”

    “Kamu udah bilang tadi, nggak usah diulang..”

    “Lah..kamu belum jawab..”

    “Itu bukan pertanyaan, aku nggak perlu jawab..”

    ”Maksudku, apa kamu juga cinta sama aku..”

    “Hahaha..definisi cinta aja aku nggak ngerti..”

    “Gini..apa kamu deg-degan setiap ketemu aku ?”

    “Ya iyalah..namanya orang hidup ya harus deg-degan, kalo nggak berarti orang mati..”

    “Duh susah banget ya ngomong sama kamu..pura-pura nggak ngerti apa emang nggak paham ?”

    “Yee..sewot..katanya cinta..”

    “Nggak jadi..di-cancel aja..lebih baik cari cinta yang lebih gampang, rumit cinta sama kamu..”

    “Syukurlah kalo nyerah, paling nggak aku nggak pusing cari cara untuk nolak kamu..”

    “Huh..sok jual mahal kamu..”

    “Emang mahal kok..”

    “Berapa mahalnya, sini aku beli..”

    “Not for sale..kalo emang dijual pun, kamu nggak bakal mampu beli..”

    “Sombong..”

    “Sombong 25 ? Apa Sutra ? Hehe..”

    “Dasar..”

    “Apa ? Jadi, kita tetep temenan kan ? Aku lebih nyaman jadi temenmu, nggak usahlah ada cinta-cintaan segala..nggak musim !”

    “Terserahlah..temen tapi mesra juga lebih baik..”

    “Idih..maunya..ogah..friend, just a friend..no more..understand ?”

    “No, thank’s..hehe..”

    “Ya udah..deal ya..kembali ke seperti semula..friend and friend forever..”
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...