Monday, November 01, 2010
Lirik Patah Hati
Aku tahu, ini pilu yang baru saja menyeruak menghentakkan rasa terpukauku padamu selama ini
Ku terpukau, saat pesonamu begitu berkilau sehingga mataku enggan untuk berkedip barang sekejap pun demi menatap parasmu
Dan kini, aku merasa pilu karena ada siapa gerangan yang menemani langkahmu, tak lagi sendiri
Ah..tatapku nanar merutuk waktu yang tak lagi berpihak padaku
Kubiarkan waktu tersia hingga kamu menemukannya kini
Terlambat...
Panah patah hati telah menancap cepat menghujam jantungku tanpa sempat ku tuk mengelak
Perih mengiris, betapa dia yang kau pilih sungguh sempurna
Ibarat bintang nan berkilau, itulah dia..
Ibarat bulan nan bersahaja, itulah kamu..
Ibarat pungguk merindukan bulan, itulah aku..
*Fiktif belaka, jika ada kesamaan kisah..hanya kebetulan belaka..
Pesan Moral : Ungkapkan perasaan hati dengan jujur dan terbuka, jangan marah kalo si dia keburu digaet orang..
Berlaku bagi para jomblo
Bagi yang sudah berpasangan, syukurilah pasanganmu, jangan coba untuk main hati...sakiittt...
Saturday, October 16, 2010
Sang Mantan

Seperti layaknya muda-mudi jadul, aku mengenalmu lewat seorang teman. Lalu obrolan mulai tercipta ala kadarnya. Berawal dari kikuk kemudian muncul pertanyaan standart yang tak lebih dari sekedar basa-basi belaka.
“Kuliah dimana ?”
“di Universitas Anu..”
“Oo..fakultas apa ?”
“Ilmu Murni..Kamu ?”
“Aku di Akademi X”
“Ngambil apa ?”
“Komputer, TI..”
“Oh..”
Hening. Sibuk dengan pikiran masing-masing, mencoba mencari bahan obrolan yang lain.
“Kenal sama si A ?”
“Angkatan berapa ?”
“Adik angkatan..”
“Ehm..mungkin kalo liat orangnya tahu, tapi kalo namanya nggak hafal..”
“Oh..”
Hening lagi. Bingung menentukan topik pembicaraan selanjutnya. Sebenarnya banyak sekali bahan obrolan yang berkelebat, tapi lidah ini kelu. Nggak tahu kenapa, grogi mungkin..jariku sibuk mengetuk-ngetuk kursi, matamu menerawang kemudian berhenti pada satu titik. Gitar sang kakak. Aha..sang penyelamat situasi.
“Boleh pinjam ?”
“Pakai aja..bisa main ?”
“Sedikit-sedikit..lagu standart aja..”
Tanganmu mulai memetik senarnya. Mengalun lagu yang aku suka. Wah..lumayan, pikirku. Suara gitar dan suaramu bisa klop, nggak fals..cukup nyambung. Awalnya aku masih malu-malu tapi kemudian suaraku bisa berpadu, lebur dengan suara dan alunan musikmu.
Wajahmu selalu terbayang dalam setiap angan
Yang tak pernah bisa hilang walau sekejap
Ingin selalu dekat denganmu enggan hati berpisah
Lalala..laaa…( sumpah, pas syair lagu ini aku dan dia bisa lupa)..
Ku sayang padamu..
Kasih janganlah pergi tetaplah kau selalu disini
Jangan biarkan diriku sendiri larut di dalam sepi..2x
Oh..
Kamu tampak larut dalam lagu ini. Sesekali matamu terpejam saat bergitar dan berlagu. Kesimpulan sementaraku : kamu punya kenangan dengan lagu ini. Indah atau sedih, aku tidak tahu. Yang pasti aku juga suka dengan lagu dari Bunga ini. Apalagi almarhum Galang cukup tampan yang menjadi salah satu daya pikatnya.
“Suara kamu bagus “
Aku tercengang. Seolah tak percaya jika kamu memuji suaraku. Sebenarnya, aku pernah mendengar pujian ini dari yang lain, tapi darimu..? Hanya limited edition kurasa..
“Ah..biasa aja..,” ucapku sedikit tersipu.
“Benar kok, aku nggak bohong..suaramu enak didengar..”
“Makasih..,” ucapku lirih.
Sedikit desir aneh bersemayam didadaku..waduh..jangan dulu, tak perlu buru-buru..!
****
“Aku pusing, harus cari ganggang laut untuk tugas praktikum kuliahku, pantai mana ya yang banyak ganggangnya ?”
“Di pantai dekat rumahku ada banyak ganggang, kamu mau aku antar kesana ?”
Aku terdiam. Baru teringat jika kamu berasal dari daerah gunung selatan yang tak jauh dari pantai selatan sana. Aku sedikit menimbang, belum terlalu lama mengenalmu, tapi intuisiku mengatakan kamu adalah tipe laki-laki yang baik, yang tidak suka macam-macam dengan perempuan. Selebihnya, aku mengangguk sebagai jawaban atas ajakanmu.
“Oke, kalau begitu kapan ?”
“Besok minggu..”
Jadilah aku pergi denganmu, berboncengan dengan sepeda motor laki-lakimu diiringi restu ayah dan ibuku. Ya, mereka sudah mengenalmu cukup baik.
Tak dapat kubayangkan aku melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk pertama kalinya denganmu. Jalan yang berkelok-kelok, naik turun dan pemandangan yang indah. Wow..nuansa pegunungan yang aduhai..luar biasa.
“Mampir ke rumahku dulu ya..”
Dikenalkannya aku dengan ayah, ibumu dan adik-adikmu. Di suatu rumah sederhana di pedesaan yang asri. Mereka sangat ramah menyambutku laksana kedatangan tamu agung. Begitu tulus dan bersahabat. Dibawakannya aku makanan begitu rupa sebagai bekal di perjalanan. Kacang, singkong, krupuk, sebagian dari hasil tani dan buah tangan.
Aku kegirangan saat menjumpai begitu banyak jenis ganggang laut yang terhampar di pinggir pantai. Beberapa jenis sudah aku kenal, selebihnya masih banyak yang belum aku ketahui. Kamu tampak sabar ikut memunguti ganggang-ganggang itu dan memasukkannya ke dalam stoples yang aku pinjam dari rumahmu. Bahkan tak kudengar kamu mengaduh saat kakimu yang telanjang tertusuk karang. Luka kecil, tapi ada darah yang keluar.
“Tidak apa-apa..sudah biasa..,” ujarmu.
Lalu kita duduk di atas batu karang, menunggu sunset datang. Ditemani ombak yang bergulung di bawah sana. Baru kusadar kita sedang berada di ketinggian. Kita duduk bersisian.
“Ini pantai favoritku..”
“Bagus..memang indah dan aku juga mengagumi tempat ini “
Di seberang tak jauh dari kita, beberapa pasang remaja saling merapatkan tubuhnya bermanja mesra. Aku dan kamu melihatnya.
“Kamu ingin bermesraan seperti mereka ?”, ujarmu. Lembut membuai.
Aku terdiam. Tak mampu menjawab. Kuhitung detik demi detik, ternyata kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu memang laki-laki yang baik dan sopan.
“Kalau aku terjun ke bawah bagaimana ?”
Tiba-tiba kamu sudah berada di ujung karang, merentangkan kedua tanganmu sambil tertawa-tawa. Hanya berberapa senti, kamu bisa terjungkal kebawah. Aku terkejut, tapi berusaha tak acuh menanggapinya. Sesuatu bernama gengsi meracuniku.
“Terjunlah jika kamu mau..”
Begitu kejam kedengarannya tapi aku tidak tahu kenapa terucap juga dari bibirku. Entahlah..
Kamu kembali duduk di sampingku. Hanya diam. Tak ada kata, tak ada ekspresi raga jika ada cinta diantara kita.dingin dan berlalu begitu saja. Hanya tatap matamu teduh kala itu berubah menjadi sendu.
“Aku baru patah hati, ditinggal selingkuh oleh mantanku. Namanya sama denganmu.”
Deg. Aku terpaku. Sebuah kebetulan yang cukup menusuk hatiku.
“Lalu ?”
“Saat ini aku belum berani untuk memulai suatu hubungan baru..”
Aku terdiam. Mulai paham. Mungkin hatimu masih terluka. Didera trauma dan sedikit parno. Apalagi namaku sama dengan mantanmu, yang mungkin punya banyak kesamaan karakter dengannya. Entahlah..
“Kita pulang..”
Berlalulah kita tanpa perlu menunggu sunset lagi.
Lalu sejak itu, kamu pergi tanpa kata. Aku sempat terlunta karena rasa. Ada sesuatu saat kamu tak ada. Aku merindu namun hanya bisa tergugu. Kamu tertelan waktu, tak pernah kembali tanpa sempat mengucap sebuah kata : maaf.
Saturday, October 02, 2010
Apa Khabar Pak Pos ?

Brem..brem..brem.. dan motor itu melaju di depan hidungku tanpa berhenti barang sedetik pun. Bablas dan dadah pertanda tak ada sepucuk surat pun untukku. Yah..kecewa terpendam. Mungkin lain kali, hiburku.
Hm..sungguh, saat-saat seperti ini aku merindukan moment itu berulang. Masih teringat jelas bagaimana girangnya hatiku, bahkan sampai jingkrak-jingkrak yang diiringi senyum dan geleng-geleng kepala pak pos, saat menerima sepucuk surat dari orang yang kudamba. Dari pacar, saudara, sahabat bahkan kenalan dari sahabat pena di majalah. Apalagi jika suratnya berisi kabar sukacita, tak sabar untuk segera membuka dan membacanya. Perangko menjadi saksi bisu nan setia. Wow..sensasi yang tak pernah terlupa.
Tak salah jika Vina Panduwinata pernah menyanyikan lagu berjudul Surat Cinta yang membawa-bawa nama pak pos. Masih ingatkan syair pertamanya..yang begini lho..
Hari ini kugembira..
Pak pos melangkah di udara..eh..salah..diulang dulu..
Hari ini kugembira..
Melangkah di udara..
Pak pos membawa berita dari yang kudamba…
Dst..sampai refrain..diterusin sendiri ya..hehe..
Intermezzo…lanjut cerita tentang pak pos..yuk mariii…
Pernah suatu kali, aku kecele saat mendengar deru motor dari kejauhan. Kukira suara sepeda motor sang pujaan hati di jam-jam wakuncar..eh..nggak tahunya suara motor pak pos yang baru pulang dari bertugas. Yah..salah deh, tiwas sudah lari-lari kedepan, nggak tahunya malah mendapat tertawaan dari kakak-kakakku. Idih..malu deh..Tapi biarpun begitu, sekelebat melihat sepeda motor warna orange itu rasanya gimana gitu..seperti ada kepuasan lahir batin..huehehe…( lebay.com ).
Lalu, kehadiran pak pos sedikit demi sedikit mulai tergeser saat handphone mulai menjamur dan sesuatu bernama internet menjadi primadona. Sesekali pak pos muncul mengantarkan surat dari perusahaan yang pernah aku kirim lamaran kerja. Kadang surat panggilan wawancara, tak jarang pula surat pemberitahuan bahwa aku belum memenuhi kualifikasi untuk diterima alias ditolak. Kehadiran pak pos mengiringi hari-hari gembiraku ataupun kekecewaan yang berujung kesedihan.
Dulu, saat menjelang hari raya, pak pos bisa hampir tiap hari bolak-balik untuk sekedar mengantarkan kartu ucapan selamat hari raya dari saudara dan para sahabat. Di lain waktu, pak pos bisa muncul laksana malaikat saat mengantarkan wesel, kiriman uang dari kakak tercinta yang bekerja di luar pulau Jawa atau kiriman barang berupa paket. Wah..betapa senangnya..
Jujur, aku merasa kehilangan sosok pak pos. Seringkali kiriman surat ataupun kiriman barang mulai tergantikan oleh ekspedisi titipan kilat atau yang lain. Yang konon lebih cepat dan efisien walaupun harganya kadang jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan pengiriman lewat jasa pos.
Terakhir kali, aku bertandang ke kantor pos kurang lebih setahun yang lalu saat mengirimkan naskah cerpenku ke sebuah majalah wanita untuk diikutkan dalam sebuah sayembara mengarang. Sayang sekali, tidak menang..
Beberapa kali, aku hanya lewat di depan kantor pos yang tampak lengang. Hanya tanggal-tanggal tertentu saat pengambilan uang pensiun, kantor pos bisa meluap antriannya. Atau saat ada pengumuman baru tentang lowongan pekerjaan. Padahal, aku membaca kantor pos sudah mulai mengikuti perkembangan jaman dengan system online dan menerima pula pengiriman uang baik yang dari maupun ke luar negeri melalui Western Union.
Yang pasti, jasa pos tidak lagi segreget dulu saat teknologi belum bergerak cepat. Surat berperangko sedikit banyak mulai tergeser oleh sms, telepon, email bahkan beragam situs pertemanan seperti facebook, twitter dan lain-lainnya. Wesel mulai tersisih oleh beragam layanan transfer via ATM, sms banking yang semudah membalikkan telapak tangan, berproses dalam hitungan detik. Simpel, praktis dan mudah.
Manusia mulai dimanjakan dengan kecanggihan teknologi yang tiap waktu mudah berganti dengan yang paling up to date. Sisi humanisme yang dulu begitu kental dan nyata lambat laun mulai terganti dengan face to face dan hand to hand secara maya.
Saya bangga dengan segala kemajuan teknologi yang ada, tapi tidak salah juga kan jika saya sedikit memberi ruang untuk mengenang senyum pak pos di masa jadul dulu ? I miss you pak pos..berbahagialah kalian yang saat ini masih bisa melihat sosok pak pos mengantarkan surat untukmu !
NB : Bus surat, masihkah berfungsi ? Aku pernah menjumpainya di pinggir jalan dalam keadaan yang sudah berkarat dan sangat memprihatinkan…Bahkan di tempat lain, bus surat menjadi sarana untuk menempelkan brosur-brosur promosi seperti di gambar ini. Rest in Peace bus surat..

Gambar diambil dari sini
Monday, September 27, 2010
Obrolan Iseng
“Apa ? Gombal..!! Makanan apaan tuh cinta..”
“Tuh, kan..kamu nggak pernah bereaksi kalau aku bilang cinta..”
“Habis mau gimana lagi, cinta begitu absurd bagiku..”
“Kenapa ? Pernah trauma ?”
“Mau tahu aja..”
“Duh..cuekmu itu lho..bikin aku gemas..”
“Emang gue pikirin ?”
“Cobalah untuk buka hati dan pikiran, jangan terlalu idealis..”
“Emang kenapa ?”
“Aku cinta kamu !”
“Kamu udah bilang tadi, nggak usah diulang..”
“Lah..kamu belum jawab..”
“Itu bukan pertanyaan, aku nggak perlu jawab..”
”Maksudku, apa kamu juga cinta sama aku..”
“Hahaha..definisi cinta aja aku nggak ngerti..”
“Gini..apa kamu deg-degan setiap ketemu aku ?”
“Ya iyalah..namanya orang hidup ya harus deg-degan, kalo nggak berarti orang mati..”
“Duh susah banget ya ngomong sama kamu..pura-pura nggak ngerti apa emang nggak paham ?”
“Yee..sewot..katanya cinta..”
“Nggak jadi..di-cancel aja..lebih baik cari cinta yang lebih gampang, rumit cinta sama kamu..”
“Syukurlah kalo nyerah, paling nggak aku nggak pusing cari cara untuk nolak kamu..”
“Huh..sok jual mahal kamu..”
“Emang mahal kok..”
“Berapa mahalnya, sini aku beli..”
“Not for sale..kalo emang dijual pun, kamu nggak bakal mampu beli..”
“Sombong..”
“Sombong 25 ? Apa Sutra ? Hehe..”
“Dasar..”
“Apa ? Jadi, kita tetep temenan kan ? Aku lebih nyaman jadi temenmu, nggak usahlah ada cinta-cintaan segala..nggak musim !”
“Terserahlah..temen tapi mesra juga lebih baik..”
“Idih..maunya..ogah..friend, just a friend..no more..understand ?”
“No, thank’s..hehe..”
“Ya udah..deal ya..kembali ke seperti semula..friend and friend forever..”
Tuesday, September 14, 2010
Hati-hati ! Penipuan Berkedok Order Barang
Saat saya jaga toko belum lama ini, datang supplier barang dagangan di toko saya, bercerita bahwa baru saja terjadi penipuan yang menimpa toko langanannya di Wonosari dan di Yogya.
Berdasarkan ceritanya, seorang laki-laki berpenampilan rapi pura-pura mencari barang yang tidak ada di toko itu. Katakanlah barang itu semacam lem kering merk tertentu yang pedagang belum pernah menjualnya dan baru melihat pertama kali contoh barang yang ditunjukkannnya. Laki-laki itu memberi ancer-ancer harga satu dus seharga 300 ribu rupiah yang berisi 100 pcs lem kecil-kecil. Orang itu berkata butuh barang itu 10-20 dus setiap minggunya. Laki-laki itu mendesak pedagang kalau ada, akan membeli barang itu dan berani memberi uang muka segala.
Tertarik dengan tawaran laki-laki itu, pedagang menyanggupi akan mencarikan barang itu setelah menerima uang muka. Padahal sebenarnya, barang yang dicari, di luar barang yang biasa dijual pedagang. Tapi berhubung ingin mencari sampingan hasil yang lumayan besar, permintaan itu disanggupi.
Beberapa hari setelah laki-laki itu memberi uang muka, datang beberapa orang dengan mobil APV Plat AD yang berlagak sebagai sales menawarkan barang persis seperti yang diminta laki-laki sebelumnya. Tanpa berpikir panjang, pedagang langsung membeli barang 10 dus dengan harga @250 ribu sehingga total 2,5 juta. Dengan asumsi akan untung 50 ribu per dusnya, uang 2,5 juta segera berpindah tangan ke sales gadungan itu.
Dan benar saja, setelah uang berpindah dan barang di tangan, laki-laki yang beberapa hari lalu selalu muncul tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Nomor handphone yang diberikan mendadak tidak bisa dihubungi. Dan lebih tragis lagi setelah melihat barang yang dipesan ternyata bukan lem yang bisa dijual, kemasannya sulit dibuka dan setelah dibuka hanya gumpalan semen yang tidak ada harganya sama sekali. Duh..menyedihkan ya..uang 2,5 juta raib entah kemana.
Sepertinya ini modus penipuan yang baru. Komplotan orang yang kerjasama untuk mencari uang dengan cara yang sangat merugikan. Sedikit lebih cerdik dengan cara yang tidak terduga sebelumnya. Dari laporan yang diterima, toko-toko yang sudah menjadi korban adalah toko besi, toko kelontong, toko onderdil dan tidak menutup kemungkinan di toko apa saja dengan permintaan barang yang berbeda-beda.
Hikmah yang bisa kita petik dari kejadian ini adalah ;
- Jangan mudah tergiur dengan untung yang banyak
- Kalau barang yang ditawarkan adalah barang yang sama sekali tidak kita tahu, lebih baik jangan ambil resiko, mending yang pasti-pasti saja, yang sudah kita ketahui luar dalam
- Jangan mudah tergoda dengan uang muka, bila yakin kita tidak tahu barangnya, lebih baik ditolak saja dengan alasan di luar bidang kemampuan kita
- Senantiasa menganut prinsip, no pain no gain. Tidak ada keuntungan banyak yang bisa kita raih dengan cara yang gampang. Adalah sebanding jika dengan bekerja keras kita akan mendapatkan hasil yang maksimal..
Demikian sekilas info, semoga bermanfaat. Have a nice day ya..!
Tuesday, August 24, 2010
Minder Akut
Nining menyadari, ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya. Ada ketakutan dalam dirinya untuk bertemu dengan orang lain yang datang ke gubugnya. Nining tidak merasa orang itu jahat, hanya Nining tidak merasa nyaman jika harus menampakkan batang hidungnya untuk sekedar memberi minuman ataupun berbasa-basi sejenak. Nining lebih memilih diam di dalam kamar, selama mungkin sampai tamu itu pulang. Tak peduli hingga beberapa jam, selama itu pula Nining mendekam di kamar. Aneh memang, rasa minder Nining sudah sangat parah.
Nining mempunyai perasaan yang takut diabaikan, takut dipandang sebelah mata, takut salah ngomong, takut mengemukakan pendapatnya. Serba salah..ya..Nining merasa semua yang dilakukan serba salah di mata dirinya dan orang lain. Ada suara-suara dalam pikiran Nining yang men-judge “ kamu jelek..kamu miskin..kamu tidak berguna..” menggema berulang-ulang dan seolah-olah kata-kata itu yang dipikirkan oleh orang lain tentang dirinya.
Di sekolah pun, Nining punya rasa takut berlebihan kepada ibu kepala sekolah ataupun guru-guru. Dalam bayangannya, dirinya seolah-olah diawasi sehingga kalau berbuat salah sedikit, nanti pasti akan dimarahi atau dihukum. Padahal, itu semua tidak pernah terjadi di alam nyata, hanya suatu racun yang ada di kepala Nining. Nining iri kepada teman-temannya yang bisa bercanda tawa dengan bapak ibu guru. Nining ingin bisa luwes, tapi semua itu terhalau oleh pikirannya sendiri yang meracuni. Selalu ada kata-kata “ kamu bukan siapa-siapa..kamu anak miskin..kamu tidak pantas..”. Ah..betapa pikiran ini sangat membelenggu Nining.
Nining ingin mengusir rasa malunya yang berlebihan, ingin membuang rasa rendah dirinya, ingin keluar dari krisis identitasnya. Nining merasa tiada guna dengan sifat jeleknya ini. Nining butuh seseorang yang bisa mengerti keadaannya. Nining tidak ingin terus-terusan bersikap tertutup dan hanya diam-diam meratapi kemiskinannya. Nining harus berbuat sesuatu.
Nining selalu merasa nyaman bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Mengandaikan dirinya sedang ngobrol dengan seseorang. Ada dua pribadi dalam dirinya saat itu. Semua yang ada dalam khayalannya dikeluarkan seperti suatu sandiwara. Ya..Nining memang senang berkhayal. Suatu waktu dia pernah berandai-andai menjadi anak orang kaya. Segala yang dia inginkan ada, baju yang bagus, rumah megah, mobil mewah..semuanya terasa sangat nyaman dan membahagiakan. Di lain waktu Nining juga berangan-angan jika dewasa nanti dia menjadi seseorang yang popular, dikenal masyarakat akan karyanya. Karya yang mana Nining belum paham, yang pasti Nining senang bernyanyi, main musik, main drama dan senang menulis. Nining bermimpi salah satu bakatnya bisa berkembang dan menghasilkan sesuatu yang bisa berguna dan dikenal bagi orang lain.
Dalam pergaulan dengan teman yang sudah dikenal, sebenarnya Nining tidak ada masalah. Nining bisa bercanda dan menjadi teman yang asyik bagi teman-temannya. Hanya kepada orang-orang tertentu yang bagi Judith tidak nyaman saja, Nining tidak bisa luwes bergaul. Ada semacam tembok tebal yang menghalangi keduanya. Nining tidak tahu itu apa, semacam ketidakcocokan aura, atau ada kekuatan lain yang saling tolak-menolak. Dan, untuk amannya, Nining lebih suka untuk menghindar. Pura-pura tidak saling kenal dan tidak terlibat dalam percakapan sama sekali. Sungguh aneh tapi nyata..
Monday, August 23, 2010
Tragedi Raport

Nining menapaki pematang sawah dengan langkah-langkah kaki kurusnya. Hari masih cukup pagi dan udara pagi ini cukup dingin. Kelak, udara sedingin ini bisa terasa panas karena peluh yang mulai keluar membasahi baju seragam Nining satu-satunya itu. Paling tidak, setengah jam perjalanan ditempuh Nining dengan berjalan kaki hingga tiba di sekolahnya. Biasanya kaki Nining mulai menapakkan di gerbang sekolah bertepatan dengan bunyi bel yang berdentang. Tak ada jeda waktu bagi Nining beristirahat barang sejenak menata nafasnya. Gurunya sudah bersiap menuju kelasnya jam tujuh tepat.
“Selamat, pagi bu Guruuu…..,” serentak Nining dan teman-temannya memberi salam kepada ibu Guru. Ritual setiap pagi sebelum memulai pelajaran yang dipimpin aba-aba oleh sang ketua kelas setelah berdoa.
“Selamat pagi, Anak-anak ! Besok adalah hari penerimaan raport kalian, Ibu berpesan bagi yang belum membayar SPP harap segera dilunasi. Sampaikan kepada orang tua kalian !”
Glek. Nining menelan ludah. Sudah dua bulan ini Bapak Nining belum bisa membayar SPP-nya. Kemarin adalah giliran kakaknya yang harus bayar SPP dahulu karena tidak bisa ikut ujian jika belum membayar SPP. Sedangkan di sekolah Nining, siswa boleh ikut ujian sekalipun belum membayar SPP, tapi harus segera dilunasi jika akan penerimaan raport. Nining harap-harap cemas jika ibu Guru menyebut namanya di depan kelas sebagai anak yang belum membayar SPP. Nining bersiap untuk menutup rasa malunya di depan teman-temannya jika itu terjadi. Tapi ternyata, ibu guru hanya menatapnya sekilas dan tidak berkata apa-apa lagi. Cukup sudah. Hff..Nining bernafas lega.
Sampai di gubug, Nining bingung kata apa yang akan disampaikan kepada ayahnya perihal tunggakan SPP-nya. Nining sangat mengerti kondisi keluarganya, dan tidak ingin menambah beban berat orang tuanya sekalipun itu adalah suatu kewajiban. Jangka waktu satu hari jelas tidak mungkin bagi Bapaknya mendapatkan uang sejumlah 2 bulan SPP-nya. Untuk makan sehari-hari saja kesulitan, apalagi untuk yang lain-lain. Nining hanya bisa berharap, semoga akan ada suatu keajaiban yang terjadi
Pagi harinya, Nining pergi ke sekolah berboncengan sepeda dengan Bapak, memenuhi undangan orang tua yang harus hadir saat penerimaan raport. Bapak sudah tahu jika Nining menunggak SPP 2 bulan, oleh karena itu Bapak akan berbicara dengan guru di sekolah Nining untuk minta kelonggaran waktu dalam membayar. Bapak Nining tidak meminta keringanan, tapi hanya minta waktu yang cukup supaya bisa mencari uang untuk membayar SPP Nining.
Para orang tua murid sudah banyak yang berkumpul di aula sekolah. Hari ini adalah penerimaan raport kenaikan kelas yang artinya Nining akan naik ke kelas lima jika tidak tinggal kelas. Selain acara pembagian raport, akan diumumkan pula siapa-siapa yang menjadi juara kelas di kelasnya masing-masing. Para orang tua menjadi saksi keberhasilan putra-putrinya dalam belajar.
Ternyata, Nining menduduki ranking kedua di kelasnya dan sudah tentu naik ke kelas lima. Bapak sangat bangga akan prestasi Nining, namun menjadi sebuah ironi ketika buku raport yang membanggakan itu hanya boleh dilihat oleh Bapak dan Nining di sekolah saja, tidak boleh dibawa pulang sebelum membayar tunggakan SPP. Nining cukup sedih, tapi apa daya, Nining tidak ingin membuat Bapaknya lebih sedih lagi. Cepat-cepat dihapusnya air mata yang hampir berlinangan di pipi jangan sampai sempat terlihat oleh Bapaknya.
Setidaknya, Nining cukup bersyukur tinggal di tengah sawah yang jauh dari para tetangga itu. Hanya keluarga Nining sendiri yang tinggal di tengah sawah ini. Mereka hanya bertegur sapa dengan para petani yang menggarap sawah dari pagi hingga sore hari. Selebihnya, tak ada orang lain yang bisa disebut sebagai tetangga. Kalaupun Nining ingin bermain, bermain sendiri dengan alam saja. Teman-teman sekolahnya sangatlah jauh rumahnya yang dekat dengan sekolahan sana. Tapi ketiadaan tetangga ini sedikit menguntungkan Nining saat kenaikan sekolah begini.
Tuesday, August 17, 2010
Upacara Bendera Yang Memalukan

Tak jarang terlihat pemandangan usil para siswa yang saling bisik-bisik atau mengobrol selama upacara berlangsung. Posisi berdiri yang seharusnya tegak berubah menjadi posisi santai apalagi jika berada di barisan belakang. Mungkin kalau jaman saya sekolah dulu sudah ada HP, siswa akan sibuk sms-an, facebook-an atau twitter-an saling menuliskan status sedang upacara. Sering terdengar gerutuan siswa karena kepanasan, berharap supaya bapak Pembina tidak berpanjang lebar dalam memberikan amanat-nya.
Saya pernah punya pengalaman cukup memalukan yang berkaitan dengan upacara bendera ini. Saya dan satu teman saya lupa membawa topi, padahal topi merupakan atribut wajib yang harus dipakai untuk upacara. Berasumsi bahwa rumah saya dekat dengan sekolah, saya dan teman inisiatif mengambil topi itu kerumah di menit sepuluh menjelang pukul tujuh pagi, waktu dimulai upacara. Sudah dibela-belain naik motor ngebut, tapi saya tetap terlambat sampai di sekolah, upacara sudah dimulai dan saya serta teman saya kena razia pak Guru. Tanpa ampun saya dan teman saya digiring maju ke tengah lapangan bergabung dengan siswa lain yang bandel tidak memakai atribut dan yang datang terlambat. Aduh..malunya dilihat satu sekolah, mana yang lain laki-laki semua kecuali saya dan teman saya yang tadi ambil topi.
Hukuman tidak berhenti disitu, setelah selesai upacara, saya dan teman ‘bandel’ lainnya digiring masuk ke ruang guru BP untuk diberi pengarahan. Tangis saya tumpah berderai sesudah mendengar wejangan pak guru. Maklum, saat itu saya pengidap cengeng yang cukup akut. Selain itu, saya termasuk siswa yang cukup tertib sebelumnya, jadi teman-teman yang lain cukup heran juga saya bisa dipanggil guru BP seolah-olah saya ini siswa yang suka bikin ulah. Hiks..gara-gara lupa, jadi kacau semuanya..
Terus, pengalaman yang menurut saya cukup berkesan sekaligus memalukan adalah ketika menjadi pemimpin upacara. Haiyaa..saya termasuk pemimpin upacara perempuan pertama di kelas saya kala itu. Hanya bermodal sifat cuek bebek sok pede, saat memberi aba-aba : “ Kepada sang merah putih hooorrrrmmaaaatttt….grrrrraaaaakkkk…..” Pas kata-kata grak, suara saya keseleo menghasilkan suara yang nggak balance dan cukup fals sehingga terdengar aneh dan mngundang tawa tertahan seluruh peserta upacara. Muka saya merah padam tapi demi berlangsungnya upacara yang khidmat, saya tahan rasa malu itu sampai upacara selesai. Wah..
Kalau dingat-ingat sekarang, rasanya ingin kembali mengulang kenangan untuk ikut upacara bendera lagi, merasakan menjadi peserta sekaligus sebagai petugas. Beruntung saya pernah merasakan semua tugas di upacara bendera dari menjadi pemimpin upacara, pemimpin pasukan, pengibar bendera, dirigent, pembaca UUD 1945, pembawa teks Pancasila, sampai pembawa acara / MC sudah saya lakoni semua. Semua ada suka, duka dan resiko. Kalau ada kesalahan, ya paling diketawain dan jadi hiburan semua peserta. Membuat bahagia orang lain kan menyenangkan, ya toh ?
Upacara bendera, mestinya menjadi suatu ritual untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang telah berjuang memerdekakan bangsa. Tanpa jasa beliau-beliau mungkin saat ini kita masih dijajah oleh penjajah dari luar negeri.
Lha sekarang menjadi pertanyaan kita sendiri, kalau kita tidak rela dijajah oleh bangsa lain, apakah sekarang kita rela dijajah oleh bangsa sendiri termasuk diri kita sendiri setelah merdeka ? Lalu kemerdekaan seperti apa yang kita inginkan ? Tentunya ini menjadi bahan renungan kita di Dirgahayu HUT RI ke-65. Merdeka ! ( Semoga..)
Friday, August 13, 2010
Dilema Pramuka

Sebenarnya, Nining sangat gelisah saat ini. Berkali-kali digulingkannya tubuhnya di kasur kapuk yang mulai menipis itu. Sesekali matanya mengintip dari lubang gedeg rumahnya, ingin tahu siapa temannya yang lewat di seberang jalan tak jauh dari gubugnya, berseragam pramuka menuju sekolahnya. Sedikit cemas, Nining berharap semoga teman-temannya tidak menyadari keberadaannya dan berinisiatif menjemputnya ke rumah seperti yang sudah-sudah. Maklum, jarak rumah dan sekolah yang dekat membuat teman sekolah Nining banyak yang suka bermain di sini. Ah..semoga saja tidak ada yang nyamper Nining tiba-tiba.
Sejujurnya, Nining suka dengan kegiatan Pramuka. Belajar tali temali, belajar sandi, bertualang, berkemah, bersahabat dengan alam, belajar disiplin dan bertanggung jawab. Tapi..kenapa harus pakai seragam coklat tua dan coklat muda ? Kenapa tidak warna putih merah saja ? Ah..itu sama artinya Nining harus menodong bapaknya untuk membelikan seragam pramuka, dan sudah pasti Nining tidak bisa langsung mendapatkan jawabannya. Nining sudah sangat paham dengan arti kata menunggu. Dan lagi, Nining tidak mau ini menjadi beban orang tuanya ! Jadi, tidak ikut kegiatan ini sampai nanti seragam itu ada, sementara menjadi tempat teraman bagi Nining.
Dan jika nanti teman-temannya bahkan gurunya bertanya, Nining perlu mempersiapkan jawabannya. Bilang saja ketiduran, beres..what ? Itu artinya Nining sudah berani berbohong, jadi.. ? Entahlah..Nining merasa pusing tiba-tiba. Walau ada sedikit rasa lega di hatinya, ketika melirik jam sudah pukul 14.30 dan tidak ada satupun temannya yang menyamper. Hff..
Benar saja, esok hari saat kaki Nining baru sampai di pintu kelas, beberapa pertanyaan sudah memberondongnya bertubi-tubi. Nining lemas seketika.
“Nining, kenapa kemarin tidak ikut Pramuka ?”
“Kata Pak Bambang, Pramuka ini wajib diikuti, lho..”
“Asyik lho, kemarin diajarin tentang sandi morse..”
“Kemarin juga udah dibentuk regu..”
“Kamu belum dapat kelompok ya.. “
Aduh..ingin rasanya Nining berlari keluar dari kelas dan menutup rapat-rapat telinganya. Mereka semua tidak mengerti, dan tidak akan pernah mengerti. Nining hanya terdiam dan tidak ingin berkata apa-apa. Nining berjuang keras supaya air matanya tidak keluar begitu saja, hal yang biasa terjadi saat dirinya panik. Belum saatnya Nining berterus terang tentang keadaan yang sesungguhnya, dan bukan jalan keluar terbaik pula jika Nining harus terpaksa berbohong. Diam..adalah reaksi teraman, setidaknya untuk saat ini. Dan..teman-teman Nining menangkap sesuatu yang lain dari sikapnya kali ini, seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Dan tentu saja, mereka menjadi penasaran.
******
“Bapak..Nining perlu seragam Pramuka..”
Nining merasa, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membicarakan dengan Bapak-nya. Sudah dua kali Nining tidak ikut kegiatan Pramuka, dan tadi Nining tidak enak ketika Pak Bambang sendiri yang mewajibkan dirinya untuk ikut Pramuka karena akan berpengaruh pada nilai Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Nining bergidik ngeri membayangkan jika nilai PMP-nya jelek dan berakibat tidak naik kelas. Jadi satu-satunya cara, Bapak harus membelikannya seragam Pramuka !
Bapak menatap Nining dalam-dalam. Tampak rona mukanya sedikit murung. Nining sebenarnya tahu dan sangat tahu apa yang ada dalam pikiran Bapak, tapi apa boleh buat..Nining tidak punya cara lain.
“Nanti Bapak usahakan cari, ya..”
Tangan Bapak mengusap rambut Nining pelan. Nining mengangguk dan matanya berkaca-kaca, entah untuk apa. Segara Nining berlalu dari pandangan bapaknya dan menumpahkan air mata di tempat tidurnya. Kamar sederhana yang dibatasi dengan kain penutup sebagai gordyn menjadi tempat terindahnya merajut mimpi. Nining berandai-andai jika saja saat ini ada seseorang yang baik hati memberikannya satu setel seragam Pramuka, maka Nining akan semangat ikut Pramuka tanpa ragu-ragu. Akan diikutinya kegiatan itu dengan suka cita dan penuh riang gembira. Tak ada alasan lagi untuk tidak ikut serta.
*****
“Gimana pak, seragamnya sudah ada ?”
“Aduh, maaf pak..saya sudah hubungi tokonya tapi stoknya masih kosong, pak..mungkin minggu depan jika sudah ada segera dikirim..”
Bapak Nining tampak lemas. Hari ini adalah hari Jumat, hari saat Nining ada kegiatan Pramuka tapi seragam itu belum ada. Bapak sudah mengupayakan ambil kredit di koperasi pabrik tempatnya bekerja sbagai buruh, tapi ternyata tidak bisa secepat yang dikira..maafkan Bapak, Nining..terpaksa kali ini kamu bolos Pramuka lagi..
****
“Nining, kenapa kemarin kamu belum ikut Pramuka juga ? Apa ada masalah ?,” Sita teman terbaik Nining bertanya hati-hati. Seperti biasa, Nining hanya bisa menggeleng.
“Cerita saja, Ning..aku tidak akan cerita pada siapa-siapa..”
“Nggak..nggak papa, Sita..mungkin minggu depan aku baru bisa ikut serta..”
“Hm..ya sudah..tapi bener ya..? Jangan sampai nggak ikut lho..O,ya Nining..aku punya seragam Pramuka kegedean, kamu mau pakai tidak ? Soalnya kemarin itu Papa belikan aku seragam Pramuka kegedean, padahal aku sudah punya 2 setel yang ukurannya pas dari mama..Kalau mau, besok aku bawakan ya..kayaknya pas deh buat kamu, aku kan lebih kecil dari kamu, sayang kalo nggak kepake, buat apa aku punya banyak, ya kan.. ?”
“Wah..sungguh Sita ? Mau..aku mau sekali..”
Mata Nining langsung berbinar bahagia. Sita turut bahagia. Oh..Tuhan..ternyata Engkau mendengar permohonanku..dalam hati Nining bersyukur. Engkau kirimkan orang-orang baik hati laksana malaikat tepat pada waktunya. Kemarin Sumi, sekarang Sita.
*****
Baru kali ini Nining merasakan hari Jumat adalah hari yang paling bahagia sedunia. Usai sudah kegelisahan sebelumnya setiap hari Jumat tiba. Nining bisa berdiri tegak diantara barisan murid-murid yang berseragam coklat lengkap dengan hasduk itu. Nining tampak bangga mengenakannya. Tiada lagi wajah murungnya.
Dan yang lebih membahagiakan Nining, ternyata seragam Pramukanya menjadi 2 pasang. Satu dari Sita, satu lagi dari Bapaknya hasil kredit di koperasi pabrik. Sebenarnya Nining ingin berkata kepada Bapaknya untuk membatalkan kreditannya di koperasi, tapi ternyata seragam itu telah tiba bersamaan dengan seragam Pramuka dari Sita. Ya..apa boleh buat. Semuanya tiada pernah Nining kira. Dan Bapak berjanji akan melunasi kredit seragam itu dengan segenap tanggung jawabnya. Ah..Nining iba sekaligus terharu dengan Bapak.
Tuesday, August 03, 2010
Chatting Dengan Tuhan

Saya : Allow..Tuhan..lagi sibuk ya ?
Tuhan : Sibuk tapi asyik kok..
Saya : Gimana kabarnya ?
Tuhan : Selalu baik..
Saya : Doa saya sudah sampai belum Tuhan, kok belum ada jawaban ya..
Tuhan : Lagi diproses..sabar ya..
Saya : Berapa lama lagi Tuhan, saya sudah nggak sabar nih..
Tuhan : Hm..antri dong, yang berdoa itu banyak, bukan cuma kamu, lagian yang nadanya mirip-mirip doamu juga banyak. Akan kuprioritaskan mana yang lebih urgent..
Saya : Saya juga urgent lho Tuhan..
Tuhan : Masih banyak yang lebih urgent dari kamu..
Saya : Ya..berarti masih lama banget ya..itu berlaku untuk seluruh dunia kan Tuhan ?
Tuhan : Ya iya lah..berlaku untuk semua makhluk ciptaanku..
Saya : Yah..capek saya harus menunggu dalam ketidakpastian..
Tuhan : Lebih capek mana sama Aku yang stand by 24 jam, hayo..? Tapi kamu tidak pernah mendengar keluh kesahku kan ?
Saya tersipu. Malu dengan sifat saya yang mudah mengeluh dan uring-uringan nggak jelas.
Saya : Tuhan, apakah dosa saya banyak Tuhan ?
Tuhan : Menurut kamu bagaimana ?
Saya : Kadang-kadang saya merasa tidak punya dosa tuh..
Tuhan : Hm..dosa berat itu termasuk ketika seseorang merasa bahwa dirinya tidak berdosa..
Saya tertunduk. Betapa sombongnya saya selama ini.
Tuhan : Ketika orang mati, diberi beban 100 kg menindih tubuhnya, apakah dia merasa berat ?
Saya : Tidak Tuhan, orang mati tidak akan merasakan beban seberat apapun..
Tuhan : Semoga kamu tidak seperti orang mati…
Saya terhenyak. Ya Tuhan..ampuni segala dosa-dosa saya selama ini..hidupkan kembali jiwa saya yang telah lama mati..