Monday, March 29, 2010

Pentingnya Positif Ting..Ting.. ( Thinking )


Kebiasaan berpikir negatif ternyata membawa dampak yang cukup serius bagi perkembangan jiwa. Berdasarkan penelitian para pakar psikologi, pola pikir negatif juga bisa membuat lelah secara fisik karena menguras energi.

Sudah capek pikiran, masih ditambah capek hati, kelelahan fisik lagi, bisa dibayangkan gimana raut wajahnya ? Awut-awutan pasti !

Contoh sederhana adalah kebiasaan kita berprasangka buruk kepada orang lain. Biasanya pada keadaan seperti ini, kita berpikir yang tidak-tidak dan aneh-aneh. Ada kedengkian, benci, iri hati, marah, sinis, dan keinginan untuk menyerang orang lain. Rasanya tentu sangat tidak menyenangkan, karena berpikir negatif seperti ini menyebabkan berkurangnya hormon endorphine yaitu hormon yang membuat rasa senang dalam tubuh kita.

Selain itu, detak jantung ikut berdetak lebih cepat, membuat organ vital ini bekerja secara ngos-ngosan. Akibatnya, pembuluh darah juga ikut-ikutan ngebut mensuplai darah, menyebabkan kebutuhan oksigen ikut bertambah.

Untuk mengimbanginya, maka harus diikuti dengan tarik nafas panjang. Tenangkan pikiran, relax, maka semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya lagi.

Tidak dapat dipungkiri, saat emosi meledak, segalanya terasa sangat menyiksa, bahkan bisa membuat gelap mata. Ini yang bahaya.

Yoga, meditasi dan mendengarkan musik klasik dan musik instrumentalia yang tenang adalah beberapa cara untuk melatih kesabaran diri yang bisa menyebabkan pikiran tenang dan bisa menyelesaikan segala permasalahan dengan pikiran yang jernih.

Memang tidak gampang untuk memulai, tapi mencegah lebih baik daripada mengobati kan ? Sebelum jiwa kita kering digerogoti oleh pikiran negatif

Selain itu, jika kita menginginkan adanya perubahan, dari dalam diri kita juga harus ada niat yang kuat untuk berubah. Tinggalkan kebiasaan lama yang buruk dalam menyikapi segala sesuatu.

Di bawah ini beberapa contoh tindakan yang harus kita ambil saat menghadapi suatu keadaan :

Ada kendaraan yang hampir menyerempet kendaraan kita

Biasanya, reaksi yang terjadi adalah sumpah serapah dari mulut kita dan niat untuk membalas kepada pelaku. Tapi tahukah anda, justru kelakuan seperti ini yang membuat tubuh kita kelelahan ? Mungkin, kita akan lebih lega jika sudah menumpahkan kekesalan kita, tapi tahukah orang itu akan kekesalan kita ?

Pada akibatnya kita hanya ngomel-ngomel sendiri, telinga kita sendiri yang mendengarkan, lebih parah kalau ada anak disamping kita. Secara tidak langsung kita mengajari anak kita untuk bereaksi negatif saat ada kejadian yang tidak mengenakkan.

Lain halnya kalau reaksi kita hanya mengelus dada, mendoakan orang tersebut semoga aman-aman saja sampai tujuan, mungkin dia sedang terburu-buru karena istrinya mau melahirkan, bisa membantu kita untuk tenang. Nggak ada ruginya juga kok, lha wong baru hampir ketabrak. Masih untung kan, mestinya kan bersyukur kepada Tuhan. Ngapain harus marah-marah ? Capek deh..

Saat antri, diserobot orang lain
Sebagai manusia biasa, rasa dongkol pasti ada. Sudah capek-capek antri..eh ada yang main serobot aja. Enak banget ya, harus dikasih pelajaran itu orang. Marah-marahlah kita, bahkan nama-nama binatang sempat dilontarkan untuk penyerobot tadi.

Akibatnya ? Rusaklah hari kita ! Hari yang harusnya diisi dengan penuh kegembiraan akhirnya menjadi hari mengesalkan sedunia karena rasa tidak terima kita kepada Mr. serobot antri.

Yang rugi siapa ? Kitalah..coba kalau kita tanya baik-baik kepada Mr. serobot tadi, apa alasannya main serobot aja, karena tidak tahu, terburu-buru atau apa ? Kalau memang bandel, biarkan petugas keamanan yang ambil tindakan. Beres kan..nggak perlu adu otot segala..

Saat digosipin yang bukan-bukan / difitnah

Fitnah lebih kejam dari fitness eh..pembunuhan. Mengungkapkan dusta kepada publik adalah perbuatan yang sangat tercela. Apalagi jika dilakukan oleh orang yang benar-benar sadar bahwa itu fitnah untuk tujuan tertentu. Dosanya bisa berlipat-lipat. Bagaimana jika kita yang difitnah ? Nama kita jelas bisa tercemar karenanya.

Lebih baik, selidiki apa alasannya berbuat demikian. Mungkin dia mau cari sensasi, atau sengaja menjatuhkan nama kita kerena tidak suka akan kesuksesan kita ? Tunjukkan bukti-bukti dan fakta bahwa semua adalah fitnah.

Publik juga bisa menilai kok, mana yang benar dan tidak. Asal kita konsisten dengan perbuatan yang benar, pasti waktu bisa menjawab dan Tuhan akan membantu untuk dapat membuktikannya. Percaya pada keajaiban.

Dengan tetap tenang dan tabah, orang akan lebih percaya kepada kita. Tak perlu bersikap dendam kesumat dan terbakar emosi yang membabi buta. Dengan demikian, akan banyak tanggapan simpatik dan uluran tangan yang siap membantu. Perlu diingat, kita tidak sendiri.

Saat terjadi perselisihan karena perbedaan
Terlibat perdebatan yang seru karena beda agama, suku dan ras ? Aduh..sudah tahu beda kok masih diributkan. Mau apalagi sih, mencari pembenaran diri ? Kalau semuanya merasa paling benar trus yang salah seperti apa ?

Sudahlah, terima saja perbedaan itu. Justru perbedaan bisa memperkaya jiwa kita semua kalau kita mau saling memahami, toleransi dan menghormati.

Kita hargai banyaknya pemikiran, pandangan, persepsi..namanya manusia berakal budi kok, sah-sah saja kan kalau ada perbedaan. Dan yang paling penting, adanya saling pengertian bisa saling melengkapi yang berakibat pada kedamaian. Indah, kan..?

Saat pasangan mulai melirik orang lain

Ini cobaan terberat. Coba introspeksi diri, apa yang membuatnya berpaling. Ada sebab pasti ada akibat. Apakah karena perhatian kita yang kurang ? Ataukah penampilan kita yang kurang menarik tidak seperti dulu lagi ? Atau kita yang membosankan. Coba benahi semuanya.

Berpikir positif menjadi kunci utama. Sudah pasti sangat sulit, dan akan ada rasa gengsi yang menghalanngi. Tapi coba berpikir bijak, dengan merendahkan hati kita, dia akan berpikir ulang dan merasa rugi jika berpaling dari kita.

Restart kembali cintanya yang mulai meredup, dan buat bergairah seperti saat pertama kali bertemu. Ingatkan kembali memori saat-saat bahagia dan terus ulangi di saat-saat ini. Pasti sedikit banyak bisa membantu.

Waduh, kesannya kok saya ini seperti paling ahli saja, ya…bukan, saya bukan ahli dan saya bukan orang yang baik sekali. Saya sedang belajar untuk berdamai dengan diri saya sendiri yang seringkali berpikiran negatif. Saya merasakan capek akibat dari pikiran negatif ini. Kemudian saya bertekad untuk selalu berpikir positif seburuk apapun keadaannya.

Dan melalui tulisan yang saya simpulkan dari berbagai sumber ini, sedikit banyak bisa membawa saya ke arah perubahan yang lebih baik. Setidaknya itu penilaian dari orang-orang dekat yang mengenal saya, lho...bukan saya sendiri yang ngomong !

Saya hanya sedang belajar untuk menjadi orang yang baik. Minimal, berbuat baik kepada diri saya sendiri dulu, dengan menyayangi tubuh ini dengan berpikiran positif. Banyak manfaatnya untuk jiwa saya, dan semoga bermanfaat juga untuk para pembaca tercinta.

So, always positive ting-ting..thinking..!!

Friday, March 26, 2010

Sejuta Tanya Untuk Bangsa Indonesia


Dulu, saat masih berseragam putih merah, dimana kepolosan masih terpancar, dengan bangga kita bisa menyuarakan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar.

Tanahnya subur, makmur, aman dan sentausa. Terdiri dari beribu-ribu pulau, lautan dan udara yang luas.

Kita dibuat terkagum-kagum dengan sejarah Indonesia yang mampu melawan penjajahan Inggris, Belanda dan Jepang hanya dengan bambu runcing.

Bayangkan ! Kekuatan senjata dan pasukan militer yang kuat bisa kalah hanya dengan kekuatan sebuah bambu yang ujungnya dibuat runcing.

Bagaimana bisa itu terjadi jika tidak ada kekuatan luar biasa yang bisa menggerakkan semua itu ? Jawabannya hanya satu. Persatuan dan kesatuan ! Nilai yang terkandung dari sila ketiga Pancasila.

Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan nilai-nilai luhur warisan para pejuang dan pahlawan bangsa begitu familiar didalam benak kita saat duduk di bangku SD dulu.

Bapak Ibu guru semangat mengajar tentang Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang menjadi indikator naik kelas atau tidaknya kita jika nilainya di bawah enam.

Jiwa patriotisme dan semangat nasionalisme mengakar di kalbu ketika belajar tentang sejarah nasional bangsa kita. Semuanya begitu indah, nyaman dan tenang menjalani kehidupan.

Semua menatap masa depan dengan penuh harapan yang lebih baik, bahkan lebih baik dari masa kecil yang akrab dengan kemakmuran.

Tapi apa yang terjadi ? Ketika masa depan itu sudah menjadi kenyataan, persatuan dan kesatuan yang dulu telah tertanam entah menguap kemana.

Dimana-mana mudah terjadi perpecahan bahkan hanya karena masalah yang sangat sepele. Emosi mudah tersulut oleh provokasi, masalah kecil dibuat besar, bahkan yang seharusnya tidak jadi masalah bisa tercipta masalah.

Ada apa dengan pola pikir bangsa kita sekarang ?
Dimana jiwa nasionalisme yang dulu kita gembor-gemborkan saat ingus masih lekat di hidung kita ?

Mana semangat membela bangsa yang dulu kita koar- koarkan ? Kenapa kita lebih senang mencari aman untuk diri sendiri ?

Kenapa kita lebih mudah menyalahkan orang lain daripada introspeksi diri ?

Kenapa alam Indonesia yang dulu menjadi kebanggaan kita karena hutannya yang lebat, yang mampu menyimpan air tanah untuk mencegah erosi, yang sungainya jernih mengalir, yang gunungnya sejuk, yang lautnya menjadi sumber daya alam melimpah, yang tanahnya subur dan kaya akan bahan tambang, kita biarkan marah dan merana sekarang ?

Kenapa dengan tanpa berdosa kita tebang hutan dan kita jadikan kawasan vila elit ?

Kenapa sungai yang menjadi hunian paling nyaman ikan dan kawan-kawannya menjadi pusat pembuangan sampah dan limbah ?

Dan kita, yang mengaku sebagai pemimpin, kenapa kita lebih senang dilayani daripada melayani, kenapa dengan mudahnya kita gunakan uang rakyat untuk memuaskan nafsu hedonisme duniawi sendiri semata, kenapa tidak kita pikirkan bagaimana nasib rakyat kecil yang telah kita peras uangnya di luar sana ?

Kenapa tidak kita pikirkan bagaimana membuat bangsa ini lebih bermoral daripada pandai berkata-kata saja ?

Kenapa tidak kita benahi sumber daya manusia bangsa kita menjadi manusia yang lebih berbudi ?

Kenapa tidak mulai pikirkan untuk mencegah panasnya bumi yang mulai menua ?

Kenapa tidak kita singsingkan baju dan lengan kita untuk mulai ramah terhadap alam yang telah memberi kita segala yang kita inginkan ?

Kenapa kita tidak takut kepada Tuhan sang pencipta kita ?

Kenapa kita selalu lupa bersyukur akan karunia-Nya ?
Yang tidak pernah meminta bayaran akan udara yang telah kita hirup untuk bernafas, yang tidak pernah menagih atas kesehatan yang telah kita nikmati, yang tidak pernah berusaha mengambil kebahagiaan yang kita rasakan, yang tidak pernah meminta sewa atas panca indra dan tubuh yang kita pergunakan setiap hari ?

Apa balasan kita ?
Menghujatnya atas derita yang kita rasakan karena perbuatan kita sendiri, menganggapnya tidak adil atas bencana yang kita ciptakan sendiri, melupakannya saat setan menjadi kawan atas nikmatnya dunia yang fana. Ah..begitu cepat dosa itu terbuang..
Jadi ingat beberapa peribahasa yang menggambarkan keadaan kita sebagai bangsa Indonesia saat ini :

Kita pandai mencari-cari sehingga “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak” kesalahan orang lain yang kecil tampak jelas di mata kita, tapi kesalahan kita yang paling besar tidak pernah kita sadari

Kita pandai berbicara, tapi tidak bermakna seperti “tong kosong yang berbunyi nyaring

Seringkali omongan kita tidak bermutu seperti “air beriak tanda tak dalam

Kebaikan dibalas dengan kejahatan “air susu dibalas dengan air tuba

Banyak keinginan serba instant, sehingga tidak mengenal “ berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”, tidak mau bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian

Kecenderungan untuk selalu dihormati dimanapun berada, tidak mengenal “ dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung

Banyak keinginan, tapi tidak mau berproses seperti “ sekali merengkuh dayung, dua – tiga pulau terlampaui

Sambil menyelam minum air”, kalau tidak kembung ya kelelep..

Tulisan ini hanya sebagai renungan kita, yang masih mengaku sebagai bangsa Indonesia, yang ingin perbaikan, yang merindukan ketentraman seperti dahulu.

Mari bersama-sama kita benahi, saling mengingatkan untuk kebaikan kita bersama dan tinggalkan keegoisan kita untuk saling menyalahkan..

Friday, March 19, 2010

Musuh Terbesarku Adalah.….


Di dunia ini tidak ada yang menginginkan punya musuh. Penginnya semua yang ada di bumi ini adalah teman, sahabat, saudara yang berbuat baik sama kita. Tapi seringkali, kita tidak bisa menghindari yang namanya konflik dengan orang lain. Jika konflik ini tidak dapat diatasi, maka dengan sendirinya akan tercipta yang namanya ‘musuh’.

Sebenarnya, musuh itu siapa sih ? Kalau menilik dari arti kata yang sudah umum, musuh adalah seseorang yang antipati sama kita karena suatu sebab. Mungkin dia adalah orang yang pernah terluka karena ucapan kita yang kasar, atau karena perbuatan kita yang tidak mengenakkan. Dan seringkali, kita tidak pernah menyadari kalau kita punya musuh secara diam-diam.

Lain halnya, kalau orang yang terluka itu langsung melabrak kita dan tidak terima karena kesalahan yang telah kita perbuat. Dan bila kemudian dia jadi membenci kita, kita jadi tahu dia telah menjadi musuh kita. Pun ketika dia belum bisa menerima ungkapan maaf dari kita. Sempurnalah sudah definisi musuh itu.

Pasti tidak enak sekali jika kita punya satu musuh. Meskipun cuma satu saja jumlahnya, pasti cukup besar pengaruhnya dalam kehidupan kita. Hidup serasa diawasi, tidak tenang, was-was, apalagi jika aksinya ditambah dengan ancaman dan teror.

Duh ! Serasa ada neraka cadangan di dunia ini. Kedamaian dan ketentraman hanya ada dalam angan-angan, daftar cita-cita yang sangat didambakan dan kebahagiaan menjadi fatamorgana belaka. Ini baru satu musuh, kalau banyak ? Tak bisa dibayangkan bagaimana stress-nya.

Terus terang, aku juga punya musuh. Sejauh yang aku tahu, jumlah musuhku ada satu. Hanya satu, tapi bisa membuatku pusing tujuh keliling. Dan aku sangat mengenal baik siapa musuhku itu.

Permusuhan ini berawal dari banyaknya perbedaan pendapat yang menimbulkan banyak perdebatan. Setiap kali aku punya suatu keinginan yang kuanggap baik, seringkali dihalang-halanginya dengan segala argumentasinya yang kadang membuatku bimbang. Seringkali dalam keadaan ini, aku harus memilih, apakah aku tetap dengan pendirianku, atau terbujuk dengan rayuan maut musuhku itu.

Saat aku sedang berniat untuk rajin, tiba-tiba musuhku memberikan alternatif bagaimana kalau aku bersantai-santai dulu menikmati hidup, bersenang-senang menunda waktu hingga pada akhirnya aku tersadar telah membuang waktu dengan sia-sia sehingga aku harus tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaanku dengan hasil yang jauh dari maksimal.

Ah, aku telah tertipu daya. Seringkali aku dirugikan daripada diuntungkan oleh musuhku ini. Seringkali aku harus merasakan akibat dari perbuatanku sendiri yang gampang terpengaruh oleh musuhku .

Ingin sekali rasanya bisa lepas dari belenggu musuhku ini, tapi apa daya, seringkali aku menjadi begitu lemah dihadapannya. Seringkali aku tidak mampu menolak keinginannya yang aku tahu tidak baik untuk dilakukan. Aku begitu rapuh. Aku yang perkasa, yang mampu melawannya seringkali hanya ada dalam lamunanku saja. Kenyataannya, dia tetap mudah menginjak-injak harga diriku.

Pembaca, tahukah Anda siapa musuhku itu ? Mampukah anda untuk dapat menebaknya. Baiklah, kuberitahu saja supaya tidak penasaran.

Musuh terbesarku itu adalah diriku sendiri !

Aku yang kadang tidak mampu membendung keinginan duniawiku, yang kadang mudah terperangkap dari rasa malas, menunda waktu, takut untuk mencoba sesuatu yang baru dan hal-hal lainnya yang kadang membuatku tidak berguna.

Seperti kemarin, aku ingin belajar tentang sesuatu yang kuanggap baru, tiba-tiba rasa takut untuk tidak bisa segera menyerangku. Kutenangkan diriku dengan mengulur waktu yang ada. Kuyakinkan diriku bahwa aku bisa, tapi dalam hatiku ada kata-kata lain yang menggema bahwa aku tidak bisa, aku tidak mampu melakukannya.

Uh, bingung sekali rasanya. Aku harus bagaimana ? Sejenak aku terlibat dalam konflik batin yang cukup seru. Yang pro denganku, senantiasa mendorongku untuk maju, untuk mau berusaha, jangan pernah menyerah, selama ada kesempatan harus berani mencoba, jangan takut ini itu, maju terus, ayo maju terus…tapi tunggu dulu, di sudut lain hatiku ada kata-kata yang berseru :”Ngapain buang-buang waktu, sudah pasti nggak bisa kok ngeyel, daripada nanti kamu rugi uang, waktu dan tenaga tanpa ada hasil, mendingan tidur di rumah, enak, nonton TV, makan, pasti nyaman kan.”

Argh..pusing sekali aku mendengarnya. Ini baru berdebat dengan diriku sendiri, bagaimana kalau dengan orang lain ? Seringkali konflik batin ini hanya tersimpan dalam hati, tapi lama-lama semakin membuat aku limbung dan tidak bisa menampung beban ini terlalu lama.

Pada akhirnya, duuuooooorrrrrr…meledaklah konflik batin ini keluar. Menimpa orang-orang terdekatku, yang tidak tahu permasalahannya, tapi terkena imbas ocehanku yang galak, yang kadang diluar kontrol, menimbulkan kata-kata yang menyakitkan dan membuat luka di hati orang-orang yang aku cintai. Hingga akhirnya timbul musuh betulan bukan hanya diriku sendiri. Ow..dahsyat sekali akibatnya.

Pada akhirnya, aku tidak mendapatkan apa-apa. Keinginan untuk mempelajari hal yang baru tidak jadi kulakukan, karena aku lebih memanjakan rasa malas dan rasa takutku akan perubahan. Musuhku menjadi pemenang dan aku menjadi pecundang.

Aku tidak ingin terus-terusan seperti ini. Karena itu harus ada tindakan nyata dalam diriku. Aku harus bisa memberontak pada musuhku !

Apa itu ? Niat !! Aku harus punya niat dan tekad yang kuat. Yang harus sangat kokoh sehingga tidak mudah ditumbangkan oleh si kontra dalam hatiku tadi. Yang tidak goyah oleh rayuan maut atau ancaman apapun.

Aku harus bekerja sama dengan alam bawah sadarku, bahwa aku punya keinginan, dan membiarkan alam bawah sadarku untuk merekamnya, kemudian memerintahkan otakku untuk mengambil langkah-langkah apa untuk mewujudkan keinginanku itu dan tidak membiarkan si teror batinku menghalangi keinginanku.

Itu harus terjadi ! Dan rencanaku harus berhasil ! Takkan kubiarkan diriku sendiri berhasil menggagalkan niatku ! Aku harus jadi pemenang dan kutinggalkan jiwa pecundangku !

Sehingga pada akhirnya dengan lantang aku bisa berkata : “Bye-bye my enemy !!

Wednesday, March 10, 2010

Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan



Pernah mengalami rasanya cinta ditolak ? Gimana rasanya ? Sakit hati, terpuruk, kecewa, merana, atau biasa-biasa saja ? Setelah itu, apa reaksi yang terjadi ? Apakah jadi uring-uringan, menangis Bombay, marah-marah tidak jelas, dendam, atau malah bertekad untuk terus berusaha membuatnya jatuh cinta kepada kita atau bertekad mencari yang lebih baik lagi ? Pasti macam-macam ya, sebab akibatnya..

Hm..cinta memang misteri. Tak ada kata-kata yang bisa mendefinisikannya dengan jelas. Semua terkuak dari apa yang kita rasa. Indahnya, bahagianya, berdebar-debarnya, groginya, salah tingkahnya, konyolnya, bahkan rasa sakitnya dan nglokro-nya..semuanya ada, tumpah ruah campur baur.

Idealnya, cinta harus berbalas. Tapi seringkali apa yang kita inginkan tidak semua bisa kita dapatkan. Harus ada perjuangan dan ada yang harus dikorbankan. Entah itu dari segi materi, pikiran, tenaga, semuanya tercurah untuk satu tujuan. Cinta.

Betapa magisnya kekuatan cinta sehingga bisa menggerakkan alam bawah sadar kita untuk bisa meraihnya. Bisa membahagiakan dan bisa membuat kita terluka. Kita bisa dibuat pusing tujuh keliling karena memikirkannya. Selalu terbayang-bayang wajah si pujaan hati, senantiasa memikirkannya hingga kadang lupa makan dan susah tidur. Inginnya selalu bertemu dan ketemu dengan si dia. Walaupun setelah bertemu cuma bisa senyum malu-malu, curi-curi pandang dan tak tahu harus bertingkah bagaimana. Selalu salah dan serba salah. Inginnya terlihat sempurna di matanya, tapi yang terjadi malah konyolnya..aduh, malunya..!

Namun apa jadinya, ketika rasa telah terungkap, dan ternyata si dia tidak memiliki rasa yang sama dengan yang kita punya ? Astaga..! Tidak mungkin, impossible, omong kosong, mimpi. Ini hanya mimpi. Itu kata-kata yang terlontar untuk menghibur diri. Sejenak berbelok dari kenyataan yang ada. Sedikit berkamuflase.

Penyangkalan dari kenyataan pahit. Benarkah, pahit ? Sepahit apapun itu, jangan langsung kalap dan buta hati. Tenangkan pikiran, ambil nafas dalam-dalam, minum air putih dan coba berpikir secara jernih dan dewasa. Jangan coba untuk menyakiti diri dan berpikir untuk mengakhiri hidup dengan sia-sia : minum racun serangga, gantung diri atau nglalu di rel kereta api. Aduh !!! Jangan sampai pikiran sempit seperti itu meracuni.

Seringkali, pelangi muncul setelah badai datang. Itu artinya, sebesar apapun dan sepahit apapun cobaan yang ada akan ada hikmah yang datang. Indah, kerapkali datangnya belakangan. Tergantung kita, apakah tahan proses untuk bisa melihat pelangi. Kalau kita sudah menyerah dan memilih musnah bersama badai, pelangi itu tidak akan pernah kita lihat.

Jadi, inilah pentingnya berpikiran positif. Kita tidak akan mudah menyerah dan lelah dengan keadaan kita. Akan selalu ada harapan yang lebih baik. Kalau ditolak cinta, itu biasa. Anggap saja penolakan ini terjadi supaya kita bisa mendapatkan yang lebih baik, karena si dia belum tentu cocok dengan kita.

Atau kalau kita keukeuh untuk tetap bisa memilikinya, kita anggap saja bahwa penolakan ini adalah penerimaan yang tertunda. Sekarang menolak, siapa tahu suatu hari nanti cinta kita diterima kalau kita terus memperjuangkannya dan mencari cara smart yang lain untuk bisa meraih hatinya. Yang penting kita harus tahan berproses.

Atau, bisa juga kita ambil manfaat dari ungkapan penolakannya :

Jika si dia menanggapi ungkapan cinta kita dengan kata-kata,” Lebih baik kita berteman saja”

Ini artinya kita memang cocok menjadi temannya. Ambil peluang ini dengan menjadi teman terbaiknya. Memang tidak mudah berbesar hati dengan menurunkan cita-cita dari ingin menjadi kekasih, menjadi hanya teman saja. Bukankah awalnya kita juga berteman dengan si dia ? Jadi nggak ada salahnya kan kalau tetap menjadi teman. Lain halnya kalau kita memilih untuk menjadi musuhnya yang penuh dendam atau malah seolah-olah tidak mengenalnya lagi. Rugi, bo..kita kehilangan teman ditambah kita tidak bisa berdamai dengan hati nurani kita sendiri. Pasti jauh dari rasa bahagia dan tersiksa rasanya.

Jika si dia mengatakan, “Kamu bukan tipe saya”

What ? Wajah diatas rata-rata, body oke begini masih dibilang bukan tipenya ? Nggak salah ? Belagu amat sih ? Sabar, setiap orang kan punya selera masing-masing. Mungkin wajah dan body kita oke, tapi sifat kita ? Mungkin ada hal yang membuatnya tidak sreg dengan kita. Jadi, jangan memaksakan kehendak. Terima saja. Kita sendiri juga punya selera masing-masing kan ? Sama, dong..Anggap saja ungkapan ini sebagai sarana untuk meningkatkan SDM kita menjadi lebih baik lagi, sehingga suatu saat nanti, kita bisa menjadi tipe idaman setiap insan yang kita incar. Cieee...

Jika si dia menggantung status kita, tidak bilang ‘ya’ atau ’ tidak’

Bisa jadi dia lagi bingung mau bilang apa. Ada 3 kemungkinan : yang pertama, dia masih ragu dan belum yakin dengan ungkapan cinta kita. Dia perlu waktu untuk meyakinkan hatinya sampai mantap. Yang kedua, mungkin ada saingan yang ingin menjadi kekasih hatinya juga, dan si dia sedang membanding-bandingkan siapa yang pantas menjadi pelabuhan hatinya. Yang ketiga, mungkin dia sudah punya kekasih tapi jauh di seberang lautan, dan sedang berpikir apakah kita cocok dijadikan selingkuhan saat si dia kesepian jauh dari sang kekasih. Jadi kita dianggap sebagai obyek hubungan tanpa status. Mau ? Terserah Anda, deh..

Jika si dia bilang,” Masih ingin sendiri”

Mungkin si dia memang lagi ingin sendiri. Bisa jadi masih trauma dengan hubungan cintanya yang terdahulu. Sehingga kesannya sekarang lebih selektif dalam memilih pasangan. Menghadapi situasi seperti ini kita mesti cooling down. Ikuti kemauannya. Pura-pura menghilang dari hadapannya kira-kira sebulan deh. Kalau si dia memang ada rasa, pasti akan ada rasa kehilangan dan mulai klepek-klepek mencari kita. Cihuy...

Jika si dia mengatakan,” Orangtuaku tidak suka sama kamu”

Alamak...!! Calon mertua menolak mentah-mentah ? Coba cari tahu apa yang membuat ortunya antipati dengan kita. Apakah gaya dandanan kita ? Kelakuan kita yang dianggap kurang sopan ? Atau apa saja yang bisa dijadikan alasan. Coba benahi kalau kita memang serius dengan si dia. Ambil hati calon mertua dengan lebih baik, beri perhatian yang tulus dan cari tahu apa yang menjadi kesenangannya. Ingat pepatah “batu karang bisa hancur karena setetes air selama bertahun-tahun”. So, sekeras apapun hati calon mertua, pasti luluh juga kalau kita memberikan perhatian yang lebih secara terus menerus. Tapi ingat, jangan lebay, ya..yang wajar-wajar saja deh..

Jika si dia mengatakan to the point, “Aku tidak cinta sama kamu”

Wow..mau bilang apalagi ? Rasa tidak bisa dipaksakan. Justu kita harus salut dengan sikapnya yang sangat terbuka dan kejujurannya yang menyakitkan. Setidaknya itu lebih baik kan, daripada berpura-pura mencintai kita hanya karena mengincar harta kita ? Lebih menyakitkan.

Uraian diatas hanya sebagian contoh sederhana yang bisa kita petik hasilnya jika kita berpikiran terbuka dan positif dalam menghadapi berbagai cobaan. Cinta bertepuk sebelah tangan bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak tangan-tangan lain yang mau menyambut cinta kita sehingga pada akhirnya akan menjadi “Cintaku bertepuk tangan”. Plok..plok..plok...horrreeeee......

Tuesday, March 02, 2010

Tidak Semua Pria, Laki-laki..


Siapa ingat lagu dangdut yang dilantunkan almarhum Meggi Z yang begini, nih : tidak semua, laki-lakiiiii…bersalah di depanmuuuu…contohnya akuuuuu…mau mencintaimuuu…tapi mengapaaaa..engkau masih raguu….dst…sampai reffrain.

Ayo, yang ngaku dangduter, langsung tarik mang..kita joged sama-sama, yiiihhhaaaa….yang sebelah sana, yah..kok malu-malu sih, cuma jempolnya doang yang goyang..tapi tunggu, weitz…yang di ujung ada yang heboh banget, pake goyang ngebornya Inul segala hihihi..seeerrrr..seeerrr…sampai pagiiiii….

Stop !!!! Nah..cukup dulu intermezzo-nya, lumayan keringatan buat olahraga dikit-dikit. Hff..ngomong-ngomong lagu dangdut diatas emang dahsyat, sampai mantan Gubernur DKI Bapak Basofi pernah menyanyikannya. Terlepas dari suka atau nggak sama lagu dangdut, tulisan saya kali ini cuma mau membahas tentang judulnya saja yang saya plesetkan…

Hm..ada apa ya dengan laki-laki dan pria ? Emang apa bedanya ? O,ya..tulisan ini terinspirasi saat saya ngumpul-ngumpul sama teman-teman jaman SMA dulu dan lahirlah kata-kata ini dari mulut teman laki-laki saya : tidak semua pria, laki-laki..( sambil nyanyi lagu di atas plus joget pula..)

Kalau dilihat dari maknanya, sebenarnya laki-laki dan pria itu sama. Nggak beda jauh..kumisnya, sama..gantengnya, sama…suka perempuan, pastinya dong sama kalau normal. Trus apa bedanya ? Sampai dibahas pula, emang penting ya ? Penting nggak penting, bersiaplah kaum Adam, karena jadi topik bahasan kali ini. Tapi ini cuma guyonan saja lho, jangan dianggap serius..iseng-iseng berhadiah..daripada stress mikirin negara yang makin kacau..hehe..

Laki-laki berdasarkan pengamatan saya adalah pria yang belum dewasa. Maksudnya ? ups..jangan protes dulu dong, saya kan belum selesai neranginnya.

Begini maksudnya, yang masuk kategori laki-laki adalah pria dari bayi sampai sekitar umur 25 tahun. Kok bisa ? Apa dasarnya ? Contohnya begini, setiap ada bayi yang baru lahir, pasti ibunya ditanya, “ Bayinya laki-laki atau perempuan, Bu ?,” nggak ada kan pertanyaan,”Bayinya pria atau wanita ?,” kesannya kok dewasa banget.

Trus kalau ada anak sekolah pasti sebutannya anak laki-laki bukan anak pria. Contoh kalimatnya begini : anak laki-laki yang berseragam SD itu, bukan anak pria yang berseragam SD itu..(maknanya bisa beda : dikira yang berseragam SD bapaknya ) hahaha...

Sampai disini, ada yang belum mudeng ( = ngerti), maksudnya ? Boleh tanya deh, tapi tunjuk jari ya..hmm..nggak ada yang tanya, saya anggap ngerti semua ya, lanjuuuttt…

Laki-laki, biasanya masih susah menata emosi, masih gampang terprovokasi, penginnya berantem aja, kalau perlu ikut tawuran sekalian. Masih gampang terpengaruh dan mudah masuk ke pergaulan yang nggak jelas, misalnya ikut geng motor yang kebut-kebutan di jalan. Buat apa sih ? Buat nunjukkin jati dirinya yang masih dicari : ini, lho..gue..hebat kan berani ngebut di jalan ? Kira-kira begitu, deh..ya, nggak ?

Sedangkan pria menurut versi saya adalah laki-laki yang sudah dewasa. Artinya, laki-laki yang boleh menyandang sebutan pria adalah yang berumur sekitar 25 tahun ke atas. Biasanya di umur segini, pria sudah mulai bisa menata hidupnya, punya pekerjaan dan mulai memikirkan calon pendampingnya alias sudah berpikiran untuk masa depannya mau beristri berapa..eh..siapa, maksudnya.

Sudah mulai mapan, sumeleh dan pantas disebut pria. Sudah mulai menemukan jati dirinya. Sudah merasa nggak jamannya kebut-kebutan, berantem, atau melakukan hal-hal yang nggak perlu. Mestinya kan begitu, tapi kok..di TV banyak tuh pejabat yang hobbynya berantem bahkan tak segan main keroyok, itu pria bukan, ya ? Entahlah..saya nggak bisa jawab, biar mereka sendiri yang jawab mau disebut apa. Itu di luar konteks pokok bahasan saya..hehe..cari amannya aja..takut salah ngomong..

Trus, yang namanya pria biasanya golongan intelektual yang berpikiran modern, positif dan punya visi dan misi yang jelas untuk hidupnya dan orang-orang di sekitarnya. Wuih..apalagi, tuh ? Ini gambaran idealnya, pada kenyataannya kan tidak sesempurna itu. Banyak pria yang sifatnya seperti anak laki-laki, kebalikannya banyak juga laki-laki yang pembawaannya seperti seorang pria. Bingung, nggak sih ? Mudah-mudahan enggak, ya..

Ini yang namanya dinamika hidup. Selalu ada pengecualian.meskipun sudah ada aturan begini-begini, begitu-begitu, tetap saja banyak yang melanggar. Selalu banyak cara untuk menunjukkan ketidaksetujuan pada suatu aturan. Kembali ke pribadi masing-masing, tujuan hidup kita untuk apa ? Mau biasa-biasa aja atau yang luar biasa dan mati masuk surga ? Hanya kita yang berhak untuk memilih. Hidup itu gampang kok, jangan dibuat susah sendiri. Weh..kok jadi ngelantur.

Kembali ke para laki-laki dan pria. Kalau ada yang tanya : “Wahai, laki-laki..maukah engkau menjadi pria ? Dan wahai pria..maukah engkau menjadi pria sejati ?”

Kira-kira sudah tahu kan, jawabannya apa ?

Friday, February 26, 2010

Ketika Pernikahan hanya sekedar “Legalisasi Prostitusi”


Istilah “Legalisasi Prostitusi” ini saya adopsi dari celetukan kakak saya yang berprofesi sebagai seniman saat berbincang-bincang ringan dengan teman-temannya. Lama kata-kata ini mengendap di alam bawah sadar saya, sehingga menggelitik saya untuk mencoba mencerna maknanya. Apa iya, waktu itu saya hanya menganggap angin lalu dan ucapan gila semata. Tapi kemudian saya berpikir, mungkin inikah jawaban akan maraknya nikah siri, kawin kontrak dan poligami ? Entahlah..

Ketika suatu pernikahan terjadi untuk suatu tujuan tertentu tanpa dilandasi rasa cinta, ini menjadi tanda tanya besar. Fenomena apa yang sedang terjadi ? Apakah hanya sekedar tameng untuk menghindari cemoohan masyarakat karena tingkatannya sedikit lebih terhormat dari sekedar ‘kumpul kebo’ saja ? Atau hanya sekedar penyaluran nafsu syahwat untuk jangka waktu tertentu, tanpa ada keinginan untuk memperpanjangnya hingga akhir hayat ?

Waktu saya tinggal di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, saya sering mendengar ada kawin kontrak yang terjadi antara gadis desa dengan orang Barat / luar negeri yang sedang bekerja di Indonesia. Mereka menetapkan jangka waktu pernikahan itu dan ada semacam perjanjian jika suatu saat suami telah habis kontrak masa kerjanya di Indonesia dan harus kembali ke negara asalnya, maka otomatis status pernikahan mereka pun berakhir.

Keuntungan bagi si istri yang orang lokal adalah tercukupinya kebutuhan materi selama kawin kontrak, bahkan tak jarang dari mereka yang menjadi kaya mendadak. Sedangkan bagi suami orang luar, mereka tidak perlu ‘jajan’ untuk memenuhi hasrat seksualnya karena sudah ada istri sementara yang melayani. Tak jarang, mereka sudah punya istri di negara asalnya. Dan ini terjadi hampir di kota-kota kawasan industri, di kebanyakan kota besar. Hm...apa mau dikata kalau sudah begini. Yang bersangkutan tidak menjadikan ini sebagai beban kok.

Tapi, sebagai manusia tentunya menyadari banyaknya pemikiran yang beragam. Setiap tindakan yang kita lakukan, baik ataupun buruk, semuanya mengandung resiko atau hukum sebab-akibat. Jangan heran jika kemudian muncul banyak pendapat pro dan kontra. Itu wajar saja. Namanya hidup sebagai makhluk sosial, tentunya banyak visi dan misi. Dan tidak mungkin jika kita menyatukan semua pendapat yang berbeda-beda menjadi satu pendapat yang sama. Betul, tidak ?

Contohnya saja saat kita rapat untuk membahas suatu permasalahan, pasti akan banyak muncul ide-ide dan pendapat yang berbeda-beda. Sebagai pemimpin rapat, sudah sewajibnya mencoba mengambil jalan tengah untuk mencapai kesepakatan bersama atau yang disebut kata mufakat. Tentunya dibutuhkan hati yang besar untuk bisa menerima pendapat orang lain. Banyak lho, di depan forum kelihatannya mengangguk-angguk setuju terhadap hasil yang dicapai, di luaran bicara yang macam-macam. Sampai memprovokasi untuk memboikot segala. Waduh..

Sebenarnya pernikahan itu apa sih ? Tentunya kita mempunyai pendapat sendiri berdasarkan keyakinan dan agama yang kita anut masing-masing. Yang pasti, tujuan pernikahan itu baik, untuk menyatukan dua pribadi yang berbeda, meneruskan keturunan, menjadikan teladan dan pastinya saling mendukung untuk hal yang baik-baik. Istri harus tunduk kepada suami, dan suami harus menghargai istri. Masing-masing mempunyai peran yang sama pentingnya. Dan harusnya setiap suami istri harus mengingat dan menjalankan janji apa yang telah diucapkan didepan pemimpin agama dan saksi dahulu.

Menurut saya, pernikahan itu sakral dan agung, jelas bukan untuk main-main karena sudah berani bersumpah atas nama Tuhan. Harus memikul tanggung jawab, apalagi jika sudah mempunyai anak. Sebagai orang tua, sudah sewajarnya bertanggung jawab untuk masa depan anaknya. Itu konsekuensi yang dipilih.

Karena itu, sebelum menikah hendaknya benar-benar dipikirkan bagaimana calon pendamping yang terbaik bagi kita. Tidak ada manusia yang sempurna, tapi bagaimana kita bisa berpikir untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Dan yang paling penting, kita harus bisa menyamakan visi dan misi dengan pasangan dalam membangun rumah tangga. Memang tidak gampang pada prakteknya, tapi kita harus membangun pondasi yang kokoh jika tidak ingin hubungan yang kita bina ambruk di kemudian hari.

Jadi, hendaknya pernikahan jangan hanya sekedar ‘legalisasi prostitusi’ saja..karena pernikahan tidak melulu untuk urusan seks saja. Banyak hal yang tak kalah penting yaitu tentang bagaimana kita belajar membangun relationship dengan pasangan, bagaimana menata emosi, bagaimana menyikapi keterkejutan akan perubahan karakter pasangan setelah menikah, bagaimana menjalin relasi yang baik dengan keluarga besar pasangan, bagaimana dan bagaimana yang lainnya yang tidak akan habis untuk dibahas.
Menikah itu jangkauannya luas. Kita tidak hanya menikah dengan pasangan saja, tapi juga dengan keluarga besarnya. Itu yang perlu kita renungkan. Kalau kita merasa yang paling benar, dan semua orang merasa paling benar, tentunya tidak akan ada titik temu. Jadi biarkan pikiran kita terbuka dan biarkan memilah mana yang baik dan yang buruk. Satu hal yang penting, biasakan untuk berpikiran positif seburuk apapun keadaannya ( walah, sok jadi Mario Teguh nih..hehe..)

Wednesday, February 24, 2010

Duka Lara Wanita Yang Diperkosa..



Matanya menatapku kosong, tidak lagi berbinar seperti dulu. Keadaannya cukup memprihatinkan dengan wajah dan tubuh yang tidak terawat. Ya, Tuhan..inikah Asih yang kukenal dulu ? Hampir tak kukenali lagi sosoknya. Bicaranya sudah tidak beraturan lagi, sebentar menangis, sebentar tertawa dan sebentar kemudian melamun dan bersikap seperti ketakutan melihat laki-laki.

“Asih..Asih..,” berkali-kali aku memanggilnya. Dia sudah tidak mengenaliku lagi. Sebagian memorinya tentangku menghilang. Aku tergugu menangis pilu. Betapa malangnya nasibmu, Sih..Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi ?

Asih adalah sahabat masa kecilku. Kami selalu belajar bersama, duduk sebangku di sekolah dan teman bermain bersama. Kala itu kami bersaing secara sehat di sekolah. Peringkat tiga besar di kelas selalu kami raih bersama. Kadang aku yang ranking satu, Asih menduduki ranking dua. Atau sebaliknya, kadang Asih yang ranking satu, aku yang ranking dua. Selalu begitu. Kami saling melengkapi. Tak ada persaingan diantara kami.

Kami saling membantu dan saling memberi kado dengan harga yang telah ditetapkan pada saat aku atau Asih yang berulang tahun. Aku ingat, harga yang ditetapkan untuk kado kami saat itu adalah seharga seribu lima ratus rupiah yang sebanding dengan sepuluh ribu rupiah di saat sekarang. Aku memberinya boneka kecil seharga itu pada saat Asih berulang tahun ke-12. Dia sangat bahagia menerimanya. Dan saat aku berulang tahun, dia memberiku pita rambut dengan harga yang sama aku berikan padanya. Betapa bahagianya aku saat itu.

Aku mengenal baik keluarga Asih, demikian juga Asih mengenal baik keluargaku. Secara bergantian aku atau Asih bermain ke rumah kami masing-masing. Asih anak pertama dan mempunyai 3 orang adik, dua perempuan dan satu laki-laki. Ayahnya seorang guru dan ibunya seorang penjahit. Kehidupannya sederhana di sebuah desa yang tidak jauh dari tempat tinggalku.

Kami berpisah sekolah ke jenjang berikutnya. Asih melanjutkan ke sekolah yang tergolong favorit di kota, sedangkan aku tetap melanjutkan ke sekolah yang tidak jauh dari rumahku. Kami tetap berkomunikasi melalui surat berperangko. Rajin sekali Asih berkirim surat dan aku pun rajin membalasnya. Dalam satu suratnya, Asih pernah bercerita kalau dia menyukai kakak kelasnya. Dan gayung bersambut, ternyata sang kakak kelas yang bernama Anto juga menyukai Asih. Akhirnya mereka merajut kasih sepasang remaja. Aku pernah dikenalkan dengan laki-laki pujaannya itu. Cukup tampan dan berpostur tinggi tegap. Pria idaman wanita. Mereka terlihat sangat bahagia dan aku cukup iri melihat kemesraan mereka. Kapan aku bisa seperti mereka ya ? Maklum, waktu itu aku belum punya tambatan hati.

Aku cukup terkejut, saat membaca surat Asih berikutnya. Dia berkeluh kesah tentang orang tuanya yang tidak setuju dengan kehadiran Anto. Anto dianggap tidak cukup layak mendampingi Asih yang cantik dan hatinya lembut itu. Aku sendiri tidak tahu pasti apa alasan sebenarnya, karena aku melihat Anto bukanlah tipe laki-laki berangasan. Dia cukup baik. Mungkin ayah atau ibu Asih punya pendapat sendiri yang tak terbantahkan. Masalah bibit, bobot, bebet yang dijunjung tinggi masyarakat Jawa barangkali. Aku tidak tahu dan tidak berhak untuk turut campur terlalu jauh.

Yang pasti, Asih cukup terpukul akan kenyataan itu. Asih dan Anto sempat menjalani backstreet, tapi pada akhirnya Anto menyerah dan lebih memilih meninggalkan Asih. Anto tidak cukup tahan akan penolakan keluarga Asih dan tidak berniat untuk memperjuangkan kekuatan cinta mereka. Asih semakin limbung, tidak menyangka cinta pertamanya kandas di tengah jalan. Asih yang lugu, yang sangat mengagungkan cinta harus menguatkan dirinya menghadapi kenyataan pahit ini.

Masih terekam jelas dalam ingatanku bagaimana berbinarnya Asih saat bercerita Anto telah mencium dan memeluknya. Begitu polosnya Asih bercerita tentang pengalaman pertamanya itu. Saat itu aku hanya mengingatkan untuk berhati-hati supaya tidak terlena dalam hubungan yang terlalu jauh.

Tak lama berselang, Asih menangis tersedu-sedu menyadari kenyataan Anto telah menemukan wanita lain sebagai pengganti dirinya. Sebagian dirinya belum rela jika Anto tega melakukan hal itu. Aku hanya bisa menghibur untuk tidak terlalu memikirkannya. Masih banyak laki-laki lain dan tidak dipungkiri Asih cukup banyak disukai laki-laki. Tapi hati Asih masih tertambat pada Anto cinta pertamanya. Yah..mungkin waktu mampu membantu Asih untuk sedikit demi sedikit melupakan Anto dan menggantinya dengan sosok lain yang lebih baik. Itu harapanku.

Setelah kejadian itu, frekuensi hubunganku dengan Asih mulai merenggang karena kesibukan kami masing-masing. Kami kembali bertemu saat sama-sama diterima di PTN kota Gudeg tercinta. Kami beda fakultas. Senang sekali kami bisa mewujudkan impian kuliah di kampus rakyat itu. Aku melihat Asih kembali menemukan keceriaannya. Bahkan aku iri dengan prestasi Asih yang mempunyai IPK hampir 4 ! Ck..ck..ck..aku mengaguminya. Asih memang pintar. IPK ku sendiri sedang-sedang sajalah..yang penting bisa buat cari beasiswa.

Aku berpikir, Asih sudah bisa melupakan Anto. Tapi ternyata aku salah, Asih masih berusaha untuk menghubungi Anto. Asih masih terobsesi untuk memiliki Anto, bahkan tidak peduli sekalipun Anto telah memiliki gadis lain. Apa yang terjadi denganmu, Sih ? Kabar terakhir yang kudengar, Asih bertengkar hebat dengan Anto yang tidak menginginkan Asih kembali menjadi bagian hidupnya. Dan yang lebih mengagetkan lagi, Asih depresi berat sampai harus minum obat penenang. Orang tuanya sangat khawatir dan tidak memperbolehkan aku menemui Asih dengan alasan Asih sedang tidur dan perlu beristirahat. Aku cukup kecewa, sebegitu parahkah, sampai aku sahabatnya tidak boleh menemuinya ?

Beberapa bulan kemudian, aku mendapatkan undangan pernikahan Asih dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Ada apa lagi ini ? Asih belum selesai kuliah, kenapa cepat-cepat dinikahkan ? Bahkan dengan pria yang tidak dicintainya ? Kepalaku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tapi tidak berhasil menemukan jawaban karena tiba-tiba orang tua Asih menjadi bersikap tertutup denganku. Beda sekali dengan sikapnya yang dulu.

Aku menghadiri pernikahan Asih, dan aku sangat terkejut melihat Asih yang sangat pucat dan tatapan matanya kosong. Tampak sekali dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Tapi kenapa harus dipaksakan ? Beberapa menit sebelum akad nikahnya, Asih masih sempat menyadari kehadiranku dan membalas senyumanku dengan begitu hambar. Tersirat ada duka yang dipendamnya. Dan pernikahan itu terjadilah, walaupun menyimpan misteri buatku.

Saat aku telah bekerja di luar kota, aku terkejut ketika ibuku menelepon dari rumah menceritakan bahwa ada Asih ke rumahku tanpa memakai alas kaki. Asih berjalan kaki cukup jauh dari rumahnya menuju rumahku. Kata ibuku, Asih tampak sangat lelah dan berusaha kabur dari rumah dan suaminya. Seharian Asih tidur di masjid sebelum ke rumahku, tanpa membawa bekal dan alas kaki. Dia membawa uang dua ratus ribu rupiah.

Kepada ibuku, Asih bercerita bahwa beban hidupnya sangat berat. Singkat cerita, saat Asih depresi dulu dan harus minum obat penenang, orang tuanya tidak sanggup lagi membayar dokter jiwa. Kemudian orang tuanya berinisiatif melalui pengobatan alternatif dengan harapan Asih bisa sembuh sepenuhnya dan bisa melanjutkan kembali kuliahnya yang terbengkalai.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Asih malah diperkosa oleh orang yang dipercaya bisa menyembuhkannya. Ya, Tuhan…aku sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang menyalahgunakan kepercayaan dengan memanfaatkan keadaan sehingga tega merenggut kehormatan gadis lemah tak berdaya dengan paksa hanya untuk memenuhi nafsu binatangnya ?

Aku mencoba merangkai peristiwa demi peristiwa yang menimpa Asih. Mungkinkah pernikahan yang terjadi antara Asih dengan laki-laki pilihan orang tuanya hanya kamuflase belaka untuk menutupi aib bahwa keperawanan Asih telah direnggut paksa oleh orang yang bejad moralnya ? Dan orang tua Asih memanfaatkan rasa suka Ais, laki-laki tetangga yang diam-diam memendam cinta kepada Asih dari sejak kecil hingga menawarkan Asih untuk dinikahi? Entahlah..

Yang pasti sejak dari hari pertama pernikahannya, Asih tidak pernah mau digauli oleh laki-laki yang telah resmi menikahinya. Jika malam menjelang, Asih berlari menuju kamar orang tuanya dan tidak mau tidur dengan suaminya. Asih tidak menyadari sepenuhnya apa arti pernikahannya. Mungkin harapan orang tuanya, Asih bisa sembuh secara perlahan dengan belajar mencintai laki-laki lain. Tapi yang terjadi Asih malah trauma dengan pemerkosaan yang pernah menimpanya dan mengangggap semua laki-laki sama bejadnya tak terkecuali Ais, suaminya.

Laki-laki mana yang betah diperlakukan seperti itu. Kabar terakhir yang kudengar, Ais menggugat cerai Asih dan resmilah Asih menjadi janda tanpa seorang anak. Dan yang lebih membuatku miris, Asih yang kutemui terakhir kali bukanlah Asih yang selama ini kukenal. Dia tidak lagi mengenalku dan dia terlalu sibuk meratapi kehidupannya yang sangat berat. Asih..apa yang bisa aku perbuat untuk membuatmu seperti dulu lagi ?

Friday, February 19, 2010

TIPS SUPAYA TIDAK DICULIK VIA FACEBOOK


Keberadaan facebook akhir-akhir ini memang sangat fenomenal. Kita terasa dimudahkan untuk menjalin kembali pertemanan dengan teman lama kita dari masa lalu dan menjalin pertemanan baru dengan orang yang baru dikenal via facebook. Tentunya rasa terima kasih kita ucapkan kepada Mark Zuckerberg selaku admin plus pencipta situs facebook.

Bagi sebagian orang, keberadaan facebook sangat menguntungkan karena bisa menemukan kembali jalinan silaturahmi dengan orang-orang yang pernah dekat beberapa tahun silam. Bernostalgia, reuni, bahkan membangkitkan kembali cinta lama yang telah berlalu menjadi kegiatan yang dijalani dengan adanya facebook. Mau disemikan lagi, silakan..atau dijadikan kenangan saja juga monggo. Asal perlu diingat, bagi yang sudah punya pasangan saat ini sebaiknya jangan terlibat dalam skandal cinta masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu, cukup dikenang saja, apalagi kalau sekarang kita sudah punya pasangan dan anak. Bahaya !!!

Fungsi lainnya dari facebook adalah sebagai media promosi gratis usaha / bisnis kita. Lumayan to, dapat pelanggan dari teman sendiri. Sama-sama sudah tahu karakter masing-masing dan bisa saling menguntungkan dengan harga saudara misalnya. Kemungkinan terjadi penipuan relatif lebih kecil, walaupun ada juga teman yang tega menipu teman. Tapi mudah-mudahan jangan, ya !

Memang, menjalin pertemanan di internet itu gampang-gampang susah. Kadang kita berpikir positif, malah dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Seolah memanfaatkan kebaikan kita. Jadi, paling tidak kita harus pandai memilah-milah sendiri mana yang kira-kira baik dan bisa diajak berteman. Kita harus bisa membentengi diri dan waspada setiap saat dari bahaya yang mengancam (wuih..kayaknya serem ya..?)

Beberapa tips dibawah ini ( yang saya rangkum dari berbagai sumber ) mungkin cukup berguna supaya kita atau anak-anak kita tidak menjadi korban penculikan yang akhir-akhir ini marak terjadi :
  • Jangan mencantumkan alamat lengkap dan nomor telepon di info profil

  • Jangan meng-upload foto yang “mengundang” (sensual)

  • Jangan meng-confirm permintaan teman yang kira-kira mencurigakan, kita lihat apakah ada mutual friend atau tidak

  • Akan lebih aman jika kita setting foto-foto dan info tentang kita hanya bisa dilihat oleh teman-teman yang kita kenal saja

  • Jangan update status yang bisa menyinggung perasaan orang lain, misalnya marah-marah kepada seseorang, menyindir, menghina dan hal-hal lain yang menimbulkan perselisihan (hendaknya kesalahpahaman diselesaikan oleh kedua belah pihak yang bersangkutan, tidak perlu diekspose ke publik)

  • Jangan mudah percaya dengan ajakan yang aneh-aneh (diajak ketemu padahal kita belum mengenalnya secara jauh)

  • Jangan pamer harta / kekayaan karena bisa mengundang tamu tak diundang
Mungkin ini sebagian tips yang bisa mengurangi resiko dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Mestinya facebook menjadi sarana untuk mempermudah social networking kita tapi jangan sampai terganggu oleh hal-hal di luar dugaan kita. Kalau kita siap menggunakan facebook, mestinya kita juga siap dengan segala resikonya. Tidak ada yang salah dengan facebook, dan facebook bukan kambing hitam dari segala penyalahgunaan yang ada. Dari pihak kita sebagai pengguna yang mestinya berhati-hati sendiri. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di luar sana.

Satu hal yang pasti, jangan pernah terlena dengan dunia maya. Namanya saja maya yang artinya semu, banyak hal yang indah-indah diumbar disini. Jangan heran jika pada kenyataannya, dunia maya tak seindah dunia nyata.

Tuesday, February 16, 2010

Wuih..Lezatnya Kacang Mbak Ikem


Pertama melihat bentuknya, aku tidak tertarik. Kotor sekali penuh dengan tanah dan bentuk kacangnya beda dari biasanya. Hitam dan kotor. Kacang tanah ini dibawa oleh Mbak Ikem hasil panen dari ladangnya.

“Belum sempat dicuci, Bu..,cuma sedikit..” kata Mbak Ikem malu-malu.
“Nggak papa, Mbak..makasih ya..,” kataku tanpa malu-malu. Hehe..

Mbak Ikem itu mbak yang mengasuh anakku Andro yang berumur 2 tahun 4 bulan, kalau aku lagi kerja. Belum lama mengasuh Andro, baru 2 bulan ini. Mbak Ikem penduduk desa tetangga dari desa tempatku tinggal di daerah Wonosari Yogyakarta.

Mbak Ikem datang menggantikan Mbak Inu, mbak yang duluan mengasuh Andro tapi terpaksa harus keluar karena dilarang suaminya bekerja. Padahal suami Mbak Inu sendiri pekerjaannya tidak tetap. Tapi tetap memaksa Mbak Inu untuk keluar dengan alasan harus menerima pendapatan suami yang apa adanya dan tinggal di rumah beres-beres. Ya sudah, aku tidak bisa memaksa. Padahal Andro sudah cukup lengket dengan Mbak Inu yang rajin bekerja dan cekatan mengasuh Andro.

Melihat Mbak Ikem, Andro tidak langsung lengket seperti kepada Mbak Inu. Mungkin karena belum kenal, pikirku. Tapi semakin hari kok Andro semakin tidak mau ditinggal malah semakin tergantung kepadaku. Ada apa ? Memang kuakui, Mbak Ikem ini jauh sekali dengan Mbak Inu yang cekatan dan trampil mengambil hati Andro yang langsung lengket begitu ketemu. Mungkin auranya mbak Ikem belum cocok sama Andro. Mbak Ikem terkesan kurang lincah dalam mengasuh Andro yang sangat aktif. Inisiatifnya juga kurang. Aku maklum karena pengetahuan orang berbeda-beda, asal diajari nanti lama-lama juga bisa pikirku.

Lama-lama Andro mulai terbiasa dan mulai akrab dengan Mbak Ikem. Waktu itu aku memberi deadline kalau sebulan Andro masih rewel diasuh Mbak Ikem, ya sudah..ganti orang saja. Ternyata tidak sampai satu bulan Mbak Ikem mulai bisa mengasuh Andro sehingga aku dan suami cukup lega.

Mbak Ikem bekerja di rumahku dari pagi hingga sore. Hari minggu libur. Maklum, mbak Ikem kan juga punya anak dan suami. Pastinya capek kalau bekerja setiap hari.

Kembali ke kacang, langsung kucuci kacang-kacang itu berkali-kali sampai tanah yang menempel hilang. Lumayan dapat kacang gratisan. Kurebus kacangnya, kubuka pelan-pelan..wah ternyata enak juga. Meskipun bentuknya tadi sangat tidak menarik, setelah dibersihkan dan direbus jadi makanan yang lezat sambil minum teh. Sepulang kerja suamiku tanya ada kacang darimana.

“Kacangnya Mbak Ikem..,” jawabku.

Suamiku ikut mencicipi dan nyeletuk,”Hm.. enak juga ya kacangnya Mbak Ikem..,” sambil melirikku. Kami tertawa.

Monday, February 15, 2010

EMPAT LAKI-LAKI DAN SATU PEREMPUAN


Laki-laki pertama berperawakan kekar, berkulit hitam dan berwajah ‘sangar’ kalau orang Jawa bilang. Gaya bicaranya keras dan pandai berbicara. Punya keahlian mengumpulkan massa, banyak orang yang tertarik jika sedang bercerita tentang sesuatu. Sebut saja namanya Aloy.

Laki-laki kedua bertubuh atletis, suka berolahraga dan mempunyai jiwa seni. Kegemarannya melukis, teater, menari dan menyanyi. Gaya hidupnya cuek, mengalir begitu saja. Namanya Tantyo.

Laki-laki ketiga bertubuh sedang, berwajah tampan dan tipe yang teratur. Pendiam dan cukup serius. Senang akan kerapian dan pola pikirnya rasional. Disiplin dan bekerja keras adalah kesehariannya. Nama laki-laki ini Pinur.

Laki-laki keempat berperawakan sedang, humoris dan supel. Kalau tertawa lepas sampai terbahak-bahak. Berjiwa sosial tinggi sehingga kadang-kadang kepentingan pribadinya diabaikan. Namanya Stef.

Satu perempuan yang dimaksud berwajah manis, suka berkhayal dan senang bertemu dengan banyak orang. Suka dengan hal yang praktis-praktis. Nama perempuan ini Judith.

Singkat kata, keempat laki-laki itu jatuh cinta kepada satu orang perempuan yang sama, Judith. Semuanya bersaing untuk mendapatkan hati Judith, sang pujaan hati.

Aloy, menarik perhatian Judith dengan keahliannya berbicara. Rayuan mautnya dia lancarkan, segala puja dan puji serta harapan yang indah-indah dia buaikan kepada Judith. Judith suka dengan orang yang pandai berbicara, tapi membenci orang yang suka membual. Dia menganggap Aloy hanya pandai membual. Ditolaknya Aloy tanpa basa-basi. Patah hatilah Aloy..

Tantyo, melukis wajah Judith dengan sangat indah. Dibuatkannya puisi untuk Judith, diciptakannya lagu khusus untuk Judith. Dan ada rencana Tantyo untuk membuat film tentang Judith. Maklum, seniman sarat dengan karya..Judith cukup terbuai dengan semua itu, tapi Judith masih belum sreg dengan Tantyo, entah kenapa..

Pinur, berbekal kesederhanaan dan kemandiriannya tidak menawarkan apa-apa. Tapi dia yakin, punya masa depan yang cerah. Diajaknya Judith untuk menata masa depan bersamanya. Judith masih pikir-pikir dulu, tawaran Pinur dipertimbangkan..

Stef, dengan keahliannya melucu mampu membuat Judith tertawa terbahak-bahak. Segala cerita yang menarik dan menghibur ada pada Stef. Judith suka dengan cara pandang Stef yang mampu menertawakan apa saja, bahkan dirinya sendiri ditertawakan. Tapi Judith sadar, tidak semua hal itu lucu. Ada kalanya kita tertawa, tapi ada kalanya kita harus serius. Itu yang tidak Stef punya. Kurang serius..

Judith bimbang akan menjatuhkan pilihannya kepada siapa. Judith mempertimbangkan tawaran Pinur, tapi menginginkan Pinur seorang yang lucu seperti Stef, ada jiwa seniman seperti Tantyo dan pandai bicara seperti Aloy. Judith tidak cukup puas dengan Pinur sekarang yang low profile. Apa adanya.

Pinur merasa keberatan dengan jawaban Judith. Dirinya merasa dibanding-bandingkan. Apalagi dibandingkan dengan ketiga rival-nya.

“Aku tidak menuntut apa-apa darimu, Judith. Aku seperti ini adanya. Aku bukanlah Aloy, Tantyo ataupun Stef. Aku Pinur, yang siap membahagiakanmu dengan keadaanku sekarang dan nanti. Aku bangga dengan diriku sendiri dan tidak ingin menjadi orang lain seperti keinginanmu..”

“Maksudku, kamu tidak harus menjadi Aloy, Tantyo ataupun Stef. Aku hanya ingin kamu sedikit pandai berbicara tidak terlalu pendiam, punya jiwa seni walau sedikit saja dan punya humor jangan terlalu serius seperti sekarang..”

“Tidak mudah untuk mengubah seseorang Judith, aku tidak pernah menuntutmu untuk berubah menjadi orang lain karena aku, aku mencintaimu tulus apa adanya. Segala kelebihan dan kekuranganmu aku bisa menerima, tapi jika kamu menuntut aku untuk menjadi seseorang yang sempurna dimatamu, aku tidak bisa..”

Dan Pinur pun pergi. Tinggallah Judith seorang diri..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...