Saturday, August 06, 2011

The Past

Kuhempaskan waktu berlalu. Tanpa coba menjemput masa lampau yang terlalui. Walau sekedar untuk mengenang, mengulang cerita atau mencoba mengubah cerita lalu dalam gelak tawa. Aku telah menghindarinya. Sekalipun mungkin aku akan menatap sosokmu walau dalam sekejap.


Dimensi waktu kita telah beda. Tak akan mungkin berada di titik yang sama.


Samar, kesempatan itu telah kubuang percuma. Kan kugenggam kepastian yang telah ada. Tak akan kubiarkan lepas demi mengurai masa lalu nan semu. Dulu kau hanya bayang-bayang dan sekarang pun jua. Tak akan ada nyata. Biarkan kukubur dirimu bagaikan legenda yang sesekali diingat. Yang terkubur tanpa mampu menuntut kekinian bersamaku.


Itu lebih baik kurasa. Walaupun kini rasa itu telah menguap entah kemana. Namun sesekali rasanya menohok mewarnai bunga-bunga tidurku. Kamu pernah ada, namun kini tiada. Tiada dari bagian hidupku dan ada di bagian hidup yang lain. Tak perlu menolak takdir. Atau menyalahkan waktu yang tak berpihak. Kau dan aku tak akan pernah bisa menyatu.


Manis bagiku, entah bagimu. Kau rajin menghiasi mimpi-mimpiku kala itu, entah bagimu. Hatiku selalu bergetar menahan gejolak rindu, entah bagimu. Selalu jutaan tanya menggayut di benakku, entah bagimu. Kau adalah misteri bagiku, entah bagimu. Entah..entah..dan hanya entah yang ada.


Apa artinya jika semua ini hanya kurasa sendirian ?



Susah payah ku mengurai air mata tanpa pernah kau mengerti rasa yang ada padaku ?


Tak ada kata, tak ada gejala yang mengindikasikan rasa yang sama atau beda..


Datar, biasa, samar dan aku hanya bisa meraba-raba..


Bagaimana mungkin jika aku menyimpulkan kau begitu istimewa sedangkan kau sendiri belum tentu menganggapku demikian ?


Bertepuk sebelah tangan, pungguk merindukan bulan...hm..terpuruknya aku..


Tapi..itu masa lalu...


Masa kini..kepastian telah menjadi bagian hidupku..


Kebahagiaan telah kuraih..


Jadi maaf..kulewatkan hari ini untuk tidak bertemu denganmu..


Karena aku bukan yang lalu..


Telah kubuka lembaran baru..


Dan tak akan kubuang waktu demi cerita masa lalu..


Sudah tidak berlaku..

Tuesday, July 12, 2011

Ku Bahagia..Ultah Nih..

Aku mengecap bahagia, kala usia 9 tahun ibuku berinisiatif mengundang teman-teman kecilku berkumpul bersama di rumah untuk sekedar menikmati sepiring nasi kuning masakan ibu yang lezatnya luar biasa. Ya, itu pertama kalinya ulang tahunku dirayakan. Aku meniup lilin tanpa kue, hanya sebatang lillin biasa yang digunakan sebagai penerangan saat listrik padam. Sederhana, tapi aku sungguh berkesan. Tak henti-hentinya aku melihat kembali kado-kado dari teman-teman kecilku.




Saat usiaku 12 tahun, aku berlinang air mata terharu saat teman-teman kemahku mengucapkan ulang tahun di tengah lapangan saling bernyanyi happy birthday. Kejutan itu begitu menyenangkan bagiku.




Aku menangis sedih, saat seseorang yang kuharapkan memberi ucapan ulang tahunku yang pertama kali ternyata tidak menyadari bahwa aku berulang tahun ke-16. Namun aku kembali tersadar, aku bukan siapa-siapa yang mengharapkan terlalu banyak perhatian.


Lalu, di usia 17 tahun, aku pun terpekik kegirangan saat adik-adik kelas bimbingan rohani di sekolah berbaris melingkar, antri satu persatu menyalami hari jadiku. Betapa perhatian mereka menyejukkan jiwaku.


Aku kembali bahagia , saat ada seseorang yang memberi rumput berbunga sebagai ucapan ulang tahunnya kepadaku saat usiaku 19 tahun. Sebuah lampu teplok sebagai pengganti lilin yang tiada, aku tiup dengan semangat diantara teman-teman camping rohaniku.


Usia 21 tahun, aku tersenyum bahagia karena mengenal sesorang yang istimewa di hari jadiku. Dia menjadi kado istimewa di masa depanku. Kelak, dialah yang akan mendampingi hidupku selamanya.


Kebahagiaan demi kebahagiaan kembali aku rasakan saat aku berulang tahun di tahun-tahun berikutnya. Meskipun sering tidak dirayakan, namun aku bahagia saat ada yang mengingat hari jadiku lewat sms, telepon ataupun melalui jejaring sosial seperti facebook. Namun aku pun pernah merasa begitu terasing saat-saat jauh dari orang-orang terkasih, berada di perantauan asing yang tak satupun mengetahui hari jadiku. Dan akupun merayakannya sendiri. Dalam keheningan, merenung dan berdoa di dalam kamar. Cukuplah ucapan selamat dari orang-orang yang dekat di hati mampu menepis rasa sepiku.


Lalu, aku pernah tercengang saat belahan jiwaku lupa sama sekali hari ulang tahunku. Biasanya dia pertama kali memberi ucapan selamat tepat jam 12 malam. Tak peduli aku telah tertidur. Lalu peristiwa itu terjadi, setahun yang lalu saat dalam perjalanan pulang dari luar kota. Tak sepatah ucapan pun dilontarkan. Aku terdiam sepanjang perjalanan. Dia ikut-ikutan terdiam. Sibuk bertanya-tanya, mungkin dia sengaja begitu untuk sebuah kejutan. Tapi apa ? Sampai tengah hari, belum ada tanda-tanda padahal kami selalu bersama.


Lalu aku beranikan bertanya,” Ini hari apa ?”


Dia melihat tanggal. Dia mulai tersadar.


“Oh pantesan dari tadi diam saja, aku benar-benar lupa ini hari ulang tahunmu.”
Air mataku sudah membanjir. Tumpah ruah tak karuan.


”Apakah ucapan itu masih penting bagimu ? Bukankah kamu sudah menjadi bagian dari hidupku ? Setiap hari istimewa, sayang..”


Lalu dia mengecup keningku. Aku tetap menganggap sebuah ucapan itu bentuk perhatian. Bukankah selama ini kamu tak pernah lupa ? Kenapa setelah menjadi suami kamu melupakan ritual-ritual itu ?


“Karena kita telah terbiasa. Semuanya menjadi biasa. Tak perlu anggap itu sebagai sesuatu yang istimewa. Setiap hari kita bahagia kan ? Aku bahagia kamu pernah dilahirkan sayang, karena itu aku menganggap setiap hari istimewa. Selamat ulang tahun sayang..”


Ah..bagaiamanapun, aku tetap bahagia jika dia selalu mengingat hari ulang tahunku tanpa harus diingatkan lebih dulu. Dan ternyata, di ultahku kali ini, dia tidak lupa lagi. Ehem..

Thursday, June 23, 2011

Pengusaha Meraba-raba




Gambar diambil dari sini


Berbeda dengan karyawan yang setiap bulan mendapatkan gaji, seorang pengusaha mengupayakan sendiri penghasilannya bahkan berkewajiban menggaji karyawannya. Posisinya pun berbeda, yaitu karyawan berada di zona nyaman, sedangkan seorang pengusaha bermain-main dengan zona bahaya. Bagaimana tidak bahaya, jika setiap hari mengadu nasib akankah ada pembeli hari ini ? Berapa orang ? Stok yang mesti disiapkan ?


Seringkali pengusaha terkecoh dengan perkiraannya sendiri. Persediaan stok melimpah ternyata pasar sepi. Giliran stok terbatas, ternyata pasar melimpah sehingga harus kehabisan stok. Itulah..andai pengusaha punya kemampuan untuk melihat peta hari ini misalnya barang yang keluar sekian, pembeli sekian, tentu banyak orang berlomba-lomba jadi pengusaha ya..hehe..


Apa yang perlu dilakukan seorang pengusaha adalah meraba-raba, mencoba peruntungan dan berupaya. Melihat peluang yang ada, menganalisa pasar dan menjaring pelanggan sebanyak-banyaknya. Banyak celah yang perlu dilihat. Resiko yang diambil semakin tinggi jika modal yang digunakan adalah modal yang diperoleh dari pinjaman atau hutang. Banyak hal yang perlu dipikirkan antara mengatur keuangan untuk bayar hutang, untuk kulakan barang, biaya operasional, untuk kebutuhan sehari-hari, dan lain sebagainya, semuanya diperlukan kecermatan dalam me-manage keuangan.


Pusing, sudah pasti. Tapi ada beberapa hal yang bisa diambil dari segala resiko yang berat itu. Seorang pengusaha dituntut untuk bisa memecahkan masalah secara cermat. Kalaupun melakukan kesalahan, kesalahan tersebut hendaknya menjadi pembelajaran untuk langkah selanjutnya.


Demikian pula, seorang pengusaha harus jeli melihat kalender event. Misalnya begini, seorang pengusaha di bidang pakaian misalnya. Permintaan pasar akan melonjak saat menjelang hari raya. Pada saat itulah, perlu dilihat trend yang sedang berkembang apa, kemudian perkiraan stok yang disiapkan berapa. Bisa jadi omset akan melonjak beberapa kali lipat dari hari biasanya.
Paling penting pula dalam suatu usaha adalah promosi dan pemasaran. Karena sebagus apapun suatu produk, kalau tidak ada yang tahu dan tidak ada yang beli sama saja bohong. Karena itu, promosi merupakan nyawa dari suatu usaha. Pengenalan produk, lokasi tempat dan segmen pasar harus dijabarkan pada saat promosi berlangsung. Potongan harga atau diskon juga menjadi daya tarik tersendiri saat promosi berlangsung.


Masih banyak hal lain dalam serba-serbi dunia usaha. Namun ini hanya gambaran sekilas. Lain kali disambung lagi. Eh, itu ada pembeli. Pamit dulu ya...

Friday, May 27, 2011

Dokter Yap

Pengetahuan itu penting. Jelas, karena dengan pengetahuan, kita jadi tahu. Logikanya begitu, ya toh..? Sangat penting pula jika kita bisa tahu segala informasi, berwawasan luas dan up to date. Dengan berwawasan luas, kita bisa dianggap penting oleh orang lain. Lha iya toh, kalau tahu segala macam, orang banyak bertanya kepada kita. Ditanya karena dianggap tahu.


Cara untuk banyak tahu bisa dengan membaca buku, banyak bertanya, diskusi tanya jawab dengan orang yang bisa diajak diskusi, mengikuti perkembangan media massa, bergaul, dan lain sebagainya. Segala informasi kita tampung dalam memori otak dan kita bagikan untuk orang lain.


Omong-omong tentang ketidaktahuan, saya dan ibu saya pernah dibuat malu saat berada di sebuah rumah sakit. Ceritanya begini, saat saya masuk sebagai mahasiswa baru di sebuah PTN, saya merasa penglihatan mata saya tidak beres saat melihat tulisan jarak jauh. Samar-samar, kabur tidak jelas. Mata saya harus terpicing-picing supaya melihat tulisan dengan jelas atau terpaksa pindah duduk ke depan. Lama-lama saya merasa terganggu dengan keadaan ini dan harus dicarikan solusinya. Hipotesa sementara, saya mengalami rabun jauh dan harus memakai kacamata. Tepat minusnya berapa, harus diperiksa ke dokter mata.


Di kota Yogya, tempat saya tinggal, terkenal dokter mata Yap. Asumsi saya, dokter Yap itu nama seorang dokter yang masih praktek di klinik miliknya. Pokoknya saya hanya asal dengar dan tidak tahu bagaimana historinya. Saya sering mendengar info kalau ada teman saya yang sakit mata, periksa ke dokter Yap. Dan saya tidak tanya lanjut soal itu.


Singkat kata, saya dan ibu menuju klinik dokter Yap untuk periksa mata saya pertama kalinya. Seperti biasa, saya harus menjalani prosedur pendaftaran dan menunggu antrian untuk dipanggil. Saat mendaftar untuk memilih dokter siapa, saya keheranan melihat nama-nama dokter yang tidak ada satupun bernama dokter Yap. Rupanya ibu saya punya pemikiran yang sama.


Bertanyalah ibu saya kepada suster jaga yang mendaftar,”Dokter Yap-nya ada ?”


Suster tampak kaget, kemudian sambil senyum-senyum menjawab,”Sudah lama meninggal..”


Olala, baru saya dan ibu menyadari ternyata rumah sakit ini adalah rumah sakit yang dirintis oleh pendahulunya dokter Yap. Nama yayasannya juga yayasan dokter Yap, tapi dokter Yap-nya sudah lama meninggal. Tak beda jauh dengan rumah sakit Sarjito atau rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Bedanya, saya tahu kalau rumah sakit Sarjito sudah lama ditinggalkan pendirinya. Kalau ini, benar-benar menggelikan. Saya dan ibu jadi malu sendiri jika mengenangnya. Ada-ada saja..

Thursday, March 17, 2011

ATM...Oh...ATM...


Gambar diambil dari sini
Suatu hari, saya harus mentransfer sejumlah uang kepada saudara saya di bank yang saya tidak punya rekeningnya. Katakanlah, nama bank-nya Munduri ( sengaja namanya saya samarkan supaya tidak ada iklan hehe..), sedangkan rekening yang saya punya adalah bank ABC.


Ada 3 cara yang bisa saya lakukan agar uang saya sampai kepada saudara saya :

Pertama, saya langsung ke bank Munduri dan mentransfer uangnya ke nomor rekening yang dimaksud

Kedua, transfer melalui ATM Munduri orang lain, saya tinggal kasih uang cash-nya

Ketiga, transfer melalui ATM ABC saya, yang berarti transfer antar bank, kena biaya administrasi lumayan plus segala prosedural termasuk melalui proses kliring dan lain sebagainya, alias akan lama sampainya

Karena ini termasuk keperluan mendesak / urgent, yang mana uang harus segera diterima saudara saya sore itu juga, maka langkah pertama tidak mungkin bisa dilakukan karena bank sudah tutup. Langkah ketiga jelas tidak bisa karena efisiensi waktu yang tidak memungkinkan. Maka satu-satunya cara adalah dengan langkah kedua. Pertanyaannya, pakai ATM siapa ?

Maka saya menginterogasi teman-teman kerja saya di waktu yang sempit. Dan hasilnya, dari 15 teman kerja saya, hanya ada 1 orang yang punya ATM Munduri, tapi rekeningnya sudah lama tidak ada dananya, dan teman saya curiga rekening itu sudah mati alias tidak aktif lagi. Alamak, sami mawon to..

Terpaksa, tak ada cari lain selain mencari target yang punya ATM Munduri siapapun dia. Segera saya ambil keputusan, mengajak beberapa teman saya yang mau menemani ke mall yang tidak jauh dari tempat kerja saya waktu itu. Lumayan, ada 4 orang yang mau ikut hehe..

Modus operandinya jelas, nongkrong di depan ATM Munduri dan minta tolong kepada siapa saja yang mau ataupun yang sudah melakukan transaksi di ATM tersebut. Kebetulan, disana ada beberapa ATM bank lain-lain yang tidak terlalu ramai. Dan kebetulan pula ATM Munduri masih sepi dari nasabah. Intermezzo. ATM singkatan dari Anjungan Tunai Mandiri, tapi ada juga yang maksa main plesetan Ambil Tendili Money-nya..hihi..

Setelah menunggu beberapa menit, ada seorang perempuan muda masuk ke ATM Munduri. Saya dan teman-teman girang seketika. Harap-harap cemas menunggu orang itu keluar dari ATM, kemudian saya cegat dan mulailah saya mengutarakan niat saya untuk minta tolong ditransferkan uang melalui ATM Munduri karena saya tidak punya rekening Munduri , sambil menunjukkan sejumlah uang yang harus ditransfer dan no rekening saudara saya yang ada di inbox HP saya. Eh..si mbak malah ketakutan dan langsung ngibrit pergi tanpa basa basi. Saya bengong. Teman-teman saya ketawa. Mungkinkah tampang saya mirip penipu ? Sepertinya tidak..manis gini loh..hihi..

Apa boleh buat, saya menunggu lagi. Ternyata teman-teman saya hanya jadi penggembira saja, bukannya ikutan meyakinkan target malah menertawakan saya dan mereka mulai nggak pede dengan usaha saya. Payah..

Tak lama, ada seorang bapak-bapak masuk ATM dan jelas mata saya mulai beraksi lagi. Segera saya memulai usaha sama seperti tadi, eh..si bapak malah melototi saya curiga, dan langsung buru-buru pergi. Waduh, lebih sadis, dikiranya uang yang saya bawa palsu apa ? Susah amat sih..

Kemudian, ada seorang ibu-ibu dan saya mulai melancarkan aksi serupa, tapi si ibu dengan ringan menjawab bahwa dia nggak ada dana lagi di ATM-nya. Masa sih..cuma seratus ribu aja nggak ada ? Takut kena hipnotis ya, bu ? Emang saya bisa hipnotis orang ? Hm..baiklah..

Saya tetap berusaha lagi. Keukeuh pokoknya, masa nggak ada yang mau sih. Kan saya sudah ngomong baik-baik, sopan dan minta tolong. Apa iya nggak ada yang mau menolong ? Curiga sih boleh, tapi liat-liat orang dong, apa iya saya ada tampang kriminal ? Innocent gini kok, saya mulai nggak sabar. Hrrrr...

Teman-teman saya mulai menunjukkan wajah bete. Mulai malu ditatap dengan tatapan curiga dikiranya kita kawanan penipu. Saya juga mulai keder mentalnya. Tapi niat saya harus kesampaian. Lha wong nggak ada niat jahat kok, cuma minta tolong, apa salahnya ?

Harapan saya mulai timbul tenggelam saat ada seorang pemuda yang keluar dari ATM yang kemudian saya samperin lalu mulai menyampaikan niat saya. Saya sampai hafal dengan kata-kata yang sama diulang beberapa kali, bedanya sekarang, tampang saya lebih memelas. Si mas memandang saya, mencoba meyakinkan kemudian tanpa ngomong apa-apa, mengambil uang dan HP di tangan saya kemudian masuk kembali ke dalam ATM. Saya sedikit lega. Paling tidak, ada secercah harapan. Tak lama kemudian si mas muncul memberikan struk bukti bahwa transfer telah berhasil dilakukan sambil mengembalikan HP saya. Fiuhh..akhirnya. Saking senangnya, saya sampai tidak ingat berapa kali saya mengucapkan terima kasih. Si mas cuma tersenyum cool dan berlalu begitu saja. Bagaikan malaikat bayangan saja hehe..

Saya jadi ingat, beberapa tahun yang lalu saya juga pernah mengalami kejadian seperti ini. Waktu itu, saya baru selesai ambil uang di ATM ABC, tiba-tiba ada seorang perempuan muda nyamperin saya mengatakan bahwa dia nggak punya rekening ABC dan harus mentransfer uang ke saudaranya. Dia menyodorkan uang 300 rb dan nomor rekening yang ditulis di kertas. Saat itu, saya langsung mengiyakan tanpa babibu. Intuisi saya mengatakan, dia orang baik-baik dan saya kasihan padanya sehingga mau menolongnya. Padahal logikanya, ATM ini ada di depan Bank yang masih buka kerena siang hari. Bisa saja kan dia masuk ke bank dan transfer begitu saja. Malas antri dan ada biaya administrasi ? Mungkin saja itu alasannya, tapi sayangnya, saya tidak tanya lebih lanjut. Dan lagi, saya tidak punya pikiran macam-macam apakah uang ini palsu atau saya kena hipnotis. Positif thinking pokoknya. Dan ternyata, mbak itu mengucapkan terima kasih yang tulus dan uangnya bisa saya pakai buat beli ini itu tuh..berarti nggak palsu kan ?

Memang, nggak gampang menaruh kepercayaan kepada orang lain apalagi dengan orang yang belum kita kenal sama sekali. Yang kenal saja bisa nipu kok, apalagi yang baru ketemu. Dan, seringkali pula, penampilan bisa menipu. Sepertinya rapi, wangi..eh..bawa kabur uang. Sepertinya preman eh..nggak tahunya berhati roman. Kalau sudah begini, saya cuma mengandalkan apa kata hati. Kalau hati bilang tidak, maka saya akan menggeleng. Kalau kata hati bilang iya, mengangguk lah..

Saya jadi berpikir, kalau dulu saya menolak menolong si mbak itu, bisa jadi si mas itu juga nggak mau menolong saya. Apa iya, ya..adakah hukum karma itu ? Mungkin..

Thursday, February 24, 2011

Ah, Sudahlah..

Aku tidak tahu apakah saat ini karma sedang menghukumku. Menghajarku tanpa ampun. Bertubi-tubi masalah datang silih berganti tanpa mampu aku sudahi. Masalah, ya..saat harapan dan kenyataan tidak lagi senada seirama. Pembelotan, caci maki, hinaan, cercaan bahkan pengkhianatan. Menguras air mata. Setidaknya, aku masih yakin bahwa aku masih bisa menangis. Setelah sekian lama hatiku membatu, membiru.


Jahat, itu kata yang sering kudengar tentangku. Tak punya hati, lebih jelas lagi untuk menggambarkan siapa aku. Iblis, mungkin hanya rupaku yang manusia saja. Ya..ya..ya..tak akan kuingkari bahwa aku bukanlah manusia yang baik. Baik seperti harapan kebanyakan orang.


Anehnya, aku sadar saat melakukan hinaan kepada orang yang memang patut dihina. Meremehkan, karena memang dia mudah diremehkan. Berteriak saat mereka tak mau menuruti mauku. Tak dipungkiri, egoku sangat besar, karena aku terlalu cinta pada diriku sendiri layaknya sang Narcist.


Salah siapa jika akhirnya anakku sendiri melawan, bahkan suamiku pun pergi dengan wanita lain. Aku ? Ya..pasti aku yang bersalah. Siapa yang betah bersanding denganku yang maha cerewet, yang tak pernah peduli akan kebutuhan orang lain, bahkan kebutuhan darah dagingku sendiri ?


Diam-diam aku sering bertanya, apakah ada yang salah dengan gen-ku ? Mungkin ada susunan rantai DNA-ku yang beda dengan milik orang kebanyakan. Jumlah kromosomnya barangkali atau kandungan proteinnya yang membuatku jelas selalu ingin tampil beda.


Mungkinkah kromosomku XYY seperti yang pernah kudengar, seperti milik penjahat di luar negeri yang selalu melakukan kriminalitas sehingga diperlakukan secara khusus karena perbedaan kromosomnya itu ?


Entahlah, aku belum pernah mencoba periksa perihal kromosomku itu. Hm..tapi sepertinya kromosomku normal-normal saja karena kromosom XYY itu hanya ada pada laki-laki, sedangkan aku wanita tulen.


Lagipula, tingkat kejahatanku bukan termasuk kriminalitas tingkat tinggi seperti pembunuhan, perampokan ataupun segala sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan fisik. Tidak.


Aku lebih suka menyiksa jiwa. Menguji mental orang lain. Pembunuhan karakter, lebih tepatnya. Aku benci dengan orang yang punya kepribadian tenang, hidup teratur dan selalu penuh dengan keberuntungan. Dengan orang yang selalu tahu apa yang harus dikerjakannnya sekarang ataupun nanti di masa depannya. Yang selalu lekat dengan kesuksesan demi kesuksesan. Mungkin aku iri hati atau semacam cemburu sosial, karena aku tidak bisa seperti itu. Ya, mungkin saja..


Aku tak pernah hidup tenang. Bagiku, hidup adalah kompetisi. Aku harus selalu jadi pemenang. Memalukan sekali jika aku harus menjadi pecundang, walaupun itu sering kualami. Karena itu aku dendam, pada kemenangan yang tak pernah aku genggam. Tak pernah puas pada apa yang telah aku capai selama ini. Aku selalu merasa sebagai manusia yang gagal. Tak berguna. Sampah. Karena itu, aku ingin orang lain menjadi sama sepertiku.


Ah, sudahlah..

Tuesday, February 15, 2011

Kasih Sayang Adalah....


Happy Valentine !


Kasih sayang, adalah rasa yang didamba setiap insan di dunia ini. Kasih seorang ibu kepada anaknya, pun sebaliknya kasih anak kepada orang tuanya. Yang lebih universal adalah kasih sayang kepada sesama manusia, lingkungan dan semua makhluk yang ada di bumi termasuk mencintai bumi itu sendiri.

Salah, jika memaknai hari kasih sayang sebagai hari free seks nasional untuk kalangan tertentu yang sedang dimabuk cinta tanpa ikatan yang sah. Apalagi jika masih sebagai sepasang remaja. Jalan hidup masih terlalu panjang jika diisi dengan sesuatu hal yang sifatnya kesenangan sesaat atau hedonisme.
Kasih sayang menjadi kehilangan makna jika tanpa disertai suatu tindakan yang nyata. Tak perlu dengan hal-hal besar. Cukup dengan yang sederhana saja. Dimulai dengan yang ada di sekitar kita.

Senyum. Menjadi awal pembuka sebuah kasih kepada sesama. Cobalah..jangan pelit untuk menarik bibir membentuk sebuah senyum nan tulus.

Tertawa. Sedikit lebih tinggi jenjangnya dengan senyum. Berbagilah kebahagiaan dengan menciptakan tawa bagi orang lain dan lakukan bersama-sama. Sangat bermanfaat bagi ketenangan jiwa. Asal jangan untuk menertawakan kekurangan orang lain. Menertawakan diri sendiri lebih mungkin. Tapi tak semua orang bisa melakukannya. Sangat sulit jika belum terbiasa dan tak ingin dicap gila oleh orang lain. Lakukan diam-diam saat yakin tak ada orang lain yang mendengar. Setelah itu, buatlah orang lain untuk bisa tertawa.

Berbagi. Apa yang kita punya, bagilah kepada yang memerlukannya. Materi, ilmu, pengetahuan, tenaga , apapun yang masih mampu untuk kita beri. Tak perlu menunggu menjadi orang kaya dulu baru memberi. Lakukan sekarang juga dengan apa yang bisa kita berikan. Banyak sedikit relatif jumlahnya. Yang pasti akan sangat bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Peduli. Buka mata lebar-lebar, buka telinga dan pintu hati kita. Betapa banyak di luar sana orang yang tidak seberuntung kita. Mulailah dengan sapaan hangat bukan tatapan sinis kepada yang papa. Berhenti untuk menghakimi dengan mencari-cari kesalahan mereka. Masih banyak yang tidak tahu bagaimana cara menjadi orang yang layak. Kita lebih beruntung masih bisa makan 3 kali sehari. Kita dianugerahi kepandaian yang lebih sehingga bisa menghasilkan banyak rupiah. Kita mampu dan bersyukur menjadi pribadi yang lebih diuntungkan.

Setiap hari, adalah tanggal 14 Februari. Tak ada batasan untuk mengasihi sesama hanya di tanggal ini. Hanya sekedar pengingat dan waktu untuk merefleksikan diri kita apakah kita sudah cukup menjadi insan yang penuh kasih sayang kepada sesama. Atau sebaliknya ? Kita adalah sang penindas yang membiarkan kasih sayang dalam diri kita menjadi mati. Semoga tidak.

Thursday, January 27, 2011

Gayus yang Jayus

Beberapa hari ini saya dibuat geli dengan maraknya berita tentang Gayus di televisi. Mendadak Gayus menjadi begitu terkenal, menjadi buah bibir dimana-mana. Seorang Gayus gitu loh, karyawan golongan 3A yang membuat banyak pihak hingga pemimpin tertinggi di negeri ini kebakaran jenggot. Apa begitu sulitnya, sampai ulah seorang Gayus tidak bisa ditangani dengan cepat dan membutuhkan waktu berbulan-bulan, nggak kelar-kelar.

Terlepas dari masalah Gayus yang begitu pelik, saya hanya ingin membahas peluang bisnis yang bisa diciptakan terkait dengan Gayus ini. Banyak media di televisi ataupun cetak memberitakan, omset penjualan wig atau rambut palsu dan kacamata dengan model persis yang dikenakan Gayus saat melihat pertandingan tenis di Bali menjadi berlipat ganda.

Belum lagi para pengamen yang menyanyikan lagu tentang Gayus yang diciptakan oleh Bona mendapat kenaikan penghasilan sampai seratus persen lebih dari biasanya. Yang biasanya mendapat penghasilan 50 ribu sehari, karena menyanyikan lagu tentang Gayus menjadi naik hingga 150 ribu per hari. Wow..fantastis ya..Tak ketinggalan, sang pencipta lagu Gayus, Bona mendadak terkenal dan banyak dicari karena lagunya yang memang cukup memikat. Luar biasa..

Saya jadi berpikir, peluang bisnis apalagi ya, yang bisa diciptakan terkait dengan Gayus ini. Secara tidak langsung, Gayus telah menolong banyak orang dengan bagi-bagi rejeki, menciptakan lapangan pekerjaan baru. Gayus tiba-tiba menjadi trendsetter karena banyak orang yang tak malu-malu lagi meniru gaya penyamarannya dengan wig dan kacamatanya yang khas, yang mirip-mirip dengan karakter gaya sang penyanyi terkenal Afgan. Lucu sekali..huahaha..

Gayus Tambunan menjadi fenomenal layaknya Justin Bieber, Santi & Jojo dan Upin & Ipin yang menjadikan demam di masyarakat negeri ini. Ada apa sebenarnya ? Siapa yang salah dalam hal ini ? Gayus menjadi lambang kekinian, gaya hidup, dan pokok bahasan ter-up to date.

Saya curiga, tak lama lagi akan muncul kaos, mug ataupun stiker-stiker bergambar Gayus yang laku di pasaran. Atau malah sudah ada ? Kok saya belum dapat ? Hehe..

Lha ini..saya malah nemu gambar Gayus alih profesi jadi tukang tambal ban. Aya-aya wae..



Gambar diambil dari sini



Wednesday, January 26, 2011

Tragedi Cabe


Gambar dipinjam dari sini

Ikem terduduk lemas di depan tukang sayur. Uang sepuluh ribu dari majikannya hanya bisa untuk membeli beberapa biji cabe, dua ikat kangkung dan sekotak tempe. Terbayang di benaknya, omelan apa yang akan didapat dari majikannya nanti. Harga cabe yang meroket, sayur mayur yang ikut-ikutan mahal ditambah lauk pauk dan bumbu-bumbu yang tak mau kompromi membuat Ikem semakin pusing membelanjakan uang dari majikannya.

Padahal, majikannya ini paling suka sambal dan maunya makan enak. Apa jadinya jika lauknya hanya tempe saja. Lha wong untuk bikin sambal saja, cabenya sudah lima ribu sendiri itupun dihitung jumlah per bijinya. Satu ikat kangkung harganya seribu lima ratus, perlu dua ikat sudah tiga ribu. Sisa dua ribu hanya cukup untuk beli sekotak tempe. Pas sepuluh ribu.

Sebelum harga cabe gila-gilaan, sepuluh ribu bisa buat beli lauk daging ayam seperempat kg, cabe, sayuran dan bumbu. Katakanlah daging ayam enam ribu, kangkung masih seribu seikat dan cabe seribu masih bisa buat sambal yang lumayan pedas, plus masih bisa beli bumbu-bumbu. Sekarang, boro-boro beli daging ayam, lha wong harga cabenya lebih mahal dari daging ayamnya kok. Apalagi kalau bumbunya habis, sepuluh ribu tak akan pernah cukup.

“Ikeeemmmmmm....”

Nah, kan..alamat kena semprot nih..Ikem sudah menyiapkan jawaban jika majikannya tanya macam-macam.

“Lihat, kamu masak apa..sepuluh ribu cuma masak sayur kangkung sama tempe. Sambalnya nggak pedes lagi..kamu korupsi uang belanja ya..”

Ikem mengelus dada. Komentar majikan lebih pedes dari sambal buatannya, dia percaya.

“Nyah..harga cabe sekarang seratus ribu sekilonya, saya beli lima ribu cuma dapat beberapa biji. Harga kangkung seiket seribu lima ratus saya beli dua iket, sisanya dua ribu cuma cukup buat beli tempe..”

“Apa ? Masak harga cabe sekilo lebih mahal dari harga daging sekilo ? Jangan ngarang kamu..”

“Yah..apa nyonyah nggak pernah liat berita di TV..dari kemarin harga cabe naik terus mulai dari 36 ribu, trus 60 ribu sampe sekarang 100 ribu lebih sekilonya..”

“O..jadi sekarang kamu pinter jawab ya..siapa suruh kamu nonton TV kalo saya lagi kerja ? Bukannya beres-beres..pantes tagihan listrik jadi naiiikkkk...!!!”

Ikem tertunduk. Selalu salah dan serba salah. Dasar majikan cerewet dan pelit, dalam hatinya memaki.

“Bener nyah..sekarang harga sayuran, bumbu-bumbu dan lauk pauk juga ikut naik..mestinya anggaran belanjanya juga ikut dinaikkan..”

“Nggak usah ngatur, mulai besok aku belanja sendiri. Kamu tinggal masak, paham ?”

Ikem mengangguk. Silakan saja, biar tahu harga-harga sekalian. Emang enak ngatur duit..dalam hati Ikem membatin.

Besok paginya, tersedia seikat bayam, ayam ¼ kg dan bumbu dapur tanpa cabe. Ikem bertanya-tanya dalam hati, tidak bikin sambal ? Bukankah majikannya selalu suka dengan sambal ?

“Ikem..kamu siapkan kaleng-kaleng bekas kue, tanam biji ini di kaleng pakai tanah di kebun. Trus nanti sore, kamu bikin sambal jahe. Aku masih bisa makan sambal tanpa cabe untuk sementara, tapi aku nggak bisa makan tanpa daging ayam. Ngerti ?”

Ikem mengangguk-angguk. Dirinya mulai mengerti, anggaran belanja tidak akan dinaikkan. Sementara dia punya tugas baru menanam tanaman cabe, menyiramnya dan memanennya untuk majikannya yang gembrot itu beberapa bulan ke depan nanti.

“Nyah..kalau sambal jahe bumbunya apa ya ?”

“Sama saja seperti bikin sambal biasanya, cuma cabenya diganti jahe..ngerti ?”

“Ngerti nyah..”

Keesokan harinya, Ikem melihat berita di televisi kalau harga cabe mulai turun. Ikem sedikit sumringah, terbayang di benaknya jika harga cabe mulai murah, tak perlu repot-repot menanam cabe yang gampang-gampang susah karena cuaca ekstrim. Baru saja Ikem mendapat laporan dari tetangganya yang menanam 10 pot tanaman cabe, mati semua terserang hama ditambah hujan yang terus menerus disertai angin kencang. Oalah..apa memang sesulit itu menanam cabe di jaman sekarang. Padahal pupuk yang diberikan juga tidak sedikit.

Didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, suatu hari, Ikem ingin konfirmasi soal harga cabe yang mulai turun di tukang sayur.

“Di TV harga cabe sudah turun ya pak..”

“Kalau begitu, beli cabe di TV saja..”

Ikem ternganga mendengar jawaban tukang sayur. Apa lacur, harga cabe di tukang sayur masih sama seperti kemarin-kemarin. Masih mahal, lima ribu cuma dapat beberapa biji cabe. Tiba-tiba Ikem merasa pusing, bingung menentukan mana yang benar. Berita di TV yang asal atau tukang sayur yang nggak mau nurunin harga, atau memang harga cabe yang turun itu cuma hoax belaka. Argh...salam hu hah..

_______****_______

Friday, January 07, 2011

Gengsi Dong, Ah...!!!


Gambar dipinjam dari sini

Oke, perkenalkan aku adalah seorang trendsetter, borjuis dan selalu tampil ngejreng. Ini soal pilihan hidup. Lihat apa yang kutenteng..gadget terbaru cing..baju merk mahal, parfum import. Wah deh pokoknya..semua yang melihatku berjalan pasti berdecak kagum. Mirip-mirip etalase berjalan gitu loh..Trus lihat mobilku..keluaran terbaru kan..? Aku suka ganti-ganti mobil dengan yang terbaru. Padahal aku bukan makelar mobil lho..

Bayangkan..berapa rupiah yang harus kukeluarkan untuk gaya hidup seperti itu. Wah..sudah tak terhitung pokoknya. Rupanya, gaya hidup mewah sudah mendarah daging dalam hidupku. Aku tidak ingin kelihatan miskin, jadi apapun akan kuperjuangkan supaya aku dianggap mampu dan berada.

Padahal sebenarnya..

Demi candu bernama Blackberry, aku rela puasa dan menabung sampai uangku cukup untuk membeli.

Demi mobil keluaran terbaru, aku rela gajiku dipotong untuk bayar cicilan yang tidak sedikit..

Hari demi hariku diisi dengan bagaimana cara mendapatkan uang tambahan untuk bayar cicilan ini itu. Lha kadang, aku suka lupa daratan saat belanja, main gesek kartu kredit yang ada lima itu. Di akhir bulan aku pusing bayar tagihan yang membengkak. Gali lubang tutup lubang jadi slogan hidupku.

Atas nama prestise, aku rela melakukan apa saja. Semuanya demi uang, uang dan uang. Aku rela bekerja overtime, tak ada waktu untuk orang lain, selalu kejar target untuk bisa memenuhi semua kebutuhan mahalku. Aku ingin orang menganggapku sukses, up to date, gaul dan gaya. Tak peduli walau aku harus bekerja sangat keras untuk itu bahkan saat kepepet aku terpaksa menjual diriku. Wow..

Aku bisa merasakan saat-saat punya uang banyak dan saat-saat tidak punya uang sama sekali. Makan sekali sehari juga sudah pernah kurasakan. Saat ditanya teman-temanku kenapa tidak makan siang, diet ketat menjadi alasan paling topcer untuk menjawab pertanyaan itu. Aku rela menahan lapar demi gaya. Toh, body-ku memang yahud kok..

Banyak waktu dan pikiran yang aku korbankan, tapi aku merasakan kepuasan yang tidak terkira saat pandangan kagum dari banyak mata atas penampilanku yang prima. Sekedar bungkus luar, tapi itu sangat penting bagiku. Penampilan menjadi kebutuhan primer bagiku. Apalagi hidup di kota besar begini, malu dong sama yang lebih canggih. Harga diri serasa diinjak-injak jika ada yang lebih dariku.

Tapi terus terang, semua kemewahan ini kudapat dari kucuran keringatku sendiri lho..bukan dari uang rakyat yang aku korupsi. Aku bekerja sendiri, bahkan menjual diriku sendiri bukan menjual diri orang lain. Aku sadar melakukannya dan murni karena tuntutan hidup yang keras. Sebenarnya, aku capek dengan gaya hidup seperti ini, tapi selama aku tetap tinggal di kota besar, aku konsisten dengan pola hidupku. Pusing, minum obat tidur sudah menjadi menu utamaku. Lha kadang, impian dan kenyataan tidak pernah sama. Karena itu aku ingin membuatnya sama, sinkron dan seimbang.

Surga ? Ya..aku pernah mendengarnya. Ada dimana surga itu ? Bukankah surga dunia sudah membuatku menikmatinya selama ini. Tuhan ? Ya..aku percaya Dia ada. Tapi aku tidak pernah berkomunikasi dengannya. Agama hanya jadi pelengkap dataku di KTP. Aku lebih senang tidak beragama sebenarnya. Ribet..masing-masing merasa agamanya paling hebat. Padahal jaman dulu sebelum ada agama, kehidupan berjalan normal-normal saja.

Hm..aku merasa percaya diriku tumbuh saat lengkap dengan segala gadget terbaru. Aku merasa dihargai saat orang memandang apa yang aku punya. Aku merasa sejajar dengan kelas atas. Sebenarnya, aku hanya ingin mendapatkan pengakuan atas keberadaanku. Aku berusaha mengikuti pola pikir kebanyakan orang yang lebih mementingkan bungkus luar daripada isi. Yang menjadi kaum konsumtif daripada menjadi produsen. Yang menjadi korban mode, menganggap teknologi sebagai berhala yang indah. Duniawi, materi dan hedonisme.

Aku seperti memakai topeng dan tidak percaya diri menjadi diriku yang apa adanya. Aku selalu ingin kelihatan lebih. Aku sering mengabaikan pemikiranku sendiri dan cenderung mengikuti pikiran kebanyakan orang. Aku tidak punya pendirian yang teguh. Aku mencari kamuflase untuk menutupi kerapuhanku. Aku sadar, sebenarnya aku sedang menyiksa diriku sendiri. Aku memaksakan sesuatu yang sebenarnya tidak mampu aku jangkau. Aku merasa jiwaku gersang, kering kerontang. Dan aku selalu merasa jauh dari rasa bahagia. Aku selalu merasa kurang dan tidak pernah mensyukuri keadaan.

Aku merasa gamang akan kehidupanku. Aku tidak punya tujuan yang jelas. Hidupku hanya hari ini dan kemarin. Soal besok, pikir nanti. Yang penting aku sekarang senang, besok peduli amat. Bagaimana masa depanku aku tidak pernah tahu. Aku selalu percaya pada keberuntungan, kebetulan dan keajaiban. Ya, kadang karena sedang untung, aku dapat undian berhadiah. Saat sial, aku ditagih para penagih hutang. Hidupku tidak tertata. Aku butuh seseorang yang bisa menolongku dari candu duniawi ini. Dari belenggu bernama gengsi itu. Sebelum aku terjerat terlalu jauh..tolong aku..!!!
  • Catatan ini hanya fiktif belaka

  • Jika ada kesamaan kisah, hanya kebetulan

  • Hanya sekedar kritik sosial
  • Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...