Saat saya jaga toko belum lama ini, datang supplier barang dagangan di toko saya, bercerita bahwa baru saja terjadi penipuan yang menimpa toko langanannya di Wonosari dan di Yogya.
Berdasarkan ceritanya, seorang laki-laki berpenampilan rapi pura-pura mencari barang yang tidak ada di toko itu. Katakanlah barang itu semacam lem kering merk tertentu yang pedagang belum pernah menjualnya dan baru melihat pertama kali contoh barang yang ditunjukkannnya. Laki-laki itu memberi ancer-ancer harga satu dus seharga 300 ribu rupiah yang berisi 100 pcs lem kecil-kecil. Orang itu berkata butuh barang itu 10-20 dus setiap minggunya. Laki-laki itu mendesak pedagang kalau ada, akan membeli barang itu dan berani memberi uang muka segala.
Tertarik dengan tawaran laki-laki itu, pedagang menyanggupi akan mencarikan barang itu setelah menerima uang muka. Padahal sebenarnya, barang yang dicari, di luar barang yang biasa dijual pedagang. Tapi berhubung ingin mencari sampingan hasil yang lumayan besar, permintaan itu disanggupi.
Beberapa hari setelah laki-laki itu memberi uang muka, datang beberapa orang dengan mobil APV Plat AD yang berlagak sebagai sales menawarkan barang persis seperti yang diminta laki-laki sebelumnya. Tanpa berpikir panjang, pedagang langsung membeli barang 10 dus dengan harga @250 ribu sehingga total 2,5 juta. Dengan asumsi akan untung 50 ribu per dusnya, uang 2,5 juta segera berpindah tangan ke sales gadungan itu.
Dan benar saja, setelah uang berpindah dan barang di tangan, laki-laki yang beberapa hari lalu selalu muncul tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Nomor handphone yang diberikan mendadak tidak bisa dihubungi. Dan lebih tragis lagi setelah melihat barang yang dipesan ternyata bukan lem yang bisa dijual, kemasannya sulit dibuka dan setelah dibuka hanya gumpalan semen yang tidak ada harganya sama sekali. Duh..menyedihkan ya..uang 2,5 juta raib entah kemana.
Sepertinya ini modus penipuan yang baru. Komplotan orang yang kerjasama untuk mencari uang dengan cara yang sangat merugikan. Sedikit lebih cerdik dengan cara yang tidak terduga sebelumnya. Dari laporan yang diterima, toko-toko yang sudah menjadi korban adalah toko besi, toko kelontong, toko onderdil dan tidak menutup kemungkinan di toko apa saja dengan permintaan barang yang berbeda-beda.
Hikmah yang bisa kita petik dari kejadian ini adalah ;
- Jangan mudah tergiur dengan untung yang banyak
- Kalau barang yang ditawarkan adalah barang yang sama sekali tidak kita tahu, lebih baik jangan ambil resiko, mending yang pasti-pasti saja, yang sudah kita ketahui luar dalam
- Jangan mudah tergoda dengan uang muka, bila yakin kita tidak tahu barangnya, lebih baik ditolak saja dengan alasan di luar bidang kemampuan kita
- Senantiasa menganut prinsip, no pain no gain. Tidak ada keuntungan banyak yang bisa kita raih dengan cara yang gampang. Adalah sebanding jika dengan bekerja keras kita akan mendapatkan hasil yang maksimal..
Demikian sekilas info, semoga bermanfaat. Have a nice day ya..!
Tuesday, September 14, 2010
Hati-hati ! Penipuan Berkedok Order Barang
Tuesday, August 24, 2010
Minder Akut
Ada seseorang datang ke gubug Nining. Dari kejauhan, Nining sudah tahu akan ada tamu ke gubugnya. Secepat kilat Nining segera masuk ke dalam gubug dan diam mendekam di dalam kamar. Nining mendengar pintu diketuk, tapi Nining diam saja. Nining juga mendengar suara permisi dari tamu itu tapi tidak bergerak untuk menemuinya. Nining hanya berharap semoga kakaknya mau menemui tamu itu. Dan Nining bisa bernafas lega ketika kakaknya keluar menemui tamu itu.
Nining menyadari, ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya. Ada ketakutan dalam dirinya untuk bertemu dengan orang lain yang datang ke gubugnya. Nining tidak merasa orang itu jahat, hanya Nining tidak merasa nyaman jika harus menampakkan batang hidungnya untuk sekedar memberi minuman ataupun berbasa-basi sejenak. Nining lebih memilih diam di dalam kamar, selama mungkin sampai tamu itu pulang. Tak peduli hingga beberapa jam, selama itu pula Nining mendekam di kamar. Aneh memang, rasa minder Nining sudah sangat parah.
Nining mempunyai perasaan yang takut diabaikan, takut dipandang sebelah mata, takut salah ngomong, takut mengemukakan pendapatnya. Serba salah..ya..Nining merasa semua yang dilakukan serba salah di mata dirinya dan orang lain. Ada suara-suara dalam pikiran Nining yang men-judge “ kamu jelek..kamu miskin..kamu tidak berguna..” menggema berulang-ulang dan seolah-olah kata-kata itu yang dipikirkan oleh orang lain tentang dirinya.
Di sekolah pun, Nining punya rasa takut berlebihan kepada ibu kepala sekolah ataupun guru-guru. Dalam bayangannya, dirinya seolah-olah diawasi sehingga kalau berbuat salah sedikit, nanti pasti akan dimarahi atau dihukum. Padahal, itu semua tidak pernah terjadi di alam nyata, hanya suatu racun yang ada di kepala Nining. Nining iri kepada teman-temannya yang bisa bercanda tawa dengan bapak ibu guru. Nining ingin bisa luwes, tapi semua itu terhalau oleh pikirannya sendiri yang meracuni. Selalu ada kata-kata “ kamu bukan siapa-siapa..kamu anak miskin..kamu tidak pantas..”. Ah..betapa pikiran ini sangat membelenggu Nining.
Nining ingin mengusir rasa malunya yang berlebihan, ingin membuang rasa rendah dirinya, ingin keluar dari krisis identitasnya. Nining merasa tiada guna dengan sifat jeleknya ini. Nining butuh seseorang yang bisa mengerti keadaannya. Nining tidak ingin terus-terusan bersikap tertutup dan hanya diam-diam meratapi kemiskinannya. Nining harus berbuat sesuatu.
Nining selalu merasa nyaman bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Mengandaikan dirinya sedang ngobrol dengan seseorang. Ada dua pribadi dalam dirinya saat itu. Semua yang ada dalam khayalannya dikeluarkan seperti suatu sandiwara. Ya..Nining memang senang berkhayal. Suatu waktu dia pernah berandai-andai menjadi anak orang kaya. Segala yang dia inginkan ada, baju yang bagus, rumah megah, mobil mewah..semuanya terasa sangat nyaman dan membahagiakan. Di lain waktu Nining juga berangan-angan jika dewasa nanti dia menjadi seseorang yang popular, dikenal masyarakat akan karyanya. Karya yang mana Nining belum paham, yang pasti Nining senang bernyanyi, main musik, main drama dan senang menulis. Nining bermimpi salah satu bakatnya bisa berkembang dan menghasilkan sesuatu yang bisa berguna dan dikenal bagi orang lain.
Dalam pergaulan dengan teman yang sudah dikenal, sebenarnya Nining tidak ada masalah. Nining bisa bercanda dan menjadi teman yang asyik bagi teman-temannya. Hanya kepada orang-orang tertentu yang bagi Judith tidak nyaman saja, Nining tidak bisa luwes bergaul. Ada semacam tembok tebal yang menghalangi keduanya. Nining tidak tahu itu apa, semacam ketidakcocokan aura, atau ada kekuatan lain yang saling tolak-menolak. Dan, untuk amannya, Nining lebih suka untuk menghindar. Pura-pura tidak saling kenal dan tidak terlibat dalam percakapan sama sekali. Sungguh aneh tapi nyata..
Nining menyadari, ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya. Ada ketakutan dalam dirinya untuk bertemu dengan orang lain yang datang ke gubugnya. Nining tidak merasa orang itu jahat, hanya Nining tidak merasa nyaman jika harus menampakkan batang hidungnya untuk sekedar memberi minuman ataupun berbasa-basi sejenak. Nining lebih memilih diam di dalam kamar, selama mungkin sampai tamu itu pulang. Tak peduli hingga beberapa jam, selama itu pula Nining mendekam di kamar. Aneh memang, rasa minder Nining sudah sangat parah.
Nining mempunyai perasaan yang takut diabaikan, takut dipandang sebelah mata, takut salah ngomong, takut mengemukakan pendapatnya. Serba salah..ya..Nining merasa semua yang dilakukan serba salah di mata dirinya dan orang lain. Ada suara-suara dalam pikiran Nining yang men-judge “ kamu jelek..kamu miskin..kamu tidak berguna..” menggema berulang-ulang dan seolah-olah kata-kata itu yang dipikirkan oleh orang lain tentang dirinya.
Di sekolah pun, Nining punya rasa takut berlebihan kepada ibu kepala sekolah ataupun guru-guru. Dalam bayangannya, dirinya seolah-olah diawasi sehingga kalau berbuat salah sedikit, nanti pasti akan dimarahi atau dihukum. Padahal, itu semua tidak pernah terjadi di alam nyata, hanya suatu racun yang ada di kepala Nining. Nining iri kepada teman-temannya yang bisa bercanda tawa dengan bapak ibu guru. Nining ingin bisa luwes, tapi semua itu terhalau oleh pikirannya sendiri yang meracuni. Selalu ada kata-kata “ kamu bukan siapa-siapa..kamu anak miskin..kamu tidak pantas..”. Ah..betapa pikiran ini sangat membelenggu Nining.
Nining ingin mengusir rasa malunya yang berlebihan, ingin membuang rasa rendah dirinya, ingin keluar dari krisis identitasnya. Nining merasa tiada guna dengan sifat jeleknya ini. Nining butuh seseorang yang bisa mengerti keadaannya. Nining tidak ingin terus-terusan bersikap tertutup dan hanya diam-diam meratapi kemiskinannya. Nining harus berbuat sesuatu.
Nining selalu merasa nyaman bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Mengandaikan dirinya sedang ngobrol dengan seseorang. Ada dua pribadi dalam dirinya saat itu. Semua yang ada dalam khayalannya dikeluarkan seperti suatu sandiwara. Ya..Nining memang senang berkhayal. Suatu waktu dia pernah berandai-andai menjadi anak orang kaya. Segala yang dia inginkan ada, baju yang bagus, rumah megah, mobil mewah..semuanya terasa sangat nyaman dan membahagiakan. Di lain waktu Nining juga berangan-angan jika dewasa nanti dia menjadi seseorang yang popular, dikenal masyarakat akan karyanya. Karya yang mana Nining belum paham, yang pasti Nining senang bernyanyi, main musik, main drama dan senang menulis. Nining bermimpi salah satu bakatnya bisa berkembang dan menghasilkan sesuatu yang bisa berguna dan dikenal bagi orang lain.
Dalam pergaulan dengan teman yang sudah dikenal, sebenarnya Nining tidak ada masalah. Nining bisa bercanda dan menjadi teman yang asyik bagi teman-temannya. Hanya kepada orang-orang tertentu yang bagi Judith tidak nyaman saja, Nining tidak bisa luwes bergaul. Ada semacam tembok tebal yang menghalangi keduanya. Nining tidak tahu itu apa, semacam ketidakcocokan aura, atau ada kekuatan lain yang saling tolak-menolak. Dan, untuk amannya, Nining lebih suka untuk menghindar. Pura-pura tidak saling kenal dan tidak terlibat dalam percakapan sama sekali. Sungguh aneh tapi nyata..
Monday, August 23, 2010
Tragedi Raport

Gambar dipinjam dari sini
Nining bangun pagi-pagi dan segera mandi. Dikenakannya seragam putih merahnya. Ibunya sedang sibuk memasak di dapur. Entah apa yang sedang dimasaknya, yang pasti perut Nining sudah berontak ingin segera sarapan. Di meja makan yang sudah mulai merapuh itu, Nining menikmati sekepal nasi dan mie rebus instant yang banyak sekali kuahnya. Nining maklum, dalam keadaan serba kekurangan seperti ini tetap harus bersyukur masih bisa sarapan. Satu bungkus mie dimasak dengan air sepanci penuh ditambah garam dan sedikit bumbu supaya cukup untuk dimakan bersama anggota keluarganya yang lain. Sesekali ditambah dengan sayuran yang bisa dipetik di sekitar rumah seperti daun singkong, bayam, kacang panjang, kol atau apa sajalah yang penting tidak membuat mie rebus itu sepi karena minim mie-nya. Paling tidak, sarapan kali ini cukup memberi energi kepada Nining untuk berjalan sampai ke sekolahnya yang cukup jauh jaraknya itu. Kalau tidak salah, jaraknya sekitar 7 km.
Nining menapaki pematang sawah dengan langkah-langkah kaki kurusnya. Hari masih cukup pagi dan udara pagi ini cukup dingin. Kelak, udara sedingin ini bisa terasa panas karena peluh yang mulai keluar membasahi baju seragam Nining satu-satunya itu. Paling tidak, setengah jam perjalanan ditempuh Nining dengan berjalan kaki hingga tiba di sekolahnya. Biasanya kaki Nining mulai menapakkan di gerbang sekolah bertepatan dengan bunyi bel yang berdentang. Tak ada jeda waktu bagi Nining beristirahat barang sejenak menata nafasnya. Gurunya sudah bersiap menuju kelasnya jam tujuh tepat.
“Selamat, pagi bu Guruuu…..,” serentak Nining dan teman-temannya memberi salam kepada ibu Guru. Ritual setiap pagi sebelum memulai pelajaran yang dipimpin aba-aba oleh sang ketua kelas setelah berdoa.
“Selamat pagi, Anak-anak ! Besok adalah hari penerimaan raport kalian, Ibu berpesan bagi yang belum membayar SPP harap segera dilunasi. Sampaikan kepada orang tua kalian !”
Glek. Nining menelan ludah. Sudah dua bulan ini Bapak Nining belum bisa membayar SPP-nya. Kemarin adalah giliran kakaknya yang harus bayar SPP dahulu karena tidak bisa ikut ujian jika belum membayar SPP. Sedangkan di sekolah Nining, siswa boleh ikut ujian sekalipun belum membayar SPP, tapi harus segera dilunasi jika akan penerimaan raport. Nining harap-harap cemas jika ibu Guru menyebut namanya di depan kelas sebagai anak yang belum membayar SPP. Nining bersiap untuk menutup rasa malunya di depan teman-temannya jika itu terjadi. Tapi ternyata, ibu guru hanya menatapnya sekilas dan tidak berkata apa-apa lagi. Cukup sudah. Hff..Nining bernafas lega.
Sampai di gubug, Nining bingung kata apa yang akan disampaikan kepada ayahnya perihal tunggakan SPP-nya. Nining sangat mengerti kondisi keluarganya, dan tidak ingin menambah beban berat orang tuanya sekalipun itu adalah suatu kewajiban. Jangka waktu satu hari jelas tidak mungkin bagi Bapaknya mendapatkan uang sejumlah 2 bulan SPP-nya. Untuk makan sehari-hari saja kesulitan, apalagi untuk yang lain-lain. Nining hanya bisa berharap, semoga akan ada suatu keajaiban yang terjadi
Pagi harinya, Nining pergi ke sekolah berboncengan sepeda dengan Bapak, memenuhi undangan orang tua yang harus hadir saat penerimaan raport. Bapak sudah tahu jika Nining menunggak SPP 2 bulan, oleh karena itu Bapak akan berbicara dengan guru di sekolah Nining untuk minta kelonggaran waktu dalam membayar. Bapak Nining tidak meminta keringanan, tapi hanya minta waktu yang cukup supaya bisa mencari uang untuk membayar SPP Nining.
Para orang tua murid sudah banyak yang berkumpul di aula sekolah. Hari ini adalah penerimaan raport kenaikan kelas yang artinya Nining akan naik ke kelas lima jika tidak tinggal kelas. Selain acara pembagian raport, akan diumumkan pula siapa-siapa yang menjadi juara kelas di kelasnya masing-masing. Para orang tua menjadi saksi keberhasilan putra-putrinya dalam belajar.
Ternyata, Nining menduduki ranking kedua di kelasnya dan sudah tentu naik ke kelas lima. Bapak sangat bangga akan prestasi Nining, namun menjadi sebuah ironi ketika buku raport yang membanggakan itu hanya boleh dilihat oleh Bapak dan Nining di sekolah saja, tidak boleh dibawa pulang sebelum membayar tunggakan SPP. Nining cukup sedih, tapi apa daya, Nining tidak ingin membuat Bapaknya lebih sedih lagi. Cepat-cepat dihapusnya air mata yang hampir berlinangan di pipi jangan sampai sempat terlihat oleh Bapaknya.
Nining menapaki pematang sawah dengan langkah-langkah kaki kurusnya. Hari masih cukup pagi dan udara pagi ini cukup dingin. Kelak, udara sedingin ini bisa terasa panas karena peluh yang mulai keluar membasahi baju seragam Nining satu-satunya itu. Paling tidak, setengah jam perjalanan ditempuh Nining dengan berjalan kaki hingga tiba di sekolahnya. Biasanya kaki Nining mulai menapakkan di gerbang sekolah bertepatan dengan bunyi bel yang berdentang. Tak ada jeda waktu bagi Nining beristirahat barang sejenak menata nafasnya. Gurunya sudah bersiap menuju kelasnya jam tujuh tepat.
“Selamat, pagi bu Guruuu…..,” serentak Nining dan teman-temannya memberi salam kepada ibu Guru. Ritual setiap pagi sebelum memulai pelajaran yang dipimpin aba-aba oleh sang ketua kelas setelah berdoa.
“Selamat pagi, Anak-anak ! Besok adalah hari penerimaan raport kalian, Ibu berpesan bagi yang belum membayar SPP harap segera dilunasi. Sampaikan kepada orang tua kalian !”
Glek. Nining menelan ludah. Sudah dua bulan ini Bapak Nining belum bisa membayar SPP-nya. Kemarin adalah giliran kakaknya yang harus bayar SPP dahulu karena tidak bisa ikut ujian jika belum membayar SPP. Sedangkan di sekolah Nining, siswa boleh ikut ujian sekalipun belum membayar SPP, tapi harus segera dilunasi jika akan penerimaan raport. Nining harap-harap cemas jika ibu Guru menyebut namanya di depan kelas sebagai anak yang belum membayar SPP. Nining bersiap untuk menutup rasa malunya di depan teman-temannya jika itu terjadi. Tapi ternyata, ibu guru hanya menatapnya sekilas dan tidak berkata apa-apa lagi. Cukup sudah. Hff..Nining bernafas lega.
Sampai di gubug, Nining bingung kata apa yang akan disampaikan kepada ayahnya perihal tunggakan SPP-nya. Nining sangat mengerti kondisi keluarganya, dan tidak ingin menambah beban berat orang tuanya sekalipun itu adalah suatu kewajiban. Jangka waktu satu hari jelas tidak mungkin bagi Bapaknya mendapatkan uang sejumlah 2 bulan SPP-nya. Untuk makan sehari-hari saja kesulitan, apalagi untuk yang lain-lain. Nining hanya bisa berharap, semoga akan ada suatu keajaiban yang terjadi
Pagi harinya, Nining pergi ke sekolah berboncengan sepeda dengan Bapak, memenuhi undangan orang tua yang harus hadir saat penerimaan raport. Bapak sudah tahu jika Nining menunggak SPP 2 bulan, oleh karena itu Bapak akan berbicara dengan guru di sekolah Nining untuk minta kelonggaran waktu dalam membayar. Bapak Nining tidak meminta keringanan, tapi hanya minta waktu yang cukup supaya bisa mencari uang untuk membayar SPP Nining.
Para orang tua murid sudah banyak yang berkumpul di aula sekolah. Hari ini adalah penerimaan raport kenaikan kelas yang artinya Nining akan naik ke kelas lima jika tidak tinggal kelas. Selain acara pembagian raport, akan diumumkan pula siapa-siapa yang menjadi juara kelas di kelasnya masing-masing. Para orang tua menjadi saksi keberhasilan putra-putrinya dalam belajar.
Ternyata, Nining menduduki ranking kedua di kelasnya dan sudah tentu naik ke kelas lima. Bapak sangat bangga akan prestasi Nining, namun menjadi sebuah ironi ketika buku raport yang membanggakan itu hanya boleh dilihat oleh Bapak dan Nining di sekolah saja, tidak boleh dibawa pulang sebelum membayar tunggakan SPP. Nining cukup sedih, tapi apa daya, Nining tidak ingin membuat Bapaknya lebih sedih lagi. Cepat-cepat dihapusnya air mata yang hampir berlinangan di pipi jangan sampai sempat terlihat oleh Bapaknya.
Setidaknya, Nining cukup bersyukur tinggal di tengah sawah yang jauh dari para tetangga itu. Hanya keluarga Nining sendiri yang tinggal di tengah sawah ini. Mereka hanya bertegur sapa dengan para petani yang menggarap sawah dari pagi hingga sore hari. Selebihnya, tak ada orang lain yang bisa disebut sebagai tetangga. Kalaupun Nining ingin bermain, bermain sendiri dengan alam saja. Teman-teman sekolahnya sangatlah jauh rumahnya yang dekat dengan sekolahan sana. Tapi ketiadaan tetangga ini sedikit menguntungkan Nining saat kenaikan sekolah begini.
Tidak ada yang bertanya dan ingin melihat raportnya seperti saat Nining tinggal di kampung dulu. Nining tidak tahu harus memberi jawaban yang masuk akal apa jika itu terjadi. Mungkin jika terpaksa, Nining harus berkata jujur apa adanya. Nining naik kelas, ranking kedua, tapi raportnya ditahan di sekolah karena belum bayar SPP. Adakah yang percaya dengan jawaban seperti itu ? Mungkin hanya cemoohan yang diterima, mengira Nining telah berbohong karena tidak bisa menunjukkan bukti. Pasti para tetangga itu mengira Nining nilainya jelek dan malu memperlihatkan raportnya. Ah, manusia..bicara jujur saja masih dianggap bohong
Tuesday, August 17, 2010
Upacara Bendera Yang Memalukan

Setiap merayakan hari kemerdekan Negara tercinta Republik Indonesia, saya selalu terkenang akan masa-masa di bangku sekolah yang rutin melaksanakan upacara bendera setiap hari senin dan hari besar nasional. Tidak dipungkiri, saat menjadi peserta atau petugas pelaksana upacara kala itu, rasa bosan seringkali menyergap karena upacara bendera sudah menjadi agenda rutin yang wajib diikuti seluruh warga sekolah.
Tak jarang terlihat pemandangan usil para siswa yang saling bisik-bisik atau mengobrol selama upacara berlangsung. Posisi berdiri yang seharusnya tegak berubah menjadi posisi santai apalagi jika berada di barisan belakang. Mungkin kalau jaman saya sekolah dulu sudah ada HP, siswa akan sibuk sms-an, facebook-an atau twitter-an saling menuliskan status sedang upacara. Sering terdengar gerutuan siswa karena kepanasan, berharap supaya bapak Pembina tidak berpanjang lebar dalam memberikan amanat-nya.
Saya pernah punya pengalaman cukup memalukan yang berkaitan dengan upacara bendera ini. Saya dan satu teman saya lupa membawa topi, padahal topi merupakan atribut wajib yang harus dipakai untuk upacara. Berasumsi bahwa rumah saya dekat dengan sekolah, saya dan teman inisiatif mengambil topi itu kerumah di menit sepuluh menjelang pukul tujuh pagi, waktu dimulai upacara. Sudah dibela-belain naik motor ngebut, tapi saya tetap terlambat sampai di sekolah, upacara sudah dimulai dan saya serta teman saya kena razia pak Guru. Tanpa ampun saya dan teman saya digiring maju ke tengah lapangan bergabung dengan siswa lain yang bandel tidak memakai atribut dan yang datang terlambat. Aduh..malunya dilihat satu sekolah, mana yang lain laki-laki semua kecuali saya dan teman saya yang tadi ambil topi.
Hukuman tidak berhenti disitu, setelah selesai upacara, saya dan teman ‘bandel’ lainnya digiring masuk ke ruang guru BP untuk diberi pengarahan. Tangis saya tumpah berderai sesudah mendengar wejangan pak guru. Maklum, saat itu saya pengidap cengeng yang cukup akut. Selain itu, saya termasuk siswa yang cukup tertib sebelumnya, jadi teman-teman yang lain cukup heran juga saya bisa dipanggil guru BP seolah-olah saya ini siswa yang suka bikin ulah. Hiks..gara-gara lupa, jadi kacau semuanya..
Terus, pengalaman yang menurut saya cukup berkesan sekaligus memalukan adalah ketika menjadi pemimpin upacara. Haiyaa..saya termasuk pemimpin upacara perempuan pertama di kelas saya kala itu. Hanya bermodal sifat cuek bebek sok pede, saat memberi aba-aba : “ Kepada sang merah putih hooorrrrmmaaaatttt….grrrrraaaaakkkk…..” Pas kata-kata grak, suara saya keseleo menghasilkan suara yang nggak balance dan cukup fals sehingga terdengar aneh dan mngundang tawa tertahan seluruh peserta upacara. Muka saya merah padam tapi demi berlangsungnya upacara yang khidmat, saya tahan rasa malu itu sampai upacara selesai. Wah..
Kalau dingat-ingat sekarang, rasanya ingin kembali mengulang kenangan untuk ikut upacara bendera lagi, merasakan menjadi peserta sekaligus sebagai petugas. Beruntung saya pernah merasakan semua tugas di upacara bendera dari menjadi pemimpin upacara, pemimpin pasukan, pengibar bendera, dirigent, pembaca UUD 1945, pembawa teks Pancasila, sampai pembawa acara / MC sudah saya lakoni semua. Semua ada suka, duka dan resiko. Kalau ada kesalahan, ya paling diketawain dan jadi hiburan semua peserta. Membuat bahagia orang lain kan menyenangkan, ya toh ?
Upacara bendera, mestinya menjadi suatu ritual untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang telah berjuang memerdekakan bangsa. Tanpa jasa beliau-beliau mungkin saat ini kita masih dijajah oleh penjajah dari luar negeri.
Lha sekarang menjadi pertanyaan kita sendiri, kalau kita tidak rela dijajah oleh bangsa lain, apakah sekarang kita rela dijajah oleh bangsa sendiri termasuk diri kita sendiri setelah merdeka ? Lalu kemerdekaan seperti apa yang kita inginkan ? Tentunya ini menjadi bahan renungan kita di Dirgahayu HUT RI ke-65. Merdeka ! ( Semoga..)
Tak jarang terlihat pemandangan usil para siswa yang saling bisik-bisik atau mengobrol selama upacara berlangsung. Posisi berdiri yang seharusnya tegak berubah menjadi posisi santai apalagi jika berada di barisan belakang. Mungkin kalau jaman saya sekolah dulu sudah ada HP, siswa akan sibuk sms-an, facebook-an atau twitter-an saling menuliskan status sedang upacara. Sering terdengar gerutuan siswa karena kepanasan, berharap supaya bapak Pembina tidak berpanjang lebar dalam memberikan amanat-nya.
Saya pernah punya pengalaman cukup memalukan yang berkaitan dengan upacara bendera ini. Saya dan satu teman saya lupa membawa topi, padahal topi merupakan atribut wajib yang harus dipakai untuk upacara. Berasumsi bahwa rumah saya dekat dengan sekolah, saya dan teman inisiatif mengambil topi itu kerumah di menit sepuluh menjelang pukul tujuh pagi, waktu dimulai upacara. Sudah dibela-belain naik motor ngebut, tapi saya tetap terlambat sampai di sekolah, upacara sudah dimulai dan saya serta teman saya kena razia pak Guru. Tanpa ampun saya dan teman saya digiring maju ke tengah lapangan bergabung dengan siswa lain yang bandel tidak memakai atribut dan yang datang terlambat. Aduh..malunya dilihat satu sekolah, mana yang lain laki-laki semua kecuali saya dan teman saya yang tadi ambil topi.
Hukuman tidak berhenti disitu, setelah selesai upacara, saya dan teman ‘bandel’ lainnya digiring masuk ke ruang guru BP untuk diberi pengarahan. Tangis saya tumpah berderai sesudah mendengar wejangan pak guru. Maklum, saat itu saya pengidap cengeng yang cukup akut. Selain itu, saya termasuk siswa yang cukup tertib sebelumnya, jadi teman-teman yang lain cukup heran juga saya bisa dipanggil guru BP seolah-olah saya ini siswa yang suka bikin ulah. Hiks..gara-gara lupa, jadi kacau semuanya..
Terus, pengalaman yang menurut saya cukup berkesan sekaligus memalukan adalah ketika menjadi pemimpin upacara. Haiyaa..saya termasuk pemimpin upacara perempuan pertama di kelas saya kala itu. Hanya bermodal sifat cuek bebek sok pede, saat memberi aba-aba : “ Kepada sang merah putih hooorrrrmmaaaatttt….grrrrraaaaakkkk…..” Pas kata-kata grak, suara saya keseleo menghasilkan suara yang nggak balance dan cukup fals sehingga terdengar aneh dan mngundang tawa tertahan seluruh peserta upacara. Muka saya merah padam tapi demi berlangsungnya upacara yang khidmat, saya tahan rasa malu itu sampai upacara selesai. Wah..
Kalau dingat-ingat sekarang, rasanya ingin kembali mengulang kenangan untuk ikut upacara bendera lagi, merasakan menjadi peserta sekaligus sebagai petugas. Beruntung saya pernah merasakan semua tugas di upacara bendera dari menjadi pemimpin upacara, pemimpin pasukan, pengibar bendera, dirigent, pembaca UUD 1945, pembawa teks Pancasila, sampai pembawa acara / MC sudah saya lakoni semua. Semua ada suka, duka dan resiko. Kalau ada kesalahan, ya paling diketawain dan jadi hiburan semua peserta. Membuat bahagia orang lain kan menyenangkan, ya toh ?
Upacara bendera, mestinya menjadi suatu ritual untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang telah berjuang memerdekakan bangsa. Tanpa jasa beliau-beliau mungkin saat ini kita masih dijajah oleh penjajah dari luar negeri.
Lha sekarang menjadi pertanyaan kita sendiri, kalau kita tidak rela dijajah oleh bangsa lain, apakah sekarang kita rela dijajah oleh bangsa sendiri termasuk diri kita sendiri setelah merdeka ? Lalu kemerdekaan seperti apa yang kita inginkan ? Tentunya ini menjadi bahan renungan kita di Dirgahayu HUT RI ke-65. Merdeka ! ( Semoga..)
Friday, August 13, 2010
Dilema Pramuka

Seperti yang sudah diumumkan oleh Pak Bambang, selaku guru olahraga merangkap sebagai kakak Pembina Pramuka, harusnya hari ini adalah hari pertama Nining dan teman-teman sekolahnya ikut pramuka. Tapi kali ini, Nining lebih memilih berada di rumah saja. Sepulang dari sekolah jam satu tadi, Nining tidak berani keluar dari rumah. Takut kalau-kalau ada temannya yang nyamper untuk ikut Pramuka. Nining melirik jam kecil yang ada di meja yang menunjuk pukul 13.45 WIB, berarti lima belas menit lagi kegiatan Pramuka dimulai di sekolahnya. Nining sibuk menerka kira-kira berapa temannya yang hadir. Ah..mungkin semuanya ikut, kecuali dirinya.
Sebenarnya, Nining sangat gelisah saat ini. Berkali-kali digulingkannya tubuhnya di kasur kapuk yang mulai menipis itu. Sesekali matanya mengintip dari lubang gedeg rumahnya, ingin tahu siapa temannya yang lewat di seberang jalan tak jauh dari gubugnya, berseragam pramuka menuju sekolahnya. Sedikit cemas, Nining berharap semoga teman-temannya tidak menyadari keberadaannya dan berinisiatif menjemputnya ke rumah seperti yang sudah-sudah. Maklum, jarak rumah dan sekolah yang dekat membuat teman sekolah Nining banyak yang suka bermain di sini. Ah..semoga saja tidak ada yang nyamper Nining tiba-tiba.
Sejujurnya, Nining suka dengan kegiatan Pramuka. Belajar tali temali, belajar sandi, bertualang, berkemah, bersahabat dengan alam, belajar disiplin dan bertanggung jawab. Tapi..kenapa harus pakai seragam coklat tua dan coklat muda ? Kenapa tidak warna putih merah saja ? Ah..itu sama artinya Nining harus menodong bapaknya untuk membelikan seragam pramuka, dan sudah pasti Nining tidak bisa langsung mendapatkan jawabannya. Nining sudah sangat paham dengan arti kata menunggu. Dan lagi, Nining tidak mau ini menjadi beban orang tuanya ! Jadi, tidak ikut kegiatan ini sampai nanti seragam itu ada, sementara menjadi tempat teraman bagi Nining.
Dan jika nanti teman-temannya bahkan gurunya bertanya, Nining perlu mempersiapkan jawabannya. Bilang saja ketiduran, beres..what ? Itu artinya Nining sudah berani berbohong, jadi.. ? Entahlah..Nining merasa pusing tiba-tiba. Walau ada sedikit rasa lega di hatinya, ketika melirik jam sudah pukul 14.30 dan tidak ada satupun temannya yang menyamper. Hff..
Benar saja, esok hari saat kaki Nining baru sampai di pintu kelas, beberapa pertanyaan sudah memberondongnya bertubi-tubi. Nining lemas seketika.
“Nining, kenapa kemarin tidak ikut Pramuka ?”
“Kata Pak Bambang, Pramuka ini wajib diikuti, lho..”
“Asyik lho, kemarin diajarin tentang sandi morse..”
“Kemarin juga udah dibentuk regu..”
“Kamu belum dapat kelompok ya.. “
Aduh..ingin rasanya Nining berlari keluar dari kelas dan menutup rapat-rapat telinganya. Mereka semua tidak mengerti, dan tidak akan pernah mengerti. Nining hanya terdiam dan tidak ingin berkata apa-apa. Nining berjuang keras supaya air matanya tidak keluar begitu saja, hal yang biasa terjadi saat dirinya panik. Belum saatnya Nining berterus terang tentang keadaan yang sesungguhnya, dan bukan jalan keluar terbaik pula jika Nining harus terpaksa berbohong. Diam..adalah reaksi teraman, setidaknya untuk saat ini. Dan..teman-teman Nining menangkap sesuatu yang lain dari sikapnya kali ini, seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Dan tentu saja, mereka menjadi penasaran.
******
“Bapak..Nining perlu seragam Pramuka..”
Nining merasa, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membicarakan dengan Bapak-nya. Sudah dua kali Nining tidak ikut kegiatan Pramuka, dan tadi Nining tidak enak ketika Pak Bambang sendiri yang mewajibkan dirinya untuk ikut Pramuka karena akan berpengaruh pada nilai Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Nining bergidik ngeri membayangkan jika nilai PMP-nya jelek dan berakibat tidak naik kelas. Jadi satu-satunya cara, Bapak harus membelikannya seragam Pramuka !
Bapak menatap Nining dalam-dalam. Tampak rona mukanya sedikit murung. Nining sebenarnya tahu dan sangat tahu apa yang ada dalam pikiran Bapak, tapi apa boleh buat..Nining tidak punya cara lain.
“Nanti Bapak usahakan cari, ya..”
Tangan Bapak mengusap rambut Nining pelan. Nining mengangguk dan matanya berkaca-kaca, entah untuk apa. Segara Nining berlalu dari pandangan bapaknya dan menumpahkan air mata di tempat tidurnya. Kamar sederhana yang dibatasi dengan kain penutup sebagai gordyn menjadi tempat terindahnya merajut mimpi. Nining berandai-andai jika saja saat ini ada seseorang yang baik hati memberikannya satu setel seragam Pramuka, maka Nining akan semangat ikut Pramuka tanpa ragu-ragu. Akan diikutinya kegiatan itu dengan suka cita dan penuh riang gembira. Tak ada alasan lagi untuk tidak ikut serta.
*****
“Gimana pak, seragamnya sudah ada ?”
“Aduh, maaf pak..saya sudah hubungi tokonya tapi stoknya masih kosong, pak..mungkin minggu depan jika sudah ada segera dikirim..”
Bapak Nining tampak lemas. Hari ini adalah hari Jumat, hari saat Nining ada kegiatan Pramuka tapi seragam itu belum ada. Bapak sudah mengupayakan ambil kredit di koperasi pabrik tempatnya bekerja sbagai buruh, tapi ternyata tidak bisa secepat yang dikira..maafkan Bapak, Nining..terpaksa kali ini kamu bolos Pramuka lagi..
****
“Nining, kenapa kemarin kamu belum ikut Pramuka juga ? Apa ada masalah ?,” Sita teman terbaik Nining bertanya hati-hati. Seperti biasa, Nining hanya bisa menggeleng.
“Cerita saja, Ning..aku tidak akan cerita pada siapa-siapa..”
“Nggak..nggak papa, Sita..mungkin minggu depan aku baru bisa ikut serta..”
“Hm..ya sudah..tapi bener ya..? Jangan sampai nggak ikut lho..O,ya Nining..aku punya seragam Pramuka kegedean, kamu mau pakai tidak ? Soalnya kemarin itu Papa belikan aku seragam Pramuka kegedean, padahal aku sudah punya 2 setel yang ukurannya pas dari mama..Kalau mau, besok aku bawakan ya..kayaknya pas deh buat kamu, aku kan lebih kecil dari kamu, sayang kalo nggak kepake, buat apa aku punya banyak, ya kan.. ?”
“Wah..sungguh Sita ? Mau..aku mau sekali..”
Mata Nining langsung berbinar bahagia. Sita turut bahagia. Oh..Tuhan..ternyata Engkau mendengar permohonanku..dalam hati Nining bersyukur. Engkau kirimkan orang-orang baik hati laksana malaikat tepat pada waktunya. Kemarin Sumi, sekarang Sita.
*****
Sebenarnya, Nining sangat gelisah saat ini. Berkali-kali digulingkannya tubuhnya di kasur kapuk yang mulai menipis itu. Sesekali matanya mengintip dari lubang gedeg rumahnya, ingin tahu siapa temannya yang lewat di seberang jalan tak jauh dari gubugnya, berseragam pramuka menuju sekolahnya. Sedikit cemas, Nining berharap semoga teman-temannya tidak menyadari keberadaannya dan berinisiatif menjemputnya ke rumah seperti yang sudah-sudah. Maklum, jarak rumah dan sekolah yang dekat membuat teman sekolah Nining banyak yang suka bermain di sini. Ah..semoga saja tidak ada yang nyamper Nining tiba-tiba.
Sejujurnya, Nining suka dengan kegiatan Pramuka. Belajar tali temali, belajar sandi, bertualang, berkemah, bersahabat dengan alam, belajar disiplin dan bertanggung jawab. Tapi..kenapa harus pakai seragam coklat tua dan coklat muda ? Kenapa tidak warna putih merah saja ? Ah..itu sama artinya Nining harus menodong bapaknya untuk membelikan seragam pramuka, dan sudah pasti Nining tidak bisa langsung mendapatkan jawabannya. Nining sudah sangat paham dengan arti kata menunggu. Dan lagi, Nining tidak mau ini menjadi beban orang tuanya ! Jadi, tidak ikut kegiatan ini sampai nanti seragam itu ada, sementara menjadi tempat teraman bagi Nining.
Dan jika nanti teman-temannya bahkan gurunya bertanya, Nining perlu mempersiapkan jawabannya. Bilang saja ketiduran, beres..what ? Itu artinya Nining sudah berani berbohong, jadi.. ? Entahlah..Nining merasa pusing tiba-tiba. Walau ada sedikit rasa lega di hatinya, ketika melirik jam sudah pukul 14.30 dan tidak ada satupun temannya yang menyamper. Hff..
Benar saja, esok hari saat kaki Nining baru sampai di pintu kelas, beberapa pertanyaan sudah memberondongnya bertubi-tubi. Nining lemas seketika.
“Nining, kenapa kemarin tidak ikut Pramuka ?”
“Kata Pak Bambang, Pramuka ini wajib diikuti, lho..”
“Asyik lho, kemarin diajarin tentang sandi morse..”
“Kemarin juga udah dibentuk regu..”
“Kamu belum dapat kelompok ya.. “
Aduh..ingin rasanya Nining berlari keluar dari kelas dan menutup rapat-rapat telinganya. Mereka semua tidak mengerti, dan tidak akan pernah mengerti. Nining hanya terdiam dan tidak ingin berkata apa-apa. Nining berjuang keras supaya air matanya tidak keluar begitu saja, hal yang biasa terjadi saat dirinya panik. Belum saatnya Nining berterus terang tentang keadaan yang sesungguhnya, dan bukan jalan keluar terbaik pula jika Nining harus terpaksa berbohong. Diam..adalah reaksi teraman, setidaknya untuk saat ini. Dan..teman-teman Nining menangkap sesuatu yang lain dari sikapnya kali ini, seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Dan tentu saja, mereka menjadi penasaran.
******
“Bapak..Nining perlu seragam Pramuka..”
Nining merasa, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membicarakan dengan Bapak-nya. Sudah dua kali Nining tidak ikut kegiatan Pramuka, dan tadi Nining tidak enak ketika Pak Bambang sendiri yang mewajibkan dirinya untuk ikut Pramuka karena akan berpengaruh pada nilai Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Nining bergidik ngeri membayangkan jika nilai PMP-nya jelek dan berakibat tidak naik kelas. Jadi satu-satunya cara, Bapak harus membelikannya seragam Pramuka !
Bapak menatap Nining dalam-dalam. Tampak rona mukanya sedikit murung. Nining sebenarnya tahu dan sangat tahu apa yang ada dalam pikiran Bapak, tapi apa boleh buat..Nining tidak punya cara lain.
“Nanti Bapak usahakan cari, ya..”
Tangan Bapak mengusap rambut Nining pelan. Nining mengangguk dan matanya berkaca-kaca, entah untuk apa. Segara Nining berlalu dari pandangan bapaknya dan menumpahkan air mata di tempat tidurnya. Kamar sederhana yang dibatasi dengan kain penutup sebagai gordyn menjadi tempat terindahnya merajut mimpi. Nining berandai-andai jika saja saat ini ada seseorang yang baik hati memberikannya satu setel seragam Pramuka, maka Nining akan semangat ikut Pramuka tanpa ragu-ragu. Akan diikutinya kegiatan itu dengan suka cita dan penuh riang gembira. Tak ada alasan lagi untuk tidak ikut serta.
*****
“Gimana pak, seragamnya sudah ada ?”
“Aduh, maaf pak..saya sudah hubungi tokonya tapi stoknya masih kosong, pak..mungkin minggu depan jika sudah ada segera dikirim..”
Bapak Nining tampak lemas. Hari ini adalah hari Jumat, hari saat Nining ada kegiatan Pramuka tapi seragam itu belum ada. Bapak sudah mengupayakan ambil kredit di koperasi pabrik tempatnya bekerja sbagai buruh, tapi ternyata tidak bisa secepat yang dikira..maafkan Bapak, Nining..terpaksa kali ini kamu bolos Pramuka lagi..
****
“Nining, kenapa kemarin kamu belum ikut Pramuka juga ? Apa ada masalah ?,” Sita teman terbaik Nining bertanya hati-hati. Seperti biasa, Nining hanya bisa menggeleng.
“Cerita saja, Ning..aku tidak akan cerita pada siapa-siapa..”
“Nggak..nggak papa, Sita..mungkin minggu depan aku baru bisa ikut serta..”
“Hm..ya sudah..tapi bener ya..? Jangan sampai nggak ikut lho..O,ya Nining..aku punya seragam Pramuka kegedean, kamu mau pakai tidak ? Soalnya kemarin itu Papa belikan aku seragam Pramuka kegedean, padahal aku sudah punya 2 setel yang ukurannya pas dari mama..Kalau mau, besok aku bawakan ya..kayaknya pas deh buat kamu, aku kan lebih kecil dari kamu, sayang kalo nggak kepake, buat apa aku punya banyak, ya kan.. ?”
“Wah..sungguh Sita ? Mau..aku mau sekali..”
Mata Nining langsung berbinar bahagia. Sita turut bahagia. Oh..Tuhan..ternyata Engkau mendengar permohonanku..dalam hati Nining bersyukur. Engkau kirimkan orang-orang baik hati laksana malaikat tepat pada waktunya. Kemarin Sumi, sekarang Sita.
*****
Baru kali ini Nining merasakan hari Jumat adalah hari yang paling bahagia sedunia. Usai sudah kegelisahan sebelumnya setiap hari Jumat tiba. Nining bisa berdiri tegak diantara barisan murid-murid yang berseragam coklat lengkap dengan hasduk itu. Nining tampak bangga mengenakannya. Tiada lagi wajah murungnya.
Dan yang lebih membahagiakan Nining, ternyata seragam Pramukanya menjadi 2 pasang. Satu dari Sita, satu lagi dari Bapaknya hasil kredit di koperasi pabrik. Sebenarnya Nining ingin berkata kepada Bapaknya untuk membatalkan kreditannya di koperasi, tapi ternyata seragam itu telah tiba bersamaan dengan seragam Pramuka dari Sita. Ya..apa boleh buat. Semuanya tiada pernah Nining kira. Dan Bapak berjanji akan melunasi kredit seragam itu dengan segenap tanggung jawabnya. Ah..Nining iba sekaligus terharu dengan Bapak.
Gambar dipinjam dari sini
Tuesday, August 03, 2010
Chatting Dengan Tuhan

Bagi saya, Tuhan itu nyata tapi tidak bisa diraba dan kasat mata. Tuhan bisa dirasakan dalam berbagai rupa menurut versi saya. Kali ini, saya berkhayal, Tuhan menjelma sebagai sahabat karib saya yang bisa diajak bercengkrama dalam khayalan. Berikut chatting saya dengan Tuhan dalam imaji saya yang terinspirasi setelah membaca Kumpulan Cerita Mutiara Hati.
Saya : Allow..Tuhan..lagi sibuk ya ?
Tuhan : Sibuk tapi asyik kok..
Saya : Gimana kabarnya ?
Tuhan : Selalu baik..
Saya : Doa saya sudah sampai belum Tuhan, kok belum ada jawaban ya..
Tuhan : Lagi diproses..sabar ya..
Saya : Berapa lama lagi Tuhan, saya sudah nggak sabar nih..
Tuhan : Hm..antri dong, yang berdoa itu banyak, bukan cuma kamu, lagian yang nadanya mirip-mirip doamu juga banyak. Akan kuprioritaskan mana yang lebih urgent..
Saya : Saya juga urgent lho Tuhan..
Tuhan : Masih banyak yang lebih urgent dari kamu..
Saya : Ya..berarti masih lama banget ya..itu berlaku untuk seluruh dunia kan Tuhan ?
Tuhan : Ya iya lah..berlaku untuk semua makhluk ciptaanku..
Saya : Yah..capek saya harus menunggu dalam ketidakpastian..
Tuhan : Lebih capek mana sama Aku yang stand by 24 jam, hayo..? Tapi kamu tidak pernah mendengar keluh kesahku kan ?
Saya tersipu. Malu dengan sifat saya yang mudah mengeluh dan uring-uringan nggak jelas.
Saya : Tuhan, apakah dosa saya banyak Tuhan ?
Tuhan : Menurut kamu bagaimana ?
Saya : Kadang-kadang saya merasa tidak punya dosa tuh..
Tuhan : Hm..dosa berat itu termasuk ketika seseorang merasa bahwa dirinya tidak berdosa..
Saya tertunduk. Betapa sombongnya saya selama ini.
Tuhan : Ketika orang mati, diberi beban 100 kg menindih tubuhnya, apakah dia merasa berat ?
Saya : Tidak Tuhan, orang mati tidak akan merasakan beban seberat apapun..
Tuhan : Semoga kamu tidak seperti orang mati…
Saya terhenyak. Ya Tuhan..ampuni segala dosa-dosa saya selama ini..hidupkan kembali jiwa saya yang telah lama mati..
Saya : Allow..Tuhan..lagi sibuk ya ?
Tuhan : Sibuk tapi asyik kok..
Saya : Gimana kabarnya ?
Tuhan : Selalu baik..
Saya : Doa saya sudah sampai belum Tuhan, kok belum ada jawaban ya..
Tuhan : Lagi diproses..sabar ya..
Saya : Berapa lama lagi Tuhan, saya sudah nggak sabar nih..
Tuhan : Hm..antri dong, yang berdoa itu banyak, bukan cuma kamu, lagian yang nadanya mirip-mirip doamu juga banyak. Akan kuprioritaskan mana yang lebih urgent..
Saya : Saya juga urgent lho Tuhan..
Tuhan : Masih banyak yang lebih urgent dari kamu..
Saya : Ya..berarti masih lama banget ya..itu berlaku untuk seluruh dunia kan Tuhan ?
Tuhan : Ya iya lah..berlaku untuk semua makhluk ciptaanku..
Saya : Yah..capek saya harus menunggu dalam ketidakpastian..
Tuhan : Lebih capek mana sama Aku yang stand by 24 jam, hayo..? Tapi kamu tidak pernah mendengar keluh kesahku kan ?
Saya tersipu. Malu dengan sifat saya yang mudah mengeluh dan uring-uringan nggak jelas.
Saya : Tuhan, apakah dosa saya banyak Tuhan ?
Tuhan : Menurut kamu bagaimana ?
Saya : Kadang-kadang saya merasa tidak punya dosa tuh..
Tuhan : Hm..dosa berat itu termasuk ketika seseorang merasa bahwa dirinya tidak berdosa..
Saya tertunduk. Betapa sombongnya saya selama ini.
Tuhan : Ketika orang mati, diberi beban 100 kg menindih tubuhnya, apakah dia merasa berat ?
Saya : Tidak Tuhan, orang mati tidak akan merasakan beban seberat apapun..
Tuhan : Semoga kamu tidak seperti orang mati…
Saya terhenyak. Ya Tuhan..ampuni segala dosa-dosa saya selama ini..hidupkan kembali jiwa saya yang telah lama mati..
Gambar dipinjam dari sini
Saturday, July 31, 2010
Penculikan yang Meresahkan
Akhir-akhir ini masyarakat Gunung Kidul diresahkan dengan adanya penculikan anak maupun orang dewasa untuk diambil organ tubuhnya yang penting seperti mata, jantung, ginjal dan lainnya untuk dijual. Sungguh, peristiwa ini benar-benar membuat sport jantung siapa saja.
Organ tubuh yang diambil dari manusia normal bisa dijual dengan harga miliaran rupiah. Karena latar belakang ekonomi inilah, orang bisa nekad melakukan perbuatan illegal yang sangat terkutuk itu.
Dari berbagai kabar yang dihimpun, di daerah Semin telah terculik seorang anak SMA laki-laki yang diambil bola mata dan jantungnya, kemudian mayat anak tersebut dikembalikan oleh para penculik biadab itu.
Modus operandi penculikan ini dengan cara berkeliling dengan mobil box berkaca hitam, plat nomor tidak ada, biasanya tiga orang. Tempat yang biasa menjadi target mencari mangsa adalah sekolah, jalan setapak yang sepi bahkan di alas atau ladang tempat petani mencari nafkah. Tak dipungkiri, situasi geografis Gunung Kidul yang masih alami, luas dan sepi justru menjadi lahan subur bagi para penculik ini.
Baru-baru ini, di ladang tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada ibu-ibu yang akan diculik oleh 3 orang tidak dikenal. Mobil box diparkir tidak jauh dari lokasi kejadian, 2 orang menunggu di mobil, satu orang memaksa korban untuk ikut dengan cara dipaksa dan dibekap mulutnya. Sebelumnya, korban bertanya orang itu mau apa, dijawab mau mencari burung. Korban curiga karena tidak dilihat alat-alat untuk berburu burung. Secepatnya korban kabur dan berteriak-teriak sebelum ketiga orang itu memaksanya. Karena panik, tiga orang itu lari dan kabur melarikan mobilnya.
Sebelumnya, anak SD juga menjadi target penculikan dengan modus operandi yang sama. Seorang anak yang sedang berjalan dengan temannya di jalan setapak yang sepi, langsung ditarik oleh seorang laki-laki dan dibawa masuk ke mobil box. Temannya berteriak-teriak dan beruntung, sang bocah yang tertangkap bisa kabur setelah menendang pintu mobil.
Banyak sekali kejadian yang nyaris terjadi penculikan. Semestinya kita harus lebih waspada, dan tolong pak Polisi mohon diperketat pengamanan karena kejadian ini sudah sangat meresahkan. Jangan tunggu sampai banyak korban tapi mencegah lebih baik. Dan tentunya, tidak di Gunung Kidul saja, penculikan bisa terjadi dimana-mana dengan berbagai modus operandi yang berbeda pula. Jadi, waspadalah !
Organ tubuh yang diambil dari manusia normal bisa dijual dengan harga miliaran rupiah. Karena latar belakang ekonomi inilah, orang bisa nekad melakukan perbuatan illegal yang sangat terkutuk itu.
Dari berbagai kabar yang dihimpun, di daerah Semin telah terculik seorang anak SMA laki-laki yang diambil bola mata dan jantungnya, kemudian mayat anak tersebut dikembalikan oleh para penculik biadab itu.
Modus operandi penculikan ini dengan cara berkeliling dengan mobil box berkaca hitam, plat nomor tidak ada, biasanya tiga orang. Tempat yang biasa menjadi target mencari mangsa adalah sekolah, jalan setapak yang sepi bahkan di alas atau ladang tempat petani mencari nafkah. Tak dipungkiri, situasi geografis Gunung Kidul yang masih alami, luas dan sepi justru menjadi lahan subur bagi para penculik ini.
Baru-baru ini, di ladang tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada ibu-ibu yang akan diculik oleh 3 orang tidak dikenal. Mobil box diparkir tidak jauh dari lokasi kejadian, 2 orang menunggu di mobil, satu orang memaksa korban untuk ikut dengan cara dipaksa dan dibekap mulutnya. Sebelumnya, korban bertanya orang itu mau apa, dijawab mau mencari burung. Korban curiga karena tidak dilihat alat-alat untuk berburu burung. Secepatnya korban kabur dan berteriak-teriak sebelum ketiga orang itu memaksanya. Karena panik, tiga orang itu lari dan kabur melarikan mobilnya.
Sebelumnya, anak SD juga menjadi target penculikan dengan modus operandi yang sama. Seorang anak yang sedang berjalan dengan temannya di jalan setapak yang sepi, langsung ditarik oleh seorang laki-laki dan dibawa masuk ke mobil box. Temannya berteriak-teriak dan beruntung, sang bocah yang tertangkap bisa kabur setelah menendang pintu mobil.
Banyak sekali kejadian yang nyaris terjadi penculikan. Semestinya kita harus lebih waspada, dan tolong pak Polisi mohon diperketat pengamanan karena kejadian ini sudah sangat meresahkan. Jangan tunggu sampai banyak korban tapi mencegah lebih baik. Dan tentunya, tidak di Gunung Kidul saja, penculikan bisa terjadi dimana-mana dengan berbagai modus operandi yang berbeda pula. Jadi, waspadalah !
Friday, July 30, 2010
Fenomena Kerokan

Entah mengapa, setiap kali tubuh saya menunjukkan gejala tidak enak badan seperti akan jatuh sakit karena masuk angin, saya punya kebiasaan mengerok leher saya dengan uang logam gopek dan balsam. Biasanya, bekas kerokan menghasilkan warna merah sampai merah kehitaman. Semakin menghitam warna kerokannya dan kulit tidak terasa sakit saat dikerok, maka tingkat masuk anginnya mendekati parah.
Saya terbiasa melakukan ritual ini saat badan pegal-pegal karena kecapekan. Saya balur bagian leher, dada, perut dan punggung dengan obat gosok atau balsam. Rasa mint balsam yang semriwing sedikit meredakan badan saya yang tadinya berasa tidak karuan. Jika kerokan di leher dirasa kurang, saya akan mengerok bagian atas pundak saya sambil memijat-mijat sendiri bagian tubuh yang mrengkel dan tak ketinggalan pula memijat jari tangan dan kaki seperti pijat refleksi.
Saat tidak sehat, jari-jari saya terasa sakit saat dipijat. Jika saya tidak sanggup melakukannya sendiri, biasanya saya minta bantuan tetangga yang bisa mengerok leher dan punggung serta memijat seluruh tubuh saya dengan tarif yang telah disepakati bersama. Ajaib, biasanya tanpa menunggu waktu lama badan saya segar kembali dan tidak jadi sakit tanpa harus ke dokter atau minum obat.
Saya tidak tahu pasti penyebab kesembuhan berkat kerokan itu, apakah sekedar sugesti saja atau memang kerokan ini sangat mujarab. Sepertinya, dengan dikerok, otot-otot yang tadinya kaku menjadi lemas kembali, peredaran darah menjadi lancar kembali, dan warna merah yang ditimbulkan seperti menjadi bukti bahwa angin yang masuk berhasil dikeluarkan seiring dengan timbulnya sendawa. Uh..lega banget rasanya..
Kesembuhan saya semakin sempurna setelah makan satu mangkok soto daging dengan sambal yang pedas dan minuman jeruk panas satu gelas. Begitu keringat keluar, langsung segar bugar..hehe..
Di desa tempat saya tinggal, kerokan sudah menjadi solusi saat badan dilanda masuk angin. Tidak tua tidak muda, semuanya sudah terbiasa kerokan. Sepertinya tradisi kerokan ini sudah turun temurun dari nenek moyang. Bukan hal yang aneh jika leher atau punggungnya merah-merah karena kerokan, dan pemandangan kerok mengerok di bawah pohon nan rindang sudah biasa terlihat.
Biasanya, orang yang dikerok bertelanjang dada dan bagian depannya ditutup dengan kain atau apa saja yang bisa untuk menutupi bagian depan. Si pengerok berkonsentrasi mengerok punggung yang sakit dengan dua garis sejajar arah vertical di sepanjang tulang punggung, dan garis horizontal sepanjang tulang rusuk di kanan kiri punggung dari atas di ujung bahu hingga ke bawah di pangkal pinggang dengan jarak antar garis kerokan sekitar 2 centimeter. Yang sudah mahir mengerok, biasanya kerokannya tidak sakit dan motif kerokan yang dihasilkan bisa lurus rapi, enak dilihat.
Bayi atau anak kecil yang sakit pun tak luput dari kerokan jika masuk angin. Tapi bukan uang logam yang digunakan untuk mengerok, biasanya dengan bawang merah sebagai pengganti uang logam dengan minyak telon atau minyak kayu putih sebagai pengganti balsam. Warna kerokan yang dihasilkan juga merah lho..saya sudah mencoba pada anak saya. Dan puji Tuhan, anak saya tidak jadi sakit setelah dikerok.
Menjadi pertanyaan saya, sebenarnya apakah masuk angin itu ? Apakah benar angin bisa menyebabkan sakit ? Lalu, bagaimana sebenarnya metode kerja kerokan itu ? Apakah ada kerugian, bahaya atau efek samping dari kerokan itu sendiri ? Sejauh ini sih, saya merasa aman-aman saja dengan kerokan, bahkan bisa bablas angine..hehe..
Di bawah ini ada beberapa kutipan tentang kerokan yang saya ambil melalui bantuan Google, semoga bisa memberi manfaat.
Dalam perspektif Kesehatan menurut dr. Prasanthi yang bersumber pada http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/012007/14/geulis/lainnya.htm kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai cara "mengeluarkan angin". Padahal, angin atau udara tak pernah keluar lewat pori-pori, melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan."Meskipun istilah masuk angin tidak terdaftar dalam kamus medis, namun ia merupakan penyakit umum. Gejalanya, antara lain meriang, kepala pening, leher dan persendian pegal-pegal.Sementara, kerokan yang menggunakan minyak kelapa plus balsam dengan perangkat sekeping uang logam, merupakan salah satu cara untuk menghangatkan bagian tubuh yang dikerok. Ketika orang masuk angin, atau istilah kedokterannya commond cold suhu tubuh bagian belakang turun. Gejala ini terjadi akibat kekurangan energi panas. Kerokan dipercaya bisa menetralisasi suhu tubuh di bagian itu.Tapi, dari sisi kesehatan, amankah cara ini?ISTILAH masuk angin, sebenarnya tidak berarti bahwa angin benar-benar masuk ke dalam tubuh. Sesungguhnya, tiupan angin menyebabkan suhu tubuh menurun. Karena bagian belakang terkena angin, temperatur tubuh turun. Lalu, muncul gejala masuk angin seperti pusing, meriang, atau pegal-pegal tadi.Peristiwa ini berbeda dengan pengaruh hawa dingin yang mengenai seluruh tubuh, baik bagian belakang maupun depan. Jadi, saat suhu udara turun, temperatur seluruh badan ikut turun. Sementara, paparan angin umumnya cuma mengenai salah satu sisi badan sehingga bagian itu saja yang turun suhunya. Wajar kalau orang lantas menyebutnya masuk angin.Masuk angin akut lebih mudah dikenali karena biasanya berujung pada gejala flu seperti bersin-bersin dan pilek. Bila masuk angin tidak disadari dan berlangsung terus-menerus, bisa menimbulkan rasa sakit kronis. Paling sering terjadi adalah nyeri leher dan pundak gara-gara AC.Masuk angin juga bisa menyebabkan perut kembung karena di bagian belakang tubuh terdapat titik-titik syaraf yang berhubungan dengan organ bagian dalam. Jika titik-titik itu kena rangsangan, organ dalam ikut terkena.
Kerokan merupakan salah satu usaha untuk menyeimbangkan suhu tubuh. Guna menjelaskan pola keseimbangan itu, ada konsep dasar pengobatan Cina yang membagi tubuh jadi bagian tubuh panas (disebut yang) dan bagian tubuh dingin (yin).Bagian yang meliputi kepala serta tubuh bagian belakang. Sementara yin terdapat pada tubuh bagian depan. Menurut konsep yin yang, orang terbilang sehat bila yin dan yang-nya dalam keadaan seimbang. Kalau tidak seimbang, akibatnya ya sakit. Yang terlalu tinggi, yin rendah, ya sakit juga.
Dalam hal masuk angin, penurunan suhu tubuh menyebabkan pembuluh darah di kulit tubuh bagian belakang mengalami penyempitan (konstriksi). Pembuluh darah kulit yang mengalami konstriksi memberi reaksi dingin. Konstriksi itu merupakan efek kompensasi. Saat suhu tubuh bagian belakang menurun, otomatis pembuluh darah kulit berkonstriksi agar seluruh tubuh tidak dingin.Konstriksi itu bisa mengakibatkan oksigenasi pada permukaan tubuh (terutama bagian belakang) jadi turun atau berkurang, sekujur badan terasa sakit. Selanjutnya, muncul gejala bersin. Nah, tindakan kerokan bisa mengubah suhu tubuh jadi seimbang kembali.DASAR pengobatan tradisional bersumber pada penyeimbangan empat pola penyakit yakni kuat, lemah, panas, dan dingin. Prinsip penyembuhannya adalah mengembalikan energi tubuh ke posisi seimbang. Kalau terlalu kuat dilemahkan, yang lemah dikuatkan, kelewat panas didinginkan, terlalu dingin dipanaskan. Sehat itu adalah kondisi energi yang seimbang.
Demikian pula yang terjadi pada masuk angin. Guna menyembuhkannya, tubuh harus mengembalikan keseimbangan yang dan yin, salah satu caranya dengan menaikkan suhu lewat kerokan. Mengurangi yin, memang bisa jadi seimbang, namun tidak berada pada posisi normal.
Upaya peningkatan suhu di bagian belakang tubuh bisa berpedoman pada hukum Einstein (E=mC2). Energi atau panas dihasilkan dari gesekan dua benda. Kalau permukaan kulit dikerok, suhu tubuh pun akan meningkat. Panas yang cukup tinggi berefek melebarkan pembuluh darah dalam kulit. Otomatis, peredaran darah jadi lancar dan oksigenasi lebih baik sehingga rasa sakit di tubuh berkurang. Ujung-ujungnya, timbul pula reaksi otonomik (sistem parasimpatik). Saraf otonom pada bagian belakang tubuh jadi seimbang.Jadi, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai cara "mengeluarkan angin". Padahal, angin atau udara tak pernah keluar lewat pori-pori melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan.
Masuk angin gara-gara gempuran angin dingin AC tak perlu diobati. Cukup berpindah posisi atau mematikan AC, pegalnya akan sembuh. Sedangkan masuk angin kronis tidak sekadar di bawah kulit, tapi sudah sampai ke dalam otot. Jadi, perlu pemanasan dalam sampai kedalaman 3-4 cm di bawah kulit, dan itu tak mungkin dicapai dengan kerokan.Cara kerokan paling efektif adalah "menggarap" daerah belakang tubuh, kepala atau leher. Pola umum kerokan biasanya membentuk garis-garis lurus dari atas ke bawah dan miring di sisi kiri kanan ruas-ruang tulang belakang ataupun pada leher bagian belakang. Itu bukannya tanpa alasan. Pada tubuh kita terdapat sekira 360 titik akupunktur utama yang berhubungan dengan organ penting. Begitu pun pada tubuh bagian belakang, terdapat titik-titik yang berhubungan dengan organ dalam tubuh (organ viscera).
Dengan pola kerokan yang benar, yakni ditarik lurus ke bawah di sisi kiri kanan ruas tulang belakang, kemudian digeser condong ke arah kiri dan kanan, reaksi optimal dapat dicapai. Gosokan-gosokan itu mungkin secara tidak sengaja menekan titik-titik akupunktur tertentu di tubuh bagian belakang.
Namun, perlu dipertimbangkan bahwa tiap orang memiliki kepekaan kulit dan daya tahan terhadap rasa sakit yang berbeda-beda, ada yang terbiasa dikerok sedikit, tapi tak jarang ada yang suka dikerok dalam-dalam sampai merah padam. Sebenarnya, tak ada aturan hasil kerokan harus sampai merah darah.
Sampai saat ini belum ditemukan efek samping kerokan. Yang jelas, cara ini bisa menimbulkan ketagihan. Kalau jaringan kulit dikerok, akan timbul reaksi jaringan. Bisa reaksi lokal, atau yang bersifat neural (saraf). Reaksi lokal terlihat langsung, misalnya warna merahnya kulit. Kerokan dengan intensitas kuat dan frekuensi rendah mengenai titik-titik saraf yang berhubungan dengan otak sehingga organ ini menyekresikan hormon endomorfin (B-endorfin, dinorfin, dan enkepalin).B-endorfin menimbulkan rasa nyaman karena ia berfungsi mengendalikan rasa nyeri. Adanya zat-zat itu dalam darah menyebabkan penderita merasa lebih bugar. B-endorfin juga merangsang organ viscera, terutama paru-paru dan jantung, sehingga penderita bisa bernapas lebih lega, serta peredaran darahnya jadi lebih baik.
Kemungkinan, penyebab ketagihan pada kerokan adalah zat morfin (endorfin). Padahal, tujuan tubuh mengeluarkan zat morfin hanya untuk reaksi lokal. Karena kebiasaan, penderita pun jadi ketagihan. Nah, masih ingin bertahan dengan cara tradisional ini? Kalau begitu, kerok saja! (dr. Prasanthi)***
Saya terbiasa melakukan ritual ini saat badan pegal-pegal karena kecapekan. Saya balur bagian leher, dada, perut dan punggung dengan obat gosok atau balsam. Rasa mint balsam yang semriwing sedikit meredakan badan saya yang tadinya berasa tidak karuan. Jika kerokan di leher dirasa kurang, saya akan mengerok bagian atas pundak saya sambil memijat-mijat sendiri bagian tubuh yang mrengkel dan tak ketinggalan pula memijat jari tangan dan kaki seperti pijat refleksi.
Saat tidak sehat, jari-jari saya terasa sakit saat dipijat. Jika saya tidak sanggup melakukannya sendiri, biasanya saya minta bantuan tetangga yang bisa mengerok leher dan punggung serta memijat seluruh tubuh saya dengan tarif yang telah disepakati bersama. Ajaib, biasanya tanpa menunggu waktu lama badan saya segar kembali dan tidak jadi sakit tanpa harus ke dokter atau minum obat.
Saya tidak tahu pasti penyebab kesembuhan berkat kerokan itu, apakah sekedar sugesti saja atau memang kerokan ini sangat mujarab. Sepertinya, dengan dikerok, otot-otot yang tadinya kaku menjadi lemas kembali, peredaran darah menjadi lancar kembali, dan warna merah yang ditimbulkan seperti menjadi bukti bahwa angin yang masuk berhasil dikeluarkan seiring dengan timbulnya sendawa. Uh..lega banget rasanya..
Kesembuhan saya semakin sempurna setelah makan satu mangkok soto daging dengan sambal yang pedas dan minuman jeruk panas satu gelas. Begitu keringat keluar, langsung segar bugar..hehe..
Di desa tempat saya tinggal, kerokan sudah menjadi solusi saat badan dilanda masuk angin. Tidak tua tidak muda, semuanya sudah terbiasa kerokan. Sepertinya tradisi kerokan ini sudah turun temurun dari nenek moyang. Bukan hal yang aneh jika leher atau punggungnya merah-merah karena kerokan, dan pemandangan kerok mengerok di bawah pohon nan rindang sudah biasa terlihat.
Biasanya, orang yang dikerok bertelanjang dada dan bagian depannya ditutup dengan kain atau apa saja yang bisa untuk menutupi bagian depan. Si pengerok berkonsentrasi mengerok punggung yang sakit dengan dua garis sejajar arah vertical di sepanjang tulang punggung, dan garis horizontal sepanjang tulang rusuk di kanan kiri punggung dari atas di ujung bahu hingga ke bawah di pangkal pinggang dengan jarak antar garis kerokan sekitar 2 centimeter. Yang sudah mahir mengerok, biasanya kerokannya tidak sakit dan motif kerokan yang dihasilkan bisa lurus rapi, enak dilihat.
Bayi atau anak kecil yang sakit pun tak luput dari kerokan jika masuk angin. Tapi bukan uang logam yang digunakan untuk mengerok, biasanya dengan bawang merah sebagai pengganti uang logam dengan minyak telon atau minyak kayu putih sebagai pengganti balsam. Warna kerokan yang dihasilkan juga merah lho..saya sudah mencoba pada anak saya. Dan puji Tuhan, anak saya tidak jadi sakit setelah dikerok.
Menjadi pertanyaan saya, sebenarnya apakah masuk angin itu ? Apakah benar angin bisa menyebabkan sakit ? Lalu, bagaimana sebenarnya metode kerja kerokan itu ? Apakah ada kerugian, bahaya atau efek samping dari kerokan itu sendiri ? Sejauh ini sih, saya merasa aman-aman saja dengan kerokan, bahkan bisa bablas angine..hehe..
Di bawah ini ada beberapa kutipan tentang kerokan yang saya ambil melalui bantuan Google, semoga bisa memberi manfaat.
Dalam perspektif Kesehatan menurut dr. Prasanthi yang bersumber pada http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/012007/14/geulis/lainnya.htm kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai cara "mengeluarkan angin". Padahal, angin atau udara tak pernah keluar lewat pori-pori, melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan."Meskipun istilah masuk angin tidak terdaftar dalam kamus medis, namun ia merupakan penyakit umum. Gejalanya, antara lain meriang, kepala pening, leher dan persendian pegal-pegal.Sementara, kerokan yang menggunakan minyak kelapa plus balsam dengan perangkat sekeping uang logam, merupakan salah satu cara untuk menghangatkan bagian tubuh yang dikerok. Ketika orang masuk angin, atau istilah kedokterannya commond cold suhu tubuh bagian belakang turun. Gejala ini terjadi akibat kekurangan energi panas. Kerokan dipercaya bisa menetralisasi suhu tubuh di bagian itu.Tapi, dari sisi kesehatan, amankah cara ini?ISTILAH masuk angin, sebenarnya tidak berarti bahwa angin benar-benar masuk ke dalam tubuh. Sesungguhnya, tiupan angin menyebabkan suhu tubuh menurun. Karena bagian belakang terkena angin, temperatur tubuh turun. Lalu, muncul gejala masuk angin seperti pusing, meriang, atau pegal-pegal tadi.Peristiwa ini berbeda dengan pengaruh hawa dingin yang mengenai seluruh tubuh, baik bagian belakang maupun depan. Jadi, saat suhu udara turun, temperatur seluruh badan ikut turun. Sementara, paparan angin umumnya cuma mengenai salah satu sisi badan sehingga bagian itu saja yang turun suhunya. Wajar kalau orang lantas menyebutnya masuk angin.Masuk angin akut lebih mudah dikenali karena biasanya berujung pada gejala flu seperti bersin-bersin dan pilek. Bila masuk angin tidak disadari dan berlangsung terus-menerus, bisa menimbulkan rasa sakit kronis. Paling sering terjadi adalah nyeri leher dan pundak gara-gara AC.Masuk angin juga bisa menyebabkan perut kembung karena di bagian belakang tubuh terdapat titik-titik syaraf yang berhubungan dengan organ bagian dalam. Jika titik-titik itu kena rangsangan, organ dalam ikut terkena.
Kerokan merupakan salah satu usaha untuk menyeimbangkan suhu tubuh. Guna menjelaskan pola keseimbangan itu, ada konsep dasar pengobatan Cina yang membagi tubuh jadi bagian tubuh panas (disebut yang) dan bagian tubuh dingin (yin).Bagian yang meliputi kepala serta tubuh bagian belakang. Sementara yin terdapat pada tubuh bagian depan. Menurut konsep yin yang, orang terbilang sehat bila yin dan yang-nya dalam keadaan seimbang. Kalau tidak seimbang, akibatnya ya sakit. Yang terlalu tinggi, yin rendah, ya sakit juga.
Dalam hal masuk angin, penurunan suhu tubuh menyebabkan pembuluh darah di kulit tubuh bagian belakang mengalami penyempitan (konstriksi). Pembuluh darah kulit yang mengalami konstriksi memberi reaksi dingin. Konstriksi itu merupakan efek kompensasi. Saat suhu tubuh bagian belakang menurun, otomatis pembuluh darah kulit berkonstriksi agar seluruh tubuh tidak dingin.Konstriksi itu bisa mengakibatkan oksigenasi pada permukaan tubuh (terutama bagian belakang) jadi turun atau berkurang, sekujur badan terasa sakit. Selanjutnya, muncul gejala bersin. Nah, tindakan kerokan bisa mengubah suhu tubuh jadi seimbang kembali.DASAR pengobatan tradisional bersumber pada penyeimbangan empat pola penyakit yakni kuat, lemah, panas, dan dingin. Prinsip penyembuhannya adalah mengembalikan energi tubuh ke posisi seimbang. Kalau terlalu kuat dilemahkan, yang lemah dikuatkan, kelewat panas didinginkan, terlalu dingin dipanaskan. Sehat itu adalah kondisi energi yang seimbang.
Demikian pula yang terjadi pada masuk angin. Guna menyembuhkannya, tubuh harus mengembalikan keseimbangan yang dan yin, salah satu caranya dengan menaikkan suhu lewat kerokan. Mengurangi yin, memang bisa jadi seimbang, namun tidak berada pada posisi normal.
Upaya peningkatan suhu di bagian belakang tubuh bisa berpedoman pada hukum Einstein (E=mC2). Energi atau panas dihasilkan dari gesekan dua benda. Kalau permukaan kulit dikerok, suhu tubuh pun akan meningkat. Panas yang cukup tinggi berefek melebarkan pembuluh darah dalam kulit. Otomatis, peredaran darah jadi lancar dan oksigenasi lebih baik sehingga rasa sakit di tubuh berkurang. Ujung-ujungnya, timbul pula reaksi otonomik (sistem parasimpatik). Saraf otonom pada bagian belakang tubuh jadi seimbang.Jadi, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai cara "mengeluarkan angin". Padahal, angin atau udara tak pernah keluar lewat pori-pori melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan.
Masuk angin gara-gara gempuran angin dingin AC tak perlu diobati. Cukup berpindah posisi atau mematikan AC, pegalnya akan sembuh. Sedangkan masuk angin kronis tidak sekadar di bawah kulit, tapi sudah sampai ke dalam otot. Jadi, perlu pemanasan dalam sampai kedalaman 3-4 cm di bawah kulit, dan itu tak mungkin dicapai dengan kerokan.Cara kerokan paling efektif adalah "menggarap" daerah belakang tubuh, kepala atau leher. Pola umum kerokan biasanya membentuk garis-garis lurus dari atas ke bawah dan miring di sisi kiri kanan ruas-ruang tulang belakang ataupun pada leher bagian belakang. Itu bukannya tanpa alasan. Pada tubuh kita terdapat sekira 360 titik akupunktur utama yang berhubungan dengan organ penting. Begitu pun pada tubuh bagian belakang, terdapat titik-titik yang berhubungan dengan organ dalam tubuh (organ viscera).
Dengan pola kerokan yang benar, yakni ditarik lurus ke bawah di sisi kiri kanan ruas tulang belakang, kemudian digeser condong ke arah kiri dan kanan, reaksi optimal dapat dicapai. Gosokan-gosokan itu mungkin secara tidak sengaja menekan titik-titik akupunktur tertentu di tubuh bagian belakang.
Namun, perlu dipertimbangkan bahwa tiap orang memiliki kepekaan kulit dan daya tahan terhadap rasa sakit yang berbeda-beda, ada yang terbiasa dikerok sedikit, tapi tak jarang ada yang suka dikerok dalam-dalam sampai merah padam. Sebenarnya, tak ada aturan hasil kerokan harus sampai merah darah.
Sampai saat ini belum ditemukan efek samping kerokan. Yang jelas, cara ini bisa menimbulkan ketagihan. Kalau jaringan kulit dikerok, akan timbul reaksi jaringan. Bisa reaksi lokal, atau yang bersifat neural (saraf). Reaksi lokal terlihat langsung, misalnya warna merahnya kulit. Kerokan dengan intensitas kuat dan frekuensi rendah mengenai titik-titik saraf yang berhubungan dengan otak sehingga organ ini menyekresikan hormon endomorfin (B-endorfin, dinorfin, dan enkepalin).B-endorfin menimbulkan rasa nyaman karena ia berfungsi mengendalikan rasa nyeri. Adanya zat-zat itu dalam darah menyebabkan penderita merasa lebih bugar. B-endorfin juga merangsang organ viscera, terutama paru-paru dan jantung, sehingga penderita bisa bernapas lebih lega, serta peredaran darahnya jadi lebih baik.
Kemungkinan, penyebab ketagihan pada kerokan adalah zat morfin (endorfin). Padahal, tujuan tubuh mengeluarkan zat morfin hanya untuk reaksi lokal. Karena kebiasaan, penderita pun jadi ketagihan. Nah, masih ingin bertahan dengan cara tradisional ini? Kalau begitu, kerok saja! (dr. Prasanthi)***
Gambar dipinjam dari sini
Monday, July 12, 2010
Happy Birthday To Me !

Yeah..akhirnya saya bisa merasakan ulang tahun lagi, untuk yang kesekian kali. Puluhan memori kembali berulang di benak ini. Ada tanya yang tersirat, sebenarnya apa arti ulang tahun yang hakiki itu sendiri ?
Apakah ulang tahun hanya cukup ditandai dengan seloyang kue tart ( black forest yang lagi trend..! ), lilin berbentuk sejumlah angka yang merujuk pada umur yang lagi ultah, dirayakan di dalam gedung yang megah atau hotel, gema lagu Happy Birthday, ucapan selamat, cipika-cipiki..selanjutnya..apa lagi ?
Pantaskah jika ulang tahun kali ini mengukuhkan jati diri saya sebagai seorang yang dewasa ?
Dewasa ? Ya..sudahkah saya layak disebut sebagai seseorang yang telah dewasa. Secara harafiah, umur 32 tahun bukanlah usia seorang bayi ataupun seorang gadis remaja. Come on..saya sudah berstatus sebagai seorang istri dan seorang ibu sekarang.
Lalu ? Kenapa jiwa kanak-kanak itu masih seringkali ada ? Atau kenapa mata ini masih mudah menitikkan air mata tiba-tiba saat hati terluka ? Atau pula, kenapa saya kadang-kadang tanpa rasa berdosa ikut bermain bersama anak-anak kecil di sawah, berlari kejar-kejaran, dan seringkali berebut mainan dengan anak ? Ah ya..ini hanya sebagian kecil saja kok, hanya gambaran tentu saja, nggak mutlak..
Selebihnya, saya adalah tipe pekerja keras yang badan ini bisa pegal jika hanya berdiam diri saja. Saya yang kadang gelagapan saat bangun kesiangan dan segera berlari menuju tukang sayur diseberang rumah sana, memasak sesegera mungkin supaya anak dan suami bisa sarapan tepat waktu. Atau saya yang masih setia mencatat belanjaan hari ini, yang keningnya bisa berkerut jika harga kebutuhan naik dari cabe, bawang, sayuran, minyak goreng ataupun lauk pauk. Pusing dah…!!
Ah..otak ini berputar bagaimana mencari cara untuk meminimalkan ini dan memaksimalkan itu. Semuanya demi suatu maksud mencapai kata efektif dan efisien serta tidak dituduh sebagai pemboros. Bagaimana bisa boros jika tangan ini ikut mencari uang, merasakan letih dan susahnya mengumpulkan rupiah. Sangat tidak bijak rasanya, jika hasil dari pengorbanan itu dihamburkan begitu saja demi sesuatu yang tidak penting.
Ya, ulang tahun kali ini memang tidak ada perayaan yang khusus seperti juga tahun-tahun sebelumnya. Tak ada kue, tak ada lilin tapi hati ini membuncah tatkala ucapan selamat dari orang-orang tercinta silih berganti datang dari jam dua belas malam tadi. Melalui telepon, sms, jejaring sosial atau kontak fisik berupa salaman dan ciuman yang mendarat di bagian-bagian wajah ini, telah tercipta kehangatan dari suami, anak, ibu, kakak-kakak, saudara, handai taulan, sahabat, teman, rekan kerja, dan kenalan. Tertangkap kesan tulus dari semuanya itu lebur dengan rasa bahagia saya. Terima kasih yang tulus untuk kebaikan semuanya..semoga Tuhan membalas dengan berkat yang melimpah.
Ada beberapa ucapan ulang tahun kepada saya yang sama selama beberapa tahun ini, yang cukup menggelitik relung kalbu saya dari sahabat semasa kuliah tempo dulu.
“Selamat hari Koperasi, Jul..semoga segera diangkat jadi Menteri Koperasi..hihi..”.
Suatu kebetulan jika tanggal 12 Juli adalah hari koperasi. Dan ucapan ini berasal dari Devie, teman saya yang berulang tahun tanggal 2 Mei dan berprofesi sebagai Guru, yang selalu saya beri ucapan sama di hari ulang tahunnya :
”Met hari Pendidikan Nasional, Bu Guru..semoga panjang umur, bahagia n sukses selalu. By the way, kapan diangkat jadi Menteri Pendidikannya ? Hehehe..”
Saling berbalas ucapan maksudnya..1-1..lah yauw...
Mungkin, akan lebih afdol lagi jika saya pun turut mengucapkan selamat juga kepada diri sendiri yang lagi berulang tahun. Coba bayangkan, saat ini tangan kanan saya berjabatan dengan tangan kiri saya.
Simak ucapan untuk diri sendiri :
“Happy birthday ya..kamu harus bersyukur masih bisa merasakan ulang tahun. Umur bertambah, tapi kesempatan hidup berkurang. Umur hanyalah angka-angka..tapi usahakan untuk menjadi dewasa dan bijak. Dan ingat, itu nggak gampang, setiap hari adalah waktu yang tepat utuk belajar hingga akhir itu tiba. Akhir dari perjalanan hidup yang semoga tidak sia-sia adanya. Masih banyak yang harus kamu kerjakan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk sesama. Mulailah dari orang-orang yang kamu kenal dulu baru kemudian kepada orang lain sekalipun yang tidak kamu kenal . Sanggupkah kamu memberi kebahagiaan untuk mereka ?”
Wuah..sebuah ucapan selamat yang cukup panjang, mirip-mirip wejangan. Saya tidak tahu pasti, sisi mana dari diri saya yang memberi ucapan selamat tadi. Apakah sisi putih saya yang kadang bisa menjelma sebagai malaikat bagi orang lain, atau sisi hitam saya yang kadang mengerikan bagai iblis bagi yang merasakannya, ataukah sisi abu-abu saya yang tak kunjung memutuskan harus bagaimana saya menjadi orang. Harus menjadi orang yang baik atau jahat, karena ada kecenderungan, saya lebih sering memilih diam, berada di diantara sifat keduanya untuk mencari amannya. Nggak terlalu baik tapi juga nggak jahat-jahat amat. Aman..mungkin demikian adanya seperti kebanyakan orang...entahlah..
Paling tidak, saya masih punya segudang cita-cita. Saya punya rencana besar untuk berpuluh tahun ke depan. Saya ingin membahagiakan orang-orang tercinta : ibu, satu-satunya orang tua kandung yang masih saya punya selain bapak ibu mertua tentunya, suami, anak , keempat kakak laki-laki saya, saudara-saudara saya, sahabat-sahabat juga teman-teman dan orang lain semampu saya bisa. Mungkin tidak dengan materi semata, tapi saya masih punya tenaga, pikiran, hati, tawa canda, atau apapun yang bisa saya beri.
Saya punya harapan, bisa berumur panjang dan senantiasa diberi kesehatan sehingga bisa menyaksikan anak saya bertumbuh hingga dewasa kelak ( program jangka panjang ), memberinya adik ( program jangka pendek ), memberikan pendidikan yang terbaik, menjadikannya seseorang yang bisa mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya bukan hanya sekedar untuk mengejar kesenangan duniawi semata. Semuanya berpulang kepada tujuan ilahi, mengabdi kepada Tuhan seutuhnya dan berbagi untuk sesama..semoga..
Happy Birthday to Me..! Hooorrreeee…. J
Apakah ulang tahun hanya cukup ditandai dengan seloyang kue tart ( black forest yang lagi trend..! ), lilin berbentuk sejumlah angka yang merujuk pada umur yang lagi ultah, dirayakan di dalam gedung yang megah atau hotel, gema lagu Happy Birthday, ucapan selamat, cipika-cipiki..selanjutnya..apa lagi ?
Pantaskah jika ulang tahun kali ini mengukuhkan jati diri saya sebagai seorang yang dewasa ?
Dewasa ? Ya..sudahkah saya layak disebut sebagai seseorang yang telah dewasa. Secara harafiah, umur 32 tahun bukanlah usia seorang bayi ataupun seorang gadis remaja. Come on..saya sudah berstatus sebagai seorang istri dan seorang ibu sekarang.
Lalu ? Kenapa jiwa kanak-kanak itu masih seringkali ada ? Atau kenapa mata ini masih mudah menitikkan air mata tiba-tiba saat hati terluka ? Atau pula, kenapa saya kadang-kadang tanpa rasa berdosa ikut bermain bersama anak-anak kecil di sawah, berlari kejar-kejaran, dan seringkali berebut mainan dengan anak ? Ah ya..ini hanya sebagian kecil saja kok, hanya gambaran tentu saja, nggak mutlak..
Selebihnya, saya adalah tipe pekerja keras yang badan ini bisa pegal jika hanya berdiam diri saja. Saya yang kadang gelagapan saat bangun kesiangan dan segera berlari menuju tukang sayur diseberang rumah sana, memasak sesegera mungkin supaya anak dan suami bisa sarapan tepat waktu. Atau saya yang masih setia mencatat belanjaan hari ini, yang keningnya bisa berkerut jika harga kebutuhan naik dari cabe, bawang, sayuran, minyak goreng ataupun lauk pauk. Pusing dah…!!
Ah..otak ini berputar bagaimana mencari cara untuk meminimalkan ini dan memaksimalkan itu. Semuanya demi suatu maksud mencapai kata efektif dan efisien serta tidak dituduh sebagai pemboros. Bagaimana bisa boros jika tangan ini ikut mencari uang, merasakan letih dan susahnya mengumpulkan rupiah. Sangat tidak bijak rasanya, jika hasil dari pengorbanan itu dihamburkan begitu saja demi sesuatu yang tidak penting.
Ya, ulang tahun kali ini memang tidak ada perayaan yang khusus seperti juga tahun-tahun sebelumnya. Tak ada kue, tak ada lilin tapi hati ini membuncah tatkala ucapan selamat dari orang-orang tercinta silih berganti datang dari jam dua belas malam tadi. Melalui telepon, sms, jejaring sosial atau kontak fisik berupa salaman dan ciuman yang mendarat di bagian-bagian wajah ini, telah tercipta kehangatan dari suami, anak, ibu, kakak-kakak, saudara, handai taulan, sahabat, teman, rekan kerja, dan kenalan. Tertangkap kesan tulus dari semuanya itu lebur dengan rasa bahagia saya. Terima kasih yang tulus untuk kebaikan semuanya..semoga Tuhan membalas dengan berkat yang melimpah.
Ada beberapa ucapan ulang tahun kepada saya yang sama selama beberapa tahun ini, yang cukup menggelitik relung kalbu saya dari sahabat semasa kuliah tempo dulu.
“Selamat hari Koperasi, Jul..semoga segera diangkat jadi Menteri Koperasi..hihi..”.
Suatu kebetulan jika tanggal 12 Juli adalah hari koperasi. Dan ucapan ini berasal dari Devie, teman saya yang berulang tahun tanggal 2 Mei dan berprofesi sebagai Guru, yang selalu saya beri ucapan sama di hari ulang tahunnya :
”Met hari Pendidikan Nasional, Bu Guru..semoga panjang umur, bahagia n sukses selalu. By the way, kapan diangkat jadi Menteri Pendidikannya ? Hehehe..”
Saling berbalas ucapan maksudnya..1-1..lah yauw...
Mungkin, akan lebih afdol lagi jika saya pun turut mengucapkan selamat juga kepada diri sendiri yang lagi berulang tahun. Coba bayangkan, saat ini tangan kanan saya berjabatan dengan tangan kiri saya.
Simak ucapan untuk diri sendiri :
“Happy birthday ya..kamu harus bersyukur masih bisa merasakan ulang tahun. Umur bertambah, tapi kesempatan hidup berkurang. Umur hanyalah angka-angka..tapi usahakan untuk menjadi dewasa dan bijak. Dan ingat, itu nggak gampang, setiap hari adalah waktu yang tepat utuk belajar hingga akhir itu tiba. Akhir dari perjalanan hidup yang semoga tidak sia-sia adanya. Masih banyak yang harus kamu kerjakan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk sesama. Mulailah dari orang-orang yang kamu kenal dulu baru kemudian kepada orang lain sekalipun yang tidak kamu kenal . Sanggupkah kamu memberi kebahagiaan untuk mereka ?”
Wuah..sebuah ucapan selamat yang cukup panjang, mirip-mirip wejangan. Saya tidak tahu pasti, sisi mana dari diri saya yang memberi ucapan selamat tadi. Apakah sisi putih saya yang kadang bisa menjelma sebagai malaikat bagi orang lain, atau sisi hitam saya yang kadang mengerikan bagai iblis bagi yang merasakannya, ataukah sisi abu-abu saya yang tak kunjung memutuskan harus bagaimana saya menjadi orang. Harus menjadi orang yang baik atau jahat, karena ada kecenderungan, saya lebih sering memilih diam, berada di diantara sifat keduanya untuk mencari amannya. Nggak terlalu baik tapi juga nggak jahat-jahat amat. Aman..mungkin demikian adanya seperti kebanyakan orang...entahlah..
Paling tidak, saya masih punya segudang cita-cita. Saya punya rencana besar untuk berpuluh tahun ke depan. Saya ingin membahagiakan orang-orang tercinta : ibu, satu-satunya orang tua kandung yang masih saya punya selain bapak ibu mertua tentunya, suami, anak , keempat kakak laki-laki saya, saudara-saudara saya, sahabat-sahabat juga teman-teman dan orang lain semampu saya bisa. Mungkin tidak dengan materi semata, tapi saya masih punya tenaga, pikiran, hati, tawa canda, atau apapun yang bisa saya beri.
Saya punya harapan, bisa berumur panjang dan senantiasa diberi kesehatan sehingga bisa menyaksikan anak saya bertumbuh hingga dewasa kelak ( program jangka panjang ), memberinya adik ( program jangka pendek ), memberikan pendidikan yang terbaik, menjadikannya seseorang yang bisa mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya bukan hanya sekedar untuk mengejar kesenangan duniawi semata. Semuanya berpulang kepada tujuan ilahi, mengabdi kepada Tuhan seutuhnya dan berbagi untuk sesama..semoga..
Happy Birthday to Me..! Hooorrreeee…. J
Sunday, July 04, 2010
Welcome July..
Bagiku, bulan Juli adalah bulan yang cukup bersejarah dalam kehidupanku. Sejarah utamanya sudah pasti karena aku dilahirkan bulan ini. Beberapa hari lagi tepat di hari koperasi nanti. Ada yang nggak tahu hari koperasi itu tanggal berapa ? Hayo ngaku..tunjuk jari aja nggak usah malu-malu..satu..dua..tiga..em..wah..wah..kok banyak juga yang nggak tahu ya..? Hm..sebenarnya aku juga nggak tahu awalnya, tapi karena kebetulan ada yang bilang kalo hari koperasi itu sama persis dengan hari jadiku, jadi aku mengingatnya selalu..
Di keluargaku, selain aku yang ultah di bulan Juli, kakak laki-lakiku yang tertua juga lahir di bulan ini. Tepatnya tanggal 20 Juli nanti. So, ada ada zodiac Cancer di keluargaku. Tapi satu zodiac nggak menjamin banyak kesamaan karakter lho, buktinya dulu aku sering berantem sama kakak sulungku ini. Mungkin karena sama-sam berwatak keras ya, nggak ada yang mau ngalah hehe..tapi sekarang malah akur tuh, lha iya abis jauhan sih n udah punya keluarga sendiri-sendiri masak mau berantem terus..malu dong udah jadi Pakde dan Tante jeh..
Lalu, yang paling membekas di bulan Juli bagiku adalah ketika tanggal 26 Juli 1998, 12 tahun yang lalu, Bapakku tercinta dipanggil oleh Tuhan. Tepat dua minggu setelah ulang tahunku yang ke-20. Bagiku, Bapak bukanlah figur yang biasa, beliau sangat luar biasa. Kekagumanku kepada sosok beliau sudah kutuliskan diblog ini “ Bapakku is Superdad”. Bagi yang penasaran, dengan senang hati kupersilakan untuk membacanya..monggo..
Hm..sudah ada clue-nya, tuh..berarti pertanyaan kapan tanggal ultahku dan hari koperasi sudah terjawab dong..wah kalo ini kuis udah dapat door prize tuh hehe..
Terus..di bulan Juli ini pula aku berkenalan dengan si mantan pacar yang sekarang udah naik jabatan jadi misua eh..suamiku tepat di hari ulang tahunku yang ke-21. Kalo cerita tentang aku dan suami boleh deh baca diblog ini juga tulisan tentang “Keajaiban Cinta”. Based on true story tuh..hihi.. baca juga ya..( *maksa ih..* )
Lalu..lalu..ada apalagi ya di bulan Juli ini ? Yang pasti bulan Juli adalah musim liburan, udaranya dingin banget kalo pagi..bbbrrr…banyak yang jadi pengantin di bulan ini..hm..
Di keluargaku, selain aku yang ultah di bulan Juli, kakak laki-lakiku yang tertua juga lahir di bulan ini. Tepatnya tanggal 20 Juli nanti. So, ada ada zodiac Cancer di keluargaku. Tapi satu zodiac nggak menjamin banyak kesamaan karakter lho, buktinya dulu aku sering berantem sama kakak sulungku ini. Mungkin karena sama-sam berwatak keras ya, nggak ada yang mau ngalah hehe..tapi sekarang malah akur tuh, lha iya abis jauhan sih n udah punya keluarga sendiri-sendiri masak mau berantem terus..malu dong udah jadi Pakde dan Tante jeh..
Lalu, yang paling membekas di bulan Juli bagiku adalah ketika tanggal 26 Juli 1998, 12 tahun yang lalu, Bapakku tercinta dipanggil oleh Tuhan. Tepat dua minggu setelah ulang tahunku yang ke-20. Bagiku, Bapak bukanlah figur yang biasa, beliau sangat luar biasa. Kekagumanku kepada sosok beliau sudah kutuliskan diblog ini “ Bapakku is Superdad”. Bagi yang penasaran, dengan senang hati kupersilakan untuk membacanya..monggo..
Hm..sudah ada clue-nya, tuh..berarti pertanyaan kapan tanggal ultahku dan hari koperasi sudah terjawab dong..wah kalo ini kuis udah dapat door prize tuh hehe..
Terus..di bulan Juli ini pula aku berkenalan dengan si mantan pacar yang sekarang udah naik jabatan jadi misua eh..suamiku tepat di hari ulang tahunku yang ke-21. Kalo cerita tentang aku dan suami boleh deh baca diblog ini juga tulisan tentang “Keajaiban Cinta”. Based on true story tuh..hihi.. baca juga ya..( *maksa ih..* )
Lalu..lalu..ada apalagi ya di bulan Juli ini ? Yang pasti bulan Juli adalah musim liburan, udaranya dingin banget kalo pagi..bbbrrr…banyak yang jadi pengantin di bulan ini..hm..
Trus.. sejarah apalagi ya yang akan terukir di bulan Juli tahun ini ? Kita tunggu aja yah..
Subscribe to:
Posts (Atom)